Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Suara ritmis bedside monitor yang konstan menjadi satu-satunya latar belakang di dalam ruang perawatan yang sunyi itu.
Di atas bantal putih, kelopak mata Fatma bergerak perlahan.
Setelah melalui masa-masa kritis yang mencekam, kesadarannya berangsur kembali.
Fatma membuka matanya dengan sangat berat. Detik pertama saat nyawanya kembali terkumpul, rasa perih yang luar biasa langsung menjalar hebat dari pergelangan tangan kirinya yang dibalut perban tebal, beradu dengan rasa panas membakar dari luka-luka cambukan di punggungnya.
Fatma melenguh lirih, menahan rasa sakit yang mendera fisiknya.
Namun, pemandangan pertama yang tertangkap oleh netranya seketika menenangkan hatinya yang koyak.
Di samping tempat tidur, Umi sedang duduk dengan mukena yang masih melekat, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara bergetar menahan rindu.
Sementara itu, di sisi lain ranjang, Adrian tampak tertidur lesu di kursi besi dengan posisi kepala menyandar di tepi ranjang.
Pria itu masih menggenggam erat ujung-ujung jari tangan kanan Fatma, seolah takut wanita itu akan lenyap jika ia lepaskan.
Melihat wajah Adrian, bayangan penyiksaan keji dan malam kelam itu mendadak berputar kembali di benak Fatma, menghadirkan rasa takut dan jijik yang teramat sangat.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Fatma menarik tangannya secara perlahan, sejauh mungkin dari genggaman Adrian.
Gerakan halus itu menghentikan lantunan mengaji Umi.
Umi langsung menaruh mushafnya dan mendekat dengan air mata yang kembali merebak.
"Fatma, Nduk, kamu sudah sadar, Nak?"
Fatma menatap wajah sepuh ibunya dengan pandangan berkaca-kaca.
Air mata penyesalan mengalir melewati pelipisnya.
"Umi, maafkan Fatma. Fatma sudah melakukan dosa besar. Fatma sudah putus asa dari rahmat Allah..." bisik Fatma, suaranya terputus-putus dan teramat parau.
Umi tidak membalas dengan amarah. Beliau justru menunduk, mencium kening putrinya dengan penuh kasih sayang seorang ibu, menyalurkan kehangatan yang selama ini dirampas dari hidup Fatma.
"Sudah, Nduk, jangan dipikirkan sekarang. Yang penting kamu selamat..."
Gerakan dan isak tangis di atas ranjang itu seketika membuat Adrian terjaga.
Ia mengerutkan kening, lalu tersentak bangun saat menyadari Fatma telah membuka mata.
Begitu melihat manik mata istrinya yang kini menatap lurus, tangis Adrian langsung pecah detik itu juga.
Adrian berlutut di samping ranjang, mencoba meraih kembali tangan Fatma dengan gestur memohon.
"Fatma, demi Allah, maafkan aku. Aku khilaf, aku bodoh, aku sudah tahu semuanya, Fatma. Tolong jangan tinggalkan aku, tolong ampuni semua kebiadabanku..." ratap Adrian dengan suara serak, air matanya membanjiri wajahnya yang lebam.
Namun, tidak ada lagi tatapan teduh atau senyuman patuh dari Fatma. Mendengar suara Adrian dan ratapan penyesalannya, Fatma justru memalingkan wajahnya dengan paksa ke arah dinding, memunggungi suaminya.
Gerakan itu kembali menarik luka di punggungnya hingga Fatma memejamkan mata menahan sakit, namun ia tetap tidak ingin melihat wajah Adrian sedikit pun.
Tindakan memalingkan muka itu menyiratkan sebuah luka batin yang teramat dalam, sebuah penolakan mutlak, dan dinding pembatas tinggi yang kini telah Fatma bangun untuk mengunci mati Adrian dari hidupnya.
Pintu kamar rawat inap Fatma perlahan terbuka. Abah, yang kondisinya kini sudah agak stabil meski wajahnya masih tampak pucat, dipindahkan menggunakan kursi roda ke dalam ruangan.
Kursi roda itu didorong perlahan oleh Hakam, sementara Papa Adrian berjalan di sampingnya dengan gurat ketegasan yang tak terbantahkan.
Begitu kursi roda Abah merapat ke sisi ranjang, suasana kamar rawat seketika berubah drastis menjadi penuh emosi dan ketegangan yang menyesakkan dada.
Dua keluarga kini berkumpul di dalam satu ruangan, menatap lurus ke arah Fatma yang terbaring lemah dengan wajah memalingkan pandangan dari Adrian.
