Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Pucat
Novita melirik darah beku yang tergeletak diatas lantai balkon.
Ia merasakan tubuhnya mendadak lemah, bukan tanpa sebab, itu karena sosok Genderuwo itu memaksanya untuk melayani hasratnya, sebab timbal jiwa yang seharusnya ia dapatkan—gagal.
Hal itu membuat Novita menjadi pelampiasan bagi sang Genderuwo, untuk menambah energinya yang terkuras.
"Perut Novi sakit, Bu." keluhnya.
"Ya kau obati. Minum jamu sana, biar darahnya berhenti." hardik Ratna, nada bicaranya penuh penekanan.
Novita tersentak kaget, lalu menarik nafasnya yang terasa berat, dan membuat ia harus patuh pada sang ibu.
ia berjalan meninggalkan balkon, lalu menuju ruang dapur untuk membuat jamu kunyit asam, agar pendarahannya berhenti, meski mustahil.
Sementara itu, Alawiyah baru saja selesai membersihkan Wahyu dengan mengelap tubuhnya, menggunakan kain basah.
Ia menatap tubuh suaminya, tampak begitu kurus, hanya ukuran senjatanya saja yang tidak berkurang.
"Mas, sadarlah, mengapa kamu tidur terlalu lama?" ia menatap tubuh pria yang sudah memberikannya satu calon bayi.
Tangannya menyentuh rudal milik suaminya—dengan sedikit gemetar, bagaimanapun, ia merindukannya.
Nafasnya cukup berat, tetapi dalam hatinya, ia merasa yakin ada jalan kesembuhan, meski hanya sebesar lubang jarum.
"Ya, Rabb, berilah petunjukmu," doanya dengan lirih. Hanya pada Sang Khalik, ia menaruh harapan itu.
Perlahan, ia memakaikan pakaian pada suaminya, lalu membereskan semua peralatan untuk membersihkan tubuh pria tersebut.
"Mbok, Mbok Ratih," suara panggilan dari arah luar rumah. Alawiyah yang baru saja ke dapur, terpaksa bergegas menghampiri.
Saat berada diambang pintu, ia melihat seorang gadis berkulit putih dengan rambut panjang lurus sepunggung, berdiri dengan menenteng dua rakit rantang.
"Novita?" Alawiyah masih mengingat nama gadis itu, saat Ratna meneriakinya dari dalam rumah sore semalam.
Gadis itu salah tingkah, dan menundukkkan kepalanya. Ia berharap jika Ratih yang menerima rantang tersebut, tetapi kenyataannya Alawiyah yang menyambutnya.
"Maaf, Mbak. Ini saya bawakan oseng daging kambing pedas, kesukaan Mas Bayu." ia menyerahkan rantang tersebut kepada Alawiyah.
"—Tapi, Mas Bayu gak bisa makan beginian, dia hanya makan bubur yang dimasukin ke botol dot," Alawiyah menjelaskan kondisi suaminya.
Namun, direlung hatinya, ia sedikit merasa cemburu, sebab Novita bisa tahu makanan favorite suaminya, dan seperhatian itu.
"Gak apa-apa, Mbak. Diblender sama buburnya saja, biar Mas Bayu lekas pulih," Novita kembali mendesak, seolah makanan itu harus sampai ke lambung Bayu, apapun caranya.
Alawiyah tersenyum getir. Bahkan dalam kondisi Bayu tak sadarkan diri saja, ia bisa secemburu itu.
"Oh, iya. Terimakasih. Tidak perlu repot-repot. Selama masih ada saya, saya bisa mengurus suami saya," Alawiyah menegaskan ucapannya, sebab merasa jika dirinya seperti tak berguna, karena wanita lain memperhatikan suaminya.
Novita merasa kikuk, tetapi ini tidak boleh terjadi. Ada sesuatu yang tidak dapat ia jelaskan.
"Tidak, Mbak. Saya tidak merasa direpotkan, tidak perlu sungkan." Novita terus saja mencari alasan, dan hal itu membuat Alawiyah semakin merasa gedek.
"Saya pulang dulu, Mbak. Jangan lupa, kambing pedasnya dikasih ke Mas Bayu—Ya." pesannya. Seolah-olah ia ingin memastikan jika Bayu memakannya.
"Heeem ...." Alawiyah sudah merasa jengah. Hanya saja, ia merasa orang baru di desa ini, terpaksa harus menjaga sikap, meskipun pada kenyataannya, ia sangat kesal sekali.
Novita melenggang pulang, tetapi Alawiyah merasakan bulu kuduknya meremang, dan bergidik ngeri.
