1. Konsep Utama (The Core)
Protagonis: Kaelan Veyris (Reinkarnasi Ryan Hartman).
Bakat: EX-Grade Talent "All" (Potensi melampaui dewa, penguasaan semua elemen & jalur).
Organisasi: Nox Astra (Simbol: 9 Bintang). Bergerak dari bayangan untuk menguasai 5 benua.
Misi Utama: Membangun kekuatan absolut melalui panti asuhan rahasia dan jaringan teleportasi kuno.
2. Hierarki Kekuatan (Power System)
Grade Bakat: F (Terendah) sampai S (Legenda), SS (Mitos), dan EX (Kaelan).
Jalur Utama:
Sword Path: Sword Trainee hingga Transcendent Sword (Tebasan Dimensi).
Mage Path: Mana Initiate hingga Transcendent Mage (Manipulasi Realitas).
Hybrid Path: Gabungan keduanya (Kaelan & Nox).
Sihir Langka: Teleportasi jarak jauh (Teknik kuno yang hanya dikuasai Kaelan/Nox Astra).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seat Bos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DEKLARASI CAKRAWALA BARU
Tiga hari setelah lenyapnya Unit Inkuisisi Ke-7 di Hutan Kematian, keheningan yang mencekam menyelimuti Kediaman Veyris. Tidak ada burung yang berkicau, hanya deru angin dingin yang membawa aroma badai dari arah Ibukota.
Di ruang kerja utama, Count Aldric berdiri mematung di depan jendela besar. Di tangannya terdapat gulungan surat dengan segel lilin emas berbentuk naga—segel pribadi Raja Valdoria.
"Pengkhianat..." bisik Aldric, suaranya parah.
"Dia menuduhku membantai utusannya dan menyatakan Veyris sebagai wilayah pemberontak. Dia menyita seluruh aset kita di Ibukota dan memerintahkan tiga kadipaten tetangga untuk mengepung kita."
Elena berdiri di sampingnya, wajahnya pucat namun matanya memancarkan keberanian seorang ibu. "Dia tidak menginginkan keadilan, Aldric. Dia hanya menginginkan alasan untuk melenyapkan kita karena dia takut pada kekuatan Nox Astra yang dia kira adalah milikmu."
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka pelan. Kaelan melangkah masuk dengan langkah kaki yang ringan, diikuti oleh Mira yang tampak lebih tenang dari biasanya.
"Papa," panggil Kaelan.
Aldric berbalik, menatap putra kecilnya yang baru berusia enam tahun. Sejak malam pembersihan racun itu, Aldric tahu bahwa Kaelan bukanlah anak biasa. Ia adalah anomali, seorang jenius yang mungkin hanya muncul sekali dalam seribu tahun.
"Kaelan... Raja telah menyatakan perang pada kita. Pasukan dari Kadipaten Arlan dan Baroness Kray sudah mulai bergerak. Kita akan dikepung dari tiga arah dalam dua hari," ucap Aldric dengan nada kalah.
Kaelan berjalan mendekati meja peta. Ia meletakkan tangan mungilnya di atas wilayah Veyris yang dikelilingi simbol-simbol pasukan musuh.
"Bagus," ucap Kaelan pendek.
"Bagus?!" Aldric terbelalak. "Kaelan, kita hanya punya dua ribu ksatria! Musuh membawa sepuluh ribu pasukan gabungan!"
Kaelan mendongak, matanya yang biru berkilat dengan cahaya dingin yang sanggup membekukan nyali siapa pun. "Papa, selama ini Veyris bertahan hanya untuk tetap hidup. Sekarang, kita akan bertarung untuk menang. Jangan sebut diri kita pemberontak. Sebut diri kita sebagai Kekaisaran Baru."
Kaelan menoleh pada Mira. "Mira, aktifkan Spatial Beacon di seluruh perbatasan. Jangan biarkan satu pun burung pengintai musuh masuk."
"Siap, Tuan," jawab Mira, tubuhnya memudar dan menghilang ke dalam celah ruang.