Adrian yang masih bersimpuh di lantai langsung menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata Abah yang kini telah mengetahui seluruh borok kebiadabannya.
Abah meraih tangan kanan Fatma—tangan yang tidak terbalut perban.
Dengan jemarinya yang gemetar dan terasa dingin, Abah mengusap punggung tangan putri tunggalnya itu dengan penuh kasih sayang.
Air mata seorang ayah kembali mengalir melintasi kerutan di wajah sepuhnya.
"Fatma, Nduk, lihat Abah," panggil Abah dengan suara baritonnya yang bergetar.
Fatma perlahan memutar kepalanya, menatap sang ayah dengan mata yang berkaca-kaca.
Rasa bersalah karena telah mencoba mengakhiri hidup membuat dadanya sesak, namun tatapan Abah kali ini sama sekali tidak menyiratkan penghakiman.
"Jangan takut lagi, Nduk. Kamu tidak sendirian. Abah, Umi, dan Hakam ada di sini untuk melindungimu," ucap Abah, menyalurkan seluruh sisa kekuatan yang beliau miliki.
"Pernikahan yang dibangun di atas kebiadaban dan tetesan darah tidak boleh dipertahankan. Abah minta, kamu lapor polisi atas kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Adrian. Biar hukum yang menghukumnya."
Napas Adrian tercekat mendengar penuturan mertuanya. Ia mendongak dengan tatapan penuh keputusasaan, namun tak berani memotong.
Abah menarik napas dalam, memantapkan kalimat berikutnya yang akan mengubah takdir hidup putrinya. "Dan setelah ini, kita segera ajukan gugatan cerai—kita ambil jalur khuluk untuk memutus hubunganmu dengan laki-laki ini. Kamu tidak layak hidup bersama monster, Nduk."
Mendengar kata 'cerai' dan 'laporan polisi', Adrian merasa dunianya benar-benar kiamat. Namun, sebelum ia sempat bersuara untuk mengemis kesempatan kedua, sebuah suara berat lain menimpali dari belakang kursi roda Abah.
Papa Adrian melangkah maju, berdiri tegap dengan pandangan menghujam lurus ke arah anak sulungnya sendiri.
Beliau ikut mengangguk setuju atas keputusan Abah.
"Papa mendukung penuh keputusan Abahmu, Fatma," tegas Papa Adrian, suaranya terdengar dingin dan berwibawa di seisi ruangan.
"Keluarga kami tidak akan pernah membela Adrian. Papa sendiri yang akan memastikan bajingan ini tidak mendapatkan bantuan hukum ataupun celah untuk lolos. Demi menegakkan keadilan untukmu, dia harus mempertanggungjawabkan setiap cambukan dan rasa sakit yang dia berikan kepadamu di balik jeruji besi."
Dukungan mutlak dari mertuanya sendiri membuat air mata Fatma menetes deras.
Di tengah rasa sakit fisik yang mendera, ia akhirnya merasakan secercah keadilan dan perlindungan yang nyata, sementara Adrian hanya bisa merosot di lantai, menyadari bahwa ia telah didepak sepenuhnya dari keluarganya sendiri.
Di luar dugaan semua orang di ruangan tersebut, Fatma perlahan menggelengkan kepalanya dengan lemah.
Gerakan kecil itu membuat perban di pergelangan tangannya sedikit bergeser, namun ia mengabaikan rasa perihnya.
Air matanya menetes pelan, melewati pipinya yang pucat dan mendarat di atas bantal rumah sakit.
"Tidak, Abah... Umi... Papa..." bisik Fatma, suaranya sangat lirih namun terdengar begitu jelas di tengah keheningan kamar rawat.
Semua mata tertuju padanya dengan tatapan tidak percaya. Hakam bahkan hampir memprotes, namun urung saat melihat keteguhan di mata kakak iparnya.
Fatma menarik napas pendek yang terasa sesak, mencoba mengumpulkan sisa kekuatan di dadanya.
"Fatma tidak ingin melihat ada perceraian, dan Fatma tidak ingin pernikahan sakral yang disaksikan Abah dan Umi berakhir di meja hijau atau jeruji besi," lanjut Fatma, bibirnya yang membiru bergetar.
"Jika Mas Adrian dipenjara, itu hanya akan memperpanjang lingkaran dendam di antara keluarga kita. Fatma ingin menyudahi semua rasa sakit ini dengan cara yang diridai Allah."
Fatma perlahan memutar kepalanya, menatap lurus ke arah Adrian yang masih bersimpuh lemas di lantai keramik.
