Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Naluri seorang ibu
Malam di mansion mewah Aris merayap perlahan dalam dekapan keheningan. Jam dinding besar di ruang keluarga telah menunjukkan pukul dua pagi. Di luar, hujan rintik-rintik yang sempat reda sejak sore kembali turun, mengetuk kaca jendela kamar dengan irama monoton yang menenangkan.
Di lantai dua, di dalam kamar utamanya, Raya terlelap dengan tenang di atas ranjang king size. Hari-hari menjelang pernikahan privat mereka di Bali membuat hatinya dipenuhi oleh rasa damai dan antisipasi yang manis.
Sementara itu, di kamar terpisah seberang koridor, Aris masih duduk di balik meja kerjanya, meninjau beberapa dokumen laporan akhir dari Hendra sebelum memutuskan untuk mematikan lampu dan beristirahat.
Namun, kedamaian malam itu mendadak pecah oleh suara rengekan tajam yang menggema dari kamar balita di ujung koridor.
“Ekhmm… Ugh… Ma… Maaa…!”
Suara tangisan itu awalnya terdengar lemah, namun lambat laun berubah menjadi tangisan histeris yang melengking tinggi, penuh rasa sakit dan ketidaknyamanan.
Di kamarnya, Suster Santi yang memang tidur di sofa kecil sudut kamar Cyla langsung terjaga dari tidurnya. Perawat paruh baya itu dengan panik bangkit, menyalakan lampu tidur, dan bergegas menghampiri crib tempat Cyla berbaring.
Begitu Suster Santi menyentuh dahi balita tersebut, ia terperanjat hebat. Kulit Cyla terasa sangat panas, pipinya memerah, dan napas balita itu memburu pendek-pendek dengan tubuh yang sesekali bergetar hebat.
“Ya Tuhan, Cyla… Panas sekali!” seru Suster Santi panik. Ia segera mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air hangat dari termos kamar, lalu menyekah dahi Cyla yang basah oleh keringat dingin. “Suster di sini, sayang… Jangan menangis, ya…”
Namun tangisan Cyla justru makin menjadi-jadi. Balita itu meronta-ronta kesakitan, memanggil-manggil “Mama” di tengah isak tangisnya yang mulai serak.
Suara tangisan histeris yang menembus sekat pintu kamar tidak mungkin diabaikan. Di kamar utamanya, mata Raya langsung terbuka lebar.
Meskipun ingatannya tentang masa lalu masih tertutup rapat di balik kabut amnesia, ada satu hal yang tidak pernah bisa dihapus oleh benturan kecelakaan atau amnesia total:, yaitu naluri keibuan.
Begitu mendengar suara tangisan Cyla yang terdengar begitu merana, hati Raya berdesir ngilu. Ada ikatan batin yang tak kasat mata, sebuah magnet emosional yang langsung menarik kesadarannya secara paksa dari alam tidur.
Raya tidak memedulikan rambutnya yang berantakan atau selimut yang tersingkap. Ia langsung melompat turun dari tempat tidur, dan berlari cepat keluar kamar menuju kamar Cyla tanpa alas kaki.
Begitu Raya membuka pintu kamar Cyla, pemandangan di dalam sana membuat jantungnya seperti berhenti berdetak.
Suster Santi tampak panik, sambil berusaha menenangkan Cyla yang tubuhnya mulai melengkung kaku dengan mata terbelalak sayu.
“Suster! Ada apa dengan Cyla?!” jerit Raya histeris, berlari menerobos masuk dan langsung menerjang ke arah crib.
Tanpa menunggu penjelasan, Raya mengulurkan kedua tangannya, mengangkat tubuh mungil Cyla yang terasa sangat panas membakar ke dalam dekapannya. Saat kulit mereka bersentuhan, air mata Raya langsung menetes deras membasahi pipinya.
“Cyla… Sayang… Mama di sini, Nak! Ada apa dengan anakku?!” tangis Raya pecah seketika. Ia mendekap Cyla erat-erat ke dadanya, mengecup dahi balita itu yang panasnya seolah mampu membakar bibirnya.
