NovelToon NovelToon
ReyLin

ReyLin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Luh Sumartini

REMINDER !! ADA Beberapa Adegan D3w4s4



Rendy dan Linda

Dua manusia yang bersatu atas dasar perjodohan. Tidak ada yang tahu cerita itu, bahkan sampai mereka tidak jadi menikah pun ceritanya di tutup rapat.

tapi kilat putih dimalam itu membawa cerita yang berbeda -----


#mohon maaf masih pemula 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Sumartini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejujuran II

Rendy melepas ciumannya. Jika lebih lama lagi, entah bagaimana akhirnya. Rendy menyentuh bibir lembut Linda. Rasanya manis seperti seorang Linda Angkasa.

"Kenapa sih, kamu... Menyebalkan !" gerutu Linda dengan wajah bersemu merah.

Rendy tertawa kecil melihat gadisnya. "Gimana dong, habisnya kamu manis sekali Linda." kata Rendy, dia mengulurkan tangannya menyentuh pipi Linda yang merah. Entah kenapa, dia hanya senang gadis ini menjadi miliknya. Rendy tidak mau dan tidak suka melihat Linda berada di pelukan orang lain selain dirinya.

-Rendy Chandra di Masa Depan -

"Ren.. Aku ini istri kamu. Kenapa kamu bahkan gak mau sentuh aku?"

Diana menatap mata dingin suaminya. Sudah lima tahun pernikahan cinta sepihak ini berjalan. Tapi Rendy tak pernah satu pun menatap hangat kearah Diana.

Tatapan mata hangat dan penuh cinta itu hanya pernah Diana lihat untuk seorang wanita yang bernama Linda Angkasa, sepupunya, mantan tunangannya.

"Kamu hanya istri di atas kertas, bukan istri yang akan menjadi milikku." ucap Rendy menatap datar kearah Diana.

"Tapi Linda sudah bahagia bersama Darren William !" kata Diana sedikit meninggikan nada suaranya berharap bisa merubah perasaan Rendy.

"Ya aku tahu itu !" balas Rendy tanpa mengubah aura datarnya.

"Lalu.. Lalu apa yang kamu harapkan?" tanya Diana.

"Tidak ada. Tidak ada apa pun yang aku harapkan." jawab Rendy berlalu pergi keluar rumahnya, mengendarai mobil sport miliknya yang entah akan pergi kemana. Asalkan dia bisa pergi dulu dari rumah itu sementara, masalah tujuan kemana bisa dia di pikirkan belakangan.

Diana berteriak. Membanting barang pecah belah yang menjadi pelengkap dekorasi di kamar itu, sejak Rendy meninggalkan dia begitu saja. Selalu seperti itu. Pria itu dari sejak menikah bersamanya tak satu pun ada kepedulian yang terpancar dari netra elang yang telah mengambil hati Diana. "Aku menikah dengan mu ! Aku mencintai mu ! Tapi apa ini? Apa yang aku dapatkan? Kenapa? Kenapa kamu gak bisa lupain Linda? Kenapa cintamu sangat besar untuknya? Kenapa semua selalu Linda dan Linda !! Kenapa tak satu pun ada yang mengerti atau memberi pujian untukku? Kenapa harus Linda? Bahkan Kakek pun sangat membelanya. Sialan kamu Linda ! Sialan !!" teriak Diana menggema di dalam ruangan itu, sehingga para pelayan tak seorang pun yang berani mendekat saat Nyonya rumah mulai mengamuk.

"Ah Darren. Ya Darren sangat mencintaiku, aku harus bertemu dengannya. Aku butuh Darren saat ini." sambung Diana kembali membuka ponselnya dan menghubungi seseorang di seberang telepon.

----------------

Rendy menatap hampa pada lalu lalang kendaraan yang padat di jalan raya. Semilir angin terasa dingin berhembus sampai ke relung hatinya yang dalam. Netra elangnya tidak terlihat seperti memancarkan kehidupan, sangat hampa dan kosong. Terlebih lagi keluarga kecil William terlihat bercengkrama dengan bahagia tak jauh dari mobilnya yang parkir di seberang jalan.

Senyuman bahagia dari seorang wanita yang sampai hari ini masih enggan untuk pergi dari hatinya itu sesekali tertawa kecil melihat tingkah lucu buah hati bersama suaminya. Sesekali sang suami pun tak luput mengusap lembut mahkota hitam yang di sanggul keatas itu, menampilkan senyuman manis si pemiliknya.

Linda Angkasa yang telah menjadi bagian dari Darren William itu nampak sangat bahagia, tidak seperti dirinya yang masih terbayang - bayang masa lalu. Jika saja saat itu dia tidak percaya Diana, sudah pasti orang yang berada di samping wanita itu adalah dirinya.

