Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skakmat
Siang itu rumah indira rame. Lia datang bawa kue lapis kesukaan almarhum mas renal.
"Ndira, aku bawain kue ya. Mumpung lagi kumpul" ucap lia sambil naruh kue di meja.
Indira senyum. "Makasih ya kak. Masuk dulu, minum teh anget".
Mereka duduk di ruang tamu sambil ngobrolin arwah mas renal. Suasana haru tapi tenang.
Tiba-tiba pintu di ketuk kenceng. Tok...tok...tok
Indira kaget. "Siapa ya jam segini".
Dia buka pintu. Ternyata imel. Mukanya masem, bawa tas belanjaan.
"Loh kak imel, masuk kak" ucap indira kaku.
Imel masuk tanpa permisi. Dia liat lia terus liat indira.
"Rame ya kalian. Ngomongin aku pasti" sindir imel langsung.
Lia diem. Dia tau kalau imel datang pasti ada aja.
"Enggak kak, kita cuma ngobrol biasa aja" jawab indira pelan.
Imel naruh tasnya di kursi. "Ngobrol biasa apa ngobrolin cowok baru kamu".
Indira nelen ludah. Lia langsung nepuk tangan imel.
"Kak, udah. Jangan mulai" ucap lia.
"Kenapa, emang salah aku. Aku kan kakaknya. Aku berhak tau adik iparku deket sama siapa" balas imel.
Indira narik napas panjang. Biasanya dia diem kalau imel nyindir. Tapi kali ini beda.
"Kak, aku deket sama siapa urusan aku. Aku udah janda kak" ucap indira.
Imel ketawa sinis. "Janda tapi kelakuannya kayak gadis. Baru 2 bulan suami mati udah cari pengganti".
Lia langsung berdiri. "Kak imel, jaga omongan".
"Emang aku ngomong apa yang salah. FAKTA kan" bentak imel.
Indira pegang gelas teh tangannya gemetar. Air matanya udah di pelupuk.
"Kak, aku tau kakak gak suka aku. Tapi jangan injak-injak aku di depan orang" ucap indira suaranya bergetar.
Imel duduk, nyilangin kaki. "Loh kok ngerasa diinjak. Aku kan ngingetin. Mas renal belum 40 hari kamu udah mesra sama aditia".
Indira kaget. "Kok kakak tau nama aditia".
"Ya tau lah. Satu kompleks ini gosipnya cepet. Katanya tiap sore dijemput mobil. Manis banget ya" ejek imel.
Lia mau ngomong tapi di potong imel. "Lia diem. Kamu kan tim indira. Pantes bela terus".
Indira berdiri. Dadanya sesek banget. Ini pertama kalinya dia ngelawan imel.
"Kak, cukup. Aku diam selama ini karena aku hormat kakak itu istri kakak almarhum" ucap indira.
"Terus sekarang kenapa, berani ngelawan" tanya imel.
"Karena kata-kata kakak udah kelewatan. Aku janda, iya. Aku kesepian, iya. Tapi aku gak murahan kak" bentak indira.
Imel kaget. Dia gak nyangka indira berani teriak.
"Jadi kamu nuduh aku bilang kamu murahan" pinta imel.
"Bukan nuduh. Itu yang kakak maksud kan. Baru 2 bulan udah cari pengganti. Itu sama aja kakak bilang aku gak setia" jawab indira air matanya jatuh.
Lia langsung peluk indira. "Udah ndira, udah. Jangan nangis".
Imel nyengir. "Nangis. Dasar janda lebay. Cari perhatian".
Indira lepas dari pelukan lia. Dia maju ke depan imel.
"Kak, aku tahan selama ini karena aku sayang sama mas renal. Aku sayang kakak juga. Tapi kalau kakak terus nyakitin aku, aku gak bisa diem" ucap indira tegas.
Imel berdiri juga. Mukanya merah. "Jadi kamu mau apa. Mau usir aku dari rumah adikku".
