Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Wajah Dafa hari ini berubah dari biasanya. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Asistennya di buat heran dengan perubahan bosnya hari ini. Dafa yang biasanya dingin berubah jadi hangat.
"Nampaknya bapak hari ini lagi bahagia." tebak asistennya Dafa.
"Masa sih, biasa aja kali." sangkal Dafa menyembunyikan senyumannya yang sedari tadi menghiasi bibirnya.
"Beneran pak, saya ga bohong. Bapak sedari tadi senyum - senyum sendiri." ujar asisten Dafa sambil melirik bosnya dari kaca spion depan sekilas dan kembali menatap lurus ke jalanan.
"Mas sih." Dafa masih tak kau mengakui karna gengsi.
"Hmm.... " angguk Asistennya yang tetap fokus pada jalanan meski ngobrol dengan bosnya.
"Apa semua wanita menyukai uang?" tanya Dafa tiba - tiba, kening asistenya mengerinyit saat mendengar pertanyaan aneh bosnya.
"Ga semunya sih, bos. Tapi ada beberapa orang rela yang melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang, meski merugikan dirinya sendiri. Contohnya Nyonya Laras mengorbankan dirinya demi uang untuk biaya pengobatan neneknya bukan untuk foya - foya seperti kebanyakan wanita diluar sana." jelas asisten Dafa.
"Kamu menyukai dia?" tuding Dafa dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bukan begitu bos, saya cuma bicara fakta." asisten Dafa merasa serba salah di jawab salah ga di jawab ia juga salah. Nampak lelaki itu menarik nafas dan menghembuskanya kembali untuk menghilangkan rasa kesal pada bosnya itu. Ia harus punya segudang sabar menghadapi bos seperti Dafa.
"Ga usah bahas wanita itu di depan saya. " tegas Dafa berubah bersikap dingin dan datar.
"Baik bos. " asisten Dafa tak lagi bersuara, diam adalah cara terbaik untuk meredam amarah bosnya. Tak lama mereka sampai di kantor, berdua mereka berjalan beriringan menuju ruang kantor Dafa.
Saat Panca memasuki ruang kerjanya, ia melihat Mila istrinya sudah duduk cantik menunggunya. Asisten Dafa memutuskan untuk tidak masuk karna ada ìstri bosnya di dalam. Mungkin mereka butuh waktu berdua dan ia tak mau jadi penganggu.
"Loh, kamu sudah di sini pagi - pagi sekali?" tanya Dafa nampak tidak suka dengan kehadiran Mila di kantornya.
"Mas aku kangen? Kamu tak merindukan aku?" Mila bangun dari duduknya dan langsung memeluk suaminya dan menciumnya, Dafa cuma diam tanpa berniat membalas perlakuan istrinya.
"Ko telat sih, mas? Apa mas sudah tergoda dengan layanan istri baru dan mulai melupakan aku?" tanya Mila di buat sesedih mungkin agar mendapat simpatik suaminya.
"Mila jangan ribut pagi - pagi gini deh, aku itu cuma menjalankan apa yang tertulis diperjanjikan. Makin cepat makin bagus." Dafa menghempaskan p****tnya di kursi kebesaranya.
"Semalam berapa ronde kalian mainya?" tanya Mila vulgar membuat wajah Dafa mengencang menahan emosi.
"Sebaiknya kamu keluar dari sini." usir Dafa ketus.
"Mas kok sudah berani mengusir aku mas sih. Apakah kamu tidak lagi mencintai aku?" tanya Mila sambil menciumi suaminya berharap Dafa tergoda tapi berakhir kecewa.
"Sudahlah, ga usah lebay gitu Mil. Kamu pulang dulu, aku ada meeting sebentar lagi." kembali Dafa mengusir Mila dengan tatapan dingin membuat siapa saja akan bergidik ngeri melihatnya termasuk Mila.
"Cih, Kamu berubah mas. Baru juga beberapa hari menikahi babu itu kamu sudah melupakan aku, aku benci kamu mas." Mila mengambil tasnya dan keluar dari ruang kerja Dafa dengan wajah masam. Timbul rasa iri dan benci pada Lidia. Wanita itu sudah merebut perhatian suaminya.
Dafa menarik nafas kasar beberapa kali dan menghembuskanya. Ternyata punya istri lebih dari satu itu susah. Ia memang sangat mencintai Mila tapi kini hatinya juga sudah mulai menyimpan sedikit rasa pada istri barunya. Perlakuan manis yang tak pernah ia dapat dari Mila membuatnya merasa hangat dan bahagia menjadi seorang suami.
Karna waktu meeting yang sudah dekat, Dafa melupakan masalah dengan istrinya. Dafa bersama asistennya berjalan menuju ruang meeting yang berada di lantai yang berbeda.
Aura seorang Dafa membuat semua bawahannya merasa hormat dan takut. Mereka tidak berani membantah apa yang sudah menjadi keputusan Dafa.
...****************...
Assalamualaikum kk, baru sampai bab segini. Moga thor bersemangat melanjutkan bab - bab berikutnya. Di tunggu saran dan masukannya serta supportnya kk berupa like dan komen serta vote yang banyak😘💪🙏