Saat melihat gadis itu memasuki gerbang, sosok Genderuwo berjalan dibelakangnya, seolah tak ingin lepas darinya, kemanapun gadis itu melangkah.
Setelah kepergian Novita. Alawiyah memasuki dapur, lalu membuka rantang, sebab penasaran dengan isinya.
Ia terkejut, sebab benar saja, daging kambing oseng pedas, atau krengsengan yang dicampur kecap, menggugah selera.
"Rajin sekali, Dia!" Alawiyah bergumam. Ia sendiri merasa tergugah seleranya, ingin rasanya, mencicipi walaupun hanya sesendok saja.
Ia menyendokkan daging bersama kuah bumbu melimpah, dan mendekatkan ke mulutnya.
"Bismillahirrahmaniirrahiim ...." ucapnya dengan begitu khidmat.
Mendadak matanya membeliak, saat melihat potongan daging berbumbu itu berubah menjadi potongan bangkai, dan terdapat jarum yang berkarat, paku, serta juga ijuk.
"Astaghfirullah ...." Alawiyah melemparkan sendok ditangannya, yang mana sedikit lagi hampir menyentuh mulutnya.
Daging itu bererakan diatas lantai dapur yang terbuat dari semen, dan ia memandanginya dengan mata yang nyalang.
Alawiyah kembali menggosok matanya, menajamkan penglihatannya, apakah ia tadi salah lihat, sebab daging berbumbu itu kembali berubah seperti semula.
Ia mengusap dadanya yang bergemuruh. Entah mengapa, perasaannya langsung tidak enak.
Saat bersamaan, Ratih datang dari arah belakang. Ditangannya terdapat tiga ekor ikan mas hasil tambak Bagas, dan menatap lantai yang terdapat noda daging kambing krengsengan.
"Apa ini?" ia ingin tahu apa yang terjadi, meskipun sudah jelas itu potongan daging kambing berkecap.
"Tadi di anterin sama gadis di depan rumah, dan katanya untuk Mas Bayu," Alawiyah menjelaskan kronologinya.
Mendadak mata Ratih membola. Alawiyah tau, itu adalah isyarat jika Ratih akan menghardiknya, dan suaranya pasti sangat kencang.
Ia buru-buru menutup telinganya, sebelum mengalami masalah pendengaran.
"Apa?!" suaranya cukup keras, membuat Alawiyah semakin mengetatkan telapak tangannya ditelinga.
"Apakah kau sudah memberikannya kepada Bayu? Jawab!"
Alawiyah menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban dari pertanyaan Ratih yang tampak memojokkannya.
"Kau harus jujur, apakah kau juga ada memakannya?!" nada bicara Ratih masih belum juga melunak.
Bahkan ia melemparkan tiga ikan segar ditangannya ke atas lantai dengan sangat kasar.
"Tidak, Mbok. Tidak ada." Alawiyah menggelengkan kepalanya. "Sumpah, Demi Allah," ia masih takut untuk mengangkat wajahnya, menatap Ratih seolah sedang menatap ibu singa yang siap menerkamnya.
Ratih mendadak duduk lesu diatas lantai. Nafasnya terasa berat, seolah eperti mengalami syok yang sangat membuatnya traumatik.
Alawiyah melirik dengan ujung matanya, wanita paruh baya itu tampak mengusap wajahnya dengan perasaan yang sulit untuk ia jelaskan.
Perlahan ia menatap Alawiyah yang masih menunduk ketakutan. "Ingat, jika ada siapapun yang berasal dari luar rumah ini datang memberimu makanan, maka jangan pernah kau makan."
kali ini, nada bicaranya melunak, dan ia beranjak dari tempatnya, mengambil rantang dua rakit, berisi daging kambing pedas krengsengan, dan juga memungut yang tersisa di lantai, lalu membuangnya ke dalam toilet.
Alawiyah hanya melongo. Jika ia turutkan, maka sangat sayang juga dalam membuang makanan, meskipun sebenarnya ia sedikit kesal dengan Novita, yang terlalu baik dengan suaminya.
Tanpa sengaja, ia melihat tumpukan rantakan yang sama persis dibawah meja dapur yang tanpa penutup.
Saking banyaknya, bisa dihitung lebih dari sembilan puluh buah rakit rantang.
"Itu rantang banyak sekali, Mbok," tanya Alawiyah, sebab tak dapat menahan ras penasarannya.
"Itu dari orang yang sama, yang setiap harinya datang memberikan menu yang berbeda, dan tidak pernah mengambil lagi wadahnya," jawab Ratih dengan nada cukup dingin.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