"Aku gak ngusir kak. Ini rumah mas renal juga. Tapi kakak harus tau batas" jawab indira.
" Batas apa. Batas kamu pacaran sama duda" skakmat imel.
Indira tampar meja. "Iya kak. Aditia itu duda. Tapi dia lebih gentle dari banyak laki-laki di luar sana. Dia gak pernah nyakitin aku. Dia jagain aku" bentak indira.
Lia diem. Dia gak nyangka indira seberani ini.
Imel ketawa. "Gentle. Gentle apanya. Duda ya duda. Pasti sama aja kayak almarhum. Nanti juga selingkuh".
Indira nangis kenceng. "Jangan bawa-bawa mas renal kak. Mas renal laki-laki paling baik. Dan aditia juga baik".
"Kamu buta cinta ndira. Makanya gak liat" ucap imel.
"Yang buta itu kakak. Buta karena benci sama aku dari dulu" jawab indira.
Imel maju selangkah. "Aku benci kamu karena kamu ngerebut adikku".
Indira ngak sambil nangis. "Aku ngerebut. Kak, mas renal yang milih aku. Aku gak pernah maksa dia".
Lia langsung misahin mereka. "Cukup. Cukup kak. Ndira juga cukup".
Suasana hening beberapa detik. Cuma kedengeran suara indira sesegukan.
Imel ambil tasnya. "Ya sudah. Kalau kamu udah milih duda itu, jangan harap aku akui kamu keluarga lagi".
Indira liat imel jalan ke pintu. Sebelum keluar imel noleh.
"Ingat ya ndira. Karma itu ada. Kamu nyakitin keluarga almarhum, nanti kamu juga disakitin" ucap imel terus banting pintu.
Indira langsung lemas. Dia jatuh duduk di lantai.
Lia ikut duduk, peluk indira. "Udah ndira, nangis aja. Lepasin semua".
Indira nangis di dada lia. "Kak, aku capek. Kenapa aku selalu disalahin. Aku cuma mau bahagia kak".
"Shhh, aku tau sayang. Kamu berhak bahagia. Imel itu emang dari dulu gitu. Mulutnya pedes" ucap lia sambil usap rambut indira.
Indira ngusap air matanya. "Aku gak pernah ngelawan kak. Tapi kali ini aku gak tahan. Kata-katanya nusuk banget".
"Aku ngerti. Kamu manusia, bukan patung. Wajar kalau marah" jawab lia.
Hapenya indira bunyi. Chat dari aditia. "Ind, udah selesai acara di rumah belum".
Indira liat chat itu terus nangis lagi. Dia balas. "Dit, aku baru aja berantem sama kak imel".
Aditia langsung nelpon. Indira angkat.
"Hallo ind, kamu gak apa-apa" tanya aditia cemas.
"Enggak dit, aku kuat. Aku baru lawan kak imel" jawab indira sambil sesegukan.
"Bagus ind. Kamu harus gitu. Jangan diem terus kalau disakitin" ucap aditia.
Indira diem. "Tapi aku takut dit. Takut keluarga mas renal makin benci aku".
"Yang benci biarin benci ind. Yang penting kamu jujur sama diri sendiri. Kamu berhak bahagia" ucap aditia.
Lia dengerin dari samping. Dia angguk setuju.
Setelah telpon mati, lia ngomong. "Ndira, aku dukung kamu. Kalau aditia beneran sayang kamu, jangan sia-siain".
Indira peluk lia. "Makasih ya kak udah belain aku".
"Sama-sama. Kamu adik aku juga" jawab lia.
Malam itu indira tidur dengan mata bengkak. Tapi hatinya lebih lega.
Dia sadar, diam itu gak selalu emas. Kadang kita harus ngomong biar orang tau sakitnya di mana.
Dan hari itu, indira milih ngelawan. Bukan karena benci imel.
Tapi karena dia capek jadi korban di hina terus sama kakak iparnya.