NovelToon NovelToon
The Doctor’S Darkest Obsession

The Doctor’S Darkest Obsession

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Gangster / Dokter / Tamat
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Sementara itu, kembali ke dalam keheningan kamar rawat rumah sakit, suasana terasa begitu tenang.

Kenzo yang baru saja selesai membereskan sisa makanan di nakas menoleh ke arah ranjang.

Ia mendapati Liana sedang terdiam, menatap kosong ke arah jendela dengan pandangan yang sayu dan penuh beban.

Kenzo melangkah mendekat, lalu duduk kembali di kursi samping brankar.

Ia meraih jemari Liana, mengusapnya lembut untuk memecah keheningan.

"Hey... melamun apa, hm? Makannya nggak enak, ya?" tanya Kenzo lembut.

Liana tersentak kecil dari lamunannya, lalu menoleh menatap suaminya. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis.

"Enak kok, Ken... meskipun rasanya agak hambar seperti makanan rumah sakit pada umumnya."

Kenzo menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap lekat manik mata sang istri yang masih menyiratkan kecemasan.

"Kalau makanannya enak, lalu dari tadi istriku yang cantik ini sedang melamunkan apa, sepertinya serius sekali?"

Mendengar pertanyaan itu, senyuman tipis di wajah Liana perlahan memudar.

Matanya bergerak turun, menatap sendu ke arah perutnya sendiri yang tertutup selimut tebal, tempat di mana janin mereka sedang berjuang di dalam rahim yang dinyatakan sangat lemah.

"Aku... aku takut kalau tidak bisa menjaga jagoan kita sampai sembilan bulan, Ken..." bisik Liana lirih, suaranya mulai bergetar menahan tangis yang mendadak mendesak di dadanya.

"Kandunganku lemah sekali, aku takut mengecewakanmu..."

Mendengar ketakutan terbesar istrinya, Kenzo langsung menggenggam kedua tangan Liana dengan erat.

Ia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam netra Liana dengan tatapan yang penuh keyakinan dan kehangatan yang mendalam.

"Sayang, lihat aku," panggil Kenzo dengan suara baritonnya yang menenangkan.

"Kamu sekarang tidak percaya dengan suamimu ini? Kamu lupa kalau suamimu adalah Dokter Kenzo, dokter spesialis kandungan yang sudah menangani ratusan kasus kehamilan?"

Liana menatap wajah tegas namun lembut suaminya, lalu mengangguk pelan.

"Aku percaya sama kamu, Ken. Sangat percaya."

Kenzo tersenyum manis, lalu mengulurkan tangannya yang bebas untuk mengusap lembut perut Liana dari luar selimut.

"Nah, kalau kamu percaya denganku, jadi tolong hilangkan pikiran-pikiran buruk itu dari kepalamu. Kasihan anak kita di dalam sini, Sayang. Kalau Ibunya stres dan sedih, dia juga ikut merasakannya di dalam sana."

Kenzo mengecup kening Liana dengan penuh kasih sayang, menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki.

"Kita berjuang sama-sama, ya? Aku yang akan menjaga kalian berdua."

Mendengar untaian kata menenangkan dari suaminya, perlahan rasa sesak di dada Liana mulai berkurang.

Rasa aman kembali menyelimuti hatinya. Liana menganggukkan kepalanya dengan patuh, mempercayakan seluruh hidup dan masa depan calon bayi mereka ke dalam dekapan hangat Kenzo.

Kembali ke dalam keheningan kamar rawat, Liana menatap wajah suaminya yang sedang mengusap lembut perutnya.

Perlahan, gurat kesedihan di wajah Liana berganti dengan binar takjub.

Ia menyentuh rahang kokoh Kenzo dengan ujung jarinya yang masih terasa dingin.

"Ken, aku masih tidak percaya kalau kamu suamiku," bisik Liana lirih, seolah semua kebahagiaan dan perlindungan yang ia rasakan saat ini hanyalah mimpi indah di tengah penderitaannya.

Kenzo menghentikan usapan tangannya, lalu menaikkan sebelah alisnya.

Sebuah senyuman jail namun teramat tampan terukir di bibirnya.

"Kenapa? Tidak percaya ya kalau kamu punya suami yang sangat tampan ini?" godanya dengan suara bariton yang renyah.

Liana tidak membantah. Ia justru menganggukkan kepalanya dengan polos, membuat Kenzo terkekeh gemas.

Namun, sedetik kemudian, sorot mata Liana kembali berubah redup dan mendalam.

