NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.

Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?

Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan

Aroma soto ayam hangat yang mengepul di ruang makan seharusnya menjadi pereda ketegangan yang sempurna. Namun bagi Laila, setiap sendok kuah soto yang masuk ke tenggorokannya terasa seperti menelan kerikil.

Penyebabnya jelas posisi duduknya yang persis berhadapan dengan duo komedian keluarga mereka, Budhe Lastri dan Mbak Elvira, ditambah Arjuna yang duduk tepat di sampingnya dengan wajah sok polos yang amat sangat menyebalkan.

"Juna, ini sotonya ditambah koya lagi yang banyak. Biar staminamu terjaga toh, Le. Pengantin baru itu butuh asupan karbohidrat dan energi ekstra," celetuk Budhe Lastri sambil menyodorkan toples berisi bubuk koya.

Arjuna yang sedang mengunyah sesendok nasi langsung menegakkan punggungnya, menerima toples itu. "Siap, instruksi dilaksanakan, Budhe! Memang betul, operasi mandiri di kamar tidur itu butuh logistik yang matang. Terima kasih koyanya, Budhe. Ini sangat membantu memperkuat pertahanan lini depan."

Uhuk! Uhuk!

Laila langsung tersedak sejadi-jadinya. Wajahnya yang semula putih bersih kini memerah sampai ke telinga. Ia buru-buru menyambar gelas teh hangatnya, meminumnya dengan rakus sambil menatap Arjuna dengan pandangan yang tajam.

"Lho Dek, pelan-pelan toh minumnya. Gak usah buru-buru begitu, Arjuna gak bakal lari ke mana-mana kok, sudah sah ini," ledek Elvira sambil menopang dagunya, menatap Laila dengan cengiran jailnya.

"Lagian Juna, kamu dulu pas SMA kan jago taktik kabur dari guru piket, masa sekarang urusan 'menaklukkan wilayah baru' di kamar hotel semalam aja ceritanya alot banget sih?" sindir Elvira.

"Wah Mbak El, kamu jangan meremehkan medan tempur semalam," Arjuna menyahut santai, tangannya dengan lihai meraih sepotong tempe goreng namun matanya melirik ke arah Laila yang sudah memegang sendok dengan sangat erat.

"Sepupumu masang benteng pembatasnya tinggi banget. Baru mau geser dikit, langsung kena tembak delikan maut. Untung mental saya sudah teruji," lanjut Arjuna.

"Hahaha, bagus. Nerarti Laila jual mahal ya, Juna. Gak apa-apa, perempuan memang harus ada wibawanya, biar suaminya makin penasaran," seru Budhe Lastri heboh, disusul tawa renyah Ayah Laila yang tampak sangat menikmati hiburan gratis di meja makan itu.

Laila meletakkan sendoknya dengan dentingan yang cukup nyaring di atas piring. Ia sudah berada di batas akhir kesabarannya menghadapi kombinasi ketengilan Arjuna dan kejulitan keluarganya sendiri.

Di dalam otaknya sebuah rencana darurat langsung tersusun cepat. Ini adalah kesempatan emas untuk melarikan diri dari kewajiban tidur sekamar dengan Arjuna malam ini, sekaligus menjaga janjinya pada Devan yang kadonya masih tersimpan rapi di dalam tasnya.

Laila menoleh ke arah Elvira, lalu mengubah ekspresi wajahnya menjadi se-melankolis mungkin. Ia meraih tangan Elvira di atas meja, menggenggamnya erat dengan mata yang dibuat berkaca-kaca.

"Mbak El, kamu di Jakarta sampai kapan?" tanya Laila dengan nada suara yang sengaja dibuat manja dan agak sedih.

Elvira agak bingung dengan perubahan drastis mood sepupunya, namun tetap menjawab, "Rencananya sih besok pagi aku sama Ibu udah harus balik ke Jogja, La. Kenapa memangnya?"

"Nah pas banget!" Laila langsung menoleh ke arah Ayahnya dengan wajah memelas.

"Papi, Laila kangen banget sama Mbak Elvira. Kan kita udah hampir dua tahun gak ketemu semenjak Mbak El sibuk kerja di Jogja. Karena besok Mbak El udah pulang, malam ini Laila mau tidur di kamar tamu sama Mbak Elvira ya, Pi? Mau deep talk semalaman, curhat-curhat gitu," ujar Laila diikuti dengan mata puppy eyes andalannya.

Suasana meja makan mendadak hening sesaat. Budhe Lastri menghentikan kunyahannya, Elvira melongo, dan Ayah tampak mengernyitkan dahi.

"Lho ndok, kamu kan baru menikah kemarin. Masa suamimu ditinggal sendirian di kamar?" tanya Ayah lembut namun ada nada teguran halus di sana.

"Gak apa-apa kok, Pi! Kan cuma satu malam," sergah Laila cepat, detak jantungnya berpacu liar takut rencananya gagal.

