NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Selama sisa hari itu, Nana tidak bertanya kenapa Steven sudah berdiri di ujung lorong sebelum pesan Hasan masuk.

Ia ingin bertanya. Setiap kali melihat pantulan kaca, setiap kali mendengar langkah di belakangnya, pertanyaan itu muncul seperti duri kecil. Namun Steven menghilang setelah memberi perintah, dan Rumah Besar Sie berubah menjadi rumah yang berpura-pura biasa.

Makan siang tetap disajikan tepat waktu.

Tamara tetap memeriksa daftar belanja dapur.

Lusia tetap mengeluh bahwa suasana rumah membuat migrainnya kambuh.

Namun di bawah semua itu, Nana melihat pintu yang biasanya terbuka kini tertutup setengah. Penjaga yang biasanya mengobrol dengan sopir kini berdiri berjauhan. Dua laki-laki berpakaian biasa muncul di tempat berbeda setiap beberapa jam, satu dekat taman, satu dekat garasi, selalu tampak sibuk melakukan hal kecil yang tidak penting.

Mereka tidak pernah melihat Nana terlalu lama.

Justru karena itu, Nana tahu mereka melihat semuanya.

Menjelang sore, Irwan datang ke ruang makan kecil saat Nana sedang membantu Stella menyusun obat dan kain kompres di nampan.

"Tuan Steven minta ponselmu."

Nana langsung menutup tangan di atas ponselnya. "Kenapa?"

"Nomor yang mengirim foto tadi mengirim file lagi."

Stella hampir menjatuhkan botol obat. "File apa?"

Irwan tidak menjawab Stella. Ia menatap Nana, menunggu.

Nana membuka WhatsApp. Benar, ada pesan baru dari nomor yang sama. Bukan foto. Video berdurasi dua belas detik.

"Jangan buka di sini," kata Irwan.

Terlambat. Jempol Nana sudah bergerak.

Layar menampilkan gang sempit di belakang deretan ruko kecil. Kamera goyah, seperti direkam dari motor yang berhenti sebentar. Seorang pemuda duduk bersandar pada tembok, seragam vendor laundry-nya kotor. Wajahnya tidak terlihat jelas. Di dekat kakinya, ada papan kardus bertuliskan huruf besar.

LAIN KALI, ANAK RUMAH SIE YANG DUDUK DI SINI.

Video berhenti.

Stella menutup mulut dengan kedua tangan.

Nana merasa seluruh darahnya turun ke telapak kaki. "Dia siapa?"

Irwan mengambil ponsel itu dengan gerakan hati-hati. "Helper vendor laundry. Dipakai untuk memegang ponsel yang mengirim foto tadi. Dia ditemukan hidup. Sekarang di klinik rekanan."

"Dipakai?"

"Dibayar dulu. Dipaksa kemudian."

Kalimat itu pendek, tapi Nana mengerti bagian yang tidak disebut. Orang yang memotret tidak selalu orang yang memilih memotret. Hasan bisa memakai tangan siapa saja, lalu membuangnya ketika tangan itu tidak berguna.

Stella meraih lengan Nana. "Duduk."

"Aku baik-baik saja."

"Kau pucat."

"Aku bilang aku baik-baik saja."

Suaranya keluar lebih keras dari niatnya. Stella tersentak. Nana langsung menyesal, tapi kata maaf tersangkut di tenggorokan.

Irwan mengembalikan ponsel setelah menyalin file. "Mulai malam ini, jangan keluar kamar tanpa memberitahu staf depan."

"Staf depan atau Tuan Steven?"

Irwan diam setengah detik. "Staf depan."

Nana menangkap jeda itu.

"Dia yang menyuruhmu mengatakan itu."

"Aku menyampaikan prosedur."

"Prosedur yang selalu punya namanya di belakang."

Irwan menatapnya lebih serius. "Nana, kalau ada satu hal yang harus kau pahami dari Hasan, pahami ini. Dia tidak hanya menyerang orang. Dia menyerang perasaan bersalah. Dia akan membuatmu berpikir bahwa setiap orang yang terluka di sekitarmu adalah akibat kau tidak cukup diam."

Nana menekan bibir.

"Jangan bantu dia," lanjut Irwan.

Itu bukan kalimat lembut. Justru karena tidak lembut, Nana bisa menerimanya.

Stella akhirnya menariknya duduk. "Aku akan minta Cici Tamara memindahkan vendor laundry."

"Jangan," kata Irwan.

Stella menatapnya tajam. "Kenapa semua orang hari ini bilang jangan?"

