Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Hantu di Nicholson Street
Kemenangan atas Marcus di kantor dan Kevin di bisnis Arka ternyata hanya bertahan selama dua puluh empat jam. Kebahagiaan di unit 3B itu seperti oksigen di puncak gunung; tipis dan sulit dipertahankan.
Sabtu pagi, saat Alya sedang menyeduh teh melati—aroma yang selalu mengingatkannya pada teras rumah ibunya di kota asal—sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Bukan email kerja, bukan pesan dari grup keluarga. Sebuah nomor yang tidak tersimpan, tapi digitnya terbakar di ingatan Alya seperti bekas luka.
Pesan suara masuk (00:45).
Jari Alya gemetar. Dia melirik Arka yang sedang tertidur pulas di sofa, dikelilingi dokumen legal yang berantakan. Arka tampak begitu damai, jauh dari bayang-bayang pemuda ceroboh yang lima tahun lalu meninggalkannya di stasiun kereta dengan janji yang patah.
Alya membawa ponsel itu ke balkon kecil yang menghadap Nicholson Street. Udara dingin menyengat kulitnya, tapi tidak sebanding dengan rasa dingin yang menjalar di dadanya saat menekan tombol play.
"Al... aku dengar ibumu masuk rumah sakit lagi. Aku di Jakarta sekarang. Bisa kita bicara?"
Suara itu. Suara dari masa lalu yang membuat Alya melarikan diri sampai ke benua lain. Pria yang membuat Alya percaya bahwa cinta pertamanya sudah mati, sebelum akhirnya Arka datang kembali dan mencoba menyatukan kepingannya.
"Siapa, Al?"
Suara Arka yang berat karena baru bangun tidur mengejutkannya. Arka berdiri di pintu balkon, mengenakan jaket tebal, matanya yang tajam langsung menangkap kegelisahan di wajah Alya.
Alya terdiam. Dia benci berbohong, tapi dia lebih benci melihat luka lama Arka terbuka kembali. Lima tahun lalu, bukan hanya Alya yang hancur. Arka juga harus berjuang merebut kembali kepercayaan Alya yang sudah hangus terbakar oleh orang lain sebelum mereka benar-benar memulai lembaran baru di Melbourne.
"Bukan siapa-siapa, Bang. Cuma... spam," jawab Alya pelan.
Arka tidak bodoh. Dia berjalan mendekat, mengambil ponsel dari tangan Alya yang dingin. Dia tidak membaca pesannya, dia hanya menatap mata Alya. "Kamu nggak pernah gemetar kalau cuma karena spam, Al."
Sunyi. Trem di bawah sana berdentang, suara besi beradu besi.
"Dia menghubungiku lagi," aku Alya akhirnya. "Dia tahu soal Ibu."
Bahu Arka mengeras. Rahangnya mengatup rapat. Masa lalu adalah hantu yang paling sulit diusir dari unit 3B ini. Di Melbourne, mereka mencoba menjadi orang baru. Arka yang dewasa, Arka yang menjadi pelindung, bukan Arka yang ceroboh. Tapi saat nama "dia" muncul, Arka merasa kembali menjadi pemuda yang tidak berdaya lima tahun lalu.
"Kamu mau pulang?" tanya Arka. Suaranya datar, tapi ada getaran ketakutan di sana. Takut kalau senja di kota kecil itu lebih menarik bagi Alya daripada fajar kelabu di Melbourne.
"Ibu sudah baik-baik saja, Bang. Aku sudah telepon kemarin," jawab Alya cepat, mencoba meyakinkan dirinya sendiri juga.
"Bukan itu maksudku," Arka melangkah maju, memegang pagar balkon yang berkarat. "Aku takut kalau kamu merasa... berada di sini, mengecat tembok hijau ini, berurusan dengan tetanggah galak, itu semua cuma pelarian. Aku takut kamu merasa terpaksa memilihku karena kamu ingin melupakan dia."
Alya menatap tembok hijau mint yang terlihat dari celah pintu balkon. Tembok yang mereka cat dengan peluh dan air mata pengakuan.
"Bang, dengar," Alya meraih wajah Arka, memaksa pria itu menatapnya. "Aku pergi dari kota itu bukan cuma buat lari dari dia. Aku pergi buat mencari diriku sendiri. Dan aku menemukan kamu lagi di sana, di antara kesalahpahaman kita yang belum selesai. Kamu bukan pelarian. Kamu itu tujuannya."
Arka memegang tangan Alya yang ada di pipinya. "Dulu aku ceroboh, Al. Aku membiarkan dia menyakitimuh karena aku telat datang. Di Melbourne ini, aku berjanji nggak akan telat lagi. Tapi kalau kamu butuh pulang untuk menyelesaikan apa yang belum selesai... aku nggak akan melarang."
Alya menggeleng. "Tidakkah kamu paham? Pulangku itu ke kamu. Kota itu cuma tempat lahir, tapi kamu... kamu itu tempatkuh hidup."
Alya mengambil ponselnya, lalu di depan mata Arka, dia menghapus nomor itu. Tanpa membalas. Tanpa mendengarkan pesan suara itu sampai habis.
"Hantu nggak punya tempat di tembok hijau kita," bisik Alya.
Arka menarik Alya ke dalam pelukannya. Di balkon kecil di Carlton itu, di tengah angin yang bau laut dan aspal, mereka menyadari bahwa masa laluh mungkin akan selalu mencoba mengetuk pintu. Tapi selama mereka tidak membukanya, hantu itu akan tetap tinggal di luar, kedinginan di trotoar Nicholson Street yang retak.
"Besok," kata Arka di sela rambut Alya, "kita beli kunci tambahan buat pintu depan. Bukan buat maling, tapi buat meyakinkan aku kalau kamu beneran nggak akan kemana-mana."
Alya tertawa kecil, air matanya jatuh di jaket Arka. "Dasar posesif."
"Aku lebih suka disebut... menjaga investasi masa depan," goda Arka, mencoba mencairkan suasana.
Namun, di dalam hati, Alya tahu ini baru permulaan. Kepulangannyah ke Jakarta untuk audit tempo hari mungkin telah membuka celah yang tidak ia sadari. Dan di kota asalnya yang penuh senja itu, ada rahasia yang Arka sendiri pun belum tahu.
Izinn
ahh pria solo itu lagii🤣🤣