Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Berlatih Bersama — Ucapan Konyol
Setelah ujian pengukuran energi beberapa hari lalu, banyak murid Sekte Angin Hijau menjadi semakin penasaran dengan Mu Chen. Mereka melihat sendiri bahwa meski tingkatan resminya masih rendah, kualitas energinya jauh melebihi mereka yang sudah berlatih bertahun-tahun.
Akhirnya, atas usulan Bai Hao dan persetujuan para tetua, diadakan sesi latihan bersama di lapangan utama. Banyak murid berkumpul — ada yang ingin melihat cara latihan Mu Chen, ada yang ingin bertanya, dan ada juga yang penasaran apakah dia benar-benar seistimewa yang dikatakan orang.
Mu Chen datang dengan santai, membawa tikar kecil dan bahkan membawa keranjang berisi buah-buahan.
"Eh, ini untuk dimakan nanti kalau sudah lelah latihan. Makanan enak membuat semangat bertambah," katanya sambil meletakkan keranjang itu di sudut lapangan.
Semua orang tertawa kecil melihat kebiasaannya itu.
Setelah pemanasan sederhana, salah seorang murid yang sudah berlatih tiga tahun mengangkat tangan:
"Kakak Mu Chen, saya mau bertanya. Sudah tiga tahun saya berlatih, tapi energi saya terasa lambat tumbuhnya. Kadang saat menarik energi, rasanya berat dan sulit disimpan. Apakah ada rahasianya?"
Murid lain ikut menambahkan:
"Benar juga! Kadang saya merasa kalau saya terlalu keras menarik, kepala jadi pusing dan tubuh terasa sakit. Tapi kalau terlalu pelan, tidak terasa ada kemajuan sama sekali. Bagaimana caranya agar seimbang?"
Mu Chen menggaruk kepalanya, lalu berpikir sejenak. Ia tidak tahu istilah-istilah rumit, jadi ia menjelaskan dengan apa yang ada di pikirannya saja:
"Hmm... kalau menurut saya, berlatih itu seperti menanak nasi di panci."
Semua orang terdiam sejenak. "Menanak nasi? Apa hubungannya dengan kultivasi?" pikir mereka.
Mu Chen melanjutkan dengan wajah serius:
"Kalau api terlalu besar — nasi cepat hangus di bagian bawah, tapi bagian atasnya masih mentah. Kalau apinya terlalu kecil — lama sekali matangnya, bahkan bisa tidak matang sama sekali. Lalu airnya juga harus pas — terlalu sedikit jadi kering, terlalu banyak jadi lembek."
Semua orang masih bingung, tapi ia terus bicara:
"Energi itu seperti airnya, semangat dan konsentrasi itu seperti apinya. Kalau kalian memaksakan diri menarik terlalu banyak sekaligus — itu seperti menyalakan api sebesar gunung untuk panci kecil. Tentu saja rasanya sakit dan pusing! Tapi kalau kalian terlalu santai sampai tidak ada usaha sama sekali — seperti tidak menyalakan api, ya tidak akan matang juga."
Ia menunjuk perutnya sendiri:
"Yang terpenting — panci kalian harus kuat dulu! Kalau pancinya bocor atau tipis, meski apinya pas dan airnya cukup, nanti airnya bocor atau pancinya retak. Itulah sebabnya saya tidak terburu-buru — saya dulu 'mempertebal panci' saya dulu, baru perlahan mengisinya dengan air."
Mereka semua mendengarkan dengan hati-hati, dan perlahan mulai memahami makna di balik perumpamaan sederhana itu.
Lalu datang pertanyaan lain dari seorang murid yang sudah mencapai Tingkat Penyatuan:
"Saya sudah bisa menarik energi dengan lancar, tapi sulit membuatnya menjadi padat dan kuat. Selalu terasa seperti kabut tipis yang mudah hilang. Apa yang kurang?"
Mu Chen mengangkat bahu:
"Itu seperti menyimpan gula pasir. Kalau hanya dituang saja, ia tetap lepas dan mudah berhamburan. Tapi kalau kalian tekan perlahan, lama-lama ia akan menjadi padat dan sulit terpisah."
Ia mencontohkan dengan memegang segenggam tanah:
"Energi kalian itu seperti tanah. Kalau dibiarkan saja, ia lepas dan tidak kuat menahan beban. Tapi kalau kalian berputar perlahan dan memadatkannya sedikit demi sedikit setiap hari, lama-lama ia akan menjadi batu, lalu menjadi besi, lalu menjadi logam keras."
"Jangan pikirkan 'saya harus punya banyak energi'. Lebih baik pikirkan 'saya harus membuat energi saya semakin kuat dan padat'. Energi yang sedikit tapi padat itu jauh lebih berguna daripada banyak tapi ringan seperti asap. Seperti emas dan jerami — mana yang lebih berharga meski beratnya sama?"
Tiba-tiba, salah seorang murid yang sudah lama mengalami kebuntuan menutup matanya sejenak. Tubuhnya mulai bergetar pelan, dan kabut energi di sekitar tubuhnya perlahan berubah menjadi sedikit lebih padat dan berwarna lebih jelas!
"Saya... saya mengerti! Selama ini saya selalu berusaha menarik sebanyak mungkin, sampai dantian saya terasa penuh dan sakit. Tapi saya tidak pernah memikirkan untuk memadatkannya perlahan-lahan!" serunya dengan wajah gembira.
