Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Keesokan harinya, Zira terbangun dalam pelukan suaminya yang masih terlelap setelah melewati malam yang panjang. Matanya tertuju pada wajah Nathan, suaminya yang tampan. Tak heran, pikir Zira, jika Nathan memiliki begitu banyak pengagum. Sebuah senyuman kecil tersungging di wajahnya saat menyadari betapa beruntungnya dia memiliki suami seperti Nathan. Dengan penuh kasih, Zira memandang pria itu, lalu perlahan mendekat untuk mengecup lembut pipinya. Sentuhan itu membuat Nathan tersadar; ia membuka mata perlahan dan tersenyum hangat kepada Zira. "Selamat pagi, Dek," katanya dengan suara lembut. Zira yang terkejut karena Nathan sudah bangun hanya bisa memalingkan wajah, malu karena tertangkap basah sedang memandangi suaminya.
"Ketahuan ya, Dek, kamu lagi ngelihatin mas?" ujar Nathan dengan senyum di wajahnya. Zira langsung salah tingkah, pipinya memerah, dan ia buru-buru mencari cara untuk mengalihkan perhatian. "Gak... gak apa-apa, Mas, aku cuma... ehm... cuma lihat-lihat aja, "ucap Zira tergagap, berusaha menyembunyikan rasa malunya. Nathan tertawa pelan lalu memeluk Zira dengan lembut. "Gak apa-apa, Dek. Aku malah senang kalau kamu ngelihatin aku," kata Nathan sambil menjalankan jemarinya lembut di rambut Zira.
Nathan mendekatkan Zira ke arahnya, lalu membisikkan sesuatu di telinga Zira. "Kamu tahu nggak, aku juga sering memperhatikan kamu, terutama waktu kamu tidur. Kamu terlihat seperti malaikat," ucapnya dengan lembut. Mendengar itu, wajah Zira langsung memerah. Dia mencoba mendorong Nathan sambil berkata, "Mas, jangan ngomong gitu deh, aku jadi malu," ujarnya sembari tersenyum kecil.
Nathan hanya terkekeh, menanggapi dengan santai, "Nggak apa-apa, aku justru suka lihat kamu kalau lagi malu-malu gitu."
Berusaha mengalihkan pembicaraan, Zira cepat-cepat mencari topik lain. "Mas, aku lapar nih. Ayo kita sarapan pagi," katanya sambil melirik untuk memastikan perhatian Nathan berpindah.
Dengan senyuman hangat, Nathan menjawab, "Boleh banget. Aku juga lapar, kamu duluan aja ke bawah mas mau mandi dulu." Zira tersenyum setuju dan mengangguk. Zira pun turun sendirian ke lantai bawah untuk membantu umi Aisyah menyiapkan makanan.
Sesampainya di ruang makan, Zira menyapa Umi Aisyah, "Selamat pagi, Umi." Umi Aisyah tersenyum ramah. Namun begitu, Putri, adik nathan, langsung memberikan komentar iseng. "Mbak, ini sudah hampir jam sepuluh lho, sebentar lagi siang," ucapnya sambil menahan tawa.
Zira, yang sedikit malu, menjawab dengan wajah bersalah, "Iya, sudah siang ya. Maaf Umi, Zira kesiangan."
Dengan nada lembut, Umi Aisyah menenangkan, "Tidak apa-apa kok, Nak. Ini sarapannya. Umi dan yang lain sudah makan duluan. Tadi nunggu kamu sama Bang Nathan, tapi karena lama, akhirnya kita makan dulu."
"Iya, nggak apa-apa kok, Umi," Zira menjawab sambil tersenyum tipis.
"Ngomong-ngomong, Bang Nathan mana?" tanya Umi Aisyah.
"Oh, Mas Nathan sedang mandi, Umi," jawab Zira singkat.
Umi Aisyah tersenyum kecil dan mengangguk sambil menunjuk kursi di dekatnya. "Oke, kalau begitu kamu duduk sini dulu dan makan. Nanti Nathan juga pasti turun sebentar lagi."
Namun, Zira memilih menunggu. "Zira mau makannya bareng Mas Nathan aja deh, Mi," ujarnya pelan.
Mendengar itu, Putri yang duduk di sebelah Zira tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda kakaknya. "Ya ampun! Ngapain coba sampai-sampai kesiangan? Padahal Bang Nathan itu nggak pernah bangun siang lho, Mbak," godanya sambil menyeringai jahil.
Wajah Zira langsung memerah ketika menyadari arah ucapan Putri. "Enggak ngapa-ngapain kok, Put," balasnya gugup.
Melihat itu, Putri semakin senang menggoda. Namun Zira langsung menimpali dengan senyuman kecil penuh arti, "Putri, jangan gitu ah."
Sementara itu, Umi Aisyah yang melihat interaksi mereka hanya bisa tersenyum lembut sambil menggelengkan kepala. "Putri, jangan terus-menerus godain Mbakmu dong. Mukanya jadi merah begitu. Jangan terlalu banyak nonton drama Korea ya Nak, nanti kebawa sampai keseharianmu," ucapnya diselingi canda.
Tak lama kemudian, Nathan tampak turun dari lantai atas ke ruang makan. Ia menghampiri mereka dengan senyuman lebar di wajahnya. "Selamat pagi semuanya," sapanya hangat sambil duduk di sebelah Zira.
