Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Yang Mulai membaik
Begitu pintu studio bunga itu kembali tertutup, Dewa dan Alya berjalan berdampingan meninggalkan bangunan kecil di belakang rumah. Tak satu pun dari mereka membuka percakapan.
Suasana justru terasa nyaman dalam diam. Sesekali hanya terdengar suara langkah kaki mereka yang beradu pelan dengan jalan setapak di halaman belakang.
Alya mencuri pandang ke arah Dewa. Pria itu berjalan santai dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Wajahnya tetap setenang biasanya, seolah kejutan besar yang baru saja ia berikan bukanlah sesuatu yang istimewa.
Sebaliknya, hati Alya masih dipenuhi gejolak.
Ia tidak habis mengerti. Mengapa ada seseorang yang begitu bersungguh-sungguh membahagiakannya tanpa pernah meminta balasan?
"Mas..."
"Hm?"
"Sejak kapan Mas menyiapkan semuanya?"
Dewa tersenyum kecil. "Baru kemarin."
"Hah? Baru kemarin."
"Iya."
"Tapi... kenapa?"
Langkah Dewa sedikit melambat. "Aku cuma gak mau melihat kamu kehilangan semangat."
Jawaban sesederhana itu justru membuat Alya kembali terdiam, tidak ada kalimat manis yang terlontar apalagi rayuan. Namun entah mengapa, ucapan itu terasa jauh lebih menghangatkan dibanding ribuan janji yang pernah ia dengar.
Mereka kembali berjalan. Saat melewati taman kecil di samping rumah, Alya tanpa sadar memperlambat langkahnya. Pandangannya jatuh pada bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Dulu... Bunga selalu menjadi cara baginya bertahan hidup. Kini bunga pula yang perlahan mengembalikan alasan untuk kembali melanjutkan hidup.
"Aku akan berusaha, Mas."
Dewa menoleh. "Berusaha apa?"
"Berusaha supaya kebaikan Mas gak sia-sia."
Dewa hanya menggeleng pelan. "Kalau memang mau berusaha..." Pria itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"...cukup jaga diri kamu dan Senja."
"Itu saja sudah lebih dari cukup."
Alya kembali menundukkan kepala. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Lagi-lagi. Perasaan aneh itu kembali datang.
Perasaan yang selama ini selalu berusaha ia abaikan.
"Ya Allah .... jangan begini. Mas Dewa terlalu baik," gumamnya dalam hati.
Sesampainya di depan rumah, Dewa membuka pintu lebih dulu, dengan penuh perhatian dan hal itu semakin membuat Alya sulit untuk menghindari perasaan yang sedang tumbuh itu.
"Ayo masuk."
"Makasih," sahut Alya dengan tersipu malu.
Dewa yang menyadari akan hal itu seolah sengaja tambah mendekat ke arah Alya.
"Mas, jangan dekat-dekat," ujar Alya.
"Kenapa. Memang gak boleh?"
"Ya boleh tapi jangan sering-sering," ujarnya sambil memundurkan langkah.
Melihat Alya yang terus menghindari tatapannya, sudut bibir Dewa tanpa sadar terangkat tipis.
"Ya sudah kalau gitu kita masuk dulu," ulangnya.
Alya mengangguk pelan. Namun sebelum melangkah melewati ambang pintu, ia kembali menoleh ke arah studio bunga di belakang rumah.
Senyumnya kembali merekah. Dalam hati ia berjanji. Studio kecil itu bukan hanya akan menjadi tempatnya bekerja. Tetapi juga menjadi tempat ia membangun masa depan untuk dirinya dan Senja.
Sementara itu, Dewa yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah menghentikan langkahnya sejenak. Diam-diam ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Jarinya bergerak cepat menghubungi beberapa relasi bisnis yang selama ini dikenalnya.
"Halo."
"Aku mau minta bantuan."
"Ada sebuah studio bunga baru."
"Kalau perusahaanmu butuh buket untuk acara atau hadiah..."
"...pesanlah di sana."
Pria di seberang telepon terdengar heran. "Sejak kapan kamu tertarik mengurus toko bunga?"
Sudut bibir Dewa terangkat tipis. "Aku bukan sedang mengurus toko bunganya."
"Aku hanya sedang membantu seseorang menemukan kembali mimpinya."
Setelah panggilan itu berakhir, Dewa menyimpan kembali ponselnya. Ia tidak pernah berniat memberitahukan semua yang baru saja dilakukannya.
