Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Titik Merah
Langkah kaki Carson terasa begitu berat saat ia mendorong pintu kaca tebal di lobi utama tempat ia ditahan. Sinar matahari pagi yang terik langsung menyengat matanya, memaksa pemuda itu menyipitkan mata menahan pening yang berdenyut di pelipisnya. Tubuhnya terasa remuk. Efek kejut listrik semalaman membuat seluruh persendiannya linu, seolah dipaksa memikul beban beratus-ratus kilogram.
"Carson?!"
Sebuah suara familier yang melengking tinggi memecah keheningan pelataran gedung. Belum sempat Carson menguasai keseimbangannya, sesosok pria berjas lab putih yang tampak kusut sudah berlari kencang ke arahnya.
Itu Avnan. Penampilannya benar-benar kacau, jauh dari kesan dokter laboratorium yang biasanya rapi dan klinis. Rambutnya berantakan, kantung mata hitam menggelayut di bawah matanya, dan ia mondar-mandir di depan tangga persis seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
"Astaga, Carson! Kamu tidak apa-apa?!" Avnan langsung memegang kedua pundak Carson, mengguncangnya pelan sebelum matanya membelalak lebar melihat kondisi rekan kerjanya. "Mukamu... kenapa rahangmu memar begitu?! Bibirmu robek juga?! Apa yang mereka lakukan di dalam, Carson? Menyiksamu? Bajingan-bajingan militer itu melakukan apa saja ke kamu semalaman?!" cerocos Avnan tanpa jeda.
Carson meringis pelan, memundurkan kepalanya sedikit karena guncangan Avnan membuat kepalanya semakin berputar. "Avnan... pelan-pelan. Suaramu bikin kepalaku mau pecah."
"Bagaimana bisa aku pelan-pelan?!" sanggah Avnan, matanya bergerak panik memeriksa sekujur tubuh Carson. "Kemarin waktu kamu tiba-tiba diseret, aku langsung jantungan tahu! Aku mau nerobos masuk tapi ditahan sama mereka di gerbang luar. Aku mau protes, tapi aku sadar aku cuma remah-remah rengginang di hadapan tentara-tentara kekar itu! Kamu bisa jalan gak? Ayo, ikut aku sekarang, kita ke ruang medis. Aku sendiri yang bakal obatin kamu!"
Tanpa menunggu persetujuan Carson, Avnan langsung menyampirkan lengan kanan Carson ke pundaknya, memapah pemuda itu dengan protektif. Sepanjang jalan menuju ruang medis, mulut Avnan sama sekali tidak berhenti bersuara.
"Kamu tahu tidak? Semalaman aku gak bisa tidur tahu! Aku mikir keras gimana cara ngeluarin kamu dari sana. Aku mau minta bantuan ke Profesor Malikh, tapi sialnya beliau sedang dinas di luar sektor. Aku bener-bener frustrasi, Carson. Akhirnya, aku cuma bisa bolak-balik kayak setrikaan dari laboratorium ke depan gedung interogasi ini. Setiap ada petugas lewat, aku tanyain, tapi mereka malah menodongkan senjata ke arahku. Sumpah, serem banget!"
Carson hanya membiarkan dirinya dipapah, mendengarkan semua rentetan kalimat itu dengan mata setengah terpejam. Energi tubuhnya benar-benar berada di titik nol.
Begitu mereka sampai di ruang medis, Avnan langsung mendudukkan Carson di atas ranjang periksa. Dengan cekatan, dokter muda itu mengambil kotak peralatan medis, alkohol, gel pereda lebam, dan sebuah botol kecil berisi cairan biru pekat.
"Nih, minum ini dulu. Ini suplemen pemulih energi. Ya, walaupun tidak bisa memulihkan langsung seratus persen, tapi setidaknya bisa mengisi ulang energimu yang hampir habis itu," perintah Avnan, menyodorkan botol kecil itu ke depan mulut Carson.
Carson menerimanya, meneguk cairan super pahit itu hingga tandas. Seketika, rasa hangat yang nyaman mulai menyebar dari lambungnya ke seluruh ujung sarafnya yang lelah.
Avnan kemudian mengambil kapas, membasahinya dengan antiseptik, lalu mulai menepuk-nepuk pelan sudut bibir Carson yang robek. "Tahan dikit, ini akan perih sedikit."
Carson hanya mengangguk, membiarkan Avnan mengobatinya.
"Jadi, ceritanya gimana? Kenapa kamu tiba-tiba ditangkap? Bahkan sampai ditahan—"
"Avnan," interupsi Carson. Suaranya yang parau dan berat seketika menghentikan gerakan tangan Avnan di udara.
Avnan mengerjap. "Ya?"
"Aku mau tidur," kata Carson pendek. Ia menatap Avnan dengan sepasang mata datarnya yang kini terlihat sangat meredup, sarat akan kelelahan yang luar biasa. "Jujur, aku lelah banget sekarang. Aku belum tidur dari kemarin. Otakku bahkan terus kupaksa bekerja. Segala macam skenario buruk terus berputar di kepalaku tanpa henti. Aku butuh istirahat. Tolong."
Melihat gurat kelelahan yang begitu jelas dari rekan kerjanya yang biasanya selalu terlihat tenang, Avnan akhirnya mengembuskan napas panjang. Aura paniknya mereda, digantikan oleh rasa iba seorang dokter.
"Oke, oke. Maaf, aku memang hobi mengoceh kalau lagi panik," ucap Avnan lembut. Ia mengoleskan gel bening ke rahang Carson yang memar, lalu menarik selimut tebal hingga ke dada Carson. "Tidurlah. Aku tidak akan mengganggumu."
