NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Rumah sakit, Bayi, dan Para Wimana

"Mas menikah lagi saja ya..."

"Mas cari istri baru saja..."

"Mas Prabu... kenapa diam saja..."

Jika Prabujangga mendengar kata-kata itu lebih lama lagi, bisa dipastikan telinganya akan memerah karena terbakar.

Ia sudah menduga bahwa tingkah Kharisma yang pura-pura terlalu ceria dan sok tidak mau meminta bantuan pasti akan menciptakan drama lagi pada akhirnya.

Dua bulan menikahi perempuan itu membuat Prabujangga mengerti akan sikap kekanak-kanakannya.

Tapi jujur saja, ia tidak tau mengapa istrinya itu tiba-tiba menangis dan menyuruhnya menikah seolah-olah itu adalah hal mudah yang bisa diputuskan.

"Diam, kamu menangis seperti anak kecil dan menarik perhatian."

Prabujangga mengeratkan tangannya di punggung Kharisma, menggendong perempuan itu seperti anak kecil di dadanya. Kaki Kharisma melingkar erat di pinggangnya, begitupun dengan tangan perempuan itu yang tidak mau lepas dari lehernya.

Mau tidak mau Prabujangga hanya bisa membawa banyaknya tas belanjaan di satu tangannya.

"Mas Prabu kenapa tidak menjawab? Aku sudah mengizinkan untuk Mas menikah lagi," Kharisma bergumam serak di leher Prabujangga, Isak tangisnya sedikit mereda.

"Meskipun kamu tidak mengizinkan saya tetap bisa menikah lagi jika saya mau," balas Prabujangga dengan malas. "Tapi sayangnya memiliki satu istri seperti kamu saja sudah membuat saya pusing, apalagi dua."

Prabujangga membenarkan posisi Kharisma di dekapannya, memastikan perempuan itu tetap nyaman meskipun telah membuatnya jengkel setengah mati. Orang-orang di sekitar parkiran mall bahkan menatapnya terang-terangan.

"Saya sudah muak dengan pembahasan seperti ini, kamu menggunakan hal ini untuk membuat saya pusing sepanjang hari," keluh Prabujangga, diikuti oleh helaan napas kasar.

"Tapi kan Mas yang memulai," balas Kharisma pelan, membenamkan wajahnya di ceruk leher Prabujangga. "Mas mengatakan waktu itu kalau aku tidak hamil, Mas mau mencari perempuan lain. Aku tidak akan merajuk lagi kalau begitu."

"Tidak merajuk lagi?" ulang Prabujangga dengan gelengan pelan. "Ingat sudah berapa kali kamu mengatakan kalimat itu? ingat juga berapa kali kamu merajuk setelahnya dan membuat saya kewalahan sendiri?"

Prabujangga memegangi kepala Kharisma agar tidak terbentur saat ia membuka pintu mobil dengan tangan yang dipenuhi tas belanjaan. Perlahan-lahan ia mendudukkan tubuh Kharisma di kursi samping kemudi, lalu meletakkan tas-tas belanjaan di jok belakang.

Yang bisa Prabujangga lihat adalah wajah menyedihkan Kharisma yang berderai air mata. Bengkak terlihat di bawah mata perempuan itu, ditambah dengan warna kemerahan di pipinya. Bibirnya yang mungil itu juga terkatup rapat dengan gemetar.

"Siapa yang kemarin marah-marah pada saya saat mendengar suara wanita saat saya menelpon? Padahal sudah jelas saya bicara dengan formal dan menunjukkan bahwa dia adalah mitra bisnis saya alih-alih calon istri baru."

Omelan Prabujangga berhasil membuat Kharisma menunduk cemberut.

"Maaf, Mas..." cicitnya, menatap Prabujangga takut-takut.

Prabujangga sendiri terlihat tak hirau, dia melangkah mengitari mobil dan masuk ke kursi kemudi. Suara debam keras terdengar saat dia membanting pintu tertutup.

Dia menoleh ke arah Kharisma, menatap mata sembab perempuan itu dengan rasa kesal yang dingin. "Saya menyesal karena mengatakan hal seperti itu," ungkapnya dengan enggan. "Saya jadi pusing sendiri karena kamu benar-benar beranggapan bahwa saya akan menggunakan wanita lain untuk memenuhi keinginan saya ini."

Kharisma menautkan jari-jarinya dengan gugup. "Memangnya itu tidak benar?" tanyanya dengan bibir mengerucut.

Prabujangga menyandarkan punggungnya pada jok, matanya tetap terfokus pada Kharisma yang bahkan tak mau menatapnya.

