NovelToon NovelToon
Skenario Rahasia Sang CEO

Skenario Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Shee Lyn

"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 (Jarak dan langkah baru)

Aroma maskulin kayu cendana yang menenangkan perlahan memudar seiring dengan deru halus mesin mobil Rolls-Royce milik Mike yang meninggalkan pekarangan vila Sentul. Pagi ini, Alisha sengaja meminta sang suami untuk tidak mengantarnya sampai ke depan lobi fakultas. Kabar kehamilannya yang baru menginjak usia lima minggu memang membawa sukacita tak terkira bagi keluarga besar Raharja, terutama Kakek Surya yang langsung menitikkan air mata haru. Namun, Alisha tidak ingin statusnya sebagai istri seorang konglomerat, ditambah dengan kondisinya yang sedang berbadan dua, membuatnya menjadi pusat perhatian yang berlebihan di kampus. Terlebih lagi, hari ini adalah hari yang paling krusial dalam perjalanan akademisnya: ujian sidang skripsi.

Alisha berjalan perlahan menyusuri koridor lantai tiga gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Tangannya yang sedikit hangat memeluk erat jilid tebal naskah penelitiannya. Meskipun rasa mual khas *morning sickness* sesekali masih menggelitik pangkal tenggorokannya, tekadnya untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai tidak goyah sedikit pun. Ia ingin membuktikan pada dunia, dan terutama pada Mike yang telah menjaganya dari jauh selama empat tahun ini, bahwa ia bisa berdiri tegak dengan kakinya sendiri.

"Alisha!"

Sebuah seruan melengking yang sangat familier memecah ketegangan di koridor sepi itu. Alisha menoleh dan seketika senyuman tulus terukir di wajah pucatnya. Tiga orang gadis dengan pakaian formal hitam-putih tampak setengah berlari ke arahnya. Mereka adalah Anjeli, Asyifa, dan Alena—sahabat-sahabat karib Alisha sejak hari pertama ospek kuliah.

Anjeli, gadis bertubuh mungil dengan rambut yang dikucir kuda, langsung memeluk Alisha dengan heboh. "Ya ampun, Sha! Aku kangen banget sama kamu! Kamu ke mana aja sih sebulan ini? Nomor kamu susah banget dihubungin, terus pas berita tentang... tentang suamimu itu viral, kami semua jantungan tahu gaaak!"

"Hush, Anjeli! Jangan berisik, ini di depan ruang sidang," tegur Asyifa, gadis berhijab yang paling dewasa di antara mereka, sembari menyenggol lengan Anjeli. Ia kemudian menatap Alisha dengan pandangan yang sarat akan kekhawatiran sekaligus kehangatan. "Kamu baik-baik saja, kan, Sha? Wajahmu agak pucat. Apa suamimu... maksudku, Pak Mike, memperlakukanmu dengan baik?"

Alena, yang sejak tadi sibuk mengipasi wajahnya dengan map berkas, ikut menimpali. "Iya, Sha. Kami benar-benar syok pas tahu kamu ternyata istri dari CEO Raharja Group yang sering ada di majalah bisnis itu. Tapi pas konferensi pers kemarin kamu keren banget! Beneran kayak Ratu!"

Mendengar cecaran pertanyaan dari ketiga sahabatnya yang begitu tulus tanpa ada nada sinis atau iri, Alisha merasakan kehangatan yang luar biasa merayap di dadanya. Mereka tetaplah sahabat yang sama, yang tidak memandangnya berbeda hanya karena status barunya sebagai Nyonya Raharja.

"Aku baik-baik saja, Guys. Maaf ya, sebulan ini situasiku agak rumit jadi tidak bisa sering memberi kabar," ucap Alisha lembut, mengusap lengan Anjeli. "Pak Mike... dia sangat menyayangiku. Dia memperlakukanku dengan sangat baik, melebihi apa yang bisa kalian bayangkan."

"Syukurlah kalau begitu," Alena mengembuskan napas lega. "Eh, tapi serius, wajahmu pucat banget loh, Sha. Kamu sakit? Atau tegang karena dapat dosen penguji Profesor Hardiman?"

Alisha terkekeh pelan, tangannya tanpa sadar bergerak mengusap perutnya yang masih rata dengan gerakan yang sangat protektif—gestur kecil yang luput dari perhatian ketiga sahabatnya. "Hanya sedikit pening saja. Ayo, kita fokus buat sidang hari ini. Siapa yang masuk duluan?"

"Asyifa duluan, habis itu kamu, Sha," jawab Anjeli sembari mengepalkan tinjunya, memberikan semangat. "Yuk, kita lulus bareng-bareng tahun ini! Biar nanti pas wisuda, suamimu yang ganteng itu bisa datang pakai jas mewah dan bikin seangkatan iri!"

