Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 010
Ruang Baca Baskara
Untuk pertama kalinya, Bunga menyadari mendekati seseorang sebagai jalan menuju musuh bisa menjadi lebih rumit daripada memanjat pagar.
Kesadaran itu belum sempat hilang ketika Melati mengajaknya kembali ke rumah Prawira tiga hari kemudian. Alasannya sederhana: mencoba beberapa pakaian lagi, makan siang ringan, lalu membantu Melati memilih barang untuk charity auction berikutnya. Alasan yang terdengar santai. Bunga sudah belajar bahwa dalam dunia ini, hal santai sering kali membuka pintu paling penting.
"Kak Bas ada di rumah," kata Melati begitu mereka turun dari mobil. "Kalau kamu bosan lihat baju, minta dia tunjukkan ruang bacanya. Dia suka sekali pamer koleksi, cuma pura-pura tidak."
"Aku tidak bosan lihat baju," jawab Bunga cepat.
Di dalam kepala, Tuan Misterius berkata, "Ruang baca pribadi lebih berguna daripada lemari pakaian."
"Buat kamu, semua ruangan berguna kalau ada dokumen," balas Bunga dalam hati.
"Benar."
Rumah Prawira pada siang hari terasa berbeda dari malam pesta. Tanpa lampu taman dan musik, kemewahannya justru lebih jelas. Lantai marmer memantulkan suara langkah. Di dinding, foto keluarga tersusun rapi: acara militer, penghargaan bisnis, peresmian yayasan, dan beberapa foto dengan pria yang wajahnya membuat dada Bunga langsung mengeras.
Jenderal Hartono Prakoso.
Dalam satu foto, Hartono berdiri di samping Baskara yang masih remaja. Tangan Hartono diletakkan di bahu Baskara seperti tanda kepemilikan.
"Jangan berhenti terlalu lama," kata Tuan Misterius.
Bunga memaksa kakinya bergerak.
Melati membawa Bunga ke lantai dua. Setelah hampir setengah jam memilih blouse dan rok, pintu kamar terbuka sedikit. Baskara berdiri di luar, mengetuk kusen dengan dua jari.
"Mel, Mama mencarimu."
Melati menoleh. "Sekarang?"
"Katanya soal daftar tamu."
Melati menghela napas. "Aku tinggal sebentar, ya. Bunga, kalau bosan, Kak Bas bisa menemani."
Bunga belum sempat menolak, Melati sudah berjalan keluar dengan langkah cepat.
Tinggallah ia dengan Baskara dan Tuan Misterius yang tiba-tiba terlalu diam.
"Kamu suka buku?" tanya Baskara.
Bunga memikirkan buku-buku bekas Nenek Ratna yang halamannya lepas, buku latihan silat, dan majalah lama yang ia baca di warung sambil menunggu pemiliknya lengah.
"Suka yang bisa dibaca tanpa takut kena sidik jari," jawabnya.
Baskara tampak memproses kalimat itu, lalu mengangguk. "Ikut."
Ruang baca Baskara berada di ujung lorong. Pintu kayunya tebal. Begitu dibuka, aroma kertas, kulit, dan kayu tua menyambut Bunga. Rak buku menjulang sampai langit-langit. Ada tangga kecil yang bisa digeser. Di tengah ruangan, meja besar tertata rapi, terlalu rapi untuk orang yang benar-benar sering membaca menurut standar Bunga.
"Dia menyusun buku berdasarkan tinggi punggung," kata Tuan Misterius.
"Itu salah?"
"Itu kejahatan estetika berkedok kerapian."
Bunga hampir batuk untuk menahan tawa.
Baskara menoleh. "Kenapa?"
"Debu," jawab Bunga cepat.
"Ruangan ini dibersihkan setiap hari."
"Mungkin debunya disiplin, Mas."
Baskara menatapnya dua detik, lalu mengambil satu buku dari rak. "Koleksi pertama. Edisi lama tentang sejarah pelayaran."
Bunga menerima buku itu dengan hati-hati. Sampulnya tebal, huruf emasnya sudah sedikit pudar. Ia tidak tahu harga buku seperti itu, tetapi cukup yakin nilainya bisa membayar kosnya berbulan-bulan.
"Kamu mengoleksi yang lama-lama?"
"Sebagian. Peta lama, buku sejarah, miniatur kapal, beberapa arsip keluarga."
"Miniatur kapal?" Tuan Misterius terdengar tersinggung. "Tentu saja."
Bunga menggigit bibir.