Tatapan Fatma tidak lagi menyiratkan ketakutan, melainkan sebuah ketegasan yang mutlak dari seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh takdirnya kepada Sang Pencipta.
"Aku akan memaafkanmu, Mas. Dan aku tidak akan menempuh jalur hukum," ucap Fatma, membuat jantung Adrian berdegup kencang antara rasa tidak percaya dan harapan baru.
"Namun, pengampunan ini tidak gratis. Ada satu syarat mutlak yang harus kamu penuhi: Kamu wajib menuruti sepuluh permintaanku tanpa bantahan sedikit pun. Jika satu saja kamu langgar, maka detik itu juga surat cerai dan laporan polisi akan sampai ke tanganmu."
Adrian mendongak, air matanya berurai membasahi wajahnya yang lebam.
"Katakan, Fatma... katakan. Jangankan sepuluh, seratus pun akan aku penuhi. Tolong katakan..." Ratap Adrian penuh penyesalan.
Fatma memejamkan mata sejenak, lalu melafalkan satu per satu sepuluh permintaan yang menjadi tebusan atas dosa-dosa suaminya:
Wajib Tinggal dan Menetap di Pondok Pesantren Selama Satu Bulan Penuh
Adrian harus melepaskan seluruh kemewahan duniawinya, meninggalkan rumah megahnya, dan hidup sebagai santri biasa di dalam pondok pesantren milik Abah tanpa membawa fasilitas apa pun.
Belajar Salat Lima Waktu Secara Berjamaah
Adrian yang selama ini melalaikan agama wajib mempelajari kembali tata cara salat yang benar, menghafal bacaannya, dan tidak boleh melewatkan salat lima waktu secara berjamaah di masjid pesantren.
Belajar Mengaji Al-Qur'an dari Dasar
Adrian harus duduk bersimpuh di hadapan ustadz atau bahkan santri senior untuk belajar membaca Al-Qur'an mulai dari hukum tajwid hingga lancar, sebagai bentuk pembersihan jiwanya yang kelam.
Membersihkan Kompleks Pesantren Tanpa Mengeluh
Setiap pagi dan sore, Adrian wajib ikut serta membersihkan lingkungan pondok, mulai dari menyapu halaman, membersihkan tempat wudhu, hingga membersihkan kamar mandi umum santri sebagai bentuk peleburan keangkuhan dan egonya.
Meminta Maaf Secara Langsung kepada Orang Tua dan Adik Mendiang Jamie
Adrian harus menurunkan egonya untuk menemui keluarga Jamie, mengakui kesalahannya yang telah membabi buta menuduh mereka, dan membersihkan nama baik Fatma yang sempat ia sebut sebagai kaki tangan Jamie.
Mengembalikan Posisi Bryan dan Meminta Maaf Kepadanya
Adrian wajib memulihkan nama baik Bryan, mengangkatnya kembali ke posisinya semula di perusahaan dengan kompensasi yang layak, serta meminta maaf secara ksatria karena telah memecatnya secara tidak hormat.
Menyerahkan Seluruh Akses Keuangan Rumah Tangga kepada Fatma
Sebagai bentuk pembuktian bahwa ia tidak akan lagi menggunakan kekuasaan uangnya untuk menindas, seluruh kartu debit, kredit, dan aset rumah tangga harus dikelola di bawah pengawasan Fatma.
Melakukan Puasa Sunnah Senin dan Kamis Selama Tiga Bulan Berturut-turut
Setelah keluar dari pesantren, Adrian wajib menjalankan puasa sunnah ini untuk melatih menahan hawa nafsu dan emosinya yang merusak.
Tidak Boleh Menyentuh atau Mendekati Fatma Tanpa Izin Tertulis
Adrian dilarang keras menyentuh fisik, mendekati tempat tidur, atau meminta hak biologisnya sebagai suami sampai Fatma sendiri yang menyatakan bahwa trauma batin dan fisiknya telah sembuh sepenuhnya.
Adrian harus menuliskan kesepakatan ini di atas kertas bermaterai di hadapan Abah, Papa, dan pihak hukum, yang menyatakan jika ia melakukan satu kali saja kekerasan fisik atau verbal di masa depan, ia rela menyerahkan seluruh asetnya dan langsung masuk penjara tanpa pembelaan.
"Bagaimana, Mas Adrian?" tanya Fatma dengan suara yang mendingin, menatap suaminya yang masih berlutut.
"Apakah kamu sanggup membayar semua dosamu dengan sepuluh syarat ini?"
lanjut thor🙏
bikin jengkel aja thor 😡😡