Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 31. Arogan
Pukul delapan malam, Ganis duduk seorang diri di mini bar yang ada di dapur. Malam ini rumah terasa sedikit sepi karena para penghuni sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Krisna dan Dinda pergi entah ke mana. Rika ada di beranda depan menikmati suasana malam. Sedangkan Maryati sudah masuk ke dalam kamar setelah kakinya terasa ngilu karena asam urat yang diderita. Sedangkan Puspa dan Herman, mereka tinggal di sebuah paviliun yang mereka sewa selama melebarkan sayap-sayap bisnisnya di Jogja dan sekitarnya.
Ganis menatap lekat kamera kecil yang ada di tangan. Setelah mendapatkan laporan dari Maryati, ia berencana memasang kamera kecil ini di atas kabinet kitchen set. Ia berencana akan mulai mengumpulkan bukti-bukti kejahatan yang mungkin akan dilakukan oleh Dinda dengan sang ibu sebelum nanti perihal warisan yang akan ia urus. Dan kamera kecil inilah yang ia yakini bisa sedikit membantu.
Ganis sengaja meletakkan vitamin yang biasa ia minum di atas mini bar. Pastinya untuk memancing ular-ular jahat itu. Dengan begitu Ganis yakin jika Dinda dan ibunya akan mulai mengeksekusi rencana mereka seperti yang dilaporkan oleh Maryati.
"Kamu salah jika menganggapku lemah. Aku sengaja diam karena aku ingin tahu drama apa yang sedang kamu mainkan. Sembari mengamankan aset yang sudah susah payah aku kumpulkan. Kamu boleh menikmati tubuh mas Krisna, tapi untuk harta gono-gini, aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan apa-apa."
Ada satu amarah yang terekam jelas dari sorot mata Ganis. Harga diri wanita itu sudah cukup diinjak-injak dengan kehadiran sang madu. Keberadaannya diabaikan, dilupakan, disisihkan oleh sang mertua yang juga cukup membuat harga dirinya terkoyak. Kini, ia berjalan pelan mengendalikan ritme drama yang dimainkan oleh Dinda sembari mengamankan semua yang menjadi hak-nya.
Ganis beranjak dari posisi duduknya. Ia pasang kamera kecil yang langsung terhubung di ponselnya itu di tempat yang ia yakini bisa merekam apapun yang dilakukan oleh Dinda. Ia memilih area dapur karena istri kedua suaminya itu sangat jarang bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di dapur. Ganis percaya jika keberadaan kamera pengintai ini akan aman sentosa.
"Sudah selesai!" ucap Ganis sedikit puas dengan pekerjaannya. "Permainan baru akan dimulai, Din. Silakan siapkan amunisimu. Kita lihat, siapa yang akan keluar sebagai pemenang!"
Tap... Tap.. Tap..
Ganis yang baru saja akan meninggalkan dapur seketika ia urungkan niatnya kala terdengar langkah kaki seseorang yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya. Ganis menoleh ke sumber suara dan ternyata Rika juga tengah berjalan menuju dapur.
"Belum tidur Nis?" tanya Rika sedikit basa-basi.
"Belum. Anda juga kenapa malam-malam seperti ini masih berkeliaran? Apa tidak ada pekerjaan lain?" tanya balik Ganis dengan ketua.
"Pekerjaan? Pekerjaan apa maksudmu? Aku kan di sini tamu, masa harus mengerjakan pekerjaan?" protes Rika sedikit tidak terima.
"Oh seperti itu? Baiklah. Silakan Anda lanjutkan aktivitas Anda."
"Kamu memang tidak iri melihat kehamilan Dinda, Nis?" tanya Rika yang terdengar menggelitik di telinga Ganis.
"Ini adalah pertanyaan kesekian yang ditanyakan oleh Anda ataupun mama Puspa. Aku heran, apa yang harus aku irikan dari Dinda? Kok semua orang berharap aku ini iri dengan kehamilan Dinda?"
"Ya setidaknya dia bisa hamil anak Krisna."
Ganis tergelak lirih. "Percuma bisa hamil anak mas Krisna tapi tidak bisa berdaya di atas kakinya sendiri. Apa-apa harus minta. Sedangkan aku, aku bisa membeli apapun dengan uang hasil usahaku sendiri."
"Tapi kamu tetap merasa sepi kan?" cecar Rika belum menyerah untuk membuat Ganis semakin rendah diri.
"Sepi?" tanya Ganis dengan sinis. "Jauh lebih sepi jika tidak punya harta. Coba Anda tanyakan ke Dinda. Bisa tidak dia hidup bersama mas Krisna dalam keadaan miskin, tanpa kemewahan seperti ini. Aku rasa tidak."
Ganis tak lagi mempedulikan keberadaan Rika. Ia melenggang pergi meninggalkan Rika seorang diri. Sedangkan Rika hanya memasang ekspresi datar, seolah tidak begitu peduli dengan apa yang diucapkan oleh Ganis.
Setelah bayang tubuh Ganis tak lagi terlihat, Rika berganti melirik ke arah mini bar. Senyum lebar terbit di bibir kala melihat botol vitamin yang biasa diminum oleh Ganis berada di sana.
