NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Satu minggu setelah kepulangan dari London, masa libur dua minggu yang diberikan manajemen Tim Aether berjalan dengan sangat tenang, setidaknya sampai hari Selasa pagi yang cerah ini dikacaukan oleh sebuah panggilan telepon darurat. Jasmine baru saja selesai menyiram tanaman di halaman rumahnya ketika ponselnya berdering heboh. Di layar tertera nama Kak Kenzie. Begitu menekan tombol terima, suara panik Kenzie langsung berpadu dengan suara erangan dramatis yang sangat ia kenal di latar belakang.

"Jasmine! Kamu bisa ke Darel Hospital sekarang? Anak ini kena batunya akibat kelakuan randomnya semalam!" kata Kenzie setengah berteriak.

"Kak Bryan kenapa, Kak?" tanya Jasmine bingung.

"Dia nekat bikin konten tantangan makan mi instan dicampur BonCabe level tiga puluh sebanyak lima mangkuk sekaligus, ditambah minum es kopi dicampur sarsaparilla karena taruhan sama penonton streamingnya! Sekarang dia lagi kesakitan sambil megang perutnya yang kram akut. Wajahnya udah pucat kayak mayat!"

Jasmine menghela napas panjang, memijat pelipisnya. Kelakuan Bryan memang sering kali berada di luar nalar sehat jika sudah berurusan dengan taruhan internet. "Iya, Kak. Aku langsung ke sana sekarang."

Saat Jasmine berjalan terburu-buru keluar pagar, ia berpapasan dengan Liam yang kebetulan sedang membuka pintu gerbang Floraison Cafe, ditemani Donald yang berkuak malas.

"Mau ke mana pagi-pagi begini, Penembak Jitu? Kok buru-buru banget?" tanya Liam dengan senyuman miringnya yang khas.

"Ini, Kak Liam. Kak Bryan mendadak harus dilarikan ke Darel Hospital karena ususnya sepertinya protes akibat konten makanan pedas semalam," jawab Jasmine panik.

Sorot mata Liam berubah sedikit aneh untuk sepersekian detik, namun ia dengan cepat menguasai ekspresinya kembali. "Oh, Darel Hospital? Ya udah, hati-hati di jalan. Semoga anak konyol itu enggak apa-apa," ucap Liam santai, melambaikan tangannya saat taksi online pesanan Jasmine tiba di depan kompleks.

Jasmine segera masuk ke dalam mobil, memberikan anggukan kecil sebagai ucapan terima kasih terakhir sebelum pintu mobil tertutup rapat. Di sepanjang perjalanan membelah jalanan ibu kota yang mulai merayap padat, pikiran Jasmine tidak bisa sepenuhnya tenang. Di satu sisi, ia mencemaskan kondisi Bryan yang memang sering kali bertindak ceroboh demi sebuah angka viewer di platform streamingnya. Namun di sisi lain, bayangan ekspresi wajah Liam yang sempat berubah janggal selama sepersekian detik tadi terus berputar di dalam benaknya seperti kaset rusak. Ada apa dengan Rumah Sakit itu? Mengapa nama tempat itu seolah memicu tombol rahasia di dalam kepala sang barista yang biasanya selalu berwajah santai tanpa beban tersebut? Jasmine menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir kabut rasa ingin tahu yang mulai tidak sopan merayap di pikirannya. Fokus utamanya saat ini adalah memastikan rekan setimnya tidak berakhir di ruang operasi, hanya karena perilaku random kakaknya itu.

---

Ketika taksi online yang ditumpanginya akhirnya berhenti di area drop off utama Darel Hospital, Jasmine langsung disambut oleh kemegahan arsitektur bangunan medis tersebut. Tempat ini tidak seperti rumah sakit pada umumnya yang berbau menyengat zat antiseptik kaku, lobi utamanya dirancang sangat luas dengan langit-langit tinggi berlapis kaca, pilar-pilar marmer krem yang kokoh, serta alunan musik piano klasik yang samar-samar terdengar dari pelantang suara tersembunyi. Tempat ini memancarkan aura eksklusivitas tingkat tinggi, jenis fasilitas kesehatan yang hanya bisa diakses oleh kalangan elite atau mereka yang memiliki jaminan asuransi premium. Jasmine melangkah cepat melewati pintu sensor otomatis, matanya bergerak lincah menyusuri kerumunan orang hingga akhirnya menangkap lambaian tangan lambat dari Kenzie di sudut dekat lorong Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kondisi di dalam area observasi IGD ternyata jauh lebih dramatis daripada yang Jasmine bayangkan. Bryan tampak terbaring telentang di atas brankar beroda dengan wajah yang sepenuhnya kehilangan warna kulit aslinya. T-Shirt biru yang dikenakannya tampak kusut, dan kedua tangannya mencengkeram erat bagian ulu hatinya seolah sedang menahan tusukan belati tak kasat mata.

"Jasmine... untung kamu dateng..." rintih Bryan dengan suara yang luar biasa serak dan tipis, sangat jauh dari lengkingan berisik yang biasanya ia keluarkan saat berhasil melakukan clutch di dalam game. "Aku kayaknya mau mati, Jasmine... usus aku beneran kayak disiram cairan asam klorida langsung..."

"Jangan lebay, Bryan. Makanya kalau dibilangin orang itu didengar," timpal Kenzie yang berdiri di sisi brankar sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Meski nada suaranya terdengar ketus dan penuh omelan, Jasmine bisa melihat kilat kecemasan yang nyata di balik lensa kacamata anti radiasi yang dikenakan oleh sang analis tim. "Dokter jaga IGD tadi udah menyuntikkan obat penahan nyeri lambung dosis tinggi lewat infus, tapi mereka bilang kram otot perutnya terlalu akut. Dokter spesialis penyakit dalam yang ada di lantai atas harus memeriksa struktur lambungnya lebih detail untuk memastikan tidak ada pendarahan internal."

Ilias yang baru saja kembali dari loket pendaftaran administrasi tampak menghela napas panjang, menyerahkan beberapa lembar dokumen medis kepada Kenzie. "Semua urusan administrasi awal udah selesai pakai kartu korporat tim. Petugas barusan bilang kita harus bawa Bryan naik ke lantai tiga, ke area poli spesialis dalam, biar bisa dapet rujukan pemeriksaan endoskopi darurat."

"Biar aku aja yang bantu memapah atau mendorong kursi rodanya, Kak Ilias," tawar Jasmine, merasa bersalah karena tidak bisa berbuat banyak sejak tiba di sana.

"Enggak usah, Jasmine. Biar Kakak sama Kenzie yang menangani Bryan. Tenaga anak ini kalau lagi panik suka mendadak kuat kayak banteng," jawab Ilias dengan senyum hangat khasnya yang selalu berhasil menenangkan suasana. "Tugas kamu cukup ikut bareng kita ke atas, jaga tas kecil berisi barang-barang berharga Bryan, dan pastikan kita tidak melewatkan nomor antrean saat nama tim kita dipanggil oleh perawat di atas."

---

Proses memindahkan Bryan dari ruang IGD menuju lift utama membutuhkan kerja sama tim yang cukup merepotkan. Bryan terus-menerus mengaduh dramatis setiap kali roda kursinya melewati sambungan lantai marmer yang tidak rata, memancing pandangan mata penuh rasa ingin tahu dari para pengunjung rumah sakit lainnya. Jasmine berjalan di barisan paling belakang, memegangi tas ransel hitam milik Bryan sambil sesekali membetulkan letak masker medis yang dipakainya untuk menghindari kerumunan penggemar esports yang mungkin mengenali wajah mereka. Begitu pintu lift berdenting halus dan terbuka di lantai tiga, atmosfer lingkungan medis itu mendadak berubah menjadi berkali-kali lipat lebih sunyi dan privat. Lantai tiga ini tampaknya merupakan zona eksklusif yang dirancang khusus untuk ruang konsultasi spesialis senior dan ruang terapi privat. Lantainya dilapisi oleh karpet tebal bernuansa abu-abu gelap yang meredam sempurna setiap suara langkah kaki, sementara dindingnya dipasangi panel-panel kayu ek jepang yang memberikan kesan mewah namun menenangkan.

"Kalian bertiga tunggu aja di ruang tunggu utama sebelah sana," instruksi Kenzie setelah berkonsultasi singkat dengan perawat di meja resepsionis depan lorong. "Nomor rekam medis Bryan udah dimasukkan ke sistem antrean prioritas. Gue harus melengkapi sisa tanda tangan persetujuan tindakan medis di ruang berkas sebelah kiri."

Ilias memarkir kursi roda Bryan di sudut ruang tunggu yang sedikit remang-remang, tepat di bawah hembusan pendingin ruangan yang sejuk. "Bry, diam di sini, jangan banyak tingkah lagi. Gue mau ke kafetaria sebentar di ujung lantai ini mau beli teh hangat atau air mineral untuk kita semua. Tenggorokan gue rasanya udah kering sejak denger drama tangisan lo di rumah tadi pagi."

"Gue mau ikut, Ilias..." rintih Bryan manja.

"Jangan ngaco. Duduk manis di sini sama Jasmine," tegas Ilias sebelum membalikkan badannya dan melangkah pergi menyusuri lorong kiri menuju area kafetaria.

Kini, di sudut ruang tunggu yang sepi itu, hanya tersisa Jasmine dan Bryan yang masih memejamkan matanya rapat-rapat sambil mengatur napasnya yang tidak teratur. Keheningan lantai tiga ini terasa begitu pekat, jenis kesunyian yang perlahan-lahan mulai memicu rasa bosan sekaligus rasa ingin tahu Jasmine untuk memperhatikan lingkungan sekitar.

Aroma yang menyebar di lantai ini juga terasa sangat familier di hidung Jasmine, bukan aroma obat-obatan yang tajam, melainkan wangi terapi minyak atsiri bernuansa lavender dan mint yang sangat menenangkan saraf kepala. Wangi yang entah mengapa, lagi-lagi mengingatkannya pada atmosfer di dalam Floraison Cafe. Jasmine mengerutkan keningnya pelan, merasa ada terlalu banyak kebetulan yang aneh hari ini.

"Jasmine... aku haus banget... Ilias masih lama ya," gumam Bryan tiba-tiba, memecah keheningan dengan suara seraknya.

Jasmine menoleh, menatap kasihan pada rekan duetnya di dalam arena pertandingan tersebut. "Kak Ilias kan lagi beli teh hangat di kafetaria, Kak. Ditunggu sebentar, ya?"

"Aduh, dia jalannya lama banget kalau lagi capek, Jasmine. Tolong susul gih... atau kamu beliin minuman hangat apa aja di mesin otomatis dekat lorong kanan tadi. Aku beneran ngerasa kayak mau pingsan karena dehidrasi ini," rajuk Bryan dengan ekspresi wajah yang dibuat semenderita mungkin.

Jasmine menghela napas panjang, tidak tega melihat kondisi temannya yang biasanya selalu ceria itu tampaknya beneran berada di titik rendah kesehatannya. "Ya udah, Kak Bryan jangan bergerak dari kursi roda ini, ya. Aku cari Kak Ilias atau cari mesin minuman hangat sebentar di lorong sebelah sana."

"Iya... makasih yah Dek..." sahut Bryan lemas sebelum kembali menyandarkan kepalanya ke dinding kursi roda.

Jasmine berdiri dari kursi tunggu, merapikan mantel rajut hitamnya, lalu mulai melangkah perlahan meninggalkan sudut ruang tunggu utama. Ia berjalan menyusuri lorong panjang berlantai marmer yang ada di sepanjang dindingnya dipenuhi oleh deretan pintu kayu ek jepang yang elegan dengan papan nama kuningan berukir nama-nama dokter spesialis besar bergelar profesor. Lorong ini sangat sepi, hanya ada satu atau dua orang pasien paruh baya yang duduk tenang membaca majalah. Langkah kaki Jasmine yang dilapisi sepatu datar tidak menimbulkan suara sama sekali di atas karpet peredam. Ia terus berjalan lurus, matanya mencari penanda arah menuju kafetaria atau mesin minuman otomatis yang dimaksud oleh Bryan tadi.

Namun, tepat saat ia melewati sebuah persimpangan lorong menuju area konsultasi privat yang lebih tertutup di bagian dalam lantai tiga, pandangan matanya secara tidak sengaja menangkap sebuah siluet tubuh jangkung yang berdiri membelakangi posisinya di ujung koridor yang remang-remang. Jasmine menghentikan langkah kakinya seketika. Seluruh pasokan udara di dalam paru-parunya seolah mendadak membeku, dan detak jantungnya berdegup berkali-kali lipat lebih kencang akibat sebuah gelombang rasa terkejut yang luar biasa hebat yang langsung menghantam seluruh sistem saraf kepalanya. Di ujung koridor itu, berdiri seorang pria jangkung dengan postur tubuh yang sangat ia kenal, postur tegap yang selalu ia lihat setiap sore di seberang jalan rumahnya. Namun, pria itu sama sekali tidak mengenakan pakaian kasual linen longgar atau celemek cokelat berlumur bubuk kopi. Pria itu kini dibalut oleh sebuah jas putih dokter yang sangat bersih, kaku, dan rapi, yang melekat pas di atas kemeja formal biru mudanya yang dipadukan dengan dasi sutra gelap. Pria itu adalah Liam. Wajah tampannya yang biasanya dipenuhi oleh senyuman miring yang jenaka dan terkesan meremehkan masalah dunia, sore ini terlihat sangat serius, dingin, dan memancarkan aura intelektual berwibawa tingkat tinggi, sebuah ekspresi asing yang belum pernah Jasmine lihat sebelumnya, sosok misterius yang selama ini menyembunyikan identitas besarnya di balik kehangatan sebuah kafe kaca di tepi danau

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!