"Saya awalnya memang berpikiran untuk melakukannya," ucapnya datar. "Saya bahkan berniat memiliki istri sepuluh sebelumnya."

Kharisma terbelalak, kepalanya langsung terangkat. "Mas Prabu..."

"Saya tidak bercanda." Prabujangga mengendikkan bahunya acuh. "Kalau saja kamu memang perempuan polos dan tidak merepotkan seperti yang saya kira pada awalnya, mungkin sekarang saya sudah memiliki istri ketiga," ungkapnya, jelas membuat Kharisma menjadi sebal.

"Tapi lihat saja sekarang," lanjut Prabujangga, menatap Kharisma dengan tampang lelah. "Kamu saja sudah sangat merepotkan saya, apalagi memiliki sembilan istri lagi? Saya yakin saya akan mati muda."

Kharisma mencebik. "Mati muda?" ulangnya berdecak. "Mas kan sudah tua."

Untuk yang satu itu, Prabujangga tiba-tiba merasa tidak terima.

"Tua? Usia saya baru tiga puluh satu tahun," tekannya, tidak terima karena dikatai tua.

"Tapi tiga puluh satu itu termasuk tua, Mas Prabuuu," ledek Kharisma, tangannya sengaja disilangkan di depan dada. "Kalau muda itu seperti aku, berusia dua puluh satu tahun. Kalau Mas, kan, sebentar lagi akan tumbuh uban."

Prabujangga mencengkram stir erat-erat. Urung sudah niatnya untuk menghidupkan mesin mobil.

"Masih ada sepuluh tahun lagi untuk itu," tegasnya, alisnya nyaris menyatu karena rasa tak terima dan kekesalan. "Jangan coba-coba mengatakan bahwa saya tua. Bahkan saat saya tumbuh uban nanti, saya akan tetap tampan seperti laki-laki berusia dua puluh tahunan."

Kharisma melotot tak setuju atas rasa percaya diri Prabujangga. "Mas jangan percaya diri seperti itu. Sekarang saja Mas terlihat seperti kakek-kakek tujuh puluh tahun daripada pria tampan berusia tiga puluh tahunan."

Baiklah, anggap saja Kharisma telah mengibarkan bendera perang.

Prabujangga sudah tidak merasa tertarik lagi pada kunci di tangannya. Lantas ia memasukkan kunci itu kembali ke dalam saku jasnya. Dia menghadap Kharisma dengan tatapan permusuhan.

Baru kali ini dia dikatai tua. Malangnya justru istrinya sendiri yang mengatakannya.

"Kakek-kakek tujuh puluh tahun?" Prabujangga mengulangi dengan geram. Dia meraih dagu Kharisma dan mendekatkan wajahnya. "Sepertinya matamu bermasalah. Mana mungkin kamu menyebut bahwa wajah tampan saya terlihat seperti kakek-kakek tujuh puluh tahunan?" protesnya.

Prabujangga menatap Kharisma lekat, bibirnya terkatup. "Lihat lagi baik-baik, lalu sebutkan di mana letak 'tujuh puluh tahun' itu di wajah saya."

Tapi Kharisma tampaknya tidak terpengaruh oleh kekesalannya. Bahkan Prabujangga bisa melihat senyum di wajah cantik itu, yang entah mengapa terlihat menggemaskan jika dipadukan dengan mata sembab dan pipi merona.

Kharisma sepertinya sangat menikmati kekesalannya.

"Di mana ya..." Perempuan itu bergumam, menatap wajah Prabujangga dan berpura-pura mencari letak penuaan.

Namun tanpa di sangka-sangka, saat menunggu di mana letak kesalahan yang membuat Prabujangga terlihat empat puluh tahun lebih tua, Prabujangga justru mendapatkan sebuah kecupan di sudut bibirnya.

"Sepertinya di sini."

...***...

"Bunda!"

Seruan Kharisma nyaris mengejutkan semua anggota keluarga Wimana yang sudah berkumpul di lorong rumah sakit.

Tempat ini tampak lebih tenang jika dibandingkan dengan lorong lantai bawah, di mana orang-orang mengebatkan tikar dan beristirahat lelah menunggu anggota keluarga mereka.

Kharisma langsung berlari, berhambur memeluk Nada yang sudah siap menyambutnya dengan tangan terentang.

"Aduhhh kenapa cantiknya Bunda ini lama sekali?" Nada memeluk Kharisma erat-erat, mengecup puncak kepala menantunya sebelum perlahan melepaskan pelukan. "Sudah membeli kado?"