Baskara membuka kabinet kaca di sisi ruangan. Di dalamnya ada miniatur kapal kayu, kompas antik, patung kecil, dan beberapa benda yang ditata seolah punya cerita besar.
"Ini hadiah dari Paman Hartono," kata Baskara sambil menunjuk kompas tua. "Katanya ditemukan di Kalimantan."
Jantung Bunga memukul tulang rusuknya.
"Jangan bereaksi," perintah Tuan Misterius.
Bunga menunduk sedikit, pura-pura mengamati kompas. "Kalimantan luas sekali."
"Paman punya banyak proyek di sana."
"Proyek tambang?"
Baskara meliriknya. "Sebagian. Kenapa?"
Tuan Misterius berkata, "Mundur. Terlalu cepat."
Bunga tersenyum kecil. "Saya cuma pernah dengar tanah Kalimantan mahal. Orang kampung selalu membayangkan tanah luas berarti hidup enak."
"Tidak selalu." Baskara menutup kabinet. Wajahnya kembali dingin. "Tanah luas biasanya berarti banyak orang ingin mengambil."
Kalimat itu membuat Bunga memandangnya lebih tajam.
Apakah Baskara tahu? Atau hanya mengulang kata-kata keluarga?
"Mas Baskara terdengar tidak suka membicarakannya."
"Aku tidak suka membicarakan hal yang orang lain anggap sederhana."
"Seperti?"
"Keluarga."
Ruangan itu mendadak sunyi.
Tuan Misterius tidak segera memberi arahan. Mungkin karena jawaban Baskara menyentuh bagian yang ia pahami juga. Bunga merasakan emosi samar dari Tuan Misterius, dingin tapi tidak kosong.
Bunga meletakkan buku di meja. "Saya juga tidak suka kalau orang terlalu mudah bicara soal keluarga."
Baskara menatapnya. "Karena keluargamu menjaga privasi?"
Pertanyaan itu bisa menjadi jebakan. Bisa juga hanya rasa ingin tahu.
Bunga memilih jalan yang setengah benar.
"Karena kadang yang paling penting dalam hidup tidak bisa dijelaskan pakai silsilah."
Kali ini Baskara benar-benar diam.
Ia berjalan ke rak lain dan mengambil kotak kayu kecil. Di dalamnya ada beberapa kartu pos tua dan foto hitam putih. "Aku mengoleksi benda-benda yang orang lain anggap tidak penting. Mungkin karena di rumah ini semua orang terlalu sibuk mengejar yang terlihat penting."
Tuan Misterius berkata pelan, "Itu inti kelemahannya."
Bunga melihat foto-foto itu. Sebagian hanya kapal, pelabuhan, rumah tua. Tidak semuanya indah. Namun cara Baskara memegangnya hati-hati membuat benda-benda itu terasa seperti bagian dirinya yang jarang ditunjukkan.
"Berarti koleksimu bukan buat pamer," kata Bunga.
"Melati bilang aku suka pamer."
"Melati adikmu. Tugas adik memang mempermalukan kakaknya."
Senyum tipis kembali muncul.
Di atas meja, Bunga melihat map kulit berwarna cokelat dengan logo kecil PT Garuda Perkasa di sudut. Letaknya separuh tertutup buku. Bukan dokumen lelang. Bukan aksesori. Map itu tampak baru.
Tuan Misterius langsung menajam. "Lihat judulnya."
Bunga berpura-pura menggeser buku sejarah, tetapi Baskara lebih dulu menutup map itu dengan tangannya.
"Itu bukan koleksi," katanya.
Nada suaranya sopan, tetapi pintu kecil yang tadi terbuka langsung menutup.
Bunga menarik tangannya. "Maaf."
"Tidak apa-apa."
Namun jelas itu tidak apa-apa.
Sebelum suasana makin kaku, Melati muncul di pintu. "Kalian serius sekali. Aku tinggalkan sebentar sudah seperti rapat warisan."
Bunga tersenyum lega. Baskara menyimpan map itu ke laci meja dan mengunci dengan gerakan hampir tak terlihat.
Tuan Misterius berkata di dalam kepala, "Map itu penting."
Bunga menatap laci yang kini terkunci.
Ia mengingat letaknya, bentuk kunci kecil di jari Baskara, dan bunyi klik yang terlalu pelan untuk ruangan sebesar itu.
Untuk mendekati Hartono, ia harus memahami Baskara. Tetapi untuk memahami Baskara, ia harus mendekati pintu-pintu yang pria itu sendiri tidak mau buka.