NovelToon NovelToon
Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Duluan Aja

Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.

Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?

Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.

Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sekamar Ya?

Sial!

Gara-gara Mama Nita tidak sengaja melihat bibir Dena mecucu tepat di depan wajah Alvaro dengan jarak sedekat itu.

Mama Nita malah menduga putra dan menantunya itu hendak berciuman.

Padahal ya bukan, bahkan agaknya Alvaro juga malas kalau harus berciuman dengan Dena.

Dan karena hal itu Dena jadi yang malu sendiri, sambil gadis itu buru-buru memalingkan wajahnya yang sempat memerah tomat, dari hadapan Mama Nita yang salah sangka, juga dari Alvaro yang masih menggerutu.

Lalu setelah beberapa saat mengulur waktu.

Alvaro meminta Mama Nita untuk kembali berbalik badan.

Sebab, ingin menyangkal juga percuma. Mamanya pasti tidak akan percaya.

"Ma..."

Mama Nita kemudian menoleh, tak lama begitu pundaknya disentuh.

"Ciumannya udahan?" tanyanya.

Alvaro mengangguk, seolah-olah baru berciuman dengan istrinya walau sebentar.

Mama Nita mengerinyit. "Udah? Kok cepet?"

Alvaro tersenyum paksa.

"Biar Mama nggak kelamaan nunggu," sahutnya.

Sedangkan Dena yang begitu menyadari Alvaro justru tidak lagi menyangkal dugaan Mama Nita, dan malah mengiyakannya tanpa kompromi. Ia sontak menggigit bibir bawahnya, gelisah.

Sementara Mama Nita jadi yang senyum-senyum sendiri, lalu mencebik tipis ketika melirik ke arah Dena.

"Yakin, kalian nggak mau dipuas-puasin dulu?"

"Mama nggak keberatan nunggu kok," katanya senang-senang saja.

Tapi tidak dengan Alvaro yang langsung menggeleng-geleng, "Enggak ah, Ma."

"Kenapa?"

Alvaro melirik Dena, sekilas. Sadar wajah istrinya itu sedang berat hati menahan gelisah, ia jadi tersenyum jahil.

"Tanggung, Ma. Mending dilanjutkan nanti pas udah di kamar!" jawabnya asal.

"Di kamar?"

Mama Nita spontan nyengir, seperti menganggap keputusan Alvaro adalah yang paling bijak. "Ah, Mama ngerti. Biar nanti nggak ada yang ganggu kan?"

Alvaro mengangguk saja, seolah mengiyakan. Padahal ya cuma agar perkara itu cepat selesai saja, sekaligus untuk menjahili Dena juga.

Dan benar saja.

Saat Dena mendengar jawaban Alvaro, wajahnya spontan membesengut. Bahkan, kali ini dengan diliputi rasa merinding level akut. Bulu roma di sekujur tubuhnya pun mendadak berdiri.

"Iya kan sayang?" goda Alvaro.

Dena mengangguk gugup, menelan ludahnya pelan.

"I—Iya..."

...***...

Tak lama, dari kejauhan Mika terlihat melenggang pelan mendekat ke arah sudut ruangan, tempat Mama, kakak dan kakak iparnya itu berada.

Mika datang tidak hanya sendirian, melainkan dengan seorang pelayan berseragam hitam—perempuan itu Mika minta membawakan kado darinya.

Tak lama begitu tiba, Mika langsung sesukanya menggoda sang kakak tercinta. Kebiasaannya yang terkadang suka membuat Alvaro mendadak naik pitam.

"Duhile...yang baru banget punya istri. Lagi ngebahas apa nih? Rencana bulan madu ya?" selorohnya sambil ketawa-ketiwi. Sengaja pula Mika bicara sekeras corong toa, hingga beberapa orang jadi refleks menoleh.

Termasuk Alvaro yang langsung melotot tajam ke arah Mika, menatapnya jengkel.

"Berisik lo!" sewot Alvaro.

"Dih!" Mika manyun-manyun. "Baru juga sekali ngomong! Udah dikatain berisik!" dengus Mika.

"Sekali ngomong, tapi kerasnya kayak toa masjid!" maki Alvaro.

"Ngapain lo ke sini?! Mau mempermalukan gue?!" tanyanya ketus.

"Ih apasih Kak! Timbang disamperin adik sendiri kayak benci banget!" sungutnya.

"Gue nggak benci, kalau lo nggak berisik!" balas Alvaro, sinis.

Mika jadi menghela napas, lalu bergelendot manja di lengan sang Mama yang cuma bisa geleng-geleng.

Kayak, udah capek banget melihat kedua anaknya itu selalu saja tidak akur.

"Kakak tuh, Ma. Kenapa sih marahin Mika terus," cicitnya mengadu.

