Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata adiknya
Hari ini merupakan hari tepat dimana pertunjukan teater Tiwi di adakan. Tampak wanita itu sangat bahagia saat mulai tampil di atas panggung. Namun, keadaan berbanding terbalik dengan seorang pria yang duduk di bangku barisan ke tujuh. Ini pertama kali dia duduk menonton dari bangku yang sedikit jauh dari panggung. Dan dirinya yang biasanya begitu antusias, kini hanya memandang kosong ke arah panggung.
Rangga menangis mengeluarkan semua air matanya, tidak peduli dengan para pengunjung lain yang memandangnya aneh, terlebih sekarang kanan kirinya sedang kosong. Dia semakin terisak dalam tangisnya.
Perlahan tangannya terangkat menyentuh matanya, mata pemberian mantan istrinya yang begitu berharga. Kini dia mengerti kenapa Nisa mendonorkan kornea mata untuk dirinya. Ternyata tujuan Nisa tak lain adalah agar Rangga bisa menepati janjinya yang akan menonton pertunjukan teater Tiwi walau apapun yang terjadi.
"Maafkan aku, Annisa..." gumamnya pelan masih menyentuh mata berharganya. Kini dia kembali sadar bahwa dia telah menyia-nyiakan cinta yang diberikan istrinya untuknya.
"Mas Ali, sepertinya itu Rangga, deh. Pacarnya Tiwi" seru Fatma saat akan menduduki bangku di barisan pertama dengan Ali, namun mata wanita itu dapat menangkap kehadiran Rangga di bangku atas. Ali mengikuti arah tunjukan Fatma, dan wajahnya langsung dingin saat melihat pria yang pernah menjadi iparnya itu. Sebenarnya Ali tidak pernah berpikir akan bertemu pria sumber luka adiknya itu, tapi mengingat siapa yang akan ada di pertunjukan teater nanti. Itu sudah tidak mengherankan kenapa Rangga ada di sini. Bukankah Tiwi adalah kekasih Rangga yang begitu di cintainya?
"Tapi kenapa dia menangis?" tanya Fatma kemudian merasa heran. Ali hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.
"Aku akan menghampirinya dulu" kata Fatma hendak berjalan kearah Rangga, namun Ali dengan sigap menghentikan niat Fatma saat narator mulai menyatakan acara akan di mulai.
"Sudahlah, nanti saja kamu tanya padanya. Sekarang lebih baik kamu duduk. Acaranya sudah di mulai" kata Ali sambil mendudukkan Fatma di sampingnya. Rangga sempat bertemu pandang dengan keduanya, namun sekarang dia tidak peduli walau sempat terbersit keheranan di kepalanya saat melihat mantan kakak iparnya datang dengan kakak kekasihnya.
Acara di mulai dengan pengenalan tokoh, dimana Tiwi berperan sebagai Aurora, sang putri tidur yang jelita. Dia tampak begitu cantik berakting diatas panggung. Apalagi wanita itu begitu bahagia saat melihat Ali datang dan duduk di bangku barisan pertama sambil memandang ke arahnya yang sedang memberi pertunjukan. Tiwi bahkan lupa dengan kehadiran sang kakak yang duduk di samping Ali. Karena biasanya Fatma tak pernah datang menonton pertunjukan teaternya. Kakaknya itu sibuk di apotiknya. Pekerjaan sebagai Apoteker memang cukup merepotkan saat mencari dan memilah obat yang cocok.
Adegan demi adegan berlalu, namun wajah Rangga masih saja sama seperti pertama dia duduk. Sedih, penuh dengan air mata serta pandangannya yang terlihat kosong. Walau matanya memandang ke arah panggung di mana cerita sedang berjalan, tapi pikirannya tetap tertuju pada mantan istrinya, Annisa.
Sedangkan Ali dan Fatma malah sibuk dengan candaan ringan mereka yang saling menggoda satu sama lain. Tiwi yang kadang- kadang melihat kearah Ali merasa kesal karena Ali sibuk dengan Fatma tanpa memandang ke arahnya yang sudah begitu mengerahkan kemampuan terbaiknya. Dia berpikir, kenapa kakaknya itu harus datang . Jika Fatma tidak ada, kan Ali hanya akan fokus padanya. Dia lupa sama kemungkinan terkecilnya. Jika Fatma tidak datang maka Ali juga tidak akan hadir di sana sekarang ini.
Tiwi juga menangkap kehadiran Rangga yang duduk di bangku barisan ketujuh dengan wajah penuh air mata, tapi dia tidak mau begitu peduli. Karena bagaimana pun Tiwi sudah memutuskan hubungan dengan pria itu dan tidak mau ikut campur apapun yang pria itu lakukan sekarang ini.
Selama hampir dua jam, akhirnya acara selesai setelah di tutup dengan adegan manis dari para pemain.
"Kak Ali, apakah kak Ali mau berfoto denganku?" tanya Tiwi yang buru- buru mendekat saat Ali dan Fatma hendak beranjak pulang.
