Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pernikahan..
Pagi kembali menyapa dengan cahaya hangat yang menembus celah jendela rumah sakit. Namun, pagi itu bukanlah pagi yang biasa. Hari itu menjadi awal dari sebuah keputusan besar yang akan mengubah kehidupan mereka semua.
Garendra berdiri di depan pintu ruang rawat Pak Sanggara. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi sorot matanya menunjukkan keseriusan yang tidak bisa dianggap remeh.
Untuk pertama kalinya, pria yang selalu tampak tak tergoyahkan itu menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.
Bukan karena ia takut.
Melainkan karena ia tahu, apa yang akan disampaikannya mungkin akan menjadi pukulan terbesar bagi seorang ayah.
Ceklek.
Pintu terbuka perlahan.
Terlihat Pak Sanggara duduk bersandar di ranjang rumah sakit dengan tatapan kosong. Entah sudah berapa banyak pikiran yang memenuhi kepalanya sejak ia sadar dari operasi.
"Ehem..."
Dehaman kecil Garendra membuat Pak Sanggara tersentak. Ia menoleh cepat ke arah sumber suara.
Mata pria tua itu menatap sosok Garendra dengan penuh tanda tanya.
"Eh... kamu yang kemarin, ya?" tanyanya pelan.
Garendra mengangguk singkat.
"Benar, Pak."
Ia berjalan masuk dan duduk di sofa tunggal yang berada di dekat ranjang.
Sementara Bayu yang berdiri di sampingnya mengembuskan napas perlahan. Ia tahu, pembicaraan kali ini bukan pembicaraan yang mudah.
Dengan nada hati-hati, Bayu membuka suara.
"Pak, ada sesuatu yang harus Bapak ketahui."
Pak Sanggara mengangguk pelan, meski rasa gelisah mulai menguasai hatinya.
Ia tidak mengerti mengapa dua orang asing ini begitu membantunya. Mengapa mereka membayar biaya operasi yang jumlahnya tidak sedikit.
Dan kini, mereka datang membawa sebuah kenyataan yang membuat jantungnya berdebar tidak menentu.
"Perkenalkan, ini adalah atasan saya, Pak Garendra Pratama," ucap Bayu.
"Pak Garendra telah membuat sebuah kesepakatan dengan Nona Felisyah. Beliau akan menanggung seluruh biaya rumah sakit dan operasi Bapak dengan syarat Nona Felisyah bersedia menikah dengannya."
Ruangan itu seketika menjadi hening.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Hanya wajah Pak Sanggara yang perlahan berubah pucat.
Matanya membesar, bibirnya bergetar, seakan sulit menerima kenyataan yang baru saja ia dengar.
"Dan... tadi malam Nona Felisyah telah menyetujuinya, Pak. Karena itulah operasi Bapak bisa segera dilakukan."
Deg.
Hati Pak Sanggara terasa seperti dihantam sesuatu yang sangat keras.
Air mata perlahan memenuhi kedua matanya.
Selama ini, putrinya selalu tersenyum di depannya. Selalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, di balik semua itu, ternyata Felisyah harus mengorbankan masa depan dan kebahagiaannya demi dirinya.
"Anak bodoh..." gumamnya dengan suara bergetar.
"Kenapa kamu selalu menanggung semuanya sendiri, Nak?"
Tangannya mengepal erat di atas selimut.
"Maafkan Ayah, Felisyah..."
Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh.
"Ayah macam apa aku ini? Bahkan untuk membuat anakku hidup bahagia saja, Ayah tidak mampu."
Suasana ruangan berubah begitu menyakitkan.
Untuk pertama kalinya, Garendra yang sejak tadi diam dapat melihat betapa besar cinta seorang ayah kepada putrinya.
Dan saat itu pula, ia semakin yakin dengan keputusannya.
Ia tidak hanya ingin menyelamatkan Pak Sanggara.
Ia ingin memastikan bahwa mulai hari ini, Felisyah tidak akan pernah berjuang sendirian lagi.
"Saya tidak menganggap Felisyah sebagai pembayaran atas semua bantuan yang saya berikan, Pak. Saya ingin menikahinya karena saya ingin menjaganya."
Suara Garendra terdengar tegas dan penuh keyakinan.
Pak Sanggara menatap pria di hadapannya dalam-dalam. Meski ia belum mengenal latar belakang Garendra, entah mengapa ada ketulusan yang ia lihat dari sorot mata pria itu.
Seorang pria yang mampu mengeluarkan biaya besar untuk orang yang baru dikenalnya tentu bukan orang biasa. Namun yang lebih membuat hatinya tersentuh adalah cara Garendra menyebut nama putrinya.
Bukan sebagai sebuah beban.
Bukan sebagai balas budi.
Melainkan seseorang yang ingin ia lindungi.
"Saya percaya, Nak Garendra. Saya yakin kamu bukan pria sembarangan," ucap Pak Sanggara dengan suara bergetar.
