Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: JALAN PULANG YANG HANGAT
Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah gorden jendela kaca besar Rumah Sakit Pusat Mahardika. Suasana koridor VIP lantai tiga yang biasanya dijaga ketat oleh puluhan tim taktis bersenjata, kini tampak jauh lebih tenang. Intrik maut dan bahaya yang sempat mengancam nyawa mereka telah sepenuhnya dibersihkan, menyisakan ketenangan yang telah lama dinantikan oleh sang janda muda, Nazya Humaira.
Di dalam kamar rawat nomor 305, Nazya sedang sibuk merapikan beberapa pakaian dan tas jinjing kecil di atas sofa kulit. Wajah cantiknya yang sempat pias dan basah oleh air mata ketakutan semalam, kini telah kembali memancarkan rona kebahagiaan. Namun, setiap kali Nazya melangkah dari sofa ke arah lemari, ia harus menahan ringisan kecil. Kaki kanannya masih terasa nyeri dan kaku, membuatnya harus berjalan dengan tertatih-tatih—langkahnya belum sepenuhnya pulih, meninggalkan kesan pincang yang nyata di setiap geraknya.
Sesekali, sepasang mata indahnya melirik ke arah ranjang pasien di seberang ruangan, tempat di mana sang ayah tercinta, Pak Handoko, sedang duduk bersandar dengan bantal tinggi sembari menikmati bubur hangat. Kondisi kesehatan Pak Handoko telah menunjukkan keajaiban medis yang luar biasa. Setelah melewati masa-masa kritis yang sangat mencekam akibat efek racun berbahaya yang disusupkan oleh kaki tangan musuh, tim dokter spesialis terbaik yang dikerahkan Dafa berhasil menetralkan sisa-sisa zat beracun tersebut dari dalam tubuhnya. Napas pria tua itu sudah kembali teratur tanpa bantuan alat medis.
"Nazya, sayang... sudahlah, jangan terlalu memaksakan diri berjalan kesana-kemari," panggil Pak Handoko dengan suara yang terdengar jauh lebih bertenaga. Beliau memperhatikan langkah tertatih Nazya dengan tatapan khawatir. "Duduklah di sini, Nak. Kaki kamu masih belum sembuh total, jangan dipaksa."
Nazya tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa nyeri yang menjalar di pergelangan kakinya. Ia melangkah tertatih mendekati ranjang sang ayah, sedikit menyeret kaki kanannya yang masih terasa berat. "Nazya tidak apa-apa, Yah. Cuma sedikit pegal saja. Nazya hanya ingin memastikan barang-barang kita siap agar nanti saat dokter mengizinkan pulang, kita tidak perlu repot lagi. Nanti kalau sudah di rumah, Nazya pasti akan rajin terapi sampai kaki ini bisa sembuh total dan berjalan normal lagi."
Pak Handoko menghela napas panjang, mengusap lembut punggung tangan putri tunggalnya yang menggenggam erat telapak tangan keriputnya. "Semua ini berkat suamimu. Dafa... pria itu benar-benar menepati janjinya untuk menjagamu dan Ayah dengan seluruh jiwa raganya. Kamu harus berbakti dan menyayanginya dengan sepenuh hati, Nazya."
Mendengar pujian sang ayah untuk suaminya, dada Nazya seketika bergemuruh hebat oleh luapan rasa cinta dan haru yang memuncak. Sebelum ia sempat membalas ucapan Pak Handoko, suara ketukan pintu yang teratur terdengar membelah keheningan kamar, disusul oleh terbukanya daun pintu kayu ek raksasa tersebut.
Sesosok pria tegap dengan tinggi seratus delapan puluh lima sentimeter melangkah masuk dengan wibawa mutlak yang sangat menindas namun menawan. Dafa Mahardika datang dengan penampilan yang sudah kembali segar bugar seutuhnya. Kemeja hitam satin mahal yang melekat di tubuh kekarnya tampak rapi tanpa lipatan seujung jari pun.
Aura predator puncak yang biasanya memancarkan intimidasi dingin di dunia bisnis, seketika melunak menjadi kehangatan yang teramat pekat saat sepasang mata elangnya menangkap sosok Nazya yang sedang berdiri tertatih di dekat ranjang. Dafa tidak membuang waktu. Langkah kakinya yang panjang dan tegas membawanya mendekati sang istri dalam hitungan detik.
Dafa tidak menyapa siapa pun terlebih dahulu. Perhatiannya mutlak tercurah pada Nazya. Pria itu langsung meraih pinggang ramping Nazya dengan satu lengan kekarnya, memberikan topangan kuat agar sang istri tidak perlu menumpu berat tubuhnya pada kaki yang masih pincang.
"Sudah berapa kali kubilang, jangan banyak bergerak jika kakimu belum pulih," bisik Dafa dengan suara bariton yang teramat rendah, serak, dan dipenuhi oleh aura posesif yang mendalam. Ia menatap kaki kanan Nazya dengan tatapan tajam, seolah sedang menghitung sisa waktu penyembuhan yang dibutuhkan wanitanya.