Sore harinya, di alun-alun kota Veyris, ribuan rakyat dan ksatria berkumpul. Mereka ketakutan. Kabar tentang maklumat Raja telah sampai ke telinga mereka. Mereka mengira hari ini adalah hari di mana mereka harus menyerah dan menjadi budak kerajaan.
Namun, yang muncul di panggung tinggi bukanlah Count Aldric yang tampak sakit-sakitan, melainkan Aldric yang berdiri tegak dengan aura Level 6 (Aura Master) yang meluap-luap, mengenakan jubah perang biru tua. Di sampingnya, berdiri Kaelan dengan ekspresi tenang.
"Rakyat Veyris!" suara Aldric menggelegar, diperkuat oleh mana. "Selama puluhan tahun kita menjadi tameng kerajaan dari serangan Drakmor! Kita berdarah, kita kehilangan keluarga, dan apa balasannya? Raja menyebut kita pengkhianat karena kita menjadi kuat!"
Keheningan melanda massa.
"Mulai hari ini, bendera Naga Valdoria tidak akan lagi berkibar di tanah ini!" Aldric menarik sebilah pedang besar yang bersinar biru kristal. "Hari ini, kita mendeklarasikan kemerdekaan Veyris! Kita bukan lagi pelayan raja yang pengecut, kita adalah penguasa nasib kita sendiri!"
Wush!
Sebuah bendera baru di kibarkan di menara tertinggi.
Dasar Biru Tua (Warna Keluarga Veyris) dengan simbol Pedang Es yang terhunus ke atas, dikelilingi rantai yang terputus.
Simbol ini melambangkan kekuatan Aldric yang telah bangkit dan kebebasan Veyris dari belenggu Kerajaan Valdoria. Nox Astra tetap menjadi hantu yang tidak memiliki wajah dan bendera resmi di mata publik.
Rakyat terdiam sejenak, lalu sorak-sorai yang memekakkan telinga meledak. Mereka tidak lagi merasa takut; aura Aldric yang kuat memberikan mereka harapan baru.
Malam harinya, di markas rahasia bawah tanah.
Kaelan berdiri di depan Nox dan dua belas anggota baru unit bayangan yang telah dilatih secara rahasia selama tiga tahun terakhir. Mereka semua adalah yatim piatu berbakat yang diselamatkan Kaelan dari pasar budak.
"Pasukan Kadipaten Arlan akan sampai di Lembah Sunyi besok pagi," ucap Kaelan. "Mereka membawa penyihir Level 5. Nox, bawa timmu. Aku tidak ingin ada satu pun dari mereka yang kembali ke rumah."
"Sesuai perintah, Tuan," Nox membungkuk, matanya merah menyala. "Apakah kami harus menyisakan jenderalnya untuk informasi?"
"Tidak perlu. Aku sudah tahu siapa yang menggerakkan mereka dari balik layar," jawab Kaelan. "Malam ini, biarkan Valdoria tahu... bahwa kegelapan yang sesungguhnya telah lahir di utara."
Kaelan menatap telapak tangannya. Bakat EX-nya berdenyut kencang. Ia merasakan aliran mana dari tanah Veyris mulai menyatu dengan dirinya. Tanah ini telah mengakuinya sebagai penguasa yang sah.
"Mira," panggil Kaelan.
"Iya, Tuan?" Mira muncul dari bayangan di sudut ruangan.
"Siapkan ritual Aether Awakening untuk sepuluh ksatria elit Papa. Kita butuh lebih banyak Master untuk perang ini. Aku akan memurnikan mana mereka secara langsung."
Mira terkejut. "Tuan, itu akan sangat menguras energi Anda! Anda masih berusia enam tahun, tubuh Anda..."
"Tubuhku mungkin kecil, Mira," Kaelan tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung otoritas dewa kuno. "Tapi jiwaku sudah cukup besar untuk menelan seluruh benua ini."
Di luar, guntur menggelegar. Hujan mulai turun membasahi bumi Veyris. Perang saudara resmi dimulai. Dan di pusat badai itu, seorang bocah berusia enam tahun sedang menyusun langkah untuk menjatuhkan sebuah kerajaan yang telah berdiri selama lima ratus tahun.