Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 : SIDANG PENENTUAN – SATU PER SATU TOPENG JATUH
...BAB 28 ...
...SIDANG PENENTUAN – SATU PER SATU TOPENG JATUH...
Ruang sidang utama pengadilan pagi itu hening total, hanya terdengar bunyi kipas angin langit‑langit yang berputar pelan dan napas ratusan orang yang hadir. Di kursi terdakwa duduk pria yang selama hampir lima tahun dikenal semua orang sebagai Arka Pradana. Pendiam, sopan, selalu tampak tulus, klien setia sekaligus anak kepercayaan keluarga Aditya. Di sisi lain, Alina duduk tegak di samping penasihat hukumnya. Di barisan paling depan Pak Aditya duduk disangga bantal tebal, napasnya pendek‑pendek sering terputus batuk pelan — akibat racun yang ditaburkan sedikit demi sedikit berbulan-bulan lamanya setelah Arka sering berkunjung ke rumahnya — Beliau didampingi Bu Kirana dan Dimas, sementara Farhan berdiri tegap selalu siaga di dekat pintu darurat.
Ketua Sidang memukul palu tiga kali, suaranya bergema jelas ke seluruh penjuru ruangan.
“Sidang dibuka. Hari ini kita masuk tahap penentuan akhir. Kita akan buka satu per satu fakta, sampai tidak ada lagi yang tertutup.”
Awalnya pria di kursi terdakwa masih tenang, bahkan sempat bersedih seolah dialah yang paling menjadi korban.
“Yang Mulia, saya hanya orang yang datang mencari keadilan lalu menganggap mereka keluarga sendiri. Apa untungnya saya menghancurkan nama baik Alina?” ucapnya lembut namun lantang, persis akting yang sudah diasah bertahun‑tahun.
Namun ketenangan itu perlahan runtuh begitu jaksa mempersilakan saksi kunci maju. Bu Siti, mantan staf dekat ayahnya dulu yang diam membisu bertahun‑tahun karena diancam nyawa anaknya, berjalan mantap ke depan dan mulai berbicara lantang tanpa ragu lagi. Ia membongkar satu per satu, bagaimana data keuangan diubah, berkas dimanipulasi, jejak akses sistem direkayasa agar seolah semua perbuatan itu dilakukan Alina, bagaimana saksi‑saksi dibayar mahal dan dilatih bicara bohong sampai hafal di luar kepala, hingga bagaimana zat berbahaya selalu diselipkan ke makanan dan minuman Pak Aditya agar sakit‑sakitan dan tidak berdaya.
Lalu tibalah saat yang membekukan seisi ruangan. Jaksa berdiri tegak, berkas tebal diangkat tinggi‑tinggi.
“Yang Mulia, para hadirin. Selama ini kita memanggilnya Arka Pradana. Ternyata nama itu palsu seluruhnya. Dokumennya palsu, riwayat hidupnya rekayasa. Nama asli lelaki ini adalah RAKA HARIS, anak tunggal mendiang Haris Wijaya, orang yang dulu bersahabat erat namun berkhianat besar pada Pak Aditya puluhan tahun silam.”
Kerumunan langsung bergemuruh hebat. Jaksa terus menguraikan semuanya runtut.
Dahulu Haris memanfaatkan kepercayaan sahabatnya untuk memalsukan tanda tangan, mengalihkan aset miliaran rupiah, dan melakukan serangkaian bisnis kotor di balik nama baik Pak Aditya. Saat terbongkar, Haris dihukum berat dan akhirnya meninggal di dalam sel penjara. Raka yang saat itu baru berusia 20 tahun menolak melihat kesalahan ayahnya. Di hatinya tertanam buta, semua ini salah Aditya, dialah penyebab ayahnya menderita dan mati. Di depan makam ayahnya dia bersumpah darah, akan menghancurkan seluruh nama baik, usaha, kebahagiaan, dan masa depan keluarga Aditya sampai ke akar‑akarnya.
Lima tahun penuh dia persiapkan semuanya sendirian. Ubah penampilan, ubah gaya bicara, buat identitas baru dari nol, lalu mendekat ke kantor hukum sebagai klien baru Alina, bersikap baik tanpa pamrih sampai diterima sedemikian dalamnya seperti anak sendiri. Dia yang atur surat panggilan sidang mendadak keluar tepat di pagi hari pernikahan Alina dan Farhan, dia yang racun perlahan‑lahan sampai Pak Aditya lumpuh total dan tak sanggup mendampingi putrinya, dia yang buat seolah Alina penggelap dana dan pemalsu dokumen. Semua tuduhan soal uang, berkas, dan akses sistem itu 100 % rekayasa dia seorang diri, sama sekali tidak ada hubungannya dengan sengketa lama ayahnya, murni kejahatan baru yang dia buat khusus untuk menghancurkan masa depan gadis itu.
