⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Bagaimana jadinya jika seorang gadis bermata batin harus terikat dalam pernikahan dengan mafia berdarah dingin?
Aiko Kurogawa sudah cukup tersiksa dengan "kutukan" Indigo yang mengalir di darahnya. Namun, demi terhindar dari dunia kelam keluarganya, ia terpaksa menerima perjodohan dengan Ren Tachibana. Pria kejam yang hidupnya hanya didorong oleh dendam.
Awalnya, Aiko hanya ingin bertahan hidup. Namun, tinggal di sisi Ren membuat hidupnya kian mencekam. arwah-arwah penasaran tak pernah berhenti berbisik di sekitar pria itu, mengungkap satu per satu rahasia kelam dari masa lalu.
Kini, Aiko dihadapkan pada pilihan sulit.
Tetap diam demi menyelamatkan nyawanya sendiri, atau menggali kebenaran yang ternyata mengikat takdir mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 30
Pagi hari di ruang rumah sakit dengan penjagaan yang ketat, Ren Tachibana mulai membuka matanya. Ia melenguh rendah merasakan tubuhnya yang terasa ngilu. Tangan dan pelipisnya bahkan terbalut oleh perban.
Matanya mulai terbuka sepenuhnya, dan mendapati Aiko yang tertidur di sofa dengan posisi duduk, bahkan masih mengenakan sweternya yang berlumuran darah.
Ren menatap dalam wajah Aiko. "Dasar wanita bodoh," umpatnya dengan desisan pelan.
Aiko yang mendengar suara pergerakan dari ranjang, membuka matanya perlahan. Dan mendapati Ren yang masih menatapnya.
"Kenapa kau belum pulang?" tanya Ren. "Apa kau tidak sadar penampilanmu saat ini sangat buruk? Mengotori mataku dengan sweter penuh darah itu."
Aiko bangkit dari sofa, menatap Ren dengan ekspresi datar yang tidak kalah menusuk. "Bukankah ini darahmu? Harusnya aku yang merasa risih."
Ren menggeram saat ia memaksakan tangan kanannya yang sehat untuk bertumpu pada kasur, berniat meraih segelas air di atas nakas.
"Ugh..." Sebuah erangan lolos dari bibirnya, saat gerakan itu menarik otot bahunya yang terluka, membuat wajahnya menegang menahan perih.
"Jangan bergerak dulu," potong Aiko cepat. "Sudah terluka masih saja berlagak sombong."
Ren hanya menatap wajah Aiko. tanpa membalas ucapannya. Seraya memperhatikan setiap gerakannya.
Aiko mendekat dan membantunya kembali bersandar pada bantal. Jarak mereka kini sangat dekat hingga mereka dapat mendengar degup jantung masing-masing.
Tangan kanan Ren mendadak bergerak naik, mencengkeram pergelangan tangan Aiko yang berada di dadanya.
"Kenapa kau sekonyol itu, Aiko?" desis Ren tajam. "Kau bisa saja mati kemarin."
Aiko tidak memalingkan wajahnya. Ia tetap diam meski tangannya masih tercengkeram oleh Ren.
"Karena jika kau mati di sana, tidak akan ada lagi yang melindungiku, dan Kaito akan memburuku sebagai target berikutnya," jawab Aiko dingin. "Kita berada di kapal yang sama, Ren. Aku tidak berniat tenggelam lebih dulu atau membiarkanmu mati lebih dulu dariku. Terlebih, aku jadi tahu ternyata di dalam klan kurogawa terdapat pengkhianat."
Ren terdiam. Genggaman tangannya di pergelangan tangan Aiko justru tidak melonggar sedikit pun.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu memotong keheningan mereka. Daichi melangkah masuk dengan wajah tegang.
"Bos, Nyonya Aiko," ucap Daichi tertahan. "Utusan dari kediaman utama Kurogawa baru saja tiba di lobi bawah. Mereka diperintahkan untuk menjemput Nona Aiko."
Ren perlahan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Aiko. Sorot matanya kembali menajam. "Pergilah. Selesaikan urusan keluargamu," ucap Ren datar.
Aiko mengangguk. Ia berbalik, melangkah keluar dari ruang VIP setelah memberikan tatapan terakhir pada Ren yang kembali bersandar pada ranjang.
**
Mobil yang membawa Aiko akhirnya tiba di kediaman Kurogawa. Ia melangkah memasuki ruang kerja ayahnya. Apa Ayah tahu mengenai penyerangan ini? gumam Aiko dalam hati. Aku harap Ayah dapat berlaku adil dan menyelidiki penyerangan ini.
Begitu pintu ruang kerja itu terbuka, Hiroshi Kurogawa langsung berbalik. Ia berdiri bertumpu pada tongkatnya, menatap Aiko yang langsung memberikan bungkukan hormat. "Selamat pagi, Ayah."