Nazya mendongak, menatap wajah tegas Dafa dengan senyum lembut. "Aku hanya merapikan tas, Mas. Aku tidak ingin merepotkan perawat."
"Kamu tidak merepotkan siapa pun, Nazya. Kamu hanya merepotkan dirimu sendiri dengan bersikap keras kepala," balas Dafa dingin namun penuh kasih. Ia kemudian menggendong Nazya dengan gaya bridal style tanpa peringatan, membuat sang janda muda itu terpekik pelan dan melingkarkan lengannya di leher Dafa secara insting. "Di kediaman utama nanti, aku sudah menyiapkan tim fisioterapi terbaik. Aku sendiri yang akan mengawasi latihanmu setiap hari sampai kakimu ini sembuh total tanpa cacat."
Proses kepulangan dari rumah sakit berjalan dengan sangat mulus. Mikael bersama beberapa asisten pribadi telah menyelesaikan seluruh dokumen administrasi, sementara Dafa sendiri yang tidak membiarkan Nazya menapakkan kakinya ke lantai sedetik pun. Ia menggendong Nazya masuk ke dalam mobil SUV mewah antipeluru yang telah dimodifikasi khusus demi kenyamanan pemulipan pasca-racun bagi Pak Handoko dan kenyamanan istirahat Nazya.
Sepanjang perjalanan membelah jalanan kota yang cerah, atmosfer di dalam kabin mobil terasa begitu hangat. Pak Handoko duduk di baris tengah bersama seorang perawat pribadi, sementara Dafa dan Nazya menempati kursi penumpang bagian belakang yang luas dan terisolasi oleh sekat kaca privasi.
Nazya duduk bersandar di samping tubuh besar suaminya, merasakan kehangatan yang menjalar dari lengan kekar Dafa yang sejak tadi mengunci erat pinggang rampingnya. Sesekali, Dafa melirik kaki kanan Nazya yang ia posisikan di atas bantal empuk agar tidak menggantung. Ia merendahkan wajah tegasnya, mendekatkan bibirnya ke pelipis Nazya hingga aroma maskulin tubuhnya yang hangat menghujam langsung ke pusat kesadaran sang janda muda.
"Kenapa melamun, sayang? Masih terasa sakit?" bisik Dafa dengan suara bariton yang teramat rendah, serak, dan penuh intimidasi sensual.
Nazya menatap lurus ke dalam manik mata elang Dafa. "Hanya sedikit nyeri, Mas. Tapi aku memikirkan tentang proses kesembuhan kakiku nanti. Aku ingin cepat sembuh agar bisa melayanimu dengan baik."
Kata-kata manis yang keluar dari bibir ranum Nazya seketika memicu letupan gairah romantis tingkat tinggi di dalam dada Dafa Mahardika. Sifat dominannya menuntut balasan instan atas kepatuhan dan ketulusan wanitanya. Tanpa memedulikan keberadaan Mikael yang sedang mengemudi di balik sekat depan, Dafa menarik tubuh ramping Nazya ke atas pangkuan bidang dadanya yang kekar dengan satu sentakan yang kuat.
DEG!
Nazya menahan napasnya yang pendek, wajah cantiknya merona merah padam saat menyadari seluruh tubuh kurusnya kini telah terkurung sempurna di antara dada bidang Dafa dan sandaran kursi kulit mobil yang empuk. Dafa sengaja menempatkan Nazya di atas pangkuannya agar kaki sang istri yang pincang tidak tertekan dan mendapatkan posisi ternyaman untuk memicu kesembuhannya.
Dafa menangkup rahang lembut Nazya dengan telapak tangan besarnya yang hangat, menatap dalam ke arah bibir ranum istrinya yang sedikit terbuka pasrah. "Aku tidak butuh ucapan terima kasih berbentuk kata-kata, sayang," desis Dafa rendah, suaranya terdengar begitu haus dan menuntut kepemilikan mutlak. "Di rumah nanti... aku akan menuntut seluruh hak dan baktimu atas penyatuan raga kita yang sempat tertunda karena badai kemarin. Masalah kesembuhan kakimu, serahkan semuanya padaku. Aku yang akan memastikannya pulih seutuhnya di bawah pengawasanku sendiri."
Nazya merasakan getaran kepatuhan yang luar biasa nikmat mengalir di sekujur nadinya. Ia melingkarkan kedua tangan kurusnya di leher kokoh Dafa, meremas halus kerah kemeja hitam suaminya sembari menganggukkan kepala cantiknya secara perlahan. "Iya, Mas... aku milikmu seutuhnya."
Dafa menyunggingkan senyum predatornya yang menawan sebelum akhirnya merendahkan wajahnya, membungkam bibir ranum Nazya ke dalam sebuah ciuman penyatuan yang teramat dalam, lembut, namun dipenuhi oleh lumatan posesif yang mengisap habis seluruh sisa udara wanitanya. Ciuman hangat itu menutup perjalanan pulang mereka dengan keindahan romansa dewasa yang berkelas, menjanjikan ketenangan tak terbatas di balik dinding rumah baru mereka yang megah di atas bukit kota yang sunyi.