NovelToon NovelToon
Di Bawah Kendali Asisten Suami

Di Bawah Kendali Asisten Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.

‎‎Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.

‎Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
‎

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Alina tetap tidak mengulurkan tangan untuk menyambut sapaan Amara. Tatapannya dingin dan tajam, beralih penuh ke arah Rafael, suaranya bergetar tertahan namun terdengar jelas di tengah riuh rendah restoran.

‎‎"Kamu punya banyak waktu untuk duduk dan mengobrol santai dengan wanita lain di sini, tapi tidak punya waktu sedikit pun untuk menemani istrimu sendiri?"

‎‎Rafael mengerutkan kening, nada bicaranya menjadi tegas dan menegur. "Alina, jaga ucapanmu. Aku sudah bilang kalau Amara ini model untuk merek baru perusahaan. Ini urusan pekerjaan yang penting, bukan hal lain."

‎‎Amara menarik kembali tangannya perlahan, senyum sopannya memudar sedikit. Ia melirik ke arah Rafael, lalu ke arah Alina yang matanya masih berkaca‑kaca.

‎‎"Urusan pekerjaan?" ulang Alina dengan nada getir, sudut matanya mulai memerah. "Dua tahun ini, setiap kali aku mengajakmu pergi bersama, kamu selalu bilang sibuk pekerjaan. Tapi sekarang aku melihatmu bisa tersenyum begitu lebar untuk orang lain di tengah jam makan siang. Sekarang kamu bilang ini bukan hal penting, hah?!"

‎‎Rafael berdiri lebih tegak, rahangnya mengeras. "Aku tidak bisa menjelaskan semuanya di sini, Alina. Ini bukan tempat yang tepat untuk berdebat."

‎‎"Alina..." Amara menyela dengan nada tenang, berusaha meredakan ketegangan. "Kami benar‑benar hanya datang untuk membicarakan pekerjaan. Tolong jangan salah paham seperti ini..."

‎"Aku tidak bicara denganmu!" potong Alina, suaranya tajam dan bergetar karena amarah yang tertahan.

‎‎Amara terkejut sedikit, lalu menundukkan pandangannya dan mundur selangkah ke belakang.

‎‎"Jaga bicaramu, Alina!" bentak Rafael, nada bicaranya meninggi dan penuh peringatan. "Ini tempat umum!"

‎‎Alina menatapnya dengan mata yang sudah berair, dadanya naik‑turun menahan sesak yang semakin bertambah.

‎‎"Jaga bicara? Selama dua tahun aku diam menunggu, menahan semuanya sendirian. Lalu sekarang aku harus diam juga melihatmu duduk tersenyum dengan wanita lain di sini?"

‎‎Rafael menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri agar tidak membuat keributan di tengah restoran.

‎‎"Aku tidak punya waktu untuk mengurusi sikap kekanak-kanakanmu. Kita bicarakan ini nanti di rumah."

‎‎Rafael melangkah cepat dan tegas menuju pintu keluar restoran. Amara segera meraih tasnya, ia melirik sekilas ke arah Alina lalu berjalan mengikuti di belakang Rafael.

Alina berdiri mematung ditempatnya, ‎‎air mata yang selama ini ia tahan akhirnya menetes perlahan di pipinya, dadanya terasa berat seolah ada batu besar yang menindih.

‎‎Suasana di sekitar mereka tiba‑tiba terasa lebih bising, bisikan-bisikan pelan mulai terdengar dari meja-meja lain yang mencuri pandang.

‎‎Revan yang sejak tadi berdiri diam di belakangnya akhirnya bergerak. ‎‎Tanpa sepatah kata, ia melepas jas luarnya yang masih beraroma parfumnya yang familiar itu, lalu menyampirkannya dengan sangat pelan di atas bahu Alina yang bergetar hebat. Tangannya sengaja tidak menyentuh kulitnya sama sekali, hanya menahan jas itu agar tidak jatuh.

‎‎"Semua orang melihat, Nyonya," bisiknya rendah, hanya cukup didengar Alina. "Jangan beri mereka tontonan lagi."