Namun bagi pria itu melihat Alya kembali berdiri dengan usahanya sendiri sudah menjadi kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apa pun.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Hari-hari berikutnya berjalan jauh lebih cepat dari yang Alya bayangkan. Studio bunga kecil di belakang rumah yang semula hanya dipenuhi kesunyian, kini perlahan mulai dipenuhi aroma bunga segar dan suara pelanggan yang datang silih berganti.
Awalnya hanya satu atau dua pesanan. Kemudian bertambah menjadi lima. Lalu sepuluh. Hingga tanpa terasa, setiap akhir pekan Alya hampir tidak memiliki waktu luang.
Buket-buket hasil rangkaiannya mulai menghiasi berbagai acara. Mulai dari ulang tahun, wisuda, lamaran, hingga pernikahan. Tanpa pernah Alya ketahui, hampir semua pelanggan pertama datang karena rekomendasi diam-diam dari Dewa kepada rekan-rekan bisnisnya.
Namun setelah itu. Semua pesanan berikutnya datang karena kualitas hasil kerja Alya sendiri, yang memang sangat rapi dan elegan.
"Florist ini bagus sekali."
"Rangkaiannya selalu rapi."
"Warnanya lembut."
"Pelayanannya juga ramah."
Kalimat-kalimat itu perlahan menyebar dari satu pelanggan ke pelanggan lainnya. Nama studio bunga kecil itu pun mulai dikenal di lingkungan sekitar.
Melihat pesanan yang semakin banyak, Alya akhirnya tidak sanggup mengerjakan semuanya seorang diri. Atas saran Dewa, ia mulai membuka lowongan untuk membantu pekerjaan di studio.
Tak lama kemudian, dua perempuan muda keturunan Indonesia yang sedang merantau di Singapura bergabung dengannya.
Namanya Erin dan Salsa. Sejak saat itu, studio bunga kecil itu tak lagi terasa sepi.
Tawa mereka hampir setiap hari memenuhi ruangan. Sesekali Erin dan Salsa bahkan berebut melarang Alya mengangkat ember berisi bunga.
"Kak Alya, biar kami saja."
"Iya, Kak. Kakak duduk saja."
"Nanti Om Dewa marah kalau tahu Kakak angkat yang berat-berat."
Mendengar itu Alya hanya tertawa kecil. "Mas Dewa itu terlalu khawatir."
"Ya memang harus begitu," sahut Salsa sambil terkekeh.
"Wah... kelihatan banget ya Om Dewa sayang sama Kak Alya."
Seketika pipi Alya memerah. "Jangan ngomong sembarangan."
"Memang kenyataannya begitu kok," timpal Salsa.
Alya hanya menggeleng sambil menyembunyikan senyumnya. Tak terasa. Musim pun berganti. Perut Alya yang dahulu masih rata kini mulai membuncit dengan jelas.
Usia kandungannya telah memasuki bulan ke delapan. Dan jenis kelaminnya sudah di ketahui yaitu perempuan seperti harapannya. Setiap pagi, sebelum memulai pekerjaan, Alya selalu mengusap lembut perutnya.
Di sela-sela kesibukan itu, Dewa tetap memastikan Alya tidak bekerja terlalu keras. Ia bahkan membuat jadwal agar perempuan itu lebih banyak mengawasi daripada merangkai sendiri. Meski sering mengeluh bosan, Alya akhirnya menurut karena sadar kini ia tidak hanya menjaga dirinya, tetapi juga Senja.
"Selamat pagi, Senja."
"Hari ini kita kerja lagi ya."
Janin kecil di dalam kandungannya seolah menjawab dengan satu tendangan pelan. Alya spontan tertawa. "Nakal..."
"Om Dewa nanti bilang kamu sama aktifnya dengan Mama."
Saat itu pula Dewa baru saja masuk ke dalam studio sambil membawa dua gelas susu hangat. Melihat Alya tersenyum sendiri sambil berbicara dengan perutnya, sudut bibir pria itu ikut terangkat.
"Senja lagi ngajak ngobrol Mamanya?"
Alya mengangguk pelan. "Iya."
"Kayaknya dia senang karena hari ini banyak pesanan."
Dewa melangkah mendekat, lalu tanpa sadar pandangannya jatuh pada perut Alya yang kini semakin besar. Entah mengapa, melihat kehidupan kecil yang tumbuh di sana membuat dadanya ikut menghangat.
Perjalanan mereka masih panjang, namun
rumah kecil itu benar-benar terasa hidup.
Dipenuhi aroma bunga, tawa, dan harapan baru yang tumbuh bersama hadirnya Senja.
Bersambung ...
Maaf kemarin gak double ya Kak 🙏🙏🙏🙏