“Ibu Raya…! Panas tubuh Cyla melonjak secara drastis dalam waktu singkat!” lapor Suster Santi dengan suara bergetar ketakutan, sementara tangannya gemetar memegang handuk basah. “Saya sudah mencoba mengompresnya, tapi suhu tubuhnya tidak mau turun!”
Cyla mendengking lemah. Mata balita itu mulai berputar ke atas, dan tubuh mungilnya tiba-tiba menegang kaku dengan kejang-kejang kecil yang menghantam otot kakinya.
“Maa… Ma…” rintih Cyla pelan sebelum matanya terpejam rapat dalam ketidaksadaran akibat demam yang terlalu tinggi.
Melihat anaknya kejang di dalam gendongannya, histeria Raya mencapai puncaknya. Ia menjerit histeris, dan mendekap Cyla makin erat sambil menangis sejadi-jadinya.
“Cyla! Jangan tinggalkan Mama! Buka matamu, Nak! Ya Tuhan… Tolong anakku!” tangis Raya menggema memenuhi ruangan, mencabik-cabik keheningan malam mansion tersebut.
Suara jeritan tangis Raya yang begitu memilukan langsung merobek kesadaran Aris di kamar seberang.
Pria itu, yang baru saja hendak mematikan lampu meja kerjanya, tersentak kaget. Tanpa memikirkan alas kaki atau merapikan penampilannya, Aris melompat dari kursinya, berlari kencang menyusuri koridor, dan langsung mendorong pintu kamar Cyla dengan kasar.
“Ada apa?!” suara Aris berteriak panik, napasnya memburu saat ia menerobos masuk ke dalam kamar.
Pemandangan di depannya membuat darah Aris seolah berhenti mengalir.
Raya terduduk lemas di lantai dekat crib, mendekap tubuh Cyla yang terkulai lemas dengan tubuh yang masih bergetar sisa kejang, sementara tangis histeris Raya pecah tanpa henti.
Wajah Raya pucat pasi, air matanya membanjiri wajah cantiknya, dan seluruh tubuh wanita itu bergetar hebat menahan ketakutan kehilangan anak yang sangat dicintainya.
“Aris…!” teriak Raya pilu saat melihat Aris berdiri di hadapannya. Ia mengangkat tubuh Cyla, dan menyodorkannya kepada Aris dengan tangan gemetar parah. “Cyla, Aris… Cyla panas sekali! Dia tadi kejang! Kumohon… selamatkan anak kita, Aris!”
Aris tidak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung berlutut di hadapan Raya dan mengambil alih tubuh mungil Cyla ke dalam dekapannya. Saat tangannya menyentuh kulit Cyla, Aris merasakan panas luar biasa yang merambat ke telapak tangannya. Wajah balita itu sangat pucat dengan bibir mulai membiru.
"Ini bukan demam biasa. Ini sudah masuk fase kejang demam tinggi yang sangat berbahaya," batin Aris berteriak panik. Naluri seorang pelindung dan seorang ayah angkat yang tulus langsung mengambil alih kesadarannya.
Aris mendongak dan menatap Suster Santi yang berdiri terpaku ketakutan di sudut ruangan. “Suster! Ambilkan kunci mobil di meja kerjaku sekarang juga! Siapkan selimut tebal!”
“Baik, Pak!” seru Suster Santi panik, lalu berlari terbirit-birit keluar kamar.
Aris kembali menoleh ke arah Raya. Wanita itu masih terduduk di lantai dan menangis histeris dengan dada kembang kempis, bahkan hampir pingsan karena syok luar biasa.
Aris mengulurkan tangan kirinya, meraih tangan Raya dan menarik wanita itu untuk berdiri bersama-sama.
“Raya, bangun! Kita ke rumah sakit sekarang!” perintah Aris.
Tanpa menunggu persetujuan, Aris merangkul bahu Raya dengan satu tangan, sementara tangan kanannya mendekap erat tubuh Cyla yang terkulai lemas.
Mereka berlari bersama menuruni anak tangga tengah malam itu, menembus lorong mansion yang gelap, menuju mobil sports Aris yang terparkir di pelataran depan.
Bersambung...