NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Rombongan calon peserta Ujian Tujuh Sekte memasuki Hutan Seribu Cemara saat matahari mulai condong ke barat. Pohon-pohon cemara raksasa menjulang tinggi, cabang-cabangnya saling bertaut rapat hingga sinar matahari hanya mampu menembus celah-celah kecil. Udara berubah semakin sejuk, namun juga diiringi kesunyian yang mencekam.

Kusir tua yang mengantar mereka memperlambat laju kereta. "Hutan ini tergolong aman pada siang hari. Tapi begitu malam tiba... banyak binatang roh yang mulai keluar mencari mangsa."

Rivan, pemuda berpakaian mewah yang sebelumnya meremehkan Nara, tersenyum angkuh. "Kalau hanya binatang roh biasa, tidak ada yang perlu ditakutkan."

Beberapa calon peserta mengangguk setuju dengan ucapan Rivan. Di dalam liontin, Guru Tian hanya mendengus pelan.

"Kesombongan sering kali lahir dari kurangnya pengalaman..."

Menjelang senja, rombongan memutuskan untuk berkemah di sebuah tanah lapang di tengah hutan. Api unggun dinyalakan untuk menghalau dingin. Beberapa orang mulai memasak bekal, sementara yang lainnya saling memperkenalkan diri.

"Aku Bima, dari Keluarga Bima di Kota Angin Selatan."

"Aku Sora, murid dari keluarga tabib."

Satu demi satu nama dan latar belakang disebutkan. Ketika giliran Arga tiba, ia hanya tersenyum tipis. "Namaku Arga."

Tidak ada keterangan asal-usul, tidak ada pula latar belakang keluarga. Nara pun memperkenalkan dirinya sama singkatnya. "Aku Nara."

Melihat keduanya hemat bicara, peserta lain tidak berusaha memaksakan pertanyaan lebih lanjut.

Malam semakin larut, dan suasana di sekitar api unggun berubah lebih santai. Beberapa peserta mulai bertukar cerita tentang sekte impian yang ingin mereka masuki.

"Aku ingin masuk Sekte Pedang Langit!"

"Kalau aku lebih memilih Lembah Seribu Obat."

"Aku berniat menjadi murid Istana Api Merah!"

Arga mendengarkan percakapan itu dalam diam. Ia baru menyadari betapa luasnya dunia kultivasi ini. Setiap sekte memiliki keunggulan dan jalannya masing-masing.

Guru Tian berbisik pelan di benaknya, "Jangan terburu-buru memilih, Arga. Yang terpenting bukanlah seberapa besar nama sektenya... Tapi apakah jalan mereka selaras dengan hatimu."

Arga mengangguk pelan, menyimpan nasihat itu baik-baik di dalam dadanya.

Di sisi lain api unggun, Nara sedang sibuk membersihkan busurnya. Rivan berjalan menghampirinya.

"Namaku Rivan," sapanya.

Nara mendongak dan mengangguk sopan. "Ada perlu?"

"Kau seorang pemanah, kan?"

"Ya."

Rivan tersenyum tipis. "Kalau nanti kita ditakdirkan bertemu di dalam ujian... jangan berharap aku akan mengalah padamu."

Nara merespons dengan senyuman tenang. "Aku juga tidak mengharapkan hal itu."

Jawaban santai namun tegas itu memancing tawa kecil dari beberapa peserta di sekitar mereka. Rivan mendengus kesal lalu berbalik kembali ke tempat duduknya.

Arga yang memperhatikan dari kejauhan melangkah mendekat. "Dia mengganggumu?"

"Tidak," sahut Nara pelan. "Hanya terlalu percaya diri."

Arga mengangguk. "Kalau begitu, tidak usah terlalu dipikirkan."

Nara tersenyum menatapnya. "Kau selalu sederhana dalam melihat setiap masalah."

"Memangnya salah?"

"Tidak. Justru itu yang kusukai..."

"...dari dirimu," sambung Nara, meski kalimat terakhir itu hanya tertahan di dalam hatinya.

Tengah malam tiba. Saat sebagian besar anggota rombongan telah terlelap, Guru Tian tiba-tiba membuka matanya.

"Arga."

Arga yang sedang bermeditasi langsung membukanya dan memasang sikap waspada. "Ada apa, Senior?"

"Ada tamu."

Hampir bersamaan dengan teguran itu, tali lonceng kecil yang dipasang oleh para kusir di sekeliling area perkemahan mendadak berdenting nyaring.

Ting... Ting... Ting...

Bunyi itu tidak hanya datang dari satu arah, tapi dari tiga penjuru sekaligus. Dari balik kegelapan pepohonan cemara, puluhan titik cahaya hijau mulai bermunculan.

Namun Guru Tian menggeleng pelan di dalam benak Arga. "Bukan binatang roh... Mereka manusia."

Arga seketika menggenggam erat gagang Pedang Penjaga Langit. Sementara itu, Nara yang juga telah terjaga diam-diam menarik anak panah dan menyiapkannya pada busur.

Malam yang semula tenang... akhirnya pecah seketika.

Ting... Ting...

Suara lonceng peringatan terus berdenting nyaring tanpa henti. Api unggun yang mulai mengecil membuat bayangan pepohonan menari-nari liar di atas tanah. Seluruh calon peserta ujian seketika terbangun dari lelapnya.

"Ada apa?!"

"Apakah ada musuh?"