Mama Nita tidak membalas apa-apa, dan malah meminta putrinya untuk mengucapkan selamat ke yang barusan nikah.

Mika mengangguk sambil mendekat ke arah Dena, melewati Alvaro begitu saja, seolah mengaggapnya tidak ada.

"Selamat ya kakak ipar, semoga pernikahannya langgeng sampai akhir hayat," ucapnya sambil tak lupa memberi hadiah.

"Iya Mik, makasih ya doa dan kadonya," sahut Dena senyum-senyum, lalu mereka pun bercipika-cipiki.

"Tapi jangan buru-buru nyesel ya udah mau dikawinin abang gue," Mika melirik Alvaro.

"Gue sih yakin lo juga udah tau, tuh orang nyebelinya kayak apa?" bisik Mika terkikik manis, tapi langsung tandus begitu melihat Alvaro sontak melirik tajam sambil mendengus-dengus.

"Apa? Gue salah lagi?" sungut Mika.

"Nggak!"

"Terus kenapa melotot? Kakak nggak ikhlas istrinya gue cium?"

"Ikhlas. Cuma gue iri aja," sahut Alvaro ketus.

"Iri kenapa?"

Alvaro menunjuk pipinya.

"Dena aja yang dicium? Gue?"

"Kakak minta dicium juga?"

Alvaro mengangguk.

Mika langsung melotot. "Dih, najis banget nyium kakak sendiri!" ucapnya menggelinjang.

Huek!

Kayak langsung pengen muntah.

Dena yang melihatnya jadi cekikikan.

"Najis mata lo!" dengus Alvaro.

"Lo nggak mau nyium kakak sendiri?" cibirnya.

"Ya enggaklah! Mendingan gue nyium batu!"

"Kenapa?"

Mika memutar kedua bola matanya jengah.

"Pakek nanya! Kan kakak sendiri yang nggak pernah mau dicium adiknya! Gimana sih?!" sahutnya malas.

Alvaro spontan mencubit hidung mungil adiknya. Mika pun nggak salah, sejauh ini ia memang selalu menolaknya.

"Gitu aja ngegas lo!" dengusnya walau gemas.

"Biarin! Lagian kakak juga yang ngajarin," cebik Mika.

Alvaro setengah melotot ketika dituduh sembarangan. "Ngajarin apa?"

"Ngegas!"

"Kapan?"

"Yang waktu itu kakak ngomong 'udah Mik gas aja, ... keburu kiamat!' Kakak nggak ingat?"

Alvaro langsung mendelik, melirik sang adik yang bisa-bisanya ngocol di hari pernikahannya."Itu ngegas mobil, Nyet!"

"Tapi ngegas juga kan?" kikik Mika.

"Diem lo!" tandas Alvaro.

Mika tambah cekikikan, Dena pun ikut-ikutan sambil memeluk kado pemberian Mika yang entah apa isinya.

"Tapi, bener juga sih kata orang-orang..." ujar Mika seraya memandang kakaknya dari atas kepala hingga ujung kaki.

"Bener apa, Mik?" tanya Dena.

"Itu ... cowok yang kalau udah punya istri jadi kelihatan beda," lanjutnya.

"Jadi kelihatan gagah?" sergah Alvaro pe-de.

Mika menggeleng, agak-agak geli melihat kakaknya kege-eran, "Bukan!"

"Jadi kelihatan berwibawa?" sambung Dena.

"Bukan!"

"Jadi kelihatan bahagia?" Mama Nita ikut-ikutan bertanya.

Mika menggeleng lagi, "Bukan juga."

"Terus jadi kelihatan lebih apa dong?" tanya keduanya hampir bersamaan.

Mika tersenyum jahil.

"Jadi kelihatan tua," kikiknya tak lama.

Alvaro langsung sewot, ingin meremas-remas wajah adiknya.

"Kek om-om, udah mah tua, dapet istrinya mana muda banget lagi!" ledek Mika lalu bersembunyi di belakang punggung mamanya.

"Sadar umur kak!" ejeknya yang membuat Dena jadi ikut tertawa.

"Brengsek!"

"Sini lo! Jangan cuma berani sembunyi di belakang mama!" geram Alvaro.

"Sini aja kalau berani ... wlekk!" ejek Mika.

"Nantangin gue lo?!"

"Udah ah!" lerai Mama Nita sebelum perang saudara itu semakin menjadi-jadi.

"Mama capek ngeliatinya!" Mama Nita lalu menoleh Mika. Putrinya bungsu yang rambutnya warna-warni kayak pelangi.

"Sayang, sana cium pipi kakak juga, biar berhenti ngomel-ngomel," ujarnya.