Wajah pria paruh baya itu merah padam. "Duduk, Aiko." Matanya tertuju langsung pada sweter Aiko yang bernoda darah kering. "Bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka?"
"Seperti yang Ayah lihat, keadaanku baik-baik saja. Hanya saja, suamiku... maksudku Ren, dia terluka cukup parah akibat penyerangan ini. Dan aku ingin Ayah menyelidiki serta memberi keadilan untuk suamiku."
Hiroshi menatap Aiko tajam dengan embusan napas yang berat.
"Ayah, aku curiga di lingkaran keluarga Kurogawa terdapat pengkhianat."
"Itu sebabnya aku memintamu ke sini, Aiko." Hiroshi menuangkan teh di atas mejanya. "Apa kau sudah gila, Aiko?" ucap Hiroshi dengan suara rendah. Ia menggeser cangkir teh ke hadapan Aiko, masih dengan wajah datarnya. "Untuk apa kau rela mempertaruhkan nyawamu sendiri hanya untuk menolong Ren Tachibana itu?"
"Apa maksud Ayah?"
"Aku menyembunyikanmu bertahun-tahun, bahkan tidak semua bawahanku tahu wajahmu seperti apa. Dan itu semua aku lakukan hanya untuk melindungimu, Aiko. Agar kau tetap bisa hidup aman dan menjalani hidupmu dengan normal, seperti permintaanmu."
"Aku masih tidak mengerti maksudmu, Ayah. Jika kau memang benar ingin melindungiku, tidak seharusnya kau menikahkanku dengan Ren yang memiliki banyak musuh di luar sana."
"Itu sebabnya aku merencanakan semua ini untukmu, Aiko. Tapi kau menghancurkan semua rencanaku."
UHUK... UHUK...
Hiroshi terbatuk dan menyesap tehnya perlahan sebelum kembali membuka suara. "Kaito memegang kartu as masa laluku. Dia pikir dia bisa memeras klan ini selamanya. Bahkan kini dia memanfaatkan para tetua yang haus kekuasaan seperti Kenji... Itu sebabnya Ayah memberikan seluruh kendali Kurogawa kepada Ren Tachibana."
Aiko mengerutkan kening, mencoba mencerna arah pembicaraan ayahnya.
"Ayah tahu tabiat dewan tetua kita, Aiko. Mereka tidak akan pernah sudi diperintah oleh orang asing seperti Ren. Mereka pasti panik dan mulai bergerak. Di sisi lain, Kaito yang arogan itu juga tidak akan terima jika keponakannya sendiri berada di atas kepalanya. Dia pasti akan berkoalisi dengan para tetua pengkhianat untuk menyingkirkan Ren," jelas Hiroshi.
"Ayah hanya perlu membiarkan mereka semua saling membunuh di luar sana. Siapa pun yang menang, itu akan menguntungkan untuk Ayah dan juga untukmu. Setelah mereka saling menghancurkan, bukankah Ayah hanya tinggal maju dan membersihkan sisanya? Ayah tidak perlu mengotori tangan sendiri untuk melenyapkan musuh-musuh, dan kau akan tetap aman di bawah perlindunganku."
Hiroshi meletakkan cangkirnya dengan ketukan pelan di atas meja. "Tapi tindakan nekatmu untuk melindunginya kemarin benar-benar di luar rencana Ayah!"
Jantung Aiko seakan berhenti berdetak. Rasa bersalah kembali menghantam dadanya hingga ia merasa sesak.
Aiko menatap pria di depannya dengan rasa tidak percaya. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh, membasahi pipi.
"Ayah... Apa kau sudah gila? Apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan?" Aiko mulai terisak. Dadanya berdenyut nyeri, membuat suaranya terdengar terbata-bata dan parau.
"A-yah... di luar sa-na Ren sangat melindungiku... bah-kan dengan nyawanya se-ndiri!" Bahu Aiko berguncang hebat, jemarinya bergetar meremas sweter-nya yang di penuh noda darah Ren. "Tapi A-yah justru menumbalkan pria yang sangat melindungiku!"
Hiroshi menatap lekat mata putrinya, dengan wajahnya yang sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. Ia mengetukkan tongkat kayunya ke lantai.
"Buka matamu, Aiko! Pria itu tidak sedang melindungimu, dia hanya melindungi asetnya untuk mendapatkan wilayah Kurogawa!" bentak Hiroshi dengan suara beratnya. "Pria itu adalah racun untuk kita. Jadi jangan pernah bawa perasaan bodohmu ke dalam papan caturku!"
makanya om kenji, baek2 jadi orang.
ber partner sama orang licik ya resiko gini, ikutan dikhianati 🥴
di mana2 jadi pengkhianat 🥴
Semangat.....
harusnya ren nih yg lihat adegan ini 🥴
apa jangan2 hiroshi ngira bapaknya ren sengaja ngebunuh yumi, terus hiroshi ngebunuh pasutri tachibana?
hanya perkiraanku 🙏