"Cuma semalem aja kok Pi, lagian Mas Arjuna pasti udah biasa tidur sendirian ya kan Mas?" Laila menoleh ke arah Arjuna, melemparkan tatapan mata yang penuh ancaman terselubung, seolah berkata, 'Awas kalau kamu gak mengiyakan!'

Arjuna menatap Laila. Untuk sesaat, kejenakaan di mata elangnya meredup sekilas. Sebagai pria cerdas, ia tahu betul alasan sebenarnya di balik permintaan Laila. Ini bukan sekadar karena kangen Elvira.

Ini adalah cara Laila untuk menegakkan kembali benteng pertahanannya, cara Laila untuk tetap setia pada hubungan rahasianya dengan Devan. Ada rasa perih yang kembali mengetuk dada Arjuna, namun ia segera menguasai keadaan. Seringai tengilnya kembali terpasang dalam hitungan detik.

"Waduh Pi, kalau soal tidur sendirian sih Juna memang sudah baisa," ujar Arjuna sambil mengelus dadanya dengan dramatis.

"Tapi tidur sendirian di kamar pengantin yang luas itu rasanya seperti ditinggal pasukan di tengah hutan belantara, Pi. Dingin dan rawan halusinasi."

"Tuh kan, La. Suamimu kesepian nanti!" timpal Budhe Lastri ikut memanaskan suasana.

Namun Laila tidak mau kalah. Ia meremas tangan Elvira lebih kencang, memberikan kode kedipan mata darurat yang membuat Elvira yang dasarnya juga suka mencari keributan langsung paham bahwa sepupunya ini sedang berada dalam mode panik tingkat dewa.

"Eh, iya deng. Pi, Buk, Elvira juga kangen banget sama Laila!" sahut Elvira membantu, mencoba menyelamatkan Laila meski ia sendiri penasaran ada drama apa sebenarnya di antara pengantin baru ini.

"Lagian, Juna kamu kan kuat. Cuma semalam ini. Anggap saja ini latihan mental sebelum kamu ninggalin Laila karena bertugas lama nanti," sindir Elvira.

Arjuna tertawa renyah, bersandar pada sandaran kursi sambil melipat tangan di dada. "Wah, kalau Mbak Elvira sudah mengeluarkan titah begitu, saya mana berani menolak."

"Gak apa-apa, Pi. Biarkan Laila tidur sama Mbak Elvira malam ini. Saya ikhlas lahir batin mengalah demi silaturahmi keluarga. Biar saya merasakan sensasi jadi bujangan lokal semalam lagi," ujar Arjuna.

Ayah akhirnya menghela napas dan tersenyum maklum. "Ya sudah, kalau Nak Juna ndak keberatan. Tapi cuma malam ini ya, Laila. Besok-besok kamu harus fokus urus suamimu."

"Iya Pi, Makasih ya," seru Laila dengan nada riang yang tidak bisa ia sembunyikan. Di dalam hatinya, ia bersorak kemenangan. Rencananya berhasil total. Satu malam bebas dari intimidasi dan ketengilan Arjuna.

Suara tawa Budhe Lastri yang sayup-sayup terdengar dari lantai atas akhirnya lenyap, digantikan oleh kesunyian malam yang merayap di dalam kamar tamu lantai satu. Kamar itu berukuran cukup luas dengan dua tempat tidur single yang ditata berdampingan. AC di dalam kamar berembus tenang, mengeluarkan suhu sejuk 24 derajat celsius.

Laila sudah berbaring di atas kasurnya, menarik selimut katun bermotif bunga itu hingga sebatas dada. Matanya terpejam rapat, mencoba memaksa otaknya untuk segera tidur dan mematikan seluruh rentetan kejadian emosional yang menguras tenaganya sejak akad nikah tadi kemarin.

Di atas meja rias yang terletak dua meter dari kasurnya, tergeletak tas yang di dalamnya terdapat kado cokelat dari Devan, itu menjadi satu-satunya rahasia yang paling ingin ia lindungi saat ini. Namun, ketenangan yang dicari Laila tidak bertahan lama.

Sret.

Suara gesekan sprei terdengar nyaring. Laila merasakan kasurnya sedikit berguncang. Ketika ia membuka mata, wajah Mbak Elvira sudah berada tepat di depan wajahnya. Sepupunya itu ternyata menyeberang dari kasurnya sendiri dan kini duduk bersila di tepi tempat tidur Laila, lengkap dengan kedua tangan yang bersedekap dada dan tatapan mata menyelidik yang sangat tajam.

"Mbak El, ngapain sih? Sana balik ke kasurmu, sempit tahu," gerutu Laila, langsung membalikkan badannya membelakangi Elvira dan menarik selimutnya lebih tinggi.

"Ndak bisa Laila sayang," sahut Elvira dengan nada suara yang sengaja ditekan. Ia mengulurkan tangan, menarik pundak Laila agar sepupunya itu kembali menghadap ke arahnya.

