NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

...«----------------🍀{DIMAS}🍀----------------»...

Malam Minggu ini, udara kota terasa lebih sejuk dari biasanya, namun suhu di sekitar ku terasa naik beberapa derajat. Aku berdiri di pintu masuk pasar malam, menggenggam erat jemari Linda. Riuh rendah suara mesin komidi putar, aroma harum arum manis yang dibakar, dan gemerlap lampu warna-warni yang menggantung di antara tenda-tenda menciptakan atmosfer yang magis. Namun, fokus utama ku bukan pada festival ini. Fokus utama ku adalah wanita yang berdiri di samping ku.

Linda malam ini benar-benar tampil... berbahaya.

Ia mengenakan terusan summer dress berwarna krem yang lembut, dipadukan dengan jaket denim pendek untuk menutupi bahunya dari angin malam. Rambut cokelat madunya dibiarkan terurai indah, berkilau setiap kali terkena pantulan lampu neon. Dan yang paling penting, ia mengenakan bando dengan aksesoris telinga kucing berbulu yang tampak sangat realistis, sebuah taktik cerdas untuk menyembunyikan telinga rubah aslinya yang mungkin saja menyembul karena antusias.

“Dia terlalu cantik. Ini kesalahan strategi,” batin ku sambil menarik napas panjang. “Aku ingin dia merasa senang, tapi aku lupa bahwa membawa Linda ke keramaian seperti ini sama saja dengan membawa berlian tanpa brankas ke tengah pasar.”

"Dimas! Lihat itu! Ada tembak sasaran!" Linda menarik lengan ku dengan kekuatan yang membuat ku hampir tersandung. Matanya yang hijau berkilat senang, ekornya, yang untungnya tersembunyi rapat di balik gaunnya yang bervolume, pasti sedang mengibas liar di dalam sana.

"Iya, iya, Sayang. Pelan-pelan," kata ku sambil tersenyum kaku.

Saat kami berjalan menuju stan permainan, aku mulai merasakan "tekanan" itu. Tekanan dari tatapan mata manusia-manusia di sekitar kami. Aku bisa melihat seorang pria muda yang sedang memakan martabak berhenti mengunyah saat Linda lewat. Aku melihat sekelompok remaja laki-laki yang tadinya asyik tertawa mendadak diam membisu, mata mereka tidak lepas dari siluet tubuh Linda yang anggun.

"Wah, lihat cewek itu..." bisik salah satu dari mereka, cukup keras untuk aku dengar. "Cantik banget, kayak model Jepang. Tapi kok mau ya sama bapak-bapak kantoran kuyu gitu?"

Bapak-bapak kantoran kuyu? Aku melirik penampilan ku di pantulan kaca etalase. Kemeja flanel, celana jins, dan wajah yang memang masih membawa sisa-sisa kelelahan dari kantor. Dibandingkan Linda yang tampak seperti dewi yang turun dari khayangan, aku memang terlihat seperti asisten pribadinya yang kurang tidur.

"Dimas? Kenapa berhenti?" Linda menoleh, wajahnya mendekat ke wajah ku. Aroma melati dan hawa panas silumannya menyapu indra penciuman ku. "Apa kau terganggu dengan mereka?"

Ia melirik ke arah kelompok remaja tadi. Tatapannya mendadak berubah. Bukan lagi tatapan manja, tapi tatapan predator yang sedang mengawasi semut-semut pengganggu.

"Tidak, tidak ada apa-apa," aku segera menariknya menjauh. "Ayo, kau ingin hadiah apa dari stan tembak itu?"

"Aku ingin boneka rubah besar itu!" tunjuknya pada hadiah utama. "Tapi aku ingin kau yang mendapatkannya untuk ku. Aku ingin pamer pada semua orang kalau suami ku adalah penembak jitu!"

Aku terkekeh dan mulai mengambil senapan angin mainan itu. Di sekeliling ku, kerumunan pria mulai berkumpul. Bukan untuk menonton kemampuan ku menembak, tapi untuk mendapatkan alasan agar bisa berdiri lebih dekat dengan Linda.

"Ayo Mas, jangan sampai meleset di depan mbaknya yang cantik itu," goda si penjaga stan sambil mengedipkan mata ke arah Linda.