Satu per satu bukti ditayangkan di layar besar, rekaman layar saat dia mengutak‑atik data larut malam, catatan tangannya sendiri berisi skenario rinci sampai hitungan menit, bukti transfer uang ke saksi bayaran, hasil laboratorium zat beracun, hingga dokumen asli kependudukan yang membuktikan siapa dia sebenarnya. Semua topeng yang dia pasang rapi bertahun‑tahun kini copot satu per satu perlahan di hadapan hakim, jaksa, dan ratusan pasang mata publik. Awalnya dia berteriak membantah, lama‑kelamaan suaranya hilang, bahunya merosot total, keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya. Dia terlalu yakin rencananya sempurna, sampai lupa jejak sekecil apa pun kalau ditumpuk bertahun‑tahun akan menjadi bukti tak terbantahkan.
Setelah segala fakta terungkap habis, Ketua Sidang berdiri tegak dan memukul palu tiga kali dengan suara menggelegar.
“Berdasarkan pembuktian sah dan meyakinkan, terdakwa Arka Pradana alias Raka Haris dinyatakan TERBUKTI BERSALAH melakukan pemalsuan dokumen, rekayasa bukti, pencemaran nama baik berat, penganiayaan dengan zat berbahaya, dan persekongkolan jahat berencana. Pengadilan menjatuhkan hukuman PENJARA SELAMA DUA BELAS TAHUN. Segera ditahan dan dibawa ke tempat penahanan.”
Baru saja bunyi palu terakhir menghilang, baru saja dua petugas melangkah maju hendak memasangkan borgol — tiba‑tiba Raka mengerahkan seluruh tenaga sisa yang ada. Dia menendang kuat kaki meja hingga bergeser keras, membanting bahu sekuat tenaga ke petugas di kanan sampai pria itu terhuyung mundur jatuh, lalu berlari secepat kilat menuju pintu darurat di sisi ruangan. Matanya membesar liar, satu‑satunya yang ada di kepalanya cuma satu - Kabur, lari sejauh mungkin, jangan sampai dikurung dua belas tahun.
Tapi dia lupa satu hal yang paling penting. Farhan sudah berdiri siaga di sana sejak sidang dimulai.
Tanpa teriak, tanpa gerakan berlebihan yang kacau, Farhan hanya melangkah sigap dua langkah pendek saja. Tubuhnya berputar luwes mengikuti alur tenaga, lalu dengan satu gerakan bersih, cepat, dan sangat tegas, dia lepaskan serangan siku tepat ke ruang otot di antara leher dan bahu, disusul kuncian kaki yang mengunci seluruh pergerakan kedua tungkai Raka seketika.
BUUK!
Hanya satu bunyi benturan halus terdengar, dan seketika itu juga Raka jatuh tersungkur ke lantai dengan posisi terkunci rapi mati, tenaganya hilang seketika tanpa luka parah sedikit pun. Itu murni teknik karate tingkat tinggi, terukur sempurna, tanpa kekerasan berlebihan.
“Jangan bergerak! Sekarang kau sudah tidak bisa kemana-mana lagi Raka! Menyerahlah, atau tidak kau akan mati sia-sia ditembak petugas! Jadi pilihlah, lebih baik kau di penjara dan merenungkan semua kesalahan yang kau perbuat.” tegas Farhan datar namun berat menggetarkan, tangannya masih mengunci posisi Raka dengan mantap sampai petugas lain bergegas datang kembali. Kali ini borgol dipasang sangat kuat dan rapat di kedua pergelangan tangan. Raka hanya bisa menunduk dalam‑dalam napas memburu kalah telak, dibawa berjalan tertatih keluar ruang sidang di sorotan ratusan mata yang memandang kecewa dan marah.
Seketika Raka digiring keluar, matanya sekilas menoleh ke Alina yang berdiri jauh menatapnya getir. Senyuman tipis tampak jelas di bibir Raka, sedikit saja Alina akan melihat ke dalam matanya bahwa ada sesuatu yang sulit ia ungkapkan selama ini. Selama lima tahun ini. Ada perasaan yang ingin ia ungkapkan.
Bersambung....
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