Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Mbak Bon, nggak papa? Bisa nyetir sendiri kah?" tanya Nita.
"Hahahha, aku nggak papa, santai aja."
"Ya udah, nyetirnya hati-hati ya! Aku duluan ya, maaf. Ada acara arisan keluarga habis ini." pamit Nita.
"Iya Mbak bon, hati-hati. Makasih ya, udah ditemenin nengok Mas Yunus."
Dia hanya mengacungkan dia jempol lalu perlahan mulai berlalu.
Kutarik nafas panjang dan dalam. " Ya Allah, Ya rahman, Yaaa Rohim. Engkau yang maha Tahu segalanya. Dan engkau yang maha tahu apa yang hambanya butuhkan." ucapku dalam hati lalu menarik gas motor dengan kecepatan standart membelah macetnya jalanan.
Hampir satu jam, aku baru sampai di rumah karena jalanan lumayan macet. Kulihat ada Putri yang duduk di depan.
"Assalamu'alaikum," ucapku saat hendak masuk setelah memarkirkan motor.
"Wa'alaikumsalam," jawab Putri.
"Ngapain di depan? Bumil kok bengong, sendirian lagi?" tanyaku
"Nunggu Azka pulang, Mbak."
"Kenapa? Lagi pengen sesuatu?" tanyaku.
Putri tersenyum, "Iya," jawabnya malu. "Tadi udah WA ke Mas Azka Mbak. Tapi katanya pulangnya agak malam. Masih di luar kota."
"Emang lagi pengen apa?"
"Bakso bakar, Mbak." jawabnya malu-malu.
"Mbak beliin aja mau?" tanyaku
"Jangan Mbak, ngrepotin!"
"Ish, udah nggak papa. Tapi Mbak mandi dulu ya. Gerah ini, bau juga."
"Iya Mbak,"
"Ibu sama Bapak kemana, Dek? Rumah kok sepi?"
"Ke rumah Budhe, tadi pamitnya. Ada acara kirim doa."
"Astagfirullah, aku lupa kalau budhe ada acara selamatan. Kamu kok nggak ikut?"
"Iya, tadi Ibu ngajakin. Tapi aku masih malu mbak. Apalagi nggak ada Azka. Mbak juga masih kerja kan tadi."
"Nggak papa kalau kamu mau ikut, ya ikut aja."
Putri hanya tersenyum menanggapi.
"Ya udah, Mbak bersih-bersih dulu ya. Habis itu Mbak belikan bakso bakarnya."
"Iya, Mbak. Aku ikut boleh? Pengan langsung makan di tempat." ucapnya sambil terkekeh.
"Iya!"
Setelah itu, aku berlalu pergi. Badan rasanya sudah lengket dan tidak nyaman. Setelah beberapa saat, aku selesai bersiap. Kulihat Putri masih menunggu di ruang tamu.
"Yuk, mau beli bakso bakar dimana?" tanyaku.
"Yang ndek ujung gang kampung aja Mbak, kemarin ada temen posting kayaknya enak."
"Ooo... kok nggak ngomong dari kemarin kalau pengen... ngomong sama Mbak nggak papa lho Put, nungguin Azka keburu udah ilang pengennya. Yuk, berangkat sekarang aja."
Segera aku naik ke motor yang beberapa waktu lalu baru saja ku parkir. Setalah memastikan Putri aman di atas boncengan, segera kulajukan motor perlahan.
Beberapa menit kemudian kami sampai di warung bakso bakar yang Putri inginkan. Setelah memesan pada pelayan, kami segera mencari kursi. Terdengar sering ponsel dari tas slempang yang kubawa. Kulihat ada nama Mas Yunus di layar ponsel ku.
Sebenarnya aku masih malas berbicara dengannya. Jadi ku tekan sembarang tombol untuk menghilangkan suara deringnya. Setelah panggilan terputus baru kubuat mode senyap. Aku hanya ingin menikmati bakso tanpa gangguan.
Sambil ngobrol dan bertukar cerita dengan adik iparku, hingga tak terasa satu porsi bakso sudah habis. Belum lagi bakso bakar yang dipesan terpisah, juga aneka bakwan nya. Hah.... tumben porsi ku kayak kuli.
Setelah selesai membayar di kasir, kamipun pulang. Hari pun sudah beranjak malam. Setelah sampai dirumah segera ku suruh Putri
istirahat. Tidak perlu menunggu Azka pulang.
"Langsung istirahat aja, Dek. Nggak usah nunggu Azka pulang!"
"Iya, Mbak. Ya udah, makasih traktiran nya ya, Mbak. Aku masuk kamar dulu."
"Iya, kalau ada apa-apa, atau pengen apa, ngomong aja sama Mbak. Nggak usah malu atau sungkan. Mbak ini juga mbak kamu lho.."
"Iya mbak." jawab Putri.
Aku pun juga segera masuk ke kamar karena merasa sangat lelah. Sedari tadi belum istirahat sama sekali.
*****
Beberapa hari berlalu, aku masih menghindari kontak dengan Mas Yunus. Entah, tapi aku hanya tidak ingin ada masalah lain yang muncul karena kedekatan kami mengingat calon istri Mas Yunus yang sudah datang. Dan selama ini aku tidak pernah tahu jika dia sudah memiliki calon istri.
