Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Elang keluar dari terowongan dengan dua kotak berkas terjepit di bawah lengan kirinya dan debu menempel di bahu kemeja. Cahaya sore menyilaukan setelah gelap di bawah tanah, dan ia berhenti sebentar di mulut lubang untuk menyesuaikan pandangan.
Kerumunan pekerja yang tadi berjejal kini berdiri di pinggir lapangan, memeluk anggota keluarga mereka yang selamat. Di tengah lapangan, Bram menunggu dengan lebih dari selusin anak buahnya yang bersenjata tongkat dan pipa besi. Wajah Bram tidak menunjukkan kemarahan. Ia hanya menatap kotak-kotak di lengan Elang dengan mata yang dingin.
"Aku sudah bilang jangan masuk," kata Bram. "Dan sekarang kau membawa sesuatu yang bukan milikmu."
"Aku tidak ingat pernah meminta izin pada orang yang mencoba menguburkan empat puluh satu orang," jawab Elang sambil meletakkan kotak-kotak itu di tanah. Ia menegakkan badan dan menepuk kedua tangannya untuk membersihkan debu. "Dan sebenarnya, aku tidak berniat berlama-lama. Beri aku jalan, dan semua ini bisa selesai dengan tenang."
Bram tersenyum tipis. Ia mengangkat tangan kanannya ke atas kepala, dan satu detik kemudian Insting Dewa menusuk tengkuk Elang dengan jelas.
Niat membunuh itu datang dari arah bukit di sisi barat, jauh sekali, hampir tidak terlihat. Elang tidak berpikir. Tubuhnya sudah condong ke kanan dan memutar setengah putaran sebelum ia sendiri menyadari. Dalam sepersekian detik, sesuatu berdesing melewati tempat ia berdiri tadi dan menghantam tanah di belakangnya dengan bunyi teredam. Debu terlontar dari lubang kecil yang masih berasap.
Seorang pekerja menjerit. Tiga penjaga berhenti bergerak. Bram menurunkan tangannya perlahan dengan wajah yang mulai berubah.
"Kau meleset," kata Elang tanpa menoleh ke arah bukit. "Kali berikutnya, minta penembakmu lebih dekat."
"Habisi dia!" teriak Bram.
Belasan orang itu menyerbu serentak. Elang bergerak menyambut mereka. Pipa besi pertama diayunkan ke kepalanya, ia mengelak dengan geser kecil, menangkap pergelangan penyerangnya, dan memutarnya sampai pipa itu jatuh. Tinjunya menghantam perut orang itu dan ia terlempar ke belakang. Dua penjaga dari kanan datang berbarengan. Elang menunduk di bawah tongkat pertama, mengangkat kaki, menendang dada orang kedua, dan memutar badan untuk menyikut yang pertama.
Setiap gerakannya pendek dan efisien. Tidak ada satu pun pukulan yang terbuang. Dari balik debu yang beterbangan, terdengar bunyi tubuh jatuh satu per satu, disusul erangan.
Insting Dewa berdenyut lagi. Elang mengangkat lengan kirinya tanpa melihat, dan lapisan perak muncul dari bawah lengan baju. Peluru kedua menghantam logam itu dan memantul ke arah tanah kosong di sisi lapangan. Elang menunduk, memungut sebuah batu seukuran kepalan dari tanah, dan melemparkannya ke arah bukit tanpa menoleh.
Dari kejauhan terdengar bunyi tubuh jatuh dan teriakan pendek yang segera hilang. Penembak itu tidak menembak lagi.
Elang menurunkan lengannya dan memeriksa lapisan perak di pergelangannya. Tidak ada goresan sama sekali, dan lapisan itu menyusut kembali ke bawah lengan baju tanpa suara.
Ketika debu mulai turun, hanya Bram yang masih berdiri. Anak buahnya tergeletak di sekelilingnya dalam berbagai posisi, merintih, sebagian tidak bergerak. Wajahnya sudah kehilangan warna. Ia mundur selangkah, dan di belakangnya, Wahyu muncul dengan kedua tangan terkepal. Napas Wahyu tersengal, tetapi ia berdiri di sisi Elang, bukan di sisi Bram.
"Kau..." Bram menatap Wahyu dengan mata melebar. "Aku yang memberimu makan di sini."
"Maaf, Pak Bram." Wahyu menelan ludah dan menunduk. "Tapi aku sudah punya bos."
Bram mengumpat pelan dan menarik sesuatu dari pinggangnya, sebuah pisau pendek yang berkilat di bawah matahari. Ia belum sempat mengangkatnya ketika Elang sudah berada di depannya. Pergelangan tangan Bram tertahan dalam genggaman sarung tangan hitam, dan pisau itu jatuh berdenting di tanah.
"Aku hanya akan bertanya sekali," kata Elang. "Siapa yang menyuruhmu meledakkan Blok 7?"
Bram terdiam. Keringat mengalir di pelipisnya, dan bibirnya mengatup rapat. Elang menunggu dua detik. Lalu ia menaruh telapak tangannya di bahu pria itu.
"Aku meminta agar Bram menjadi bawahanku."
[Permintaan dijalankan...]
[Subjek Bram memiliki mental sedang. Keberhasilan: 38%.]
[Permintaan berhasil.]
[Kuota tersisa: 4/5.]
Bahu Bram mengendur di bawah tangannya. Matanya yang tadi dingin berubah menjadi sesuatu yang kosong dan tenang.
"Siap," katanya pelan. "Apa yang ingin Bos tahu?"
"Pertanyaan yang tadi."
Bram menghela napas panjang dan menatap lapangan yang berantakan.
"Perintahnya datang dari Ray Nugroho," katanya. "Tetapi uangnya, dan keputusan menutup tambang ini, datang dari Dimas Nugroho. Ayahnya sendiri."