"Kamu pikir aku ini bodoh, ya? Kita ini sepupuan yang akrab dari kecil, La. Aku tahu persis jenis kebohongan yang biasa kamu pakai kalau lagi ada masalah."

Laila menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan jengkel. "Bohong apa sih, Mbak? Aku kan udah bilang, aku cuma kangen sama kamu. Besok kan kamu udah harus balik ke Jogja."

"Halah! Kangen pret," Elvira mencibir blak-blakan, tidak termakan oleh alasan melankolis Laila di meja makan tadi.

"Kalau cuma kangen, kita bisa deep talk sambil ngopi besok pagi sebelum aku ke bandara. Gak perlu sampai mengorbankan malam indah pengantin baru dan ninggalin suamimu sendirian di atas sana. Jujur sama aku, La. Ada apa antara kamu sama Arjuna?"

Jantung Laila berdegup sedikit lebih kencang. Ia mencoba mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap tenang. "Gak ada apa-apa, Mbak El. Hubungan kami baik-baik saja."

"Baik-baik saja matamu!" sergah Elvira gemas, tangannya gemas ingin mencubit pipi sepupunya yang keras kepala itu.

"Kamu itu keliatan sekali seperti sedang menghindari Arjuna," ujar Elvira menyelidik.

Pertanyaan Elvira menghujam tepat di ulu hati Laila. Bayangan Devan di ruang transit, kalimat janji satu tahun mereka langsung berputar hebat di kepalanya. Laila merasakan tenggorokannya mendadak kering.

Rasa bersalah dan beban rahasia ini rasanya ingin meledak dari dadanya, namun ia tahu, ia tidak boleh membagikan rahasia ini kepada siapa pun, termasuk Elvira. Pernikahan perjodohan ini menyangkut kesehatan jantung Ayahnya. Jika Budhe Lastri sampai tahu, urusannya bisa melebar sampai ke Jogja.

Laila menarik selimutnya kembali, menutupi sebagian wajahnya. "Mbak El, tolong deh. Gak ada masalah antara aku sama Mas Arjuna, dan aku itu pure lagi kangen sama kamu aja, kangen sekamar sama kamu kayak kita kecil dulu. Kapan lagi kan aku bisa ngerasain momen itu lagi," ucap Laila berdalih.

"Laila, dengerin aku," Elvira menggeser duduknya lebih dekat, nada suaranya melunak, berubah menjadi seorang kakak sepupu yang tulus peduli. Ia memegang tangan Laila yang bersembunyi di balik selimut.

"Aku ini temannya Arjuna pas SMA. Aku tahu betul Juna itu anaknya kayak gimana. Dia memang tengil, suka ngaco kalau ngomong, dan otaknya kadang kayak geser. Tapi Juna itu tipe pria yang punya prinsip kuat. Kalau dia gak peduli sama orang, dia bakal bersikap masa bodo. Tapi tadi, sepanjang penglihatanku pas dia ngomong sama kamu tatapan matanya itu dalem banget, La. Dan itu berbanding terbalik sama sikap kamu ke dia. Jadi, apa yang bikin kamu sedih sampai harus sekaku ini sama dia?" tanya Elvira.

Laila membuka selimutnya, menatap Elvira dengan tatapan mata yang tenang untuk menutup pembicaraan.

"Mbak Elvira yang terhormat," kata Laila dengan nada formal yang dibuat-buat, mencoba mencairkan suasana sekaligus mengunci topik.

"Terima kasih atas analisis psikologi hubungan rumah tanggaku yang sangat mendalam ini. Tapi sayangnya, tebakanmu seratus persen salah. Aku dan Mas Arjuna baik-baik aja kok. Jadi, silakan kembali ke kasurmu sekarang," ucap Laila setenang mungkin.

Elvira menatap Laila selama beberapa detik, mencoba mencari celah kebohongan di mata sepupunya. Namun, melihat Laila yang bersikeras bungkam, Elvira akhirnya hanya bisa menghela napas panjang dengan pasrah. Ia tahu, jika Laila sudah mengunci mulutnya seperti ini, dipaksa menggunakan taktik apa pun tidak akan membuahkan hasil.

"Dasar keras kepala," gerutu Elvira sambil bangkit dari kasur Laila, berjalan kembali menuju tempat tidurnya sendiri dengan wajah cemberut.

"Ya sudah, aku tidur. Awas ya kamu besok kalau sampai lingkar matamu makin hitam mirip panda. Aku gak bakal bantuin kamu pas didebat sama Arjuna lagi," ancam Elvira.

"Tidur, Mbak El. Berisik!" balas Laila ketus, langsung membalikkan badannya membelakangi Elvira.

Di dalam kegelapan kamar tamu itu, Laila akhirnya bisa mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya. Ia berhasil mempertahankan rahasianya dari Elvira.

...Bersambung......

1
sakura
....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!