Kharisma mengangguk, lantas menunjuk ke arah belakang, posisi di mana sebelumnya Prabujangga mengekorinya dari belakang.

Tapi saat ia menoleh, tiba-tiba saja Prabujangga tidak ada di sana.

Kharisma memasang tampang bingung, merasa yakin bahwa tadi Prabujangga ada di belakangnya. Laki-laki itu memasang tampang kesal setelah dikerjain oleh Kharisma di dalam mobil.

"Loh? Mas Prabu di mana?" gumamnya, sedikit mengintip-ngintip untuk mencari tanda-tanda kedatangan suaminya.

Beberapa anggota keluarga Wimana yang lain tampak memperhatikan interaksi antara Mertua dan menantu itu, sedikit senyum-senyum karena merasa bahwa interaksi Nada dan Kharisma sungguh manis.

"Akrab banget sama menantu, ya? Cantik sekali menantumu, Nad."

Salah satu wanita yang duduk di kursi tunggu berujar, menarik perhatian Nada dan Kharisma.

Sejenak, Kharisma melupakan Prabujangga yang belum juga terlihat batang hidungnya. Sepertinya laki-laki itu berpapasan dengan salah satu anggota keluarga hingga terlambat menyusul.

"Iya, dong, menantu aku pasti cantik. Nggak cantik saja, manis juga." Begitu bangga Nada merangkul pundak Kharisma, seperti sedang memamerkan berlian berharga.

Kharisma yang mendengar pujian itu hanya bisa tersenyum malu-malu. "Hai... tante," sapanya, tidak lupa meraih tangan wanita itu dan menyalaminya.

"Hai sayang," wanita itu membalas dengan senyuman hangat saat Kharisma menyalaminya. "Kamu benar, Nada. Menantu kamu ini sudah cantik, sopan, manis lagi," pujinya.

"Iya, menantu siapa lagi?" Nada menggoda dengan jenaka, membuat Kharisma semakin kesulitan menyembunyikan rona di pipinya.

"Ini mama mertuanya Ivana, namanya tante Dela," bisik Nada memperkenalkan, membuat Kharisma mengangguk.

Dela selanjutnya bangkit dari duduknya, gerakannya sungguh anggun saat dia berdiri di hadapan Kharisma dan menepuk pundak Kharisma dengan lembut. Dela melirik sekilas lorong di belakang Kharisma.

"Prabu belum datang, ya? Kamu ingin masuk sekarang apa menunggu suami kamu dulu?" tanya Dela dengan senyum yang masih tetap setia di wajahnya.

Kharisma ragu-ragu sejenak. Sebenarnya ia ingin masuk bersama dengan Prabujangga, meskipun suaminya itu tadi kesal karena rajukan dan godaanya. Tapi kalau Prabujangga lama, bukankah itu rasanya tidak mengenakkan?

Kharisma tersenyum, lantas mengangguk. "Aku masuk sekarang saja, ya? Ingin berkenalan dengan Kak Ivana," putusnya. "Nanti kalau Mas Prabu datang, suruh saja menyusul."

Dela dan Nada mengangguk.

"Ingin masuk sendiri atau ditemani?" tawar Dela, yang langsung mendapatkan gelengan dari Nada.

"Biarkan masuk sendiri saja, Del. Biarkan mereka berkenalan dengan nyaman," ucap Nada.

Dela mengangguk pelan. "Yasudah, kalau begitu kamu masuk sendiri, nanti Tante dan Bunda tunggu di sini, ya?"

Kharisma mengangguk, lalu dengan sedikit gugup namun tak sabaran melangkah mendekati pintu ruangan. Tangannya ragu-ragu melayang di ambang pintu, jantungnya berdegup kencang.

Ia jarang-jarang berkenalan dengan orang asing seperti ini, mengingat bagaimana sejak kecil interaksinya begitu dibatasi.

Kharisma sudah siap membuka pintu tangannya bahkan sudah berada di kusen dan siap memberikan tekanan. Tapi gerakannya tiba-tiba terhenti saat menangkap keberadaan seseorang yang ia kira pasti adalah Ivana.

Melalui kaca pintu, Kharisma melihat seorang wanita yang duduk di atas bangsal sembari memegangi perutnya yang mulai membuncit. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki yang Kharisma tebak pasti adalah suami Ivana—Indra.

Tapi bukan itu bagian yang menarik perhatiannya, melainkan di dalam sana Indra terlihat menunjuk-nunjuk ke arah Ivana seperti sedang mengancam.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!