NovelToon NovelToon
BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mata Batin / Horor
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."


Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.


Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembukaan Sang Dirigen

Lokasi: Rumah Lama Pratama – Pukul 02.15 Dini Hari

Lampu sorot mobil di luar rumah tiba-tiba padam. Kesunyian yang mencekam menyelimuti rumah lama Pratama. Hanya suara rintik hujan yang menghantam atap seng tua yang terdengar, seperti detak jam yang menghitung mundur maut.

"Mereka sudah di luar," bisik Reyhan. Ia bergerak seperti bayangan, punggungnya menempel pada dinding di samping pintu utama. "Tiga orang di depan, dua di sisi kiri. Mereka bergerak tanpa suara... sangat profesional."

Kiara memejamkan mata. Di penglihatannya, ia melihat siluet manusia yang memancarkan energi biru pucat—dingin dan tak berperasaan. "Rey... mereka membawa alat frekuensi. Jangan biarkan mereka menyalakannya, atau syaraf kita akan lumpuh sebelum sempat melawan!"

"Rendy, nyalakan pengacau sinyal sekarang!" perintah Reyhan tegas.

ZAPPP!

Bersamaan dengan sinyal dari Rendy, pintu depan hancur ditendang dari luar. Tiga pria bertopeng porselen menerjang masuk. Namun, mereka tidak menyangka akan disambut oleh kegelapan total dan serangan balik yang presisi.

Reyhan tidak menggunakan peluru tajam; ia menggunakan peluru kejut listrik untuk melumpuhkan tanpa membunuh. Dalam tiga gerakan taktis yang cepat, dua penyusup langsung tumbang.

Namun, dari arah tangga, muncul sesosok pria dengan biola di tangannya. Ia pria tua dengan bekas luka bakar yang mengerikan di lehernya. Ia mulai menggesek senar biolanya, menciptakan nada melengking yang membuat kaca jendela rumah pecah seketika.

"AAAKKKHHH!" Kiara menjerit, menutup telinganya saat darah mulai merembes dari sela jarinya. Frekuensi itu menyerang syaraf indigonya secara brutal.

"KIARA!" teriak Reyhan. Ia mencoba membidik pria itu, tapi tangannya mendadak kaku, otot-ototnya seolah terkunci oleh gelombang suara tersebut.

Di saat kritis itu, Rendy nekat melempar sebuah flashbang modifikasi rakitannya sendiri.

BOOOMM!

Ledakan cahaya putih itu membutakan musuh sejenak, memutus aliran frekuensi maut tersebut. Reyhan segera menarik Kiara dan Rendy menuju pintu rahasia di bawah lantai kayu ruang kerja.

"Kita harus keluar! Rumah ini sudah tidak aman!" tegas Reyhan sambil menggendong Kiara yang setengah pingsan.

Abu Masa Lalu

Saat mereka melesat keluar menuju mobil yang tersembunyi, Reyhan menoleh sekilas. Rumah masa kecilnya mulai terbakar hebat oleh granat termit yang dilemparkan musuh. Di tengah kobaran api di balkon lantai dua, ia melihat si Konduktor berdiri diam, menatap kepergian mereka dengan tangan terlipat di belakang punggung. Pria itu tidak mengejar; ia hanya memberikan isyarat dengan baton emasnya—sebuah "selamat tinggal" untuk babak pembukaan ini.

Mobil SUV hitam milik Reyhan melesat membelah kegelapan hutan. Dari kaca spion, Reyhan melihat rumah itu perlahan mengecil, menjadi abu bersama semua kenangan tentang ayahnya.

"Rey... jangan menoleh," bisik Kiara dari kursi penumpang. Suaranya serak, jemarinya yang masih bergetar menggenggam tangan Reyhan yang sedang mencengkeram kemudi. "Energi di sana sudah mati. Mereka sengaja menghancurkannya untuk memutus sisa jejak ayahmu."

Reyhan tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Matanya tetap lurus menatap jalanan aspal yang basah. Di dalam dadanya, ada amarah yang lebih panas dari api, namun ia menahannya dengan disiplin seorang elit.

"Pak, drone gue masih menangkap sinyal dari arah balkon," suara Rendy terdengar dari kursi belakang. Tangannya kini sibuk di atas keyboard laptop yang penuh grafik gelombang suara merah darah. "Si Konduktor itu sedang mengirimkan sinyal ke satelit. Frekuensi biola tadi bukan senjata biasa, Rey. Itu adalah kunci digital."

"Apa maksudmu, Ren?"

"Sinyal itu ditujukan ke seluruh penjuru kota. Siapa pun yang memiliki akses ke frekuensi radio tertentu akan terpengaruh. Ini bukan lagi soal satu gedung konser. Mereka sedang mencoba melakukan 'orkestra' massal," jelas Rendy ngeri.

Sumpah di Tepi Tebing

Mobil itu mengerem mendadak di tepi tebing yang menghadap ke arah gemerlap lampu kota di kejauhan. Reyhan keluar dari mobil, berdiri di bawah rintik hujan. Ia menatap pemandangan kota yang tampak tenang, tanpa tahu ada ancaman tak kasat mata yang sedang merayap lewat gelombang udara.

Reyhan merogoh saku jasnya, mengeluarkan kaset tape tua "Simfoni Terakhir" yang sempat ia selamatkan.

"Ayah tidak gagal," gumam Reyhan pelan, suaranya tertelan deru angin malam. "Dia hanya kehabisan waktu. Dan sekarang, waktu itu berpindah ke tangan saya."

Tiba-tiba, dari kegelapan hutan di belakang mereka, terdengar satu nada biola yang sangat lirih. Hanya satu nada panjang yang menyayat.

Kiara melangkah maju, berdiri di samping Reyhan. "Dia ada di sana, Rey. Si Konduktor. Dia tidak ingin membunuhmu sekarang. Dia ingin kamu menonton... bagaimana dunia ini hancur oleh musiknya."

"Aku tidak akan jadi penonton," sahut Reyhan dengan nada suara yang sangat berat dan berwibawa. Ia menatap Kiara dengan keyakinan baru. "Rendy, hapus semua jejak digital kita. Mulai detik ini, Detektif Reyhan Pratama resmi dianggap mati dalam ledakan rumah tadi."

"Maksud Bapak... kita bergerak di bawah tanah?" tanya Rendy takjub.

"Tepat. Biarkan mereka mengira mereka menang. Kita akan menjadi hantu yang memburu para hantu," tegas Reyhan.

Di kejauhan, jam besar pusat kota berdentang dua belas kali. Di bawah langit yang kelam, tiga orang itu berdiri sebagai satu-satunya garis pertahanan melawan orkestra kematian. Reyhan kembali masuk ke mobil, menutup pintunya dengan suara dentuman mantap.

Babak pembukaan telah usai. Kini, pertunjukan sesungguhnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!