NovelToon NovelToon
Pang Liong (Membantu Naga)

Pang Liong (Membantu Naga)

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.

Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------

Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.

AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.

---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--

nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Yang Berawal dari Luka

Pagi itu, matahari masuk lewat celah jendela pelan-pelan, kayak maling jemuran yang takut ketahuan. Kwee Lan bangun, badannya kerasa seger—habis tidur panjang kena bius ramuan Tabib Lie. Dia ngerjapin mata, pelan-pelan nyawa kumpul lagi.

Pas dia liat sekeliling, kamarnya udah penuh sesak.

Ada Nyonya Nyoo yang senyum-senyum sumringah. Ada Jenderal Go yang duduk jagain dia. Terus di sebelahnya... ada satu laki-laki lagi. Mukanya "Jenderal Go Jilid 1". Lebih tua, lebih lebar, badannya kayak singa laut yang kebanyakan makan lemak babi tapi tetep keliatan sangar.

"Sio Moi, ini Papa aku. Go Bun Kiat," kata Jenderal Go pelan.

Kwee Lan yang masih agak keder otomatis mau turun dari dipan buat Pai Pai. Tapi tangan raksasa Om Bun Kiat langsung nahan pundaknya.

"Ehh! Mai-la! Jangan Pai Pai sekarang! Nanti saja pas Sangjit! Simpen tenagamu buat makan!"

Suaranya menggelegar, bikin atap rumah yang rami itu getar dikit. Kwee Lan cuma bisa melongo.

Tiba-tiba, seorang wanita masuk bawa nampan. Dia naruh ramuan di meja kecil jati mahal—yang jelas bukan punya Kwee Lan.

"Kwee Lan!" seru wanita itu sambil meluk dia kenceng.

Kwee Lan pelan-pelan inget: Ini Tabib Lie. Salah satu dari 30 wanita baja yang belajar mati-matian, dipukul rotan kalau salah hafal ramuan, cuma demi satu mimpi: Bebas dari Sinseh Siat Sin (bejat). Biar nggak ada lagi perempuan yang nasibnya dihancurin kayak ibunya dulu.

"Nih, aku suapi. Masih nggak enak ya mulutnya?" kata Tabib Lie telaten. Tabib Lie konsultasi di depan calon suami dan mertua kalo dia butuh Kwee Lan ngajar di perguruan Sinseh. Siswanya ada laki dan perempuan tapi sudah dipilih yang ga bakal siat sin.

Kedua abdi negara pun mau kesal. Tapi karena hanya 10 hari sekali, menurut Sinseh Li. "Kami setuju asal dia setuju" kata Paman Bun Kiat.

Hati Kwee Lan setuju. Tapi refleks wanita membuat mulutnya bilang "Terserah", sebuah kata penuh misteri yang meretakkan hati lelaki dari generasi ke generasi.

 

Tapi di luar paviliun, suasananya nggak seadem di dalem. Rombongan Jenderal Naga ini bener-bener bikin rusuh pasar. Pasien-pasien wanita yang udah nunggu sebulan pada ngomel karena praktik ketutup rombongan tentara.

"Jenderal sialan! Gara-gara dia, kita nggak bisa berobat!" teriak seorang ibu-ibu.

"Bener! Bikin miskin orang miskin!" sahut yang lain.

TENG! TENG! TENG! GONG!

Suara gong berbunyi kencang banget. Kwee Lan langsung nengok ke jendela.

"Ada apa lagi?"

"Bukan apa-apa," jawab Jenderal Go sambil garuk kepala. "Gara-gara kemarin kamu bilang 'terserah', sekarang itu dua jenderal tua gila... mereka beneran adu Sepak Takraw buat nentuin siapa yang sah jadi 'Garis Luar' atau walimu."

Kwee Lan nyeret badannya ke arah jendela.

 

Adu Takraw: Pertempuran Gengsi Dua Jenderal

Di lapangan tanah liat depan rumah, pertarungan dimulai.

Tim Jenderal Kim pake formasi 'Tembok Besi Yan'. Anak buahnya rapat, kompak, siap menghadang serangan dari mana pun.

Tim Jenderal Choa? Mereka duduk santai di pinggir lapangan sambil ngupil. Jenderal Choa ngadepin sendiri.

"Choa, kau meremehkan aku?" teriak Kim.

Choa cuma senyum. "Gue cuma pengen cepet-cepet. Nanti keburu magrib."

WASSIT! Gong dibunyikan.

Jenderal Kim lompat sambil teriak, "Tendangan Penjuru Gunung Utara!" Bola rotan melesat kayak peluru.

Tapi Jenderal Choa cuma senyum tipis. Dia muter badannya kayak gasing, jubahnya berkibar membentuk pusaran angin. Jurus "Naga Menelan Mutiara".

Bola itu malah kayak nempel di pinggang Jenderal Choa, ikut muter, kehilangan tenaga, lalu jatuh pelan di ujung kakinya.

"Wah! Ciamik-soro!" sorak bapak-bapak yang batal ke sawah.

Giliran Choa nyerang. Dia lompat setinggi galah, jungkir balik dua kali di udara. "Sabetan Ekor Naga Membelah Langit!"

