NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Melania-1623

Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."

Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.

Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.

Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Pembalasan Tanpa Ampun

Selamat membaca...

_______

Malam itu, Jakarta Selatan diguyur hujan deras. Kilatan petir sesekali menyambar, menerangi kaca jendela gedung pencakar langit Pratama Group. Di lantai teratas, Aris Pratama sedang duduk di balik meja kerjanya dengan cemas. Gelas anggur di tangannya bergetar pelan.

Berita kegagalan anak buahnya menyerang rumah Laras baru saja ia terima, bersamaan dengan kabar bahwa saham anak perusahaannya di bursa efek dibantai habis oleh serangan balik Evan.

Brak!

Pintu ruang kerja Aris didobrak paksa dari luar. Dua orang pengawal pribadi Aris terlempar ke lantai marmer dengan tubuh lebam.

Aris berdiri terperanjat dari kursinya. "Siapa kalian—"

Ucapan Aris terhenti di udara. Dari balik kegelapan lorong, melangkah keluar sosok Evan Adijaya. Jas hitamnya nampak sangat rapi, matanya dingin tak berjiwa, bagaikan malaikat pencabut nyawa yang baru saja menginjakkan kaki di ruangannya.

Di belakang Evan, Bimo melangkah masuk bersama empat pria berbadan tegap berpakaian serba hitam, disusul oleh Aura yang berjalan di samping suaminya dengan tatapan tajam tak tergoyahkan.

"E-Evan?!" Aris membelalak, mundur satu langkah hingga punggungnya menabrak meja kayu mahogani. "Bagaimana bisa kau menerobos masuk ke gedungku?!"

Evan tak menjawab. Ia melangkah tenang, setiap ketukan pantofelnya di atas marmer bergema bagai hitungan mundur kematian karier Aris. Evan berhenti tepat dua langkah di depan meja Aris.

"Kau menyentuh istriku, kau mengancam keluarganya, dan kau mengacaukan rumahku," ujar Evan. Suaranya tidak keras, namun sarat akan tekanan intimidasif yang membuat pasokan udara di ruangan itu mendadak mengempis. "Kau pikir gedung ini bisa melindungimu dari kemurkaanku, Aris?"

"Jangan gertak aku, Evan!" teriak Aris berusaha menutupi rasa takutnya yang meluap. Ia meraih ponselnya dari atas meja. "Aku punya bukti foto surat perjanjian dua miliar itu! Sekali aku tekan tombol ini, foto itu akan langsung terkirim ke seluruh redaksi berita nasional dan media sosial! Reputasi Adijaya Group akan hancur!"

Aura melangkah maju, berdiri sejajar dengan Evan. Senyum tipis yang penuh cemoohan terukir di bibirnya.

"Tekan saja, Aris," sela Aura tenang, menyilangkan kedua tangannya di dada.

Aris mengerutkan keningnya, jemarinya membeku di atas layar ponsel. "Apa katamu?!"

"Tekan tombol itu kalau kau ingin mempermudah tugas kepolisian yang sudah menunggu di lantai dasar," lanjut Aura tajam. "Bimo sudah menyerahkan rekaman percakapan pemerasanmu, bukti transfer dana ke para peretas, serta bukti kejahatan pengorganisasian penyerangan rumah pribadi ke Polda Metro Jaya satu jam lalu."

Aris mendadak pucat pasi. "A-apa...?"

Bimo maju selangkah seraya meletakkan sebuah map dokumen tebal berwarna hitam di atas meja Aris.

"Tuan Aris Pratama," Bimo membuka suara dengan nada formal. "Atas perintah Komisaris Utama Adijaya Group, seluruh jalur kredit bank utama untuk Pratama Logistics resmi dibekukan malam ini. Selain itu, OJK baru saja membekukan izin operasional perusahaan Anda atas dugaan manipulasi laporan keuangan dan pencucian uang."

Brak!

Ponsel di genggaman Aris terlepas, jatuh menghantam lantai hingga layarnya retak seribu.

"Tidak... Ini tidak mungkin! Perusahaanku..." gumam Aris dengan napas tersengal. Tatapannya liar memandangi Evan. "Kau... kau menghancurkanku hanya karena seorang wanita?!"

Evan menundukkan tubuhnya, menatap Aris dari jarak dekat dengan iris mata yang berkilat mematikan.

"Dia bukan sekadar 'seorang wanita'," desis Evan dengan penekanan pada setiap kata. "Dia adalah Aura Dania Adijaya. Istri sahku, pemilik hatiku, dan wanita yang hukumnya haram untuk kau sentuh walau hanya dalam bayanganmu."

Evan menepuk bahu Aris dengan keras hingga pria itu terduduk lemas di kursinya, kehilangan seluruh daya dan keangkuhannya.

"Selamat menikmati sisa hidupmu di balik jeruji besi, Tuan Aris," bisik Evan dingin.

Siren mobil polisi terdengar melolong nyaring dari arah jalan raya di bawah gedung. Pintu ruang kerja Aris kembali terbuka, dan kali ini beberapa petugas kepolisian berseragam lengkap melangkah masuk untuk memborgol tangan Aris atas tuduhan tindak pidana pemerasan dan percobaan penculikan.

Saat Aris diseret keluar dari ruangannya dalam keadaan hancur dan terhina, ia sempat melirik ke arah Aura. Namun, Aura bahkan tidak lagi memandangnya. Wanita itu sudah sepenuhnya menyerahkan pandangannya pada Evan.

Ruangan kembali hening. Hujan di luar jendela masih mengguyur deras.

Evan berbalik, menatap Aura yang berdiri menunggunya. Seluruh ketegangan dan aura mematikan dari wajah sang CEO seketika meleleh, berganti menjadi tatapan lembut nan penuh rasa bersalah.

Evan melangkah mendekati Aura, merengkuh tubuh wanitanya ke dalam pelukan yang amat erat dan hangat.

"Semuanya sudah selesai, Aura," bisik Evan di samping telinga Aura, mencium rambut harum istrinya dengan lembut. "Tidak akan ada lagi yang bisa mengancammu atau Laras."

Aura melingkarkan kedua tangannya di pinggang Evan, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu, mendengarkan detak jantung Evan yang teratur. Rasa aman dan kedamaian yang luar biasa menyelimuti hatinya.

"Terima kasih, Evan... Terima kasih karena selalu menjagaku," ucap Aura tulus dengan mata berbinar haru.

Evan melepaskan pelukannya pelan, merangkum kedua pipi Aura dengan telapak tangannya yang kokoh, lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat penuh rasa cinta di bibir Aura sebuah kemenangan manis yang makin menguatkan ikatan jiwa mereka berdua.

Namun, di kediaman Adijaya, Siska yang menerima kabar penangkapan Aris melalui telepon seketika membanting porselen kesayangannya ke dinding.

"Dasar Aris tidak berguna!" amuk Siska dengan mata merah menyala. Ia menoleh ke arah Raka yang berdiri gemetaran. "Raka! Siapkan rencana terakhir kita. Jika kita tidak bisa menjatuhkan Evan lewat Aris... kita sendiri yang akan menghabisi Kakek Surya!"

Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...

Vote untuk bab selanjutnya ya!

1
Orang
Kerenn...
Orang
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!