"Ken.." panggil Liana lagi, kali ini suaranya terdengar lebih serius.

"Ada apa, Sayang?" tanya Kenzo lembut, merapikan anak rambut yang menghalangi kening istrinya.

Liana menarik napas pendek, mencoba mengingat kepingan memori mistis yang ia alami saat berada di ambang maut kemarin. "

Saat jantungku sempat berhenti tadi di sana... di dalam kegelapan itu, aku seperti melihat kamu. Aku melihat kamu menangis dengan sangat hancur dan memohon, memintaku untuk kembali..."

Deg.

Kata-kata Liana seketika menghantam dada Kenzo dengan telak.

Senyuman di wajah tampan pria itu langsung runtuh.

Ingatan mengerikan kemarin siang mendadak berputar kembali di kepalanya seperti film horor yang nyata.

Kenzo mengingat dengan sangat jelas bagaimana bunyi nyaring mesin penunjuk jantung yang mendatar.

Ia mengingat rasa frustrasi yang membakar dadanya saat ia melihat Liana yang sudah ditutup dengan kain putih. Dan, puncaknya... ingatan sialan ketika perawat dengan perlahan menarik kain putih untuk menutup seluruh tubuh Liana yang sudah kaku.

Saat itu, dunianya benar-benar runtuh. Ia menangis meraung seperti orang gila, memeluk tubuh tak bernyawa itu dan memohon pada Tuhan untuk menukar nyawanya sendiri.

Bayangan mengerikan itu membuat pertahanan Kenzo jebak.

Tanpa sadar, setitik air mata menetes dari netra tajam sang pimpinan Black Cobra, jatuh tepat di atas selimut Liana. Bahunya sedikit bergetar.

Kenzo segera mencondongkan tubuhnya, memeluk kepala Liana dan mencium kening istrinya dengan sangat lama, sangat dalam, seolah ingin memastikan bahwa wanita itu benar-benar bernapas dan ada di pelukannya sekarang.

"Aku sangat mencintaimu, Sayang..." bisik Kenzo dengan suara yang tercekat oleh tangis.

Ia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Liana dengan mata yang memerah berkaca-kaca.

"Dan aku benar-benar belum siap jika kamu pergi jauh meninggalkan aku. Jangan pernah sebut masa-masa itu lagi, hm? Kamu di sini, bersamaku."

"Iya, Kenzo... aku di sini. Aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi," bisik Liana lembut, mengusap air mata yang sempat menetes di pipi suaminya.

Mendengar penuturan lirih sang istri, pertahanan Kenzo benar-benar mencair.

Rasa lelah yang luar biasa setelah bertaruh nyawa di pelabuhan dan ketegangan batin yang menyiksanya sejak kemarin mendadak tumpah.

Pria itu membutuhkan kehangatan Liana untuk menenangkan jiwanya yang sempat bergejolak.

Dengan sangat perlahan dan hati-hati agar tidak menyenggol selang infus maupun mengusik perut Liana, Kenzo naik ke atas ranjang rumah sakit yang cukup luas itu.

Ia merebahkan tubuh kekarnya di samping Liana, lalu membawa tubuh rapuh istrinya ke dalam dekapan hangatnya.

Sebelum memejamkan mata, Kenzo menatap lekat-lekat wajah Liana.

Netra tajamnya memandangi setiap sudut wajah cantik itu yang masih dihiasi lebam kebiruan akibat kekejaman musuh mereka.

Hatinya berdenyut perih, namun ia bersyukur karena hukum akan segera membalas mereka.

Dikecupnya pipi lebam itu dengan teramat lembut, seolah ciumannya bisa menyembuhkan rasa sakit di sana.

"Tidurlah, Sayang. Aku menjagamu," gumam Kenzo lirih.

Liana tersenyum, menyamankan posisinya di dada bidang Kenzo.

Wangi parfum maskulin suaminya menjadi obat penenang paling ampuh.

Perlahan, kedua sepasang kekasih itu memejamkan mata mereka, tenggelam ke dalam tidur yang damai di bawah perlindungan satu sama lain.

Sementara itu, di sudut lain kota yang mulai larut, suasana kontras terhampar di sebuah warung angkringan pinggir jalan yang cukup ramai.

Di sinilah Mario membawa Rista—sebuah tempat makan sederhana dengan tenda terpal yang menjadi langganan anak-anak geng Black Cobra saat sedang santai.

Bau aroma sate pembakaran yang harum langsung menyapa indra penciuman Rista begitu mereka turun dari motor.

Rista menatap takjub deretan makanan yang tersaji di atas meja kayu panjang.