Beberapa orang langsung menghunus senjata mereka dengan tegang, sementara yang lainnya tampak panik dan gugup.

Arga dengan cepat menyapu pandangan ke sekeliling. Dari balik pekatnya pepohonan cemara, sekitar dua puluh sosok berjubah hitam melangkah keluar secara perlahan. Masing-masing dari mereka mengenakan topeng besi dengan ukiran lambang kepala serigala di bagian dada.

Guru Tian berbisik pelan di dalam benak Arga, "Pemburu Bayaran Serigala Kelabu... Mereka bukan kultivator sekte, mereka pembunuh bayaran yang bertindak demi imbalan."

Pemimpin rombongan berjubah hitam itu maju satu langkah. Tangannya memegang sebuah gulungan buronan, sementara tatapan matanya yang dingin menyapu seluruh peserta.

"Ada satu orang di antara kalian yang kami cari," ucapnya bernada datar. "Serahkan dia, maka kami akan membiarkan sisanya pergi hidup-hidup."

Suasana seketika menjadi sunyi mencekam. Beberapa peserta mulai saling berpandangan dengan cemas—tak seorang pun tahu siapa sosok yang dimaksud.

Hanya Arga yang perlahan meremas gagang pedangnya. Ia tahu pasti... mereka datang untuk dirinya.

Rivan melangkah maju menghadap pemburu itu. "Bagaimana kalau kami menolak menyerahkannya?"

Pemimpin pemburu tersenyum dingin di balik topengnya. "Kalau begitu... kalian semua mati di sini."

Ancaman itu membuat sebagian peserta mulai dihinggapi keraguan. Seorang pemuda bertubuh kurus berbisik pelan pada temannya, "Bagaimana kalau kita cari saja orang yang mereka inginkan? Daripada kita semua ikut terbunuh di sini..."

Bisikan itu terdengar cukup jelas di tengah kesunyian. Wajah beberapa peserta mulai berubah ragu; rasa takut perlahan menguasai diri mereka.

Arga mengembuskan napas panjang, lalu melangkah mantap ke depan rombongan. "Aku yang kalian cari."

Seketika seluruh mata tertuju padanya.

Nara membelalak kaget. "Arga!"

"Aku tidak bisa menyeret kalian semua ke dalam masalah pribadiku," sahut Arga tenang.

Nara menggertakkan giginya kesal. "Lalu kau mau menghadapi mereka semua sendirian, begitu?!"

"Seseorang harus bertanggung jawab, Nara."

Di dalam liontin, Guru Tian hanya memejamkan mata. Muridnya itu... selalu saja memilih untuk memikul semua beban seorang diri.

Pemimpin pemburu tertawa puas. "Bagus. Setidaknya kau bukan seorang pengecut, Bocah." Ia lalu mengibaskan tangannya ke arah peserta lain. "Kalian yang tidak berkepentingan, cepat minggir! Ini urusan kami dengannya."

Namun, sebelum seorang pun sempat bergerak mundur...

Rivan justru melangkah maju dan berdiri tepat di samping Arga.

Arga menoleh kaget. "Kenapa kau berdiri di sini?"

Rivan tersenyum tipis sambil memutar pedangnya. "Aku paling tidak suka dengan pemburu bayaran."

"Kenapa?"

"Karena mereka mengganggu perjalananku menuju tempat ujian," jawab Rivan santai.

Tak berselang lama, beberapa peserta lain ikut melangkah ke depan—Sora si gadis tabib, dua saudara kembar pembawa tombak, hingga seorang pemuda bertubuh besar yang sejak tadi lebih banyak diam.

Nara berdiri mantap di sisi kiri Arga sambil menarik tali busurnya. "Tadi kau bilang kita adalah teman seperjalanan. Sekarang... mereka juga bagian dari kita."

Arga memandang wajah mereka satu per satu. Padahal ia baru saja mengenal mereka hari ini, namun tak satu pun dari mereka yang memilih untuk menumbalkannya.

Guru Tian tersenyum kecil di dalam benak Arga. "Lihatlah, Arga... Ketulusan yang kautanam mulai berbuah kembali kepadamu."

Pemimpin pemburu mendecak kesal melihat pemandangan itu. "Kalau begitu... bunuh mereka semua!"

Dua puluh pemburu bayaran langsung merangsek maju secara bersamaan. Pertempuran sengit pun pecah seketika!

CLANG!

Denting benturan besi beradu riuh. Panah milik Nara melesat cepat dan presisi, memaksa dua pemburu mundur menahan gempuran. Rivan mengayunkan pedangnya dengan teknik yang sangat tajam dan bersih. Sementara itu, Sora bergerak lincah di barisan belakang sambil melemparkan pil asap untuk mengacaukan pandangan lawan.

Arga tidak lagi bertarung sendirian. Hari ini.. ia bertarung bahu-membahu sebagai sebuah tim.

Namun, di tengah keriuhan pertempuran itu...

Guru Tian tiba-tiba berkata dengan nada sangat serius, "Arga... Ada satu orang yang belum bergerak sejak tadi."

Arga dengan cepat mengedarkan pandangannya. Di atas dahan pohon cemara tertinggi... seorang pria bertopeng putih tampak duduk bersandar dengan santai. Tangannya menggenggam sebuah busur hitam panjang, dan anak panahnya... sudah terarah tepat ke posisi jantung Arga.

Sebuah senyuman licik perlahan terkembang di balik topeng putih itu.

"Hmmm..Si Pewaris pedang penjaga langit."

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!