"Yang saya sesali hanyalah diri saya sendiri. Saya seorang ayah, tetapi saya bahkan tidak mampu memberikan kehidupan yang layak untuk anak saya."
Air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya.
Melihat itu, Garendra yang biasanya dingin perlahan berdiri dan melangkah mendekat.
Tangannya menepuk bahu pria tua itu dengan lembut.
"Jangan mengatakan seperti itu, Pak."
"Selama ini Felisyah berjuang begitu keras karena dia mencintai Bapak. Dan mulai hari ini, saya akan berusaha menjadi seseorang yang bisa meringankan beban itu."
Tatapan Garendra menjadi lebih dalam.
"Saya berjanji akan menjaga Felisyah dan memberikan kehidupan yang lebih baik untuknya."
Pak Sanggara tidak mampu menjawab.
Ia hanya mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia berdoa agar pria yang kini berdiri di hadapannya benar-benar menjadi pelabuhan terakhir bagi putri kesayangannya.
Beberapa saat kemudian, Pak Sanggara teringat sesuatu.
"Di mana Felisyah sekarang, Nak?"
"Dia berada di ruang sebelah. Kondisinya sudah membaik, tetapi dia belum sadarkan diri."
Jawaban itu membuat Pak Sanggara menghela napas pelan.
Namun sebelum suasana kembali tenang, Garendra kembali membuka suara.
"Dan ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, Pak."
Pak Sanggara menatapnya penuh tanda tanya.
"Apa itu, Nak?"
Garendra mengepalkan tangannya perlahan.
Untuk pertama kalinya, ia menyampaikan keputusan besar yang telah ia pikirkan dengan matang.
"Saya ingin menikahi Felisyah hari ini juga."
Deg.
Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.
Pak Sanggara membeku.
Matanya membulat, napasnya tercekat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Ma... maksudmu apa, Nak?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Saya sudah memenuhi janji saya kepada Felisyah. Saya telah menyelamatkan Bapak dan memastikan Bapak mendapatkan pengobatan terbaik."
Kini tatapan Garendra menjadi semakin serius.
"Dan hari ini, saya ingin memenuhi janji saya yang lain, yaitu menjadikan Felisyah istri saya."
"Tapi... Felisyah belum sadar, Nak. Apa tidak terlalu cepat?" tanya Pak Sanggara.
Hatinya terasa berat.
Di satu sisi, ia percaya kepada Garendra. Namun di sisi lain, ia adalah seorang ayah yang harus melepaskan putri semata wayangnya dalam keadaan yang bahkan putrinya sendiri belum mengetahuinya.
"Saya mengerti perasaan Bapak," jawab Garendra tenang.
"Dan saya akan bertanggung jawab atas keputusan ini. Setelah Felisyah sadar, saya sendiri yang akan menjelaskan semuanya kepadanya."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Saya hanya membutuhkan Bapak sebagai wali untuk menikahkan kami."
Ruangan kembali sunyi.
Pak Sanggara menundukkan kepalanya. Hatinya berperang antara rasa bersalah, ketakutan, dan harapan.
Air matanya jatuh untuk kesekian kalinya hari itu.
"Maafkan Ayah, Felisyah..." batinnya.
"Ayah tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu. Bahkan hari pernikahanmu pun harus terjadi dengan cara seperti ini."
"Namun Ayah berharap, keputusan ini akan menjadi jalan yang membawa kebahagiaan dalam hidupmu."
Dengan hati yang berat, akhirnya Pak Sanggara mengangkat wajahnya.
"Baiklah, Nak Garendra. Saya percaya padamu."
"Jagalah putri saya."
"Saya akan menjaganya dengan seluruh hidup saya," jawab Garendra tanpa ragu.
Setelah mendapatkan persetujuan, mereka pun bergerak menuju ruang rawat Felisyah.
Bayu mendorong kursi roda Pak Sanggara keluar dari ruangan. Di depan pintu, seorang penghulu telah menunggu sejak tadi.
Tidak ada percakapan selama perjalanan menuju ruang VIP Felisyah.
Keheningan menyelimuti mereka.
Sebab mereka semua tahu, beberapa langkah lagi sebuah takdir baru akan dimulai.
Takdir yang akan mengubah hidup seorang gadis yang saat ini masih terlelap tanpa mengetahui bahwa hari ini ia akan menjadi seorang istri.
Dengan hati yang bergetar, Pak Sanggara memandang wajah putri tercintanya.
"Maafkan Ayah, Nak..."
"Ayah hanya berharap setelah semua penderitaan yang kamu lalui, Tuhan menghadirkan kebahagiaan melalui pria ini."
Penghulu pun mulai mempersiapkan prosesi akad.
Suasana ruangan menjadi begitu hening.
Semua mata tertuju pada satu sosok.
Garendra Pratama.