"Mika nggak mau, Ma!" tolaknya, apalagi begitu ia melihat Alvaro yang sudah kepe-dean bakal dicium.

"Ih!" Mika mendadak geli.

"Buruan! Cium gue atau jatah uang bulanan lo, gue potong lima puluh persen!" paksa Alvaro.

Mika langsung melotot, "Kak! Mana boleh ngancem-ngancem begitu!"

"Ya terserah gue! Uang-uang gue!"

Mika langsung gelagapan.

"Gimana ini, Ma? Kakak ngancemnya gitu, langsung pake jurus pamungkas!" adunya ke Mama Nita.

"Yaudah cium aja, daripada nanti kamu nggak bisa belanja-belanja? Pilih mana?" kata Mama Nita sama saja jahilnya.

Mika jadi cemberut, lalu terpaksa mencium pipi sang kakak.

Ya, selain demi menyelamatkan salah satu sumber kehidupannya yang terancam hilang setengah, mencium Alvaro paling tidak juga membuatnya terlihat seperti adik yang sayang ke kakaknya.

Padahal, aslinya ya memang sayang, walau terkadang memang lebih banyak bencinya.

Eh, Alvaro malah sengaja mengusap-usap pipinya yang barusan dicium Mika. Agaknya supaya adiknya kesal.

Mika langsung sewot.

"Kenapa harus diusap-usap sih, Kak!" dengusnya.

"Najis!"

"Tuh kan!"

...***...

Menjelang petang datang, langit mulai berpendar jingga di ufuk barat. Saat hiruk-pikuk pesta pernikahan intimate itu perlahan mereda, menyisakan sebagian gema tawa dan denting gelas dari dalam ballroom.

Di atas rooftop gedung hotel tempat pernikahan itu diadakan, Dena berdiri sendirian.

Angin senja meniup lembut ujung rambutnya hingga berderai di atas bahu, meski pelan, setidaknya itu cukup untuk mendinginkan suasana hatinya yang sedang gelisah.

Dena mengangkat ponsel, lalu satu nomor kontak ia tekan, pelan. Ia menunggu panggilan itu tersambung.

Tak lama, Dyo pun menjawab, dan tak sempat Dena mengucap salam, Dyo sudah lebih dulu menanyakan keadaan Dena yang kabarnya sedang sakit.

Setidaknya itu yang Dyo dengar dari para sahabat Dena.

Dyo sih percaya.

Sedangkan Dena mendadak gemetar, ketika sempat lupa akan kebohongan yang ia bangun sendiri.

Sesaat gadis itu tak langsung memberi jawaban.

Lalu dambil pura-pura batuk meriang, Dena bilang ke Dyo, kalau dirinya sudah agak mendingan. Sementara di seberang udara Dyo percaya.

"Maaf ya, Yo. Mungkin untuk beberapa waktu aku masih butuh istirahat dulu," ucap Dena, lirih.

Uhuk!

"Iya nggak apa-apa," kata Dyo. "Malam ini kamu istirahat aja. Aku nggak akan ganggu."

"Makasih ya, Yo. Udah ngertiin keadaan aku."

"Iya sama-sama."

Panggilan mereka masih tersambung walau tak lagi saling bertukar kalimat.

Dena memanfaatkan momen hening itu untuk berpikir sejenak. Kalau, uang itu ia transfer ke Dyo sekarang. Mungkinkah laki-laki itu akan bertanya ia mendapatkan uang dari mana?

Sebab, Dyo tahu, selama ini Dena selalu mendapatkan uang dengan cara yang seperti apa.

Dena bingung, bagaimana ia akan menjawab jika nantinya mendapat pertanyaan itu, hingga akhirnya Dyo berbicara lagi.

"Dena!"

"Iya kenapa?"

"Kamu lagi apa sih?"

"Nggak lagi apa-apa kok, kenapa, Yo?"

"Ada yang mau aku bicarakan," kata Dyo.

Dena menghela napas, agaknya ini soal uang itu. Apa Dyo akan menagihnya?

"Soal uang yang aku janjikan?" tanyanya dan kalau pun Dyo memaksa, ia akan segera memberikannya.

"Iya, kalau memang belum ada, aku nggak maksa kok," ujar Dyo mencoba mengerti keadaan Dena.

Dena tertegun, ternyata Dyo tidak memaksa, tapi terdengar dari bagaimana laki-laki itu bicara. Dyo seperti menahan kecewa.

"Kok diam?"

"Emm... sebenarnya uang itu udah ada kok, aku transfer sekarang pun bisa," kata Dena sambil memejamkan mata. Cemas, akan mendapat pertanyaan itu.

"Oh, udah ada? Dapat dari mana?"

Yah, Dena langsung membeku. Sialnya ia sulit mencari alasan.