Mario yang sudah terbiasa langsung mengambil alih.

Pria berbadan tegap itu mengambil sebuah nampan anyaman bambu dengan cekatan.

"Mas, nasi kucingnya lima bungkus. Sama ini... sate usus, sate telur puyuh, sama kikilnya dibakar ya," pesan Mario lugas kepada penjual angkringan.

Rista yang berdiri di sampingnya langsung membelalakkan mata, menatap Mario dengan pandangan tidak percaya.

"Lima bungkus, Mar? Banyak banget? Kamu kelaparan atau mau sekalian sahur?" tanya Rista polos, membuat penjual angkringan terkekeh pelan.

"Kamu dua, aku tiga," sahut Mario santai, membagi jatah nasi kucing mini yang baru saja disajikan hangat di atas meja angkringan.

Rista mendengus pelan namun tak ayal tersenyum kecil melihat porsi makan pria di depannya.

Sembari menunggu sate-satean mereka dibakar, Mario menatap Rista dengan rasa ingin tahu yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.

"Oh ya, kamu sudah lama kenal Liana?" tanya Mario, membuka obrolan yang lebih santai.

Rista menganggukkan kepalanya dengan mantap, matanya menerawang mengingat masa-masa perjuangan mereka.

"Sudah lama banget. Dia sahabat yang baik, Mar. Hanya saja, kemarin aku sempat cemburu karena ia bisa mendapatkan lelaki mapan dan pelindung hebat seperti Kenzo," aku Rista jujur, sedikit blak-blakan karena pengaruh suasana malam.

Mendengar pengakuan polos itu, Mario seketika tertawa terbahak-bahak.

Suara tawa baritonnya memecah keheningan malam di angkringan tersebut, membuat Rista refleks mencubit pelan lengan kekar Mario.

"Ada yang lucu?" tanya Rista dengan mengerucutkan bibirnya kesal.

"Iya, kamu. Lucu banget," ujar Mario, sisa-sisa tawa masih terdengar di suaranya.

"Bagaimana bisa kamu cemburu dengan sahabatmu sendiri? Kalau aku, aku malah sangat bahagia karena Bos akhirnya bisa bersama dengan Liana. Kamu tahu sendiri kan bagaimana kaku dan dinginnya Bos dulu sebelum ada Liana?"

Rista memutar kedua bolanya. "Iya sih, aku juga senang. Cuma kan namanya juga perempuan, kadang suka iri dikit."

Mario tersenyum tipis, lalu menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Rista dengan tatapan usil yang meniru gaya Kenzo tadi di rumah sakit.

"Kamu kan jomblo... bagaimana kalau kita saja yang menyusul mereka?"

Uhuk!

Rista hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya seketika merona merah padam. Dengan cepat ia mengetuk-ngetuk meja kayu angkringan tiga kali.

"Ishh... amit-amit!" ucap Rista ketus, mencoba menutupi detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat.

Mario terkekeh melihat reaksi salah tingkah wanita di depannya.

"Jangan seperti itu, Rista. Awas, nanti benci bisa jadi benar-benar jatuh cinta, lho."

"Nggak akan!" elak Rista cepat.

Demi menghindari tatapan intimidasi Mario yang mendadak terasa begitu hangat, Rista buru-buru membuka bungkus daun pisang nasi kucingnya.

Ia langsung menyendok nasi bertabur sambal teri itu dan menikmatinya dengan lahap, berpura-pura sibuk agar Mario tidak bisa melihat rona merah yang masih tertinggal di kedua pipinya.

Mario yang melihat hal itu hanya tersenyum seraya mulai menikmati jatah makan malamnya sendiri.

Rista mengunyah suapan terakhir dari nasi kucing keduanya dengan mata berbinar-binar.

Rasa lapar dan gengsinya tadi benar-benar runtuh oleh kelezatan makanan sederhana di depannya.

Sambal terinya yang pedas manis berpadu sempurna dengan kehangatan nasi putih.

Ia melirik ke arah sisa bungkusan nasi kucing milik Mario, lalu menatap pria itu dengan pandangan sedikit malu-malu, meremas jarinya pelan.

"Mario... aku... boleh tambah lagi tidak? Ternyata rasanya enak banget," cicit Rista dengan suara pelan, pipinya sedikit bersemu merah karena merasa tidak tahu malu setelah tadi sempat menolak.

Mario yang sedang meminum teh manis hangatnya langsung menurunkan gelasnya.

Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai usil khasnya.