Aku merasakan rahang ku mengeras. “Sialan. Dia bahkan berani menggoda istri ku tepat di depan muka ku?”

Aku menarik pelatuk. Dor! Meleset.

Dor! Meleset lagi.

"Yahhh... sayang sekali," Linda mengerucutkan bibirnya. "Mungkin kau butuh motivasi, Dimas."

Tiba-tiba, tanpa mempedulikan puluhan mata yang menonton, Linda memeluk lengan ku erat. Ia menyandarkan dadanya yang empuk ke bahu ku dan membisikkan sesuatu tepat di telinga ku, napasnya yang panas membuat bulu kuduk ku berdiri.

"Jika kau menjatuhkan kaleng terakhir itu, aku akan membiarkan mu melakukan 'apa saja' yang kau minta saat kita sampai di rumah nanti. Apa saja, Sayang... tanpa protes," bisiknya dengan nada yang sangat provokatif.

Konsentrasi ku pecah dan menyatu kembali dalam sekejap dengan kekuatan seribu persen. Adrenalin ku terpompa. Aku membidik kaleng terakhir dengan presisi seorang penembak runduk profesional.

Dor!

Kaleng itu jatuh terpental. Penonton bersorak, beberapa pria tampak kecewa karena aku berhasil membuktikan diri. Si penjaga stan memberikan boneka rubah besar itu dengan wajah masam.

"Ini hadiah mu, Istri ku yang manis," kata ku dengan nada yang sengaja aku buat sedikit keras, menandai wilayah ku.

"Terima kasih, Suami ku yang hebat!" Linda mengecup pipi ku dengan bunyi cup yang keras. Ia memeluk boneka itu, tapi tetap merapatkan tubuhnya pada ku.

Kami melanjutkan perjalanan ke area kuliner. Di sini, perhatian orang semakin menjadi-jadi. Linda yang sedang memakan sosis bakar dengan cara yang entah bagaimana terlihat sangat menggoda, sedikit saus menempel di sudut bibirnya, membuat beberapa pria hampir menabrak tiang tenda karena tidak melihat jalan.

"Dimas, kenapa tangan mu tegang sekali?" Linda bertanya sambil menyeka saus di bibirnya dengan jari, lalu menjilat jarinya sendiri. Gestur itu sederhana, tapi aku tahu itu sangat mematikan bagi siapapun yang melihatnya.

"Aku hanya... merasa kita harus segera pulang," bisik ku, tangan ku melingkar di pinggangnya, menariknya sedekat mungkin. "Terlalu banyak lalat di sini, Linda. Aku tidak suka cara mu dilihat seolah-olah kau adalah menu utama di pasar malam ini."

Linda tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat merdu namun menyimpan rasa puas yang nakal. "Oh, jadi suami ku yang pemberani ini sedang cemburu? Manajer logistik yang tegas ini merasa terancam oleh manusia-manusia biasa?"

"Aku tidak cemburu," elak ku, meski hati ku berteriak sebaliknya. "Aku hanya tidak suka berbagi pemandangan indah ini dengan mereka. Ini milik ku. Hanya milik ku."

Linda berhenti berjalan. Ia berbalik menghadap ku, di tengah keramaian pasar malam yang bising. Ia meletakkan boneka rubahnya di antara kami, lalu menangkup wajah ku dengan satu tangan. Matanya yang hijau kini berkilat dengan cahaya posesif yang biasanya hanya aku lihat di kamar.

"Dengarkan aku, Dimas," suaranya mendadak serius, memotong semua kebisingan di sekitar kami. "Mereka boleh melihat. Mereka boleh bermimpi. Mereka boleh membayangkan hal-hal yang tidak akan pernah mereka dapatkan. Tapi hanya kau yang bisa menyentuh ku. Hanya kau yang tahu bagaimana rasanya ekor ku saat membelit kaki mu. Dan hanya kau yang aku miliki jiwanya."

Ia mendekatkan wajahnya, hidung kami bersentuhan. "Biarkan mereka iri. Biarkan mereka merasa malang karena mereka harus pulang ke rumah yang sepi, sementara kau... kau akan pulang bersama ku."

