Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016
Kontrak dari Pradipta Group datang lewat email resmi pada pukul sembilan pagi.
Ayu yang pertama kali melihatnya langsung menjerit kecil di belakang meja kasir. “Bu Sari! Ini beneran dari Pradipta Group? Ada kop suratnya. Ada tanda tangan direktur pengadaan.”
Sari sedang menimbang cabai kering untuk pelanggan. Tangannya tetap bergerak.
“Jangan teriak seperti dapat arisan satu kampung,” katanya. “Layani dulu Bu Nanik. Dia sudah menunggu.”
Bu Nanik tertawa. “Kalau aku yang dapat pesanan dari Pradipta, aku bukan cuma teriak, Bu. Aku mungkin sujud di lantai.”
“Lantai kiosku baru dipel. Jangan bikin kotor,” jawab Sari.
Ayu menutup mulut, tetapi matanya masih menyala. Setelah pelanggan pergi, ia memutar laptop ke arah Sari.
Di layar tertulis pesanan rutin untuk bahan dapur dan hasil kebun selama tiga bulan. Nilainya besar. Bukan sekadar pembelian kasihan. Ada daftar barang, jadwal pengiriman, standar kualitas, denda keterlambatan, dan klausul pembatalan.
Sari membaca pelan dari awal sampai akhir.
Ayu sudah tidak tahan. “Bu, tanda tangan saja. Ini kesempatan besar.”
“Kesempatan besar biasanya datang dengan lubang besar di bawahnya,” kata Sari. “Kalau kita jatuh, orang cuma bilang kita tidak mampu.”
“Tapi ini jelas.”
“Jelas bagi mereka. Belum tentu jelas bagi kita.”
Sari mengambil pulpen merah, mencatat beberapa poin di kertas. Ia menelepon Bu Maya, lalu menghubungi Pak Surya. Setelah itu ia meminta Ayu membuka aplikasi bank dan membuat rekening operasional terpisah untuk transaksi kebun.
Ayu berkedip. “Kenapa harus serumit ini?”
“Karena aku bukan anak baru yang mudah mabuk lihat angka besar. Kalau uang masuk bercampur dengan uang kios, nanti susah dihitung. Kalau pengiriman telat karena orang kebun main-main, kita rugi. Kalau barang busuk, nama kita rusak. Semua harus ada catatan.”
“Bu Sari terdengar seperti bos.”
“Aku dari dulu bos. Hanya saja dulu aku sibuk membiarkan orang lain mengaku jadi pemilik hidupku.”
Ayu terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil.
Sari mengirim pesan singkat kepada nomor yang diberikan Arman.
Pak Arman, saya sudah menerima draft kontrak. Ada beberapa poin yang perlu saya bahas dengan tim pengadaan. Saya tidak mau transaksi ini dianggap bantuan pribadi.
Balasan datang kurang dari satu menit.
Setuju. Saya akan minta Bu Reni dari pengadaan menghubungi Ibu. Semua lewat jalur resmi.
Sari membaca balasan itu dua kali. Tidak ada kata manis. Tidak ada rayuan. Justru karena itu, ia merasa lebih nyaman.
Satu jam kemudian, Bu Reni menelepon. Suaranya rapi, cepat, seperti orang yang biasa mengurus puluhan vendor.
“Bu Sari, Pak Arman meminta kami memproses Ibu sebagai pemasok baru. Kami butuh NPWP, rekening usaha, foto lokasi, dan contoh barang.”
“Saya bisa kirim semua. Tapi saya ingin klausul denda keterlambatan dikurangi untuk bulan pertama. Ini kerja sama baru. Saya butuh masa penyesuaian.”
Bu Reni berhenti sejenak. “Biasanya standar kami tidak berubah.”
“Kalau begitu jumlah pesanan bulan pertama diturunkan. Saya tidak mau menerima lebih dari kemampuan.”
“Ibu menolak nilai kontrak?”
“Saya menolak terlihat sanggup padahal belum tentu. Kalau bulan pertama lancar, bulan kedua naik. Perusahaan Ibu dapat barang bagus, saya tidak mati berdiri di tengah jalan.”
Di seberang, Bu Reni tertawa tipis. “Baik. Saya catat usulan Ibu.”
Setelah telepon ditutup, Ayu menepuk meja. “Bu, tadi keren sekali.”
“Keren tidak membayar sopir pikap,” kata Sari. “Sekarang telepon Pak Jamal. Tanya harga sewa dua kali seminggu.”
Siang itu mereka ke Kebun Cempaka. Sari membawa map berisi catatan, meteran kecil, dan daftar panen. Angin dari sawah menampar wajahnya, panas tetapi bersih. Para pekerja yang biasa menunduk ketika Pak Warto datang kini menatapnya dengan rasa ingin tahu.
Pak Warto sudah menunggu di saung, perutnya menonjol di balik kemeja batik lusuh. Wajahnya penuh senyum yang terlalu lebar.
“Bu Sari, saya dengar ada pesanan besar. Selamat, ya. Berarti kerja sama kita makin lancar.”
“Kerja sama kita akan lancar kalau Bapak tidak menyembunyikan hasil panen.”
Senyum Pak Warto kaku. “Lho, kok bicara begitu?”