"Pagi, Mas," sahut Zira dengan senyuman kecil yang menyembunyikan rasa malunya. Perlahan suasana menjadi kembali hangat dan penuh canda di meja makan tersebut
Nathan melihat wajah Zira yang memerah, lalu dengan penuh rasa ingin tahu ia bertanya, "Apa yang terjadi, Dek? Kenapa wajah kamu terlihat begitu merah?" Zira hanya tersenyum tipis dan menjawab singkat, "Enggak ada apa-apa, Mas."
Namun, sebelum suasana hening berlangsung lama, Umi Aisyah segera angkat bicara. "Itu tadi, Nathan. Putri menggoda Zira gara-gara dia kesiangan," ucapnya sambil menunjuk ke arah Putri yang terlihat sedikit salah tingkah.
Mendengar penjelasan tersebut, Nathan langsung mengarahkan pandangannya ke adiknya. Dengan nada tegas, ia menyebutkan nama adiknya sebagai bentuk teguran, "Putri!" Tatapan matanya yang lurus menunjukkan ketidaksenangan sekaligus peringatan agar perilaku tersebut tidak terulang lagi.
Merasa tersudut oleh perhatian yang tiba-tiba beralih padanya, Putri pun mencoba memberikan alasan dengan nada suara yang lebih pelan. "Maaf ya, Bang. Lagipula Bang Nathan selalu on time, ini baru sekali Putri lihat abang kesiangan," katanya dengan lirih, seolah berharap Nathan akan melepas ketegasan dalam dirinya.
Zira pun tidak ingin suasana menjadi terlalu serius. Ia langsung menambahkan dengan santai, "Udahlah, Mas. Putri cuma bercanda kok, enggak usah dimasukin ke hati."
Namun, Zira juga tidak bisa mengabaikan kecenderungan Nathan untuk bersikap sedikit kaku dalam situasi seperti ini. Dengan nada setengah menggoda, ia berkata sambil tersenyum, "Mas, kamu jangan kaku amat, dong. Orang jadi takut, tahu." Suasana pun perlahan mencair kembali dengan candaan ringan mereka.
"Sudah, makan dulu saja, nanti baru kita lanjutkan bicara," kata Umi Aisyah." Baik, Umi," jawab Nathan.' Abi di mana, Umi?" tanya Nathan lagi. "Abi sedang ada pengajian di pesantren Al-Insan, "jawab Umi Aisyah. "Astaghfirullah, Nathan sampai lupa, Umi. Abi sebenarnya sempat mengajak Nathan ke pesantren itu," ujar Nathan. "Iya, tidak apa-apa. Kamu kan lupa, nak. Abi juga pasti memakluminya," balas Umi Aisyah.
Setelah selesai makan, Nathan pergi ke pesantren untuk mengajar karena memang sudah waktunya ia mengisi jadwal mengajarnya. Sementara itu, Zira membantu Umi Aisyah membereskan segala sesuatu. Setelah semuanya rapi, Zira kembali ke kamarnya dengan niat menghubungi dua sahabatnya, Aliya dan Zita, yang sudah lama tidak ia kabari. Ia mengambil ponselnya dan langsung melakukan panggilan video.
"Assalamualaikum, guys, apa kabar kalian? Aku kangen banget sama kalian," sapa Zira dengan ceria.
"Waalaikumsalam! Lo ke mana aja sih? Kok gak ada kabar sama sekali? Jahat bener," sahut Aliya dengan nada setengah bercanda.
"Iya, Lo kayak lupa sama aku dan Aliya," timpal Zita ikut menggoda.
Zira terkekeh kecil lalu menjawab, "Maaf ya, sungguh deh. Aku sibuk banget di sini sampai gak sempat buka HP."
Mendengar itu, Aliya tiba-tiba menimpali dengan nada heran, "Eh, gue gak salah dengar, kan? Lo manggilnya aku-kamu?"
Zita tertawa kecil dan menambahkan, "Hmm, kayaknya sahabat kita ini banyak yang berubah, ya."
Aliya mengangguk setuju. "Iya nih, kayaknya kita butuh penjelasan panjang. Lo utang cerita ke kita, Zir."
Zira mengangguk sambil tersenyum, "Iya, iya, nanti aku ceritain semuanya. Sekarang aku tutup dulu ya, gak enak sama Umi lama-lama di kamar. Assalamualaikum, guys!"
"Waalaikumsalam, Zir," jawab Aliya dan Zita serempak.
Usai menutup panggilan video tersebut, Zira tersenyum sendiri. "Hmm, kayaknya nanti aku harus siap-siap buat cerita panjang." Ia menyimpan ponselnya di meja dan memutuskan untuk turun ke bawah, khawatir jika Umi Aisyah masih membutuhkan bantuan.
Saat berada di ruang tamu, ia melihat Putri sedang belajar serius. Putri yang memperhatikan Zira tersenyum sendirian langsung bertanya dengan penasaran. "Mba, ada apa kok senyum-senyum sendiri?"
Zira hanya tersenyum lembut dan menjawab, "Gak apa-apa kok. Mba cuma lagi bahagia aja, Putri." Ia mengusap kerudung Putri dengan penuh sayang sebelum melanjutkan langkahnya membantu Umi Aisyah di dapur.