“Dia benar,” batin ku, rasa bangga perlahan mengalahkan rasa tertekan ku. “Biarkan dunia melihat betapa beruntungnya aku. Biarkan setiap pria di pasar malam ini tahu bahwa dewi ini telah menjatuhkan pilihannya pada seorang manusia biasa seperti ku.”

Aku membalas tatapannya dengan keberanian baru. "Kau benar. Maafkan aku."

"Nah, kalau begitu, ayo naik Bianglala!" serunya kembali ke mode ceria. "Aku ingin melihat lampu kota dari atas sana bersama mu!"

Saat kami mengantre untuk Bianglala, seorang pria yang tampak cukup necis mencoba mendekati Linda saat aku sedang membayar tiket.

"Hai, Mbak. Sendirian? Atau sama... kakaknya?" tanya pria itu dengan percaya diri yang terlalu tinggi.

Linda tidak menoleh. Ia justru menarik kepala ku dan mencium bibir ku dengan sangat dalam, sebuah ciuman yang penuh dengan klaim kepemilikan. Pria itu tertegun, wajahnya berubah dari percaya diri menjadi sangat malu dalam hitungan detik. Ia segera menghilang ke tengah kerumunan tanpa berkata apa-apa lagi.

"Kakak, katanya?" Linda terkikik setelah melepaskan ciumannya. "Dia butuh kacamata baru, atau mungkin dia butuh pelajaran tentang siapa yang memegang kendali di sini."

Kami masuk ke dalam bilik Bianglala. Saat bilik itu mulai naik perlahan, kebisingan di bawah mulai memudar. Kami hanya berdua di dalam kotak kecil yang menggantung di udara. Cahaya kota terhampar luas di bawah kami, berkilau seperti permata yang tumpah di atas kain hitam.

Linda bersandar di bahu ku, ekornya akhirnya ia keluarkan sedikit dari balik gaunnya, hanya untuk membelit pergelangan kaki ku dengan lembut. Sebuah kontak fisik yang rahasia dan intim.

"Terima kasih untuk malam ini, Dimas," bisiknya. "Meskipun aku benci kerumunan manusia, aku senang bisa menunjukkan pada dunia bahwa aku bersama mu."

"Aku juga, Linda. Meski aku harus hampir berkelahi dengan tatapan setiap pria di sana," aku mencium puncak kepalanya.

"Hehe, itu bagian dari pesona ku, kan? Membuat mu selalu waspada," ia mendongak, matanya berkilat nakal di bawah cahaya bulan. "Ingat janji tadi di stan tembak? 'Apa saja'?"

Aku menelan ludah. "Aku ingat."

"Bagus. Karena setelah Bianglala ini turun, aku ingin kita langsung pulang. Aku tidak ingin satu detik pun terbuang untuk melihat orang lain. Hanya kau. Hanya aku. Dan hukuman manis untuk manajer ku yang cemburu."

Bilik Bianglala mencapai titik tertinggi. Di atas sana, jauh dari mata-mata yang memuja, aku menyadari bahwa menjadi pusat perhatian bukanlah hal yang buruk jika kau memiliki orang yang tepat di sisi mu. Aku bangga memilikinya, dan aku menerima tantangan untuk melindunginya dari dunia, setiap hari, setiap saat.

Saat kami turun dari Bianglala, aku menggandeng tangannya lebih erat dari sebelumnya. Aku tidak lagi peduli pada bisikan orang atau tatapan lapar para pria itu. Aku hanya melihat Linda. Istri ku. Siluman ku. Dunya ku.

"Ayo pulang, Sayang," kata ku mantap.

"Ayo, Suami ku," jawabnya dengan senyum kemenangan.

Malam itu, pasar malam tetap riuh, namun bagi kami, pesta yang sesungguhnya baru saja akan dimulai di balik pintu apartemen nomor 404. Tempat di mana pusat perhatian hanya tertuju pada satu sama lain.

1
Jeje Milkita
404 not found
Jeje Milkita
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
Jeje Milkita
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
Jeje Milkita
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
Jeje Milkita
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘSang Senja @☠️⃝🖌️M⃤
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!