Air di sudut mata terjun bebas tanpa disuruh. Rendy menutup kaca mobilnya, sangat memalukan jika ada yang melihatnya seperti ini. Kata pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terjadi, tidak mungkin bisa kembali ke masa lalu. Tapi jika seandainya bisa, berandai - andai itu ada, dia ingin menggapai wanitanya merubah masa depan agar bisa bersama wanita yang dia cintai.

Silau putih terlihat dari arah belakang, di dalam bayangan spion mobil itu merekam truk besar yang hilang kendali. Ingatan terakhir Rendy adalah tubuhnya terjepit di dalam mobil, suara panik dari orang - orang sekitarnya dan deru nafasnya yang kian melemah. 'Apa begini akhirnya? Aku mati? Lucu sekali. Apa takdir hidupku memang tidak membiarkan aku bahagia.'

................

"Ren? Woy Rendy ! Kocak lu masak tidur sih"

Rendy merasa sakit di kepalanya. Saat dia mencoba membuka matanya, wajah Damian adalah pemandangan yang pertama kali dia lihat.

"Damian? Lo mati juga?" ucap Rendy mencoba bersuara.

Damian menyatukan alisnya, dan tanpa perasaan dia menghadiahi kepala Rendy satu pukulan cinta.

"Apa sih ! Sakit tau !" teriak Rendy melotot kearah Damian.

"Ngapain lo bilang gue mati? Syetan lo !" teriak Damian balik.

"Huh? Kita udah mati kan?" tanya Rendy menatap bingung kearah Damian.

"Lo aja sendiri ! Gue gak mau ikutan, enak aja lo mati ngajak bareng !" kata Damian kesal.

Rendy menatap sekelilingnya, sebuah ruangan yang tidak asing baginya. Bukan di dalam mobil. Dia meraba tubuhnya sendiri, tidak ada luka. Semua sehat dan tampak baik - baik saja.

"Kenapa sih? Lo masih di alam mimpi? Tumben banget lo tidur disini Ren, lo lagi bertengkar ya sama Linda? Tapi itu hal yang biasa gak sih?" kata Damian menatap aneh kearah Rendy.

"Kok gue disini? Mana mobil gue?" tanya Rendy yang masih bingung.

"Mobil lu di parkiran sekolah lah. Ya kali lo bawa masuk ke ruangan ini, aneh lu !" jawab Damian yang mulai kesal.

"Damian coba lu pukul gue !" sahut Rendy.

"Tadi gue udah kasi satu. Kalau gue kasi lagi tar lu banting gue !" tolak Damian.

"Jadi ini di sekolah?" tanya Rendy yang terlihat sangat bodoh di mata Damian Angkasa.

"Ren .. Lu juara umum kan tiap tahun? Nama lu gak pernah absen dari peringkat satu. Terus hari ini lu salah makan? Kenapa sih lo jadi bodoh gini. Heran gue." gerutu Damian.

"Linda..." ucap Rendy menggantung di udara.

"Linda? Tumben lu gak tanya Diana?" tanya Damian.

"Ngapain? Tunangan gue itu Linda bukan Diana !" kata Rendy.

Damian nampak berpikir sebentar, dia sedikit memajukan tubuhnya. "Udah gue duga, ada yang salah sama lo ! Tadi lo usir Linda setelah dia bilang mau batalin pertunangan kalian." sahut Damian.

Brak !!

"Dimana Linda?" tanya Rendy menggebrak meja.

"Mana gue tahu." kata Damian.

Rendy menggeser kursinya, dia segera keluar ruangan tersebut meninggalkan Damian dengan segudang pertanyaan atas perubahan sikap Rendy.

...****************...

Linda.. Ini bukan mimpi? Atau ini mimpi? Entah kenapa aku merasa sekarang bisa ketemu kamu lagi. Aku merindukan kamu, Linda. Jika pun ini mimpi tolong biarkan aku sekali aja bertemu kamu. Aku masih mencintai kamu. Gumam Rendy berjalan cepat mencari keberadaan Linda hingga tanpa sadar tubuhnya menabrak sesuatu. Aroma vanilla yang tidak asing, wajah yang tidak asing.

Seorang gadis menabraknya, terjatuh duduk di atas tubuhnya, nama Linda Angkasa tercetak pada name tag di seragam yang gadis itu kenakan.

1
Jro Resmiasa
terus berkarya Thor 💪💪💪🙏
Sumartini: terimakasih kak 🙏 semangat berkarya juga 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!