Tidak hanya dia — murid lain juga mulai mencoba cara yang dijelaskan Mu Chen. Mereka tidak lagi menarik energi dengan sekuat tenaga, melainkan menarik sedikit saja, lalu memutarnya perlahan dan menstabilkannya.
Yang mengejutkan — dalam waktu singkat, banyak dari mereka merasakan kemajuan! Beberapa yang sudah lama terhenti akhirnya merasakan energi mereka bergerak lebih lancar, bahkan ada dua orang yang berhasil menerobos hambatan dan naik ke tingkat berikutnya!
Para tetua yang diam-diam mengamati dari kejauhan saling pandang dengan mata terbelalak.
"Tidak masuk akal! Penjelasannya sangat sederhana, bahkan terlihat seperti bicara sembarangan — tapi prinsipnya persis sama dengan teori kuno yang jarang dipahami orang! Ia menjelaskannya dengan cara yang bisa dimengerti semua orang!" gumam Tetua Qingyun takjub.
"Lihatlah — murid-murid yang selama ini mengalami kebuntuan kini mendapatkan pencerahan. Bahkan penjelasan saya sendiri tidak sesederhana dan setepat itu!" tambah Tetua Agung Mo Feng.
Zhao Feng juga memperhatikan dengan saksama. Selama ini ia selalu merasa bahwa semakin cepat naik tingkatan, semakin hebat seseorang. Tapi ucapan Mu Chen membuatnya menyadari bahwa ia juga telah terburu-buru, dan fondasinya masih memiliki celah-celah kecil.
Sementara semua orang sibuk merasakan perubahan dalam tubuh mereka, Mu Chen justru sibuk memetik buah dari keranjangnya dan membagikannya.
"Sudah, sudah, jangan terlalu tegang juga! Berlatih itu seperti berjalan — kalau terlalu cepat, bisa terjatuh. Istirahat sebentar, makan buahnya, segar lagi. Nanti dilanjutkan lagi," katanya sambil memberikan buah kepada siapa saja yang mau.
Salah seorang murid bertanya dengan hormat:
"Kakak Mu Chen, apakah ini adalah rahasia tingkat tinggi? Dari mana Anda mendapatkan pemahaman yang begitu mendalam?"
Mu Chen menelan buahnya, lalu menjawab polos:
"Rahasia? Tidak ada rahasia kok. Saya hanya berpikir — kalau makanan saja yang lezat butuh waktu lama dimasak, apalagi kekuatan dalam tubuh? Semua yang bagus butuh waktu kan? Kalau bisa tumbuh cepat, biasanya itu tidak tahan lama."
Ia menambahkan lagi seolah-olah baru teringat sesuatu:
"Oh ya! Jangan lupa — berlatih sambil bahagia itu hasilnya lebih bagus. Kalau kalian berlatih sambil marah atau sedih, energinya jadi kacau seperti air yang diaduk terlalu keras. Kalau rileks dan senang, ia mengalir seperti sungai yang tenang — sampai ke tempat yang paling jauh sekalipun."
Semua orang mengangguk setuju. Meskipun terdengar seperti ucapan biasa, mereka bisa merasakan kebenarannya.
Saat matahari mulai condong ke barat, sesi latihan bersama berakhir. Banyak murid pulang dengan wajah ceria dan hati yang ringan — mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tapi juga semangat yang baru.
Para tetua datang menghampiri Mu Chen. Tetua Qingyun tersenyum lebar:
"Mu Chen, penjelasanmu tadi sangat berharga. Banyak murid mendapatkan pencerahan, bahkan yang sudah lama mengalami kebuntuan. Kamu benar-benar memiliki cara pandang yang unik."
Mu Chen menggaruk kepalanya malu-malu:
"Tidak juga. Saya hanya bicara apa yang saya rasakan saja. Kalau bermanfaat, itu bagus. Oh ya, sisa buahnya saya tinggalkan di sana — bisa dimakan bersama besok."
Saat ia berjalan pulang, Bai Hao dan Su Ling berjalan di sampingnya.
"Kau tahu tidak? Semua orang menganggapmu seperti jenius besar yang bisa menjelaskan hal sulit menjadi sederhana," kata Su Ling tertawa.
"Jenius? Ah tidak. Saya hanya tidak suka hal yang rumit. Lebih mudah dijelaskan dengan hal-hal sehari-hari yang kita semua kenal. Lagipula, intinya tetap sama kan — lambat tapi pasti, kuat dasarnya, jangan memaksakan diri," jawab Mu Chen santai.
Di dalam benaknya, Kitab Jalan Bintang berkomentar:
"Itulah kelebihanmu. Kau tidak terikat oleh istilah dan aturan yang kaku. Kau melihat hakikat segala sesuatu dengan cara yang paling alami — dan itulah yang justru sulit dicapai oleh orang-orang pintar sekalipun."
Mu Chen hanya tersenyum dan memikirkan makan malamnya:
"Yang penting, besok saya akan menanam lebih banyak sayuran. Kalau latihan membutuhkan energi, perut juga butuh diisi kan?"
Dan begitulah — ucapan yang dianggap sembarangan dan konyol olehnya sendiri, justru menjadi kunci pencerahan yang membantu banyak orang memahami jalan kultivasi dengan cara yang lebih baik