Tawa kecil mereka berempat akhirnya berhasil mencairkan seluruh kabut ketegangan dan rasa mual di tubuh Alisha. Di tengah koridor kampus yang menjadi saksi bisu perjuangan masa mudanya, Alisha memantapkan hatinya. Ia siap melangkah masuk ke ruang sidang, siap menyelesaikan satu babak hidupnya demi menyambut babak baru yang jauh lebih indah bersama Mike dan calon buah hati mereka.

Sementara itu, di belahan kota yang berbeda, langit Surabaya sore itu tampak mendung, sewarna dengan suasana hati seorang wanita yang sedang berdiri di balkon kamar hotelnya. Anita mendekap cangkir kopi hitamnya yang sudah mendingin, menatap kosong ke arah jembatan Suramadu yang membentang di kejauhan.

Sudah tiga hari berlalu sejak makan siang yang tragis bersama kedua orang tua Alvin. Dan selama tiga hari itu pula, Anita memilih untuk tetap tinggal di Surabaya, namun ia sengaja memutus seluruh komunikasi dari Alvin. Ia tidak menjawab telepon, mengabaikan ratusan pesan singkat, bahkan melarang resepsionis hotel untuk menyambungkan saluran telepon kamar jika ada pria bernama Alvin yang mencari.

Anita mengembuskan napas panjang, ada rasa perih yang begitu pekat yang kembali merongrong dadanya setiap kali ia mengingat kata-kata Ibunda Alvin. *'Wanita oportunis yang menjual status demi uang...'* Kalimat itu seperti cap besi panas yang membakar seluruh harga diri yang telah ia bangun dengan air mata dan kerja keras selama empat tahun ini.

*Tok! Tok! Tok!*

Suara ketukan pintu kamar hotelnya yang terdengar berirama konstan seketika membuyarkan lamunan Anita. Jantungnya berdegup kencang. Apakah itu Alvin? Pria itu sangat keras kepala, tidak menutup kemungkinan ia melacak keberadaan hotel ini melalui jaringan intelijen milik perusahaan Mike.

Anita berjalan perlahan, lalu mengintip melalui lubang lensa pintu. Detik berikutnya, bahunya kembali merosot lemas. Bukan Alvin. Melainkan seorang pelayan hotel yang membawa sebuah buket bunga mawar putih besar beserta selembar amplop perak.

Anita membuka pintu dan menerima kiriman tersebut dengan kaku. Setelah pelayan itu undur diri, ia membawa buket itu ke meja dalam kamar. Ia membuka amplop perak tersebut, mengenali tulisan tangan yang tegas dan rapi milik Alvin.

> *Anita,*

> *Aku tahu kamu sedang menghindariku. Aku tahu kamu sedang terluka karena kata-kata orang tuaku. Menghamburlah sejauh yang kamu mau, Nit... tapi tolong jangan pernah berpikir untuk menyerah atas kita.*

> *Masa lalu kontrakmu dengan Mike mungkin adalah sebuah transaksi bisnis bagi dunia, tapi kehadiranmu di hidupku adalah takdir nyata yang tidak akan pernah kukorbankan demi apa pun, termasuk demi restu keluarga besar. Aku tidak akan pulang ke Jakarta tanpamu.*

> *Aku menunggumu di restoran bawah malam ini jam tujuh. Aku tidak akan pergi sebelum kamu datang.*

> *— Alvin.*

>

Anita meremas surat itu di dadanya, air matanya kembali luruh tanpa bisa ditahan. Sikap Alvin yang begitu kokoh dan penuh komitmen justru membuat Anita semakin dilingkupi rasa bersalah. Alvin adalah pria baik-baik dari keluarga terpandang yang memiliki masa depan cerah. Apakah adil jika Alvin harus mengorbankan hubungannya dengan kedua orang tuanya, melepas hak warisnya, hanya untuk menikahi seorang wanita dengan rekam jejak "mantan istri kontrak" sepertinya?

Anita berjalan menuju cermin besar di kamarnya, menatap bayangan dirinya sendiri dengan pandangan yang pasrah. Ia mencintai Alvin—sangat mencintainya. Namun, cinta terkadang bukan hanya tentang ego untuk memiliki, melainkan tentang kedewasaan untuk melepaskan jika kehadirannya hanya akan membawa kehancuran bagi duniaku dan duniamu.

Dengan tangan yang gemetar, Anita meraih ponselnya yang sejak sebulan lalu mati, lalu menyalakannya. Ia tidak menekan nomor Alvin, melainkan menekan sebuah nomor privat yang sangat ia kenal. Nomor milik sahabat sekaligus mantan suami kontraknya, Mike Raharja.

"Halo, Mike..." suara Anita bergetar, parau karena sisa tangisnya. "Aku butuh bantuanmu. Tolong bawa Alvin pulang ke Jakarta. Aku tidak bisa bersamanya lagi."

Di balik keheningan kamar hotel di Surabaya malam itu, Anita telah mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Sebuah pengorbanan sunyi demi menjaga agar pria yang dicintainya tidak perlu kehilangan dunianya akibat bayang-bayang masa lalu yang kotor yang pernah ia pilih sebagai strategi bisnisnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!