Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35 - Interlude: Diary Keiko
Malam itu, setelah video call selesai, Keiko tidak langsung tidur.
Lampu meja masih menyala kecil. Di layar ponsel, folder **Langit dari Kelvin** terbuka. Foto terakhir adalah jendela kontrakan Dago yang buram oleh hujan. Tidak ada matahari, tidak ada warna jingga, hanya kaca basah dan bayangan lampu dari dalam kamar Kelvin.
Keiko menyukai foto itu lebih dari yang seharusnya.
Dia menutup galeri, lalu membuka laci paling bawah.
Diary bersampul ungu muda masih berada di sana, bersama pulpen warna senada dan beberapa kertas kecil yang dia simpan tanpa alasan jelas. Salah satunya adalah kertas bertuliskan **Aku di sini**. Sudutnya mulai sedikit melengkung karena terlalu sering disentuh.
Keiko meletakkan semuanya di meja.
Di luar kamar, Bu Tuti sudah tidur. Kak Sari pulang ke studio setelah memastikan Keiko benar-benar makan malam. Rumah sunyi, tetapi tidak sekosong dulu. Di ponselnya, Kelvin baru saja mengirim pesan sebelum tidur.
**Kelvin**: Kalau pusing, jangan belajar diam-diam.
Keiko tidak membalas. Dia takut kalau membalas sekarang, dia akan mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik lagi.
Dia membuka diary.
Halaman terakhir masih berisi kalimat lama.
*Aku bertemu seseorang yang menyalakan cahaya kecil di kelas yang gelap.*
Keiko menyentuh kalimat itu dengan ujung jari.
Waktu menulisnya, dia belum tahu cahaya kecil itu akan menjadi foto langit, susu hangat, helm pink, biskuit cokelat di depan supermarket, dan suara yang menjawab setiap kali dia memanggil.
Dia mengambil pulpen.
*18 Januari 2023*
*Hari ini Nadia membelikanku teh hangat.*
*Dia bilang lambungku tua. Kalau orang lain yang bilang, mungkin aku tersinggung. Tapi Nadia mengatakannya sambil berjalan di sisi luar koridor, supaya aku tidak terdorong murid lain. Jadi aku tahu itu caranya peduli.*
*Nadia juga bilang, jangan memutuskan sendiri apa yang orang lain sanggup terima.*
*Aku mengangguk saat itu.*
*Tapi setelah sampai rumah, kalimat itu tidak mau pergi.*
*Aku terus memikirkan Kelvin.*
*Aku selalu berkata aku menyembunyikan semuanya untuk melindunginya. Karena UTBK masih jauh tapi tetap akan datang. Karena dia sedang belajar percaya bahwa masa depan bukan cuma perintah William. Karena dia sudah terlalu sering ditinggalkan orang yang seharusnya tinggal.*
*Semua alasan itu benar.*
*Tapi mungkin ada alasan lain yang lebih buruk.*
*Aku takut kalau dia tahu, dia akan melihatku seperti Mama melihat hasil lab. Seperti sesuatu yang sudah dihitung mundur.*
*Aku takut kalau dia tahu, semua sunset yang dia kirim akan berubah menjadi belas kasihan.*
*Aku takut kalau dia tahu, dia akan tetap tinggal.*
*Dan aku lebih takut lagi kalau aku mulai ingin dia tinggal.*
Keiko berhenti menulis.
Di luar jendela, malam Bandung basah. Sisa hujan membuat udara lebih dingin. Dia menarik kardigan ke bahu, lalu menatap kertas kecil **Aku di sini** di samping diary.
Kata-kata itu tidak panjang. Tidak indah seperti puisi. Tidak dijanjikan di bawah langit penuh bintang.
Justru karena sederhana, Keiko tidak tahu cara melawannya.
Dia menulis lagi.
*20 Januari 2023*
*Kelvin mengirim foto sunset lagi.*
*Hari ini warnanya tidak terlalu bagus. Lebih banyak abu-abu daripada jingga. Dia menulis: "Langitnya jelek, tapi tetap langit."*
*Aku menyimpannya juga.*
*Mungkin aku mulai serakah.*
*Dulu, kalau tubuhku sakit, aku hanya ingin hari cepat selesai. Kalau dokter bicara, aku hanya ingin kalimatnya pendek. Kalau Mama dan Papa bertengkar, aku hanya ingin pintu kamarku cukup tebal.*
*Sekarang aku ingin hal-hal kecil bertahan lebih lama.*
*Aku ingin Kelvin mengirim langit besok.*
*Aku ingin Yuan Yuan menjatuhkan penghapus lagi saat video call.*
*Aku ingin Bagas ribut, Dimas menghela napas, Nadia menyindir orang, dan Pak Arif pura-pura tidak melihat kami belajar terlalu lama di belakang kelas.*
*Aku ingin duduk di motor dengan helm pink dan memegang ujung jaket Kelvin saat jalan menurun.*
*Aku ingin mendengar dia berkata "Aku di sini" sampai kalimat itu tidak perlu membuat dadaku sakit.*
*Keinginan-keinginan kecil ini membuatku takut.*
*Karena orang yang waktunya panjang boleh punya banyak keinginan kecil. Kalau satu tidak jadi, masih ada yang lain.*
*Aku tidak punya kemewahan itu.*
Keiko menekan pulpen terlalu kuat sampai titik tinta melebar.
Dia meletakkan pulpen, memijat pergelangan tangannya. Di meja samping, obat malam sudah disiapkan Bu Tuti dalam wadah kecil. Tiga tablet berbeda warna, segelas air hangat, dan biskuit tawar.
Hidupnya selalu kembali ke benda-benda itu.
Obat. Air hangat. Jadwal kontrol. Hasil lab. Tangan Bu Tuti yang pura-pura tidak gemetar. Mata Kak Sari yang marah agar tidak menangis.
Lalu, di antara semua itu, ada Kelvin.
Keiko membuka halaman baru.
*23 Januari 2023*
*Hari ini aku hampir mengatakan sesuatu saat video call.*
*Kelvin sedang mengerjakan soal. Dia mengerutkan kening karena salah tanda negatif. Aku ingin tertawa, tapi tenggorokanku tiba-tiba sakit.*
*Bukan sakit karena obat.*
*Sakit karena aku ingin bilang, aku suka melihatmu seperti ini.*
*Aku suka saat kamu fokus.*
*Aku suka saat kamu pura-pura tidak peduli tapi tetap mengirim foto langit.*
*Aku suka saat kamu menaruh susu hangat di mejaku tanpa melihatku.*
*Aku suka saat kamu marah kalau aku bohong, padahal kamu juga sering bohong soal lukamu sendiri.*
*Aku suka namaku dipanggil dengan suaramu.*
*Aku suka memanggil namamu dan tahu kamu akan menjawab.*
Keiko berhenti.
Matanya panas.
Dia menunduk, membiarkan rambut jatuh menutupi wajah. Tidak ada orang di kamar, tetapi dia tetap merasa seperti baru mengaku terlalu banyak.
Pulpen di tangannya bergerak lagi, kali ini lebih lambat.
*Aku mulai suka padanya.*
*Tapi aku nggak boleh.*
*Aku orang yang akan mati.*
*Apa yang bisa aku janjikan padanya?*