‎‎Alina mendongak, matanya yang basah bertemu dengan tatapan Revan yang tenang dan dalam. Tidak ada senyum menggoda seperti di ruang ganti tadi. Yang ada hanya keteduhan yang menenangkan.

‎‎Ia mengangguk pelan, jemarinya mencengkeram ujung jas Revan dengan erat.

‎‎"Mari kita keluar," lanjut Revan pelan. Tangannya terbuka sedikit, memberi isyarat jalan ke arah pintu, membiarkan Alina berjalan duluan, melindunginya dari tatapan-tatapan penasaran di restoran itu.

‎‎Untuk pertama kalinya, kehadiran Revan yang selalu ia anggap mengganggu, kini terasa seperti satu-satunya tempat aman di ruangan yang penuh sesak itu.

‎‎-

‎-

‎-

‎‎Di dalam mobil yang dikendarai Rafael, suasana masih terasa kaku setelah kejadian di restoran tadi. Kedua tangannya mencengkeram erat setir kemudi, pandangannya tertuju lurus ke jalan raya di depan, sebelum ia menoleh sebentar ke arah Amara yang duduk di kursi penumpang sampingnya.

‎‎"Maaf soal tadi. Alina… dia mudah tersinggung akhir‑akhir ini," ucapnya dengan nada rendah.

‎‎Amara menggeleng pelan, tatapannya tenang. "Aku mengerti, Rafael. Kamu tidak perlu meminta maaf."

‎‎Mobil terus melaju menyusuri jalan kota yang ramai. Beberapa saat berlalu, Amara menoleh dengan tatapan yang lebih serius.

‎‎"Rafael... aku dengar kalian menikah karena perjodohan keluarga. Apakah kamu benar‑benar mencintainya?"

‎‎Rafael terdiam cukup lama, jari‑jemarinya mengetuk‑ngetuk permukaan setir secara tidak sadar.

‎‎"Kami sudah bersama selama hampir dua tahun, jadi tidak ada alasan bagiku untuk tidak mencintainya."

‎‎Amara menatapnya sejenak, lalu hanya mengangguk pelan.

‎‎"Oh."

‎‎Satu kata itu menggantung di udara kabin yang tertutup. Amara memalingkan pandangan ke luar kaca, sementara Rafael kembali fokus menyetir, rahangnya mengeras seolah menahan sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.

‎‎-

‎-

‎-

‎‎Mobil yang dikendarai Revan melambat perlahan lalu berhenti di halaman rumah yang luas itu. Suara mesin mati, menyisakan keheningan yang terasa berat.

‎‎Alina tidak menunggu sampai Revan sempat membukakan pintu untuknya. Ia segera menarik gagang pintu, melangkah keluar dengan langkah cepat, bahunya terkulai dan matanya masih tampak merah karena menahan tangisan. Tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, ia berjalan menuju pintu utama dan masuk ke dalam rumah.

‎‎Revan hanya menoleh ke belakang saat melihat bayangan Alina menghilang di balik pintu rumah. Ia tidak berusaha mengejar atau memanggilnya. Ia tahu wanita itu butuh waktu sendirian untuk menenangkan hati yang sedang hancur.

‎Sementara itu di balik pintu kamarnya, Alina berdiri mematung di depan dinding. Matanya tertuju pada bingkai foto pernikahannya dengan Rafael yang tergantung rapi di sana. Foto yang dulu ia harapkan akan menjadi awal kebahagiaan, kini hanya terasa seperti janji yang kosong.

‎‎Perlahan, ia melepas jas Revan dari bahunya dan menggenggamnya erat di depan dada, seolah mencari kehangatan yang tidak ia dapat dari rumah ini.

‎‎Air matanya jatuh lagi, kali ini tanpa suara.

‎‎"Kamu lihat ini, Rafael?" bisiknya pelan, suaranya pecah menatap foto pria itu yang tersenyum kaku di sampingnya. "Dua tahun. Dua tahun aku mencoba menjadi istri yang baik untukmu. Aku belajar memasak makanan yang kamu suka, aku menunggu kamu pulang sampai larut, aku diam setiap kali kamu bilang aku kekanak-kanakan..."

