Setelah menikah, Anin banyak menemukan banyak hal yang janggal di rumah mertua nya. Anin sering mendengar ibu mertua nya menangis dan dia juga sering melihat tubuh ibu mertua nya di penuhi oleh lebam.
Hingga suatu hari Anin melihat dengan mata kepala nya sendiri ayah mertua nya sedang melakukan hubungan terlarang dengan ipar nya. Anin bertekad untuk membongkar semua kebusukan mereka di depan semua orang, dan membuat ayah mertua nya dan juga ipar nya mendapat kan hukuman atas perbuatan mereka.
Ikuti kisah kisah selengkap nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
Anin mengantar kan kedua orang tua nya hingga ke halaman rumah, pak Yudi dan bu Ifa akan segera pulang kembali ke rumah mereka. Keadaan di halaman rumah cukup ramai, orang - orang mulai membongkar tenda bekas sisa acara tadi malam.
"Kamu jaga diri baik - baik ya nak, kamu sekarang adalah seorang istri!" Bu Ifa kembali memberi wejangan pada sang putri sebelum masuk ke dalam mobil yang menjemput nya.
"Iya bu, aku akan sangat merindukan ibu!" Anin memeluk kembali tubuh sang ibu.
"Bapak dan ibu pulang dulu, kamu dan Dirga bisa datang kapan saja nak. Pintu rumah kita selalu terbuka lebar untuk kalian!" Pak Yudi berkata sambil mengelus puncak kepala sang istri yang di tutup hijab.
"Iya pak!" Anin mengangguk kan kepala nya.
Pak Yudi dan bu Ifa masuk ke dalam mobil yang menjemput mereka, Anin merasa menahan air mata nya agar tidak terjatuh di hadapan orang tua nya. Anin merasa sedih karena sekarang dia sudah tidak bisa hidup bersama orang tua nya lagi, status nya saat ini sudah jadi istri nya Dirga.
Anin melambai kan tangan nya, ketika mobil itu mulai menjauh dari halaman rumah mertua nya. Setelah mobil itu tidak terlihat lagi, Anin kembali ke dalam rumah. Anin mengambil sapu lidi dan tempat sampah, Anin mulai membantu ibu mertua nya serta Dirga yang sedang membersih kan sisa sampah bekas acara semalam.
"Nak, tolong kamu buat kan air kopi atau pun teh nak, untuk orang - orang yang membongkar tenda!" Bu Ela berkata pada menantu nya.
"Baik bu!" Jawab Anin singkat.
Anin lalu bergegas masuk kembali ke dalam rumah, dia mulai memasak air untuk empat kopi. Anin lalu mencari berbagai cemilan sisa acara ngunduh mantu kemarin, tadi malam dia melihat cemilan itu masih banyak.
"Di mana ya ibu menyimpan nya?" Anin bertanya pada diri nya sendiri.
Anin melihat toples- toples yang semalam terisi penuh dengan berbagai cemilan, kini semua toples itu sudah kosong.
"Kok sudah tidak ada lagi, padahal semalam kan isi nya masih penuh semua!" Guman Anin keheranan.
Karena tidak menemukan apapun, Anin pun memutuskan untuk membuat kopi saja. Untuk cemilan nya, mungkin nanti dia bisa membeli biskuit saja di warung.
Anin tidak menemukan gula dan kopi di dapur, lalu Anin bergegas pergi ke gudang yang ada di samping dapur. Di gudang itu tersimpan semua sembako yang di gunakan untuk segala keperluan ngunduh mantu kemarin, mulai dari gula, beras, terigu, telur dan lain sebagai nya.
Acara ngunduh mantu di rumah mertua nya tidak menggunakan jasa catering seperti di rumah orang tua nya saat akad nikah, para warga sekitar membantu memasak semua nya sendiri semua makanan nya. Baik itu semua cemilan atau pun nasi dan lauk pauk nya.
"Loh, mbak Tika apa yang sedang mbak Tika lakukan di sini?" Tanya Anin heran.
Anin melihat Tika, istri dari Atar kakak pertama nya Dirga ada di dalam gudang itu. Tika tampak mengumpulkan semua bahan makanan yang tersisa dan membawa nya keluar.