Carson tidak membalas lagi. Begitu kepalanya menyentuh bantal, seluruh pertahanannya runtuh. Kegelapan langsung merenggut kesadarannya dalam hitungan detik.
...***...
Atmosfer yang berbeda tengah menyelimuti Pusat Pengawas Keamanan Sektor Empat.
Di dalam kubikel kerjanya yang bernuansa abu-abu metalik, Nezha duduk tegak di depan layar monitor hologram tiga dimensi. Jemarinya bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik virtual, mengetikkan baris-baris kode enkripsi yurisdiksi internal yang seharusnya tidak ia utak-atik secara sembarangan.
Wajahnya tampak sangat fokus, namun jika ada yang melihat lebih dekat, ada binar kepanikan yang berusaha keras ia sembunyikan di balik tatapan matanya yang tajam.
Sebagai petugas Pengawas Keamanan Sektor Empat, Nezha memiliki akses terbatas ke log lalu lintas penduduk lokal. Memang, Carson saat ini terdaftar bekerja di Sektor Utama yang berada di luar jangkauan pengawasan harian Nezha. Namun, karena status Carson secara hukum masih merupakan penduduk resmi Sektor Empat, gelang perak yang melingkar di pergelangan tangan Carson tetap terhubung ke server induk Sektor Empat.
Hanya saja, untuk membuka data tersebut, dibutuhkan otoritas khusus. Tidak sembarang orang bisa mengaksesnya. Dan pagi ini, Nezha nekat melakukan bypass kecil pada sistem protokol demi melacak posisi pria itu.
Saking khawatirnya, tangan Nezha sampai dingin. Bagaimana tidak? Sampai dia berangkat kerja pagi tadi, apartemen di sebelahnya tetap kosong melompong. Carson belum pulang. Ditambah lagi dengan insiden mengerikan jam satu dini hari tadi, di mana pasukan keamanan militer tiba-tiba menggeledah apartemen Carson.
Pip.
Sebuah titik merah kecil akhirnya berkedip di peta hologram global di depannya.
Nezha menahan napas. Matanya membaca data koordinat spasial yang tertera di samping titik merah tersebut.
"Sektor Militer?" bisik Nezha, suaranya bergetar hebat. Jantungnya mencelos seketika.
Pikiran Nezha langsung berkecamuk hebat, berputar-putar seperti badai angin puyuh. Setahu Nezha, Carson bekerja di Pusat Laboratorium Kesehatan di Sektor Utama. Lalu kenapa koordinat gelangnya menunjukkan dia berada di Sektor Militer? Apakah aksi nekat Carson selama ini ketahuan? Atau... apakah Carson melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu? Apa itu sebabnya ada pasukan keamanan militer di apartemen Carson?
Rasa takut yang teramat sangat mulai merayap di dada Nezha, membuatnya meremas tepi meja dengan kuat. Jika Carson ketahuan, maka nyawa pria itu dan juga nyawa bayi di dalam kandungannya sedang berada di ujung tanduk.
"Nezha!"
Sebuah tepukan keras di pundak kanan Nezha seketika membuyarkan lamunan buruknya. Dengan refleks yang terlatih, tangan Nezha langsung menyapu layar hologram di depannya, menutup seluruh tab pelacakan ilegal tersebut dalam satu kedipan mata, menggantinya dengan tampilan log laporan cuaca sektor.
Nezha menoleh cepat dengan jantung yang berdegup dua kali lebih kencang.
Jena sudah berdiri di samping kubikelnya, mengenakan rompi anti peluru lengkap dengan pistol kejut elektrik di pinggangnya. Rekan kerjanya itu menatap Nezha dengan dahi berkerut heran.
"Kamu ini kenapa, sih? Dari tadi aku panggil gak nyahut-nyahut. Fokus banget ngeliatin laporan cuaca, kayak mau ada badai pasir aja," cetus Jena, menggeleng-gelengkan kepalanya.
Nezha mencoba mengatur raut wajahnya agar terlihat senatural mungkin, menyembunyikan getaran di suaranya. "Ah... maaf, Jen. Aku hanya lagi... agak kurang enak badan saja, jadi kurang fokus."
"Kurang enak badan?" Jena menyipitkan mata, menatap wajah Nezha yang memang tampak sedikit pucat. "Kamu belakangan ini sering banget kelihatan lemes. Kamu gak lagi menyembunyikan penyakit aneh, kan?"
"Nggak, kok. Cuma kurang tidur saja," kilah Nezha cepat, sambil memaksakan sebuah senyuman tipis. "Ada apa, Jen?"
Jena menunjuk jam dinding digital di ruang tengah kantor dengan dagunya. "Lihat tuh jam berapa sekarang? Ini sudah waktunya jadwal patroli kita. Ayo, buruan ambil perlengkapanmu. Kita harus bergerak sekarang."
Nezha melirik kembali ke arah monitornya yang kini sudah bersih dari data pelacakan Carson. Ia mengembuskan napas pendek yang sarat akan beban berat, lalu bangkit berdiri dari kursinya.
"Iya, sebentar. Aku siap-siap dulu," jawab Nezha pelan.
Meskipun fisiknya melangkah mengikuti Jena menuju pintu keluar kantor untuk berpatroli, pikiran dan seluruh jiwa Nezha sepenuhnya tertinggal pada titik merah di Sektor Militer itu. Ia tahu, ia harus menyelesaikan patroli ini secepat mungkin agar bisa mencari cara untuk mencari tahu kondisi Carson yang sebenarnya.
i ini panglima berbuat baik