‎‎Ia menarik napas panjang yang terasa berat.

‎‎"Lalu apa? Senyum yang bahkan tidak pernah kamu beri untukku di rumah, dengan mudah kamu beri untuk wanita lain di luar sana? Apa aku seburuk itu jadi istrimu?!"

‎‎Tangannya gemetar menyentuh kaca bingkai foto itu.

‎‎"Kalau memang kamu tidak pernah mencintaiku... kenapa kamu menikahi aku? Kenapa kamu menerima perjodohan itu dulu?"

‎‎Kata-kata terakhir itu keluar hampir seperti isakan. Alina terduduk lemas di tepi ranjang, jas Revan masih ia peluk erat, satu-satunya benda yang terasa hangat di kamar yang tiba-tiba terasa begitu dingin dan kosong.

-

-

-

Bersambung...

1
Aisyah Ranni
Wajar aja si Andika menyesal ternyata itu dia,bisa jadi dia yg slengki dengan ibu Rafael, mengulang kejadian si Rafael dengan Amara.dan Andika gak tau Revan anak kandungnya sendiri
MamDeyh
Woooow ternyata sodara tiri merekaaaa
MamDeyh
Diiih GK jelas
Mia Camelia
rasakan kau raphael tamparan sang ayah, semoga raphael mau melepaskan Alina😭
🔥Violetta🔥: Semoga y kak 😁
total 1 replies
Ervina Ardianto
Kl baca smp sini berarti awalnya Revan pura2 jd asisten Rafael ada hubungannya dg masa lalu yg blm selesai antar ortu/kakeknya Rafael & Revan. Sementara ttg Alina, di luar rencana dia, bs ketemu lg tp sdh jd istri org.
Maybe gt🤭
🔥Violetta🔥: Wah tebakan kakak ini sesuatu 👏👏👏👍😁
total 1 replies
Mia Camelia
revan gentleman banget sih, bogem si raphael di tempat, ngliat raphael lama2 kaya pecundang😒
Ervina Ardianto
Rafael msh lolos nih. Mertuanya ga liat tontonan & ga denger omongan Revan ke Rafael. Jgn lama2 author, nungguin Revan membuka jati diri dia yg sbnrnya 😊
MamDeyh
Repaaan kamu kelepasan 😅
🔥Violetta🔥: rem-nya blong 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
sumpah raphael tuh pembawa sial banget sih, bikin Alina jatuh bgtu😔😔😔
🔥Violetta🔥: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Revan mana Revan..mungkin sekarang saatnya membuka semua 🤭
🔥Violetta🔥: Lagi bertapa dulu dia kak... 🤭🤭🤣
total 1 replies
MamDeyh
Nah kan.. Laki egois. Plin plan. Gajebo
🔥Violetta🔥: Omelin aja,,, omelin kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Ada hubungan dg masa lalu berarti nih. Revan uda kenal Alina lbh dl dari Rafael , yg msh gelap hubungan ortu Revan & Rafael, knp Alina ga tau / blm sadar ttg Revan (di masa lalu) & Revan bs kecolongan, Alina nkh sm Rafael.
MamDeyh
Ahhhh lagi dong kak.....
Mia Camelia
Alina kapan cerai nya thor 🤭🤭🤭pingin ngeliat Alina dan revan SAH🤭😁
🔥Violetta🔥: Nanti kak 🤭 author nya juga udah gak sabar 🤭🤭🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
"Menikah karena perjodohan tapi hati suami masih di masa lalu" itu klasik yang tidak pernah gagal. Saya langsung bisa merasakan bagaimana hampanya Alina.
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.

Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.

cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰
MamDeyh
Aduhhhh aku dag dig dug deeeer daiaaaaa/Curse//Curse/
🔥Violetta🔥: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Adira🍓
O...o... kamu ketahuan 🤣🤣🤣🤣
Adira🍓
Pandai kali ngegombal mulut kau ini Revan 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Terlalu jujur jawabanmu Bang 🤣🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Maklum, rem-nya blong kak 🤭🤭
total 1 replies
Adira🍓
Hayoo loh Revan,,, ketahuan kan 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!