NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9: Strategi Dari Kelambu Kusut

Doni mendorong pintu triplek kamar kosnya yang mengeluarkan bunyi derit pendek.

Bau pengap ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu menyambutnya, bau yang kini mulai terasa akrab dibanding kemewahan Menara Salman yang terasa seperti fatamorgana.

Sambil mengeringkan rambutnya yang basah kuyup dengan selembar handuk loak berwarna abu-abu, ia melemparkan tubuh mudanya ke tepi kasur kapuk.

Di atas meja triplek, kipas angin plastik kecil berputar menggeleng ke kiri dan ke kanan, mengembuskan angin suam-suam kuku yang berisik.

Doni terkekeh pelan, sebuah tawa getir yang terdengar terlalu matang untuk wajah pemuda dua puluh enam tahun.

"Dua puluh tahun lalu, aku sekurus ini karena sering lupa makan demi menghemat uang kencan bersama Zahra,"

gumamnya sambil mengelus perutnya yang rata.

Sementara ingatan tentang Zahra membuat dadanya kembali berdenyut, tapi kali ini bukan karena kepanikan trauma.

Itu adalah kerinduan murni.

Esok hari, ia berencana mendatangi pabrik garmen di pinggiran kota, tempat di mana Zahra bekerja saat ini.

Namun, sebelum ia melangkah ke sana, semua insting korporatnya meneriakkan satu hal: amankan fondasi finansial terlebih dahulu.

Tanpa uang dan kekuasaan, ia tidak akan bisa melindungi Zahra dari cakar keluarga Santoso.

Doni merangkak ke tengah kasur, menyibak kelambu kusut yang agak berbau apek, lalu menggelar lembaran kertas manifes yang bagian belakangnya masih kosong.

Ia mengambil sebuah pulpen hitam murahan, memutar-mutarnya di antara jemari tangannya yang kini sudah sepenuhnya stabil. Tatapannya menajam saat ujung pulpen menyentuh kertas.

"Mari kita buat lini masa yang baru," bisik Doni.

Kali ini, gaya penulisannya tidak lagi kaku seperti laporan akuntansi, melainkan mengalir bebas bagai seorang grandmaster yang sedang menikmati papan catur.

Ia membagi cetak birunya menjadi tiga fase eksekusi yang cair namun mematikan.

Fase Pertama: Uang Panas, Modal Bersih.

Dua minggu lagi, sistem kliring Bank Nusa Sentosa akan lumpuh selama empat puluh delapan jam.

Doni menuliskan kode tiga mesin ATM tipe lama di kawasan Jakarta Utara yang ia tahu persis tidak akan mencatat pengurangan saldo. Targetnya tidak muluk-muluk, cukup sepuluh miliar rupiah.

Jika terlalu banyak, sistem keamanan bank akan mencium anomali sebelum waktunya.

Dana itu akan langsung ia putar ke saham PT Bumi Resources yang saat ini sedang tiarap di harga bawah.

Dalam tiga bulan, sepuluh miliar itu akan beranak pinak menjadi lima puluh miliar rupiah.

Uang itulah yang akan menjadi bahan bakar utama untuk mendirikan Salman Group.

Fase Kedua: Membangun Benteng Sang Ratu.

Begitu modal di tangan, Doni akan langsung membeli perusahaan logistik tempatnya bekerja saat ini, PT Mitra Kilat, lewat skema akuisisi bayangan menggunakan nama orang lain.

Subagja akan tetap ia pasang sebagai tameng di depan agar pergerakannya tidak terendus media.

Setelah itu, ia akan menarik Zahra keluar dari pabrik garmen kumuh itu, menjadikannya direktur keuangan di perusahaannya sendiri, dan mengurungnya dengan sistem pengamanan berlapis.

Zahra tidak boleh menjadi target operasional keluarga Santoso seperti di masa lalu.

Fase Ketiga: Menjinakkan Ular.

Bagian ini adalah yang paling membuat adrenalin Doni berpacu.

Ia tidak akan menghindari Andreas. Justru sebaliknya, begitu Salman Group mulai menancapkan taringnya di sektor penyewaan kontainer pelabuhan, Doni sendiri yang akan mendatangi Andreas muda yang saat itu masih menjadi pengangguran frustrasi.

Ia akan merekrut Andreas, memberikannya fasilitas, dan berpura-pura menjadikannya orang kepercayaan lagi.

"Aku akan membiarkanmu merasa berada di atas angin lagi, Andreas,"

Doni tersenyum tipis, sebuah senyuman yang begitu dingin hingga mampu membuat bulu kuduk meremang.

"Aku akan membiarkanmu bertemu Amanda, membiarkan kalian menyusun rencana kotor itu lagi."

"Tapi kali ini, setiap langkah yang kalian ambil adalah umpan yang sengaja aku pasang untuk menggiring kalian ke tepi tebing kehancuran."

Doni mengetukkan pulpennya ke dagu.

Bagaimana dengan Amanda dan Devan Santoso? Keluarga Santoso saat ini sedang gencar-gencarnya mencari investor untuk proyek jalan tol mereka.

Doni akan masuk sebagai investor misterius melalui perusahaan cangkang perbankannya nanti, menyuntikkan dana segar, lalu menariknya kembali secara tiba-tiba di saat proyek mencapai titik krusial eighty persen.

Skema itu akan memaksa PT Santoso Karya mengalami gagal bayar dan memaksa Devan menyerahkan seluruh saham keluarganya sebagai jaminan.

Setelah memastikan seluruh detail rencana itu melekat sempurna di dalam ingatan luar kepalanya, Doni mengambil korek api gas murahan dari atas meja.

Ia menyulut ujung kertas manifes tersebut.

Api oranye menyala kecil, perlahan melahap barisan tulisan tangan yang berisi takdir kehancuran para musuhnya di masa depan.

Bau kertas terbakar memenuhi kamar kos yang sempit itu.

Doni menatap bara api yang perlahan padam, menyisakan abu hitam yang berjatuhan di lantai semen dingin.

Ia meniup sisa abu di tangannya, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang keras.

Jam digital di tangannya menunjukkan pukul dua dini hari.

Angin malam berembus melewati celah jendela triplek, membawa kesegaran yang menenangkan jiwanya yang lelah setelah melintasi waktu dua puluh tahun.

"Tidurlah yang nyenyak malam ini, Doni,"

bisik sepasang matanya yang perlahan terpejam.

"Mulai besok, kau bukan lagi pion yang bisa mereka injak. Kau adalah sang singa yang siap menuntut balas."

Di bawah temaram lampu kos lima belas watt, Doni Salman akhirnya tertidur dengan senyuman tenang yang sarat akan kemenangan emosional yang tertahan.

Bagian pertama dari adaptasi mentalnya telah selesai sempurna; kini saatnya ia melangkah ke panggung dunia untuk merebut kembali apa yang menjadi haknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!