Ia menopang dagu dengan sebelah tangan, menatap Rista lekat-lekat.

"Boleh sih..." ujar Mario sengaja menggantung kalimatnya, membuat Rista menatapnya penuh harap. "...tapi ada syaratnya. Kamu harus mau jadi pacarku dulu."

Mata Rista seketika membelalak. "Ishhh! Kamu ini ya, mengambil kesempatan dalam kesempitan!" gerutu Rista kesal sambil mengerucutkan bibirnya.

Namun, bukannya memalingkan muka seperti tadi, Rista justru terdiam sejenak.

Jantungnya kembali berdegup kencang, dan bayangan bagaimana Mario menggenggam tangannya dengan erat di atas motor sport tadi tiba-tiba melintas di pikirannya.

Pria di depannya ini memang menyebalkan, tapi entah mengapa selalu berhasil membuatnya merasa aman.

Rista menunduk dalam-dalam, menyembunyikan senyuman yang tertahan di bibirnya.

"Iya, iya... aku mau," ucap Rista lirih, hampir seperti bisikan.

Mario yang mengira Rista akan mengomel lagi seketika tertawa terbahak-bahak, menganggap ucapan wanita itu hanya candaan demi sebungkus nasi.

"Hahaha! Lucu banget kamu, Ris—"

Tawa Mario mendadak terhenti di tenggorokan. Ia mengerjapkan matanya, menatap Rista yang masih menunduk dengan telinga yang memerah padam.

"Eh... tunggu dulu. Beneran mau?" tanya Mario memastikan, suaranya tiba-tiba berubah serius dan sedikit tidak percaya.

Rista perlahan mengangkat wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menganggukkan kepalanya dengan pasti, memberikan konfirmasi atas jawaban spontannya tadi.

Melihat anggukan itu, gantian Mario yang tertegun salah tingkah.

Sebuah senyuman lebar yang sangat tulus tak mampu lagi ia sembunyikan dari wajah tegasnya, sementara malam di angkringan itu mendadak terasa jauh lebih hangat bagi mereka berdua.

1
Muft Smoker
wah udh tamat aja kak ,, kirain nunggu little cobra gede dulu ,,
tp ttap makasih kak buat cerita ny ,, meski singkat Dan tdk bertele2 ,, tp suka ma alur ny ,, dtggu next ceritany yx kak ,,

sehat2 selalu kak ,,
Muft Smoker
astagaaaa ,, org lgi pda sibuk nangis ,, si bumil malah asik berenang😂😂😂😂😂
Bunga Andthea
huhuhu cepet bgt tamat nya kak,
my name is pho: 🥰🥰
Nantikan novel yang lainnya ya kak
terima kasih
total 1 replies
Bunga Andthea
huwaa kakak ny baik bgt hari ini triple up
Muft Smoker
lanjuuut kak
Arumi
psikopat 😭
Muft Smoker
duuuh deg2an iikh ,,
semoga kenzoo cepat sampai dan menyelamatkan Liana ,,
Bunga Andthea
dobel up kak
Muft Smoker
semoga ad keajaiban ,, sebelum bnr2 jauuun Liana bisa di selamatkan ,,
Bunga Andthea
up lgi kak
Bunga Andthea
dobel up dong kak
Muft Smoker
nah kan Rista akhirnya km menemukan sosok yg baik ,, meski ia salah satu anggota geng motor ,,
Muft Smoker
udh Rista jgn iri dg Liana Krn punya suami kyak kenzoo ,,
mario juga kyaknya gx kalah keren koq ,,
🍒WINA🍒
Kenzo dalam keadaan kena obat perangsang telah menodai liana, kasian nasibnya liana ingin menolong org yg terluka apes diperkosa...

liana sampai kehilangan kehormatannya sangat dijaganya, hancur hidup liana yg memperkosa tidak bertanggungjawab langsung kabur aja🤣🤣🤭
Bunga Andthea
lagi kak dobel up kak
Bunga Andthea
sedih bgt liat keadaan Liana,
sumpah kak Lo bikin deg degan
Muft Smoker
yaaa kak ,, masa pemeran utama meninggoy ,, 😱😱😱😱😱😱
Inarairlan 0811
Kania or Rista ka
my name is pho: Kania kak.
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Bunga Andthea
ehh ehh tor jngan main" ya ini kenapa jdi gini liana nya
sri hastuti
lah kok spt itu thor, selamatkan liana thor, kl tdk bisa jd monster itu kenzo ,bisa diterjang semuanya , kenapa baru bahagia sebentar sdh spt ini 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!