Tapi, jangan panggil Dena kalau ia tak pandai berbohong.

"Emm... boleh dapat dari pinjeman temen," kilah Dena berharap-harap cemas.

"Oh, yaudah ... mau kamu transfer, atau aku aja yang ke sana?" tanya Dyo yang lagi-lagi percaya begitu saja.

"Transfer aja," jawab Dena cepat sebelum panggilan itu sengaja ia putus.

Layar masih menyala, terang. Satu miliar rupiah benar-benar nyata mengisi saldo rekeningnya. Dua jam yang lalu, entah siapa sudah mentransfer uang itu.

Klik!

Transfer berhasil.

Satu juta rupiah telah berpindah ke rekening Dyo.

'Udah aku transfer ya,' tulis Dena sambil menghela napas lega.

Tak lama kemudian, suara tapak kaki terdengar mendekat dari belakang.

"Bisa-bisanya ninggalin suami tanpa izin!" dengus Alvaro dari kejauhan.

Dena terperanjat, kemudian cepat-cepat mematikan layar ponselnya sebelum menoleh.

"Om?" Ia tersenyum canggung.

"Lo ngapain di sini?" tanya Alvaro kesal.

"Enggak lagi ngapa-ngapain kok, Om. Cuma lagi liat senja aja," jawabnya pelan sembari Dena menatap ke arah tenggelamnya matahari.

"Indah ya, Om ... sayang banget kalau dilewatkan," lirihnya.

Alvaro ikut memandang ke arah mana kedua bola mata indah istrinya itu saling beradu dengan indahnya alam.

Tak lama, Alvaro kembali menatap wajah sang istri.

Dan desir angin pelan tampak menerbangkan juntaian rambut Dena, membuatnya tampak begitu cantik di mata Alvaro, di bawah langit jingga yang tak lama lagi akan sirna.

"Om kenapa ngelihatin saya terus sih?" tanya Dena begitu sadar.

"Nggak boleh? Yaudah!" Alvaro berpaling tapi tangannya refleks menggenggam lengan Dena.

"Ayo pulang!" ajaknya.

"Pulang kemana?" Dena menahan langkahnya.

Alvaro menoleh, menatap Dena, heran dengan pertanyaan itu. "Ya ke rumah! Memangnya lo mau di sini terus?" dengusnya.

"Rumah? Yang waktu itu? Yang kayak istana?" tanya Dena.

Alvaro mengangguk.

Mata Dena melebar, "Jadi saya akan tinggal di sana juga, Om?"

Alvaro menghela napas. "Ya iyalah! Itu rumah kita! Kalau bukan tinggal di sana, memangnya lo mau tinggal di mana?"

"Tetep di kost lo itu?"

"Ya enggak, maksud saya di rumah itu saya harus tidur di mana?"

"Nggak mungkin sekamar sama Om kan?" ujar Dena sedikit cemas.

Alvaro diam.

Dena jadi deg-degan.

"Enggak kan Om?"

Apalagi Alvaro masih belum menjawab apa-apa.

Dena menelan ludah kasar.

"Sekamar ya?"

Alvaro mengernyit sesaat, "Kalau iya memangnya kenapa?"

Dena langsung geleng-geleng, "Ya jangan lah, Om! Nanti kalau saya hamil gimana?"

Dena mendadak lemas.

Sedangkan Alvaro justru menatap istrinya yang malah terlihat gemas.

"Ya nggak apa-apa."

Alvaro lalu tersenyum jahil.

"Paling nanti perutnya gede," katanya.

Dena spontan menatap ke arah perut.

"Om, ih!"

"Bercanda mulu!" dengus Dena mencubit-cubit lengan Alvaro.

"Makanya jangan banyak nanya!" sergah Alvaro. "Ayo pulang, keburu malam!" ajaknya lagi. Kayak kesusu—entah untuk apa.

Sementara Dena jadi curiga. Meskipun gadis itu tetap nurut.

"Memangnya kalau malam kenapa?" tanyanya.

"Nanti kita telat menghadiri acaranya," jawab Alvaro sambil masih menyeret Dena.

Dena spontan mengerinyit, tapi langkahnya tak sedikit pun tertahan, "Menghadiri acara?

"Bukannya acaranya sudah selesai semua ya?"

"Belum!" sanggah Alvaro. Satu tangannya sibuk memencet tombol di lift.

"Belum selesai?"

Alvaro mengangguk, "Iya, dan yang ini sifatnya lebih rahasia," ujarnya bisik-bisik, begitu mereka masuk ke dalam lift.

"Oh, rahasia."

"Acara apa tuh, Om?" tanya Dena penasaran.

Alvaro tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke telinga Dena, sambil tersembunyi ia tersenyum jahil.

"Malam pertama..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!