"Karena kalau semua berubah serentak, Hasan tahu titik mana yang mengenai kita." Irwan menurunkan suara. "Yang perlu berubah cukup jalurnya. Bukan wajahnya."

Kata-kata itu mirip dengan kata Steven pagi tadi.

Nana melihat pintu yang mengarah ke lorong. Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah ini, ia merasa dinding tinggi Rumah Besar Sie tidak membuatnya aman. Dinding hanya membuat bahaya datang lewat cara yang lebih diam.

Malam turun pelan.

Stella memaksa Nana makan bubur lagi, kali ini tanpa gula merah karena Nana tidak bisa menelan manis. Lusia mengunci diri di kamar dan memanggil dokter keluarga karena tekanan darahnya naik. Tamara berbicara lama dengan William di ruang kerja. Suara mereka tertahan pintu tebal, tapi sesekali Nana mendengar nama Hasan, vendor, dan Albert.

Albert masih di rumah aman.

Nana teringat wajah Albert saat berkata bahwa takut tidak berarti pengecut. Ia ingin percaya kalimat itu. Namun malam ini, takut tidak terasa seperti guru. Takut terasa seperti tangan yang menekan dada dari dalam.

Menjelang tengah malam, rumah akhirnya sunyi.

Nana seharusnya tidur. Stella bahkan meninggalkan lampu kecil menyala di kamarnya, seolah Nana masih anak yang takut gelap. Nana tidak mematikannya. Ia duduk di tepi ranjang, memegang saputangan hitam yang sejak Pasar Atom ia simpan di laci.

Saputangan Steven.

Ia sudah mencucinya. Kainnya rapi, tapi bekas kusut di sudutnya tidak hilang sepenuhnya. Nana tidak tahu kenapa ia belum mengembalikannya. Mungkin karena setiap kali hendak mengembalikannya, Steven selalu lebih dulu menjadi dingin dan menjauh.

Malam itu, Nana berdiri.

Ia tidak keluar lewat pintu belakang. Ia tidak melewati laundry. Ia hanya berjalan ke lorong utama, berniat meletakkan saputangan itu di meja kecil dekat ruang kerja, tempat staf biasa menaruh barang untuk anggota keluarga.

Rumah Besar Sie pada malam hari punya suara berbeda. Pendingin ruangan mendengung tipis. Lantai kayu di dekat tangga berderit kecil. Dari halaman, ada suara penjaga batuk pelan.

Nana baru sampai di belokan menuju ruang kerja ketika ia melihat cahaya tipis dari pintu samping perpustakaan.

Pintu itu tidak tertutup rapat.

Suara Steven keluar dari celahnya.

"Tidak. Jangan hubungi nomor rumah lagi."

Nana berhenti.

Nada Steven berbeda. Bukan nada malas yang biasa ia pakai di depan keluarga. Bukan juga nada tajam saat memberi perintah kepada Irwan. Suara itu rendah, tertahan, dan anehnya penuh hormat.

"Hasan sudah masuk terlalu dekat. Anak itu menjadi titik tekan baru."

Anak itu.

Jari Nana mengencang di saputangan.

Steven diam sebentar, mendengarkan suara di seberang telepon.

"Saya tahu risikonya, Pak. Tapi kalau jalur Albert bocor dari dalam, kita tidak bisa hanya mengejar orang luar."

Nana menahan napas.

Jalur Albert bocor dari dalam.

"Belum," kata Steven lagi. "Belum ada bukti yang bisa dipakai di depan Papa. Kalau saya salah bergerak, seluruh rumah akan melihat saya sebagai pengkhianat lebih cepat dari rencana mereka."

Pengkhianat.

Kata itu membuat udara di lorong terasa dingin.

Nana mundur setengah langkah. Tumitnya menyentuh kaki meja kecil di belakangnya. Sebuah vas porselen bergoyang pelan.

Di dalam perpustakaan, suara Steven berhenti.

Nana menangkap vas itu sebelum jatuh, tapi bunyi kecil tetap terdengar.

Pintu perpustakaan terbuka.

Steven berdiri di ambang pintu, ponsel masih menempel di telinganya. Matanya menemukan Nana, lalu turun ke saputangan hitam dalam genggamannya.

Di seberang telepon, suara laki-laki tua terdengar samar, terlalu jauh untuk dikenali.

Steven memutus panggilan.

"Kau dengar apa?"

Nana menatap wajahnya, lalu pintu gelap di belakangnya.

Untuk pertama kalinya, pertanyaan tentang Hasan bergeser ke tempat lain.

Malam itu, Nana ingin tahu satu hal saja.

Steven sebenarnya sedang bicara dengan siapa?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!