"Semua yang ada di sini milik ku, jadi aku ingin mengambil semua nya lalu menjual nya kembali!" Jawab Tika dengan ketus.
"Loh, kok gitu mbak?" Tanya Anin heran.
"Heh Anin, kau lupa ya bahwa mas Atar adalah anak pertama di keluarga ini. Jadi mas Atar lah yang berhak atas semua nya!" Tika berkata dengan sombong nya.
Anin hanya bisa menggeleng kan kepala nya melihat ulah ipar dari suami nya tersebut, Anin lalu masuk ke dalam gudang dia mengambil satu kilo gula dan satu bungkus kopi berukuran besar.
"Anin, kembalikan semua ini. Kau tidak berhak mengambil nya, semua ini milik ku!" Tika sangat kesal melihat Anin mengambil sesuatu yang kata nya milik nya.
"Mbak, ibu meminta ku untuk membuat kan kopi untuk orang - orang yang sedang membongkar tenda. Di dapur gula dan kopi tidak ada, jadi aku ambil di sini!" Anin menjelaskan pada Tika.
"Aku tidak perduli, kembalikan apa yang sudah kau ambil. Kau harus membeli nya sendiri jangan mengambil milik ku!" Bentak Tika kasar sambil merebut kembali gula dan juga kopi yang sudah berada di tangan Anin.
"Astagfirullah hal adzim mbak!" Anin mengusap dada nya melihat kelakuan ipar nya.
Anin tahu persis, semua bahan itu di beli dengna uang nya Dirga. Karena sebelum berbelanja, Dirga sudah menceritakan semua nya pada diri nya.
"Udah, pergi kau dari sini!" Usir Tika sambil mendorong tubuh Anin dengan kasar.
Pada saat itu datang lah Atar, suami nya Tika.
"Ada apa ini?" Tanya Atar yang melihat di sana sudah berdiri Anin.
"Ini mas, enak saja Anin mau mengambil gula dan kopi kata nya untuk membuat minuman untuk orang - orang yang sedang membongkar tenda. Semua ini milik kita, jadi dia tidak berhak atas apa pun yang ada di sini!" Tika memberi tahu suami nya.
"Berikan saja dek, jika hanya gula 1kilo dan kopi satu bungkus!" Atar berkata pada istri nya.
"Tidak bisa mas, kita akan menjual semua nya dan Anin atau pun siapa pun tidak berhak atas semua ini!" Tika berkata dengan serakah nya.
Anin tidak ingin ada keributan, karena dia merasa malu. Di depan masih banyak orang - orang yang membantu memberes kan semua nya. Anin segera pergi dari sana, Anin berniat membeli gula dan kopi di warung saja.
Anin pergi ke warung yang berada tidak jauh dari rumah suami nya, dia membeli 3 kilo gula dan 2 bungkus kopi bubuk berukuran besar. Selain itu Anin juga membeli beberapa bungkus biskuit sebagai teman minum kopi.
"Anin, dari mana kamu?" Tanya mbak Weni, dia adalah istri nya Andri, kakak kedua Dirga.
"Beli kopi dan gula mbak, di dapur semua nya pada habis!" Jawab Anin sambil mengangkat kantong kresek besar yang dia bawa.
"Kenapa harus beli nak? Di gudang kan masih banyak, kan kemarin kita udah belanja banyak untuk acara ini!" Bu Ela berkata pada menantu nya.
"Anin udah ambil di gudang bu, tapi gak di bolehin sama mbak Tika. Kata nya semua yang ada di sana milik nya, dia ingin menjual semua nya!" Jawab Anin dengan jujur.
"Apa? Jadi semua bahan makanan yang ada di gudang di ambil sama mbak Tika?" Tanya Mbak Weni pada Anin.
"Iya mbak, mbak Tika sama mas Atar sedang mengangkut semua nya lewat pintu dapur!" Jelas Anin lagi.
"Bu, ini tidak bisa di biar kan. Mas Atar dan mbak Anin semakin keterlaluan!" Ujar Andri dengan geram.
Anin tidak mengerti apa yang terjadi, kenapa seperti nya akan ada perebutan sesuatu antara Atar dan Andri, padahal mereka adalah saudara kandung.