Pria dingin yang selama ini tidak pernah percaya pada cinta.
Dengan suara lantang dan penuh keyakinan, Garendra mengucapkan kalimat sakral yang mengubah jalan hidup mereka.
"Saya terima nikahnya Felisyah Sanjaya binti Sanggara Sanjaya dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Sah!"
Satu kata itu menggema di dalam ruangan.
Sederhana, namun memiliki makna yang begitu besar.
Pada hari itu, dua insan yang sebelumnya hanyalah orang asing kini telah terikat dalam sebuah ikatan suci.
Air mata Pak Sanggara tak mampu lagi ia bendung. Bahunya bergetar menahan tangis.
Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi seorang ayah saat melepas putrinya, justru terasa begitu menyakitkan.
Ia bahkan tidak dapat melihat senyum Felisyah dalam balutan kebahagiaan pengantin.
Yang ada hanyalah sosok putrinya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, tidak mengetahui bahwa statusnya telah berubah menjadi seorang istri.
"Selamat, Nak..." gumam Pak Sanggara dalam hati.
"Semoga kehidupanmu setelah ini dipenuhi kebahagiaan. Maafkan Ayah karena tidak mampu memberikan pernikahan yang kamu impikan."
Setelah doa selesai dipanjatkan, penghulu pun berpamitan meninggalkan ruangan.
Pak Sanggara menatap Garendra dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Nak Garendra... tolong jaga anak saya baik-baik. Dia sudah terlalu banyak menderita."
Suara pria tua itu bergetar.
"Jika suatu hari nanti kamu tidak menginginkannya lagi, kembalikan dia kepada saya. Jangan pernah menyakitinya."
Ucapan itu membuat hati Garendra terasa seperti diremas.
Entah mengapa, membayangkan dirinya meninggalkan Felisyah adalah sesuatu yang tidak bisa ia terima.
Ia menatap wajah wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
Wanita yang baru dikenalnya beberapa hari, tetapi telah berhasil mengguncang ketenangan hidupnya.
"Terima kasih atas kepercayaan Bapak."
Garendra menoleh menatap Pak Sanggara dengan penuh kesungguhan.
"Tetapi saya tidak akan mengembalikan Felisyah karena saya tidak menginginkannya."
"Selama saya masih bernapas, saya akan menjaga dan melindunginya."
"Dia adalah istri saya."
"Dan Bapak juga adalah tanggung jawab saya sekarang."
Air mata Pak Sanggara kembali jatuh.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa putrinya tidak lagi berjalan sendirian menghadapi kerasnya dunia.
Dengan bantuan Garendra, kursi roda Pak Sanggara didorong mendekati ranjang Felisyah.
Tangan yang mulai dipenuhi keriput itu meraih tangan kecil putrinya.
Diciumnya tangan itu dengan penuh kasih.
Begitu banyak kenangan yang berputar di dalam kepalanya.
Tentang gadis kecil yang dulu selalu berlari memanggilnya "Ayah".
Tentang gadis yang tumbuh menjadi wanita kuat dan mengorbankan segalanya demi dirinya.
Dan kini, gadis kecilnya telah memiliki kehidupan baru.
"Bangunlah, Nak..." bisiknya dengan air mata yang terus mengalir.
"Lihatlah dunia barumu."
"Ayah sudah sehat. Ayah tidak lagi terbaring lemah dan menjadi beban untukmu."
"Tolong bukalah matamu, Nak. Ayah ingin melihat senyummu."
Namun, tidak ada jawaban.
Felisyah masih terlelap dalam keheningan.
Melihat kondisi Pak Sanggara yang kembali emosional, Garendra mengambil keputusan.
"Bayu, antar Ayah ke ruangannya. Biarkan beliau beristirahat."
"Baik, Tuan."
Bayu perlahan mendorong kursi roda Pak Sanggara keluar dari ruangan.
Sebelum pergi, pria tua itu terus menoleh ke arah putrinya, seakan belum rela meninggalkan gadis yang selama ini menjadi alasan ia bertahan hidup.
Kini hanya tersisa Garendra dan Felisyah di dalam ruangan itu.
Untuk waktu yang lama, Garendra duduk di samping ranjang, menatap wajah istrinya tanpa berkedip.
Sebuah wajah yang sebelumnya asing.
Namun kini menjadi seseorang yang memiliki tempat khusus di dalam hidupnya.
Perlahan, tangannya merapikan helaian rambut yang menutupi wajah pucat Felisyah.
"Mulai hari ini, kamu tidak perlu lagi berjuang sendirian."
"Aku akan menepati janjiku."
Waktu terus berlalu.
Hingga akhirnya...
Jari-jari Felisyah bergerak perlahan.
Kelopak matanya bergetar.
Dan untuk pertama kalinya setelah semua takdir besar yang terjadi tanpa sepengetahuannya—
Felisyah membuka matanya.
**FLASHBACK END**
semangat✍️😉