"Tidak, aku tidak terbiasa berfoto dengan wanita," kata Ali lembut, menolak sembari memberi pengertian dan penjelasan tolakannya. Fatma di samping Ali mulai merasa kesal karena dia di cuekin oleh adiknya
"Oo... menurut Kak Ali aktingku tadi bagus tidak?" tanya Tiwi lagi sambil tersenyum. Dia terus berusaha mencari perhatian Ali.
"Bagus, kamu sudah cocok jadi artis," ujar Ali menjawab dengan jawaban yang cukup bijak. Walaupun kenyataannya Ali tidak sepenuhnya memperhatikan kualitas akting Tiwi tadi diatas panggung. Dia hanya melihat sekilas dan lebih sibuk memperhatikan calon istrinya.
Jawaban yang di dapatnya dari Ali membuat Tiwi merasa sangat bahagia. Seakan- akan itu jawaban yang diberikan oleh kekasihnya alih- alih calon kakak iparnya.
"Oh ya, kenapa tidak tanya pendapat kakakmu?" tanya Ali kemudian yang merasa Fatma seakan di kesampingkan oleh Tiwi, padahal wanita itu adalah kakak kandungnya.
Barulah saat itu Tiwi memandang Fatma yang menampilkan wajah kesal karena di cuekin oleh adiknya sendiri.
"Kakak, bagaimana menurutmu?" tanya Tiwi dengan nada suara yang terdengar malas, padahal pada Ali tadi, wanita itu begitu antusias.
"Kamu baru melihatku sekarang. Ku lihat kamu sangat senang dengan pendapat Mas Ali. Tapi pendapatku sama sekali kamu abaikan," ujar Fatma terdengar sedikit judes sembari memandang kesal sang adik.
"Ayo kesini, aku ingin berfoto denganmu. Mengapa cuma Mas Ali yang kau ajak berfoto? Sedangkan aku yang kakakmu, kau lupakan..." lanjut Fatma yang menarik Tiwi untuk berfoto dengannya. Tindakan kakaknya itu membuat Tiwi terpaksa menampilkan senyumnya saat di foto. Dia jelas tidak ingin terlihat berwajah masam dalam tangkapan kamera.
"Maaf mengganggu... tapi apa boleh aku bicara sebentar dengan Tiwi?" suara seorang pria menginterupsi kegiatan mereka. Bersamaan dengan mata Tiwi dan Fatma yang menatap kearah sumber suara. Tangan Ali sudah terkepal erat menatap kearah si pria. Dia harus menahan diri agar tidak menghajarnya di sana. Bagaimana bisa pria seperti Rangga membuat adiknya terluka selama lebih dari lima tahun?
"Rangga! Hei! Kenapa tadi aku melihatmu menangis? Matamu juga masih terlihat sembab?" tanya Fatma santai seperti biasanya saat dia bertemu dengan kekasih dari adiknya itu.
Tiwi yang berdiri di samping Fatma hanya bisa menunduk begitu matanya bertemu pandang dengan mata Rangga. Sedangkan Ali malah tersenyum sinis ke arah Rangga yang kini memandangnya. Mata itu mata adiknya, jadi akan sangat wajar jika mata itu terlihat sembab. Karena memang begitulah mata Nisa selama lima tahun ini dan semakin parah delapan bulan terakhir ini.
"Aku tidak tahu kak Fatma. Aku hanya ingin menangis saja." jawab Rangga yang membuat kening Fatma berkerut bingung. Jawaban apaan itu?
"Kak, bolehkah aku bicara dengan Tiwi sebentar?" pinta Rangga selanjutnya pada Fatma yang masih dilanda kebingungan.
"Oh iya, baiklah. Tapi aku masih punya pertanyaan untukmu." Fatma masih punya banyak pertanyaan yang ingin di tanyakan seputar hubungan pria itu dengan adiknya, Tiwi. Apalagi sebelumnya Fatma mendengar dari Tiwi kalau mereka sudah putus.
"Sudahlah sayang. Ayo kita pergi saja. Bukankah dia bilang ingin bicara berdua saja dengan KEKASIH-nya ini" timpal Ali memandang tajam Rangga yang membalas tatapannya dengan penuh rasa bersalah. Tiwi juga sontak memandang wajah Ali saat mendengar kata kekasih yang keluar dari mulut pria itu. Tiwi merasa Ali seakan memberi penekanan khusus pada kata itu dalam suaranya, dan Tiwi juga menangkap tatapan tajam yang Ali hunuskan kepada Rangga.
Mendadak wajah Tiwi kembali bersemu merah. Dia menjadi salah tingkah sekarang. Otaknya salah memberi pemahaman dari sikap Ali kepada Rangga. Tiwi mengira Ali menatap tajam Rangga dan berucap dengan kata yang sinis saat ucapan kekasih di lontarkan, itu karena Ali tidak suka Rangga mendekatinya.
"Apa kak Ali menyukaiku?" batinnya bertanya dengan mata yang berbinar- binar. Tiwi merasa begitu percaya diri kalau Ali menyukainya.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean