"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Pembantu Riset Sang Profesor
BAB 16: Pembantu Riset Sang Profesor
Sisa kehangatan dari ciuman lembut Adrian di ruang VIP tadi masih terasa membekas di bibir Kiara. Langkah kakinya terasa sedikit lebih ringan saat mereka berdua berjalan beriringan menuju lobi utama restoran untuk pulang. Adrian berjalan di sampingnya dengan wibawa yang tenang, sesekali tangan besarnya merayap ke pinggang Kiara, memberikan remasan posesif yang samar namun protektif di balik gaun hitamnya. Kiara mengira, malam ini akan ditutup dengan kedamaian yang manis.
Namun, ekspektasi indahnya hancur berkeping-keping tepat saat pintu lift lobi terbuka di lantai dasar.
"Adrian? Oh my God, Adrian Alkatiri! Ini beneran kamu?"
Sebuah suara feminin yang teramat renyah, manja, dan berkelas mengalun memecah keheningan lobi. Kiara tersentak, sementara langkah kaki Adrian di sampingnya mendadak berhenti kaku.
Dari arah lounge lobi, melangkah seorang wanita yang penampilannya sanggup membuat wanita mana pun di ruangan itu merasa minder seketika. Wanita itu bertubuh semampai, mengenakan blazer dress desainer ternama berwarna merah menyala yang membungkus lekuk tubuh seksinya dengan sangat berani. Rambutnya yang dicat cokelat madu bergelombang indah, memancarkan aura wanita karier yang mapan, mandiri, dan berkelas tinggi.
dr. Clarissa. Wanita pilihan ibu Adrian untuk perjodohan bisnis keluarga Alkatiri.
Clarissa berjalan cepat dengan sepatu hak tingginya, langsung menghampiri Adrian dengan binar mata yang berbinar penuh kerinduan. Tanpa memedulikan keberadaan Kiara, Clarissa dengan sangat akrab langsung menggelayutkan tangannya di lengan kekar Adrian, memeluknya manja.
"Astaga, Adrian! Aku nggak menyangka bisa ketemu kamu di restoran ini! Tante Miranda bilang kamu sibuk banget di kampus sampai susah dihubungi. Kamu ke sini sama siapa?" cerocos Clarissa sembari mendongak menatap wajah tampan Adrian dengan senyuman termanisnya.
Kiara yang berdiri tepat di samping Adrian seketika merasa tubuhnya membeku sedingin es. Dadanya mendadak terasa dihantam oleh godam yang teramat besar hingga pasokan oksigen di sekitarnya terasa lenyap. Ada rasa panas yang membakar—sebuah api cemburu buta yang teramat membara dan menyakitkan—mendadak tersulut di dalam hatinya melihat tangan wanita lain menyentuh Adrian dengan begitu leluasa.
Adrian tampak sedikit terkejut, namun dengan cepat ia menguasai emosinya. Ia melepaskan tangan Clarissa dari lengannya secara halus, menjaga jarak formal. "Clarissa. Ya, aku sedang ada urusan di sini," jawab Adrian dengan suara baritonnya yang datar dan tak tersentuh.
Mata tajam Clarissa akhirnya beralih, turun menatap sosok Kiara yang berdiri mematung di samping Adrian. Clarissa menyipitkan matanya, meneliti penampilan Kiara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Meskipun Kiara terlihat sangat cantik dengan gaun hitam pemberian Adrian, namun Clarissa bisa melihat dengan jelas aura kepolosan seorang mahasiswi dari dalam diri Kiara.
"Oh... lalu, siapa wanita cantik di sebelahmu ini, Adrian? Pacar barumu? Kok kamu nggak pernah cerita ke Tante Miranda?" tanya Clarissa dengan nada suara yang sedikit berubah sengit, meskipun senyuman palsu masih bertengger di bibir merahnya.
Pertanyaan itu seperti sebuah vonis mati yang digantungkan di atas kepala Kiara. Jantung Kiara berdegup menggila, memburu dengan ekstrem. Sudut hatinya yang terdalam berteriak, berharap ada keajaiban kecil di mana Adrian akan mengakuinya sebagai istrinya, atau setidaknya sebagai wanita yang berharga di hidupnya. Kiara menatap Adrian dengan pandangan mata yang bergetar penuh harap.
Namun, Adrian tetaplah Adrian. Pria itu terikat oleh rantai kontrak dan tekanan besar dari keluarganya. Dia tahu, jika rahasia pernikahan kontrak ini terbongkar di depan Clarissa, ibunya akan menghancurkan hidup Kiara dalam sekejap. Demi melindungi rahasia itu—atau mungkin demi menjaga ego bisnis keluarganya—Adrian mengambil keputusan yang paling aman.
Adrian berdehem pelan, menatap Clarissa dengan wajah datar tanpa riak emosi sedikit pun.
"Dia Kiara. Salah satu mahasiswa bimbinganku di kampus," ucap Adrian dengan suara yang teramat tenang dan dingin. Pria itu bahkan tidak melirik Kiara sedikit pun saat melanjutkan kalimatnya yang mematikan. "Dia ke sini bersamaku karena sedang membantuku menyelesaikan riset jurnal ilmiah semester ini. Kami baru saja menyelesaikan diskusi bab akhir."
JARRR!
Kalimat yang keluar dari bibir Adrian terasa seperti petir yang menyambar tepat di atas dada Kiara hingga hancur berkeping-keping. Air mata Kiara hampir saja luruh saat itu juga jika ia tidak mati-matian menahannya dengan meremas pinggiran gaun hitamnya kuat-kuat.
Mahasiswa pembantu riset.
Dua kata itu rasanya jauh lebih menyakitkan dan menghina dibandingkan bentakan Adrian malam itu. Setelah semua ciuman panas, sentuhan intim, dan pelukan posesif yang pria itu berikan di apartemen maupun di ruang VIP tadi... pada akhirnya, di depan wanita yang setara dengannya, posisi Kiara langsung merosot tajam menjadi sekadar bawahan yang menyedihkan. Wanita sewaan di atas kertas yang posisinya tidak diakui sama sekali oleh dunia nyata.
"Oh, jadi cuma mahasiswi pembantu riset? Pantesan, mukanya kelihatan akrab sama buku-buku kuliah," ucap Clarissa dengan nada meremehkan yang sangat kentara, tawa kecilnya terdengar begitu menghina di telinga Kiara. Clarissa kembali beralih memeluk lengan Adrian dengan manja. "Kalau gitu, risetnya kan udah selesai? Yuk, temani aku minum kopi di lounge sebentar, Adrian. Ada banyak hal yang mau aku bicarakan soal rencana makan malam keluarga kita minggu depan. Ibumu yang minta, lho."
Adrian melirik Kiara sekilas dari sudut matanya, melihat bagaimana bahu mungil gadis itu gemetar menahan gejolak emosi batin yang membara. Adrian mengembuskan napas pendek. "Clarissa, aku harus mengantarnya pulang dulu—"
"Pak Adrian," potong Kiara tiba-tiba. Suaranya terdengar bergetar, namun sarat akan rasa sakit dan kemarahan yang membara. Kiara mendongakkan wajahnya yang pucat, menatap Adrian dengan binar mata yang dipenuhi air mata yang menggenang namun sarat akan kebencian.
"Tidak perlu repot-repot mengantar saya, Pak Profesor. Tugas saya sebagai 'pembantu riset' Anda malam ini sudah selesai," lanjut Kiara dengan nada sarkasme yang teramat tajam dan dingin, sengaja menekankan kata pembantu riset di depan Clarissa. "Silakan Anda nikmati waktu Anda bersama dr. Clarissa yang terhormat. Saya bisa pulang sendiri naik taksi."
Tanpa menunggu jawaban dari Adrian yang matanya seketika membelak panik, Kiara memutar tubuhnya dengan cepat. Dengan langkah kaki yang menghentak kasar karena emosi dan cemburu yang membakar seluruh dadanya, ia setengah berlari meninggalkan lobi restoran menuju jalan raya, membiarkan air matanya luruh membasahi pipinya di bawah siraman lampu malam ibu kota, meratapi nasib harga dirinya yang kembali diinjak-injak oleh kontrak gelap sang profesor.