Rika merogoh sesuatu dari kantong baju yang ia kenakan. Dengan gerak cepat, wanita paruh baya itu menukar vitamin yang biasa diminum oleh Ganis dengan obat yang ia yakini bisa melancarkan haid.
"Aku yakin sampai kapanpun promilmu tidak akan pernah berhasil Nis. Aku pastikan, anak yang dikandung oleh Dinda yang akan menjadi pewaris tunggal harta kekayaan Krisna."
****
"Pokoknya aku mau liburan juga seperti mbak Ganis, Mas. Aku tidak mau kalah dari mbak Ganis!"
Di sebuah taman kota Krisna dan Dinda duduk di salah sebuah kursi yang terbuat dari beton. Sepasang suami-istri itu memilih menikmati ramainya suasana malam yang berada di pusat kota setelah makan malam di sebuah restoran mewah yang letaknya tak jauh dari taman kota.
Di sekitar Krisna dan Dinda juga terlihat para kawula muda yang tengah menghabiskan malam Minggu ini dengan kekasih masing-masing. Mereka berlalu lalang ke sana kemari. Ada pula yang ber-swafoto menggunakan ponsel keluaran terbaru yang mereka miliki.
"Memang kamu mau liburan ke mana Din? Nanti biar aku agendakan," tanya Krisna mencoba untuk membicarakan perihal liburan bersama istri keduanya ini. Ia berupaya seadil mungkin terhadap dua istrinya.
"Kemarin kamu dan mbak Ganis ke pantai mana Mas?" tanya Dinda penasaran.
"Hanya di pantai yang ada di Gunungkidul. Kenapa memang?"
Dinda nampak sejenak berpikir. "Kalau begitu aku mau liburan ke Bali Mas. Aku tidak mau kalah dengan mbak Ganis!"
"Hah, ke Bali?" tanya Krisna sedikit terkejut. "Kamu yakin mau ke Bali? Kamu sedang hamil, Din. Apa kamu tidak khawatir dengan kehamilanmu?"
Dinda menggelengkan kepala. "Tidak. Justru aku akan semakin mendapatkan mood booster jika kamu mengajakku ke Bali, Mas. Karena itu artinya aku bisa berada di tempat yang melebihi dari yang dikunjungi oleh mbak Ganis."
"Ckkkkkkkckk... Kamu ini berniat untuk liburan atau hanya untuk menyaingi Ganis, Din?" decak Krisna.
"Jelas aku tidak mau tersaingi, Mas. Pokoknya aku harus bisa lebih segala-galanya dari mbak Ganis."
"Hmmmmm... Baiklah, nanti akan aku atur dan akan aku siapkan semuanya."
Senyum manis terbit di bibir Dinda. Wanita itu bergelayut manja di tubuh Krisna seakan menggambarkan rasa terima kasihnya karena sang suami sudah mengabulkan permintaannya.
Cikk... Ciiikkk... Ciikkkk...
Kebahagiaan Dinda tiba-tiba terusik dengan kedatangan pengamen cilik yang ada di depannya. Krisna yang melihat kedatangan pengamen itu segera merogoh kantong celananya. Ia mengambil lembaran sepuluh ribuan untuk ia berikan ke pengamen ini.
"Hei, Hei, Hei,... Apa-apaan kamu Mas? Mau kamu apakan uang sepuluh ribu ini?" tanya Dinda sembari merebut uang sepuluh ribu yang diulurkan oleh Krisna kepada pengamen cilik ini.
"Din, apa sih? Aku hanya ingin ngasih uang ini ke dia," seru Krisna yang sedikit merasa kesal karena niat baiknya dihalangi oleh Dinda.
"Jangan kamu biasakan seperti itu Mas. Itu hanya membuat orang-orang ini malas dan minta-minta!"
"Din, tapii ini hanya sepuluh ribu. Barangkali akan ia gunakan untuk membeli makan."
"Tetap tidak boleh Mas!" larang Dinda. Wanita itu kemudian melotot ke arah pengamen cilik yang masih ada di hadapan mereka. "Hei, sana pergi! Jangan lagi kamu minta-minta ke kami. Kami cari duit itu susah, bukan untuk dibagikan cuma-cuma sama kamu!"
"Tapi aku belum makan Tante!" ucap pengamen itu sembari mendekat ke arah Dinda.
"Aaahhhh... Jangan dekat-dekat! Kamu kotor dan kumal. Aku jijik!!!" teriak Dinda sembari mendorong tubuh pengamen cilik itu dengan kuat.
Bughhhh....
"Aaahhhh... Sakit!!!" teriak si pengamen setelah tersungkur di jalanan dan kepalanya terbentur aspal dan membuat darah segar mengucur di kepalanya.
Kedua bola mata Krisna dan Dinda terbelalak kala melihat darah segar yang mengalir dari kepala pengamen itu.
Teriakan pengamen itulah yang menarik perhatian orang-orang yang berada di sekitar Krisna. Hingga mereka pun mengerubungi si pengamen dan seketika membuat Krisna dan Dinda panik.
.
.
.