Jenderal Kim udah pasang kuda-kuda penuh buat nangkis serangan keras. Tapi Jenderal Choa nggak nendang sekuat tenaga. Dia cuma "nyentil" bola itu pake ujung jempol sepatu dengan sedikit putaran spin.

Bola itu meluncur pelan... melengkung indah ngelewatin jangkauan tangan Jenderal Kim yang udah kadung pasang tenaga penuh.

KLEM! Skor telak.

"Gila... strateginya licik tapi bersih," gumam Jenderal Go dari jendela. "Dia tahu Jenderal Kim itu lurus, dikasih tenaga dilawan tenaga. Begitu dikasih 'sentuhan halus', ya keok."

Jenderal Choa mendarat dengan gaya, benerin kerah baju. Dia nengok ke jendela Kwee Lan, kasih jempol, terus teriak:

"Sah! Hari ini Marga Choa resmi jadi Garis Luar buat Sinseh Kwee! Siapa yang berani ganggu, urusannya sama kaki gue!"

Jenderal Kim di lapangan cuma bisa mangap. Kalah, tapi gak bisa protes.

 

Malam Menjelang Sangjit: Siasat Sang Papa Palsu

Setelah keramaian sepak takraw reda, paviliun itu mendadak sunyi. Jenderal Go duduk di pinggir dipan, tangannya yang kasar masih telaten megang mangkok obat. Dia ngelihatin Kwee Lan yang lagi lesu.

"Liong-A," panggil Kwee Lan pelan. "Aku nggak punya keluarga. Aku yatim piatu. Aku nggak punya mahar balik yang pantes buat Keluarga Go. Aku malu..."

Jenderal Go naruh mangkoknya. Dia narik napas dalem.

"Dengerin aku. Inget nggak pas kamu panggil aku 'Papa' waktu kamu sekarat kemarin?"

Kwee Lan nunduk. Matanya jadi gelap. Seperti gak ada yang hidup di dalamnya.

"Aku sadar," potong Jenderal Go. "Dan sebagai 'Papa'—biarpun palsu—aku punya janji. Aku nggak bakal biarin 'anakku' masuk ke keluarga suaminya dengan tangan kosong."

Jenderal Go mendekat, suaranya makin pelan.

"Besok, semua barang hantaran Sangjit yang aku kirim ke sini... bakal aku suruh anak buahku buat bungkus ulang diam-diam di gudang belakang. Semuanya. Emas, kain sutra, sampai babi panggangnya."

Kwee Lan melongo. "Lho, itu kan barang kamu sendiri?"

"Iya. Tapi besok, barang-barang itu bakal keluar dari rumah ini atas nama Keluarga Choa—sebagai mahar balik darimu. Dunia harus liat kalau Sinseh Kwee Lan ini didukung penuh sama 'Garis Luar' Jenderal Choa yang barusan menang takraw. Biar semua tetua adat itu bungkam. Biar nggak ada yang berani bilang kamu pengungsi kere yang cuma numpang hidup."

Kwee Lan berubah jadi penampakan. Matanya dalem. Nadanya kayak cerita setan.

"Tapi Liong-A, itu namanya kita nipu Keluarga Go? Nipu Papa kamu sendiri?"

Jenderal Go senyum miring.

"Papa aku tadi siang udah kasih kode. Dia sebenernya udah tahu kita bakal main akrobat begini. Dia cuma pengen liat seberapa pinter anaknya jaga harga diri calon istrinya."

Kwee Lan diem.

"Jadi, besok kamu tinggal dandan yang cantik. Duduk manis. Pas hantaran itu dibalikin ke aku, aku bakal akting kaget setengah mati seolah-olah dapet rejeki nomplok dari mertua kaya."

Jenderal Go terkekeh pelan.

"Ini janji 'Papa' buat kamu, Lan-A. Biar namamu tetep wangi."

 

Kwee Lan diem seribu bahasa.

Di bawah cahaya pelita, dia ngeliat tangan Jenderal Go—tangan yang dulu dia jahit lukanya—sekarang lagi ngerajut masa depan buat dia.

Tangan itu.

Yang dulu megang pedang.

Yang dulu tebas leher musuh.

Yang dulu dia jahit pake benang tali rami bintang.

Sekarang tangan itu lagi ngerakit rencana, lagi nyusun strategi, lagi jagain dia.

Di luar, suara kentongan ronda berbunyi. Menandakan sebuah siasat besar bernama "Pernikahan" sedang disiapkan dengan sangat rapi.

Kwee Lan merasa... udah gak ada lagi yang tersisa.

Satu urat terakhir –harga diri –putus.

Malam itu dia tidur.

Dalam.

Dalam sekali.

Kayak orang yang udah lelah berenang, lalu akhirnya nyerah ke dasar laut.

 

[BERSAMBUNG]

 

Catatan:

Mai-la Jangan (Hokkien)

Sangjit Prosesi lamaran

Rami Atap dari serat tumbuhan

Ciamik-soro Bagus banget / mantap

Keok Kalah

Liong-A Panggilan sayang ke Go

Spin Putaran bola

 

Kok jadi sedih ya? Vote biar mereka bahagia.🐉🔥

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!