Tapi aku tidak bisa lagi menghindar saat pagi ini Mas Yunus sudah mulai masuk kantor setelah mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu. Baru saja aku sampai di depan gerbang masuk karyawan dan masuk ke parkiran motor. Lelaki itu baru saja keluar dari gudang kiriman.
"Ran,.... " sapanya.
Aku hanya tersebut sambil menganggukkan kepala. "Sudah sehat, Mas?" tanyaku basa basi.
Bagaimanapun aku tidak bisa memusuhi lelaki itu, karena dia yang dulu ada di masa-masa sulit saat aku dikhianati oleh dua orang sekaligus.
"Dan, soal Bia.... aku minta maaf." ucapnya sambil memegang pergelangan tanganku.
"Kenapa harus minta maaf, Mas?" tanyaku.
"Iya, karena selama ini aku sudah menutupi Bia dari kamu. Tapi, yang aku rasakan sama kamu itu nyata Ran. Aku sayang sama kamu. Bener-bener sayang. Aku nggak bisa jauh dan kehilangan kamu."
Aku menggelengkan kepala. Aku tidak bisa dan tidak akan pernah mau merusak hubungan orang. Semua itu aku kembalikan pada diriku sendiri. Saat aku diperlakukan seperti itu, akupun pasti merasakan sakit. Dan aku tidak mungkin menyakiti hati perempuan lain, karena aku tahu seberapa sakitnya dikhianati.
"Maaf, Mas! Jangan egois." ucapku sambil melepaskan pegangan tangannya. "Dia yang hadir lebih dulu, simpan saja perasaan Mas. Jangan sampai dia tahu, rasanya sakit Mas, saat lelaki yang kita harapkan dan kita bela mati-matian justru berbalik mengkhianati komitmen yang sudah ada. Lagipula, aku hanya menganggap kakak selama ini. Terimakasih untuk semua rasa dan semua hal yang sudah Mas berikan selama ini. Tapi mohon maaf, aku tidak bisa membalas perasaan Mas." jawabku lalu berlalu pergi masuk ruangan ku dan bersiap bekerja.
Saat sampai di ruangan, kuhirup nafas panjang dan kulepaskan pelan-pelan. "Ini sudah benar, jangan merusak sesuatu yang sudah tertata dan jangan hancurkan harapan orang lain." gumamku pelan.
Tak lama, ternyata Mas Yunus masuk ke ruangan ku. Aku hanya melihatnya dengan ujung mataku saja, karena saat ini aku sedang fokus dengan hasil stok opname parcial anak gudang.
"Ran, aku tuh nggak cinta sama dia. Aku cintanya sama kamu." ucapnya.
"Mas, please! Mas nggak salah kok punya perasaan seperti itu. Tapi tolong, Mas hargai juga aku. Aku hanya menganggap Mas sebagai kakak. Dan aku tidak mau dituduh sebagai pelakor nantinya saat Mbak Bia tahu perasaan Mas sama aku."
"Sudah ya, aku banyak kerjaan yang kemarin belum kepegang. Maaf ya Mas. Aku selesaikan dulu kerjaan aku. Sebelum transaksi hari ini dibuka." ucapku agak kesal.
Akhirnya, lelaki itu kembali ke ruangannya sendiri. Akupun kembali fokus pada apa yang aku kerjakan sebelumnya.
Ddrrtttt...
Ddrrtttt...
Ponsel yang aku letakkan di meja bergetar tapi hanya ku lirik saja untuk sekedar tahu siapa yang menelpon. Ternyata satu nomor asing. Kuambil ponsel itu lalu menggeser icon berwarna hijau untuk menerima panggilan.
"Assalamu'alaikum," ucapku.
"Waalaikumsalam, benar ini nomor ponsel nya Rani?"
"Iya benar, maaf dengan siapa ya?" sahutku dengan bahasa formal karena takutnya dari suplier yang memang tahu nomor pribadiku untuk memudahkan kontak saat di luar jam kerja. Karena untuk ponsel kantor yang kupegang memang tidak pernah aku bawa pulang. Malas saja harus pulang lagi jika sampai ponsel kantor tertinggal dirumah.
"Maaf, aku Bia. Aku dapat nomor kamu dari Ibu Mas Yunus. Boleh kita ketemu nanti saat kamu senggang?"
Nah kan, inilah yang aku takutkan. Aku tidak mau ada kesalahpahaman.
"Bisa nanti jam istirahat ya, Mbak. Tapi aku nggak bisa lama. Terus bisanya juga cuma di sekitar kantor aja. Gimana?"
"Boleh, nanti kamu istirahat jam berapa?"
"Kira-kira jam satu aku baru keluar Mbak. Soalnya harus gantian sama temen-temen yang lain."
"Iya, oke. Nanti aku kabari aku nunggu dimana ya. Makasih ya Ran."
"Iya, Mbak. Sama-sama. Aku lanjut kerja lagi ya, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," jawab suara di seberang sana kemudian sambungan telepon pun terputus.