Sari meletakkan map di meja bambu. “Mulai minggu ini, semua panen dicatat di buku baru. Ditimbang di depan dua orang saksi. Foto dikirim ke grup. Uang buruh dibayar langsung lewat transfer atau tanda terima.”
Pak Warto menyandarkan punggung. “Wah, Ibu sekarang ikut gaya perusahaan besar.”
“Kebun ini memang harus hidup seperti usaha, bukan seperti dapur pribadi orang.”
Beberapa pekerja saling pandang. Seorang ibu pemetik cabai bernama Yati mengangguk pelan.
Pak Warto menurunkan suara. “Bu, kalau terlalu kaku, orang-orang tidak nyaman. Di kampung ini semua pakai rasa.”
“Rasa lapar buruh yang upahnya dipotong juga harus dihitung, Pak.”
Wajah Pak Warto berubah merah.
Ayu yang berdiri di samping Sari menahan napas.
Pak Warto tertawa pendek. “Hati-hati, Bu. Orang kampung kalau tersinggung bisa macam-macam. Apalagi sekarang nama Ibu sedang ramai. Baru bangun dari kain kafan, sudah dekat dengan direktur. Orang suka bicara.”
Sari menatapnya tanpa berkedip. “Biarkan mereka bicara. Aku akan bekerja. Kalau ada yang memfitnah, aku simpan buktinya. Kalau ada yang merusak kebun, aku lapor polisi.”
“Polisi?” Pak Warto mencibir. “Untuk urusan begini?”
“Untuk pencurian hasil kebun, penggelapan uang, dan ancaman. Bapak mau aku sebutkan pasalnya atau kita lanjut hitung stok?”
Pak Warto tidak menjawab.
Hari itu Sari memeriksa gudang kecil di sisi kebun. Ia menemukan beberapa karung pupuk tanpa nota, dua timbangan rusak, dan catatan lama yang angkanya tidak masuk akal. Ia tidak marah besar. Ia memotret semuanya, lalu meminta Ayu menyimpan di folder khusus.
Saat matahari miring, pesan masuk ke ponselnya.
Dari Hendra.
Kamu dapat kontrak dari Pradipta?
Sari membaca, lalu memasukkan ponsel ke tas.
Pesan kedua datang.
Jangan sombong, Sar. Kebun itu masih harta bersama. Aku berhak tahu.
Sari baru membalas setelah ia selesai bicara dengan Yati soal jadwal panen.
Semua akan dibahas lewat pengadilan dan pengacara.
Hendra menelepon. Sari menolak.
Ia menelepon lagi. Sari menolak lagi.
Ayu melirik. “Pak Hendra?”
“Mantan suami yang belum sadar pintunya sudah kututup.”
“Ibu tidak takut dia datang?”
Sari memandang jalan tanah di depan kebun. Debu naik ketika motor lewat, membuat langit sore tampak buram.
“Dia pasti datang,” katanya. “Orang seperti Hendra tidak takut kehilangan istri. Dia takut kehilangan sumber uang.”
Benar saja, menjelang magrib, mobil hitam Hendra berhenti di depan gerbang kebun.
Hendra turun dengan wajah gelap. Kemejanya rapi, tetapi matanya kusut. Di belakangnya, Raka keluar dengan langkah ragu.
“Sari,” panggil Hendra.
Sari menutup buku catatan. “Kalau mau bicara soal kontrak, hubungi Pak Surya.”
Hendra mendekat. “Jangan sok resmi denganku.”
Raka menahan lengan ayahnya. “Pak, jangan ribut di sini.”
Hendra menepis tangan Raka. “Kamu diam.”
Sari berdiri di depan saung. Para pekerja masih ada. Pak Warto mengintip dari gudang, jelas menikmati keadaan.
“Aku tidak akan ribut,” kata Sari. “Aku hanya ingin tahu kenapa mantan suamiku datang ke kebunku tanpa janji.”
“Mantan?” Hendra tertawa pahit. “Putusan cerai belum keluar.”
“Di hatiku sudah lama keluar.”
Raka menunduk.
Hendra menunjuk map di meja. “Kamu pikir bisa ambil proyek besar tanpa aku?”
“Bisa. Buktinya kontraknya ditujukan kepada usahaku.”
“Usaha yang berdiri saat kamu masih istriku.”
“Silakan buktikan di pengadilan.”
Hendra maju selangkah. “Jangan pakai nada itu. Aku tahu kamu dekat dengan Arman Pradipta karena anak kecil itu. Kamu pikir orang tidak akan bicara?”
Sari tersenyum tipis. “Kalau yang bicara orang seperti kamu, aku tidak rugi. Orang yang menikahi perempuan lain saat istrinya dikira meninggal tidak punya tempat untuk mengajari aku soal malu.”
Sunyi turun di kebun.
Raka menutup mata sebentar.
Hendra mengepalkan tangan. “Kamu akan menyesal.”
“Aku sudah menyesal dua puluh delapan tahun. Sekarang jatah menyesal itu milikmu.”
Ponsel Sari berdering. Nama Bu Reni muncul.
Sari mengangkatnya di depan Hendra.
“Ya, Bu Reni. Saya setuju dengan revisi pesanan bulan pertama. Kirimkan draft baru malam ini. Besok saya tanda tangani.”
Hendra mematung.
Sari menatapnya sambil menutup telepon.
Untuk pertama kalinya, Hendra tidak bisa berkata apa-apa.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??