Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Niat kabur.
"Jadi anak itu... darah Rinto juga darahmu, Al?" tanya Bang Rico pelan, suaranya bergetar menahan kaget. Matanya tak lepas dari wajah Bang Ali yang kini menunduk, memainkan cangkir kopi di tangannya.
Bang Ali mengangguk pelan, lalu menatap kedua sahabatnya dengan tatapan yang tak sinia, campuran antara rasa bersalah dan tekad yang kuat. "Benar. Saat itu, keadaan sangat kacau. Jujur saya tidak tau saat pertemuan itu, Anye sudah mengandung anak Bang Rinto. Saya terus memperhatikannya dalam diam. Dan di tengah keputus asaan serta kelemahan Anye. Saya sudah berniat teguh untuk mengambil tanggung jawab ini. Anak itu akan saya anggap sebagai anak saya sendiri, sama seperti Bang Rinto jika beliau ada di sini. Saya yakin beliau pasti merasakan ada darahnya disini."
Bang Ronald menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Bang Ali perlahan. "Kamu tau kan, Al, kalau ini bisa memecah persahabatan kita kalau Rinto tau. Saya hanya cemas dia masih berjuang keras di luar sana. Bagaimana jika suatu saat dia kembali. Tak hanya hatimu yang hancur, tapi jiwa ragamu ikut mati."
Paham akan perasaan juniornya yang satu ini, Bang Rico menahan amarah tersebut dan mencoba menenangkannya.
"Saya dekat dan berniat menikahi Anye bukan untuk mengambil alih tempat Bang Rinto, tapi untuk melindungi mereka berdua. Selama Bang Rinto belum kembali, saya yang akan menjadi pelindungnya. Jika memang suatu saat nanti Bang Rinto pulang, saya siap menghadapi kemarahan dan rada kecewanya dari keputusan saya. Saya hanya tidak ingin Anye dan anak dalam kandungannya menjadi bahan pembicaraan yang tidak baik di mata orang yang tidak tepat." jawab Bang Ali tegas.
Di sudut halaman, Anye berdiri memegang perutnya yang mulai membulat. Ia mendengar sebagian percakapan itu dari jauh. Air matanya kembali menetes, tapi kali ini bukan karena kesedihan. Ia melihat Bang Ali yang berani menanggung bebas rahasia besar demi dirinya. Di hatinya, bayangan Bang Rinto masih tetap ada, namun kehadiran Bang Ali yang sabar dan tulus mulai menempati ruang yang berbeda.
//
Bang Rinto kini sudah bisa berjalan perlahan menuju pintu, mengintip ke arah halaman tempat Mauria sedang menumbuk bahan herbal di atas lumpang berukuran sedang. Terasa nyata tubuhnya jauh lebih bugar sejak ia berhenti meminum ramuan itu. Ia menyimpan rasa curiga yang semakin besar.
"Mauri.." Sapa Bang Rinto seolah tidak terjadi apapun disana.
"Abang??? Sekarang sudah bisa menggerakan otot kaki??? Tidak lemas lagi??" Tanyanya penuh dengan pertanyaan. Raut wajahnya seakan takjub melihat perubahan besar yang terjadi pada Bang Rinto.
"Tubuh saya terasa lebih nyaman sekarang, entah mulai kapan." Jawab Bang Rinto. "Mauriii.. Apakah obat yang saya minum ini memang bisa menyembuhkan?? Atau mungkin........ Malah mematikan???"
Sudut ceria dari wajah Mauria kini menghilang seolah tanpa jejak. Ia menatap wajah Bang Rinto. "Ada banyak hal yang Abang tidak tau. Luasnya hutan belantara yang tenang ini bisa sangat mematikan. Medan terjal, tanaman rahasia serta penghuninya, mungkin banyak yang tidak bersahabat."
Bang Rinto yang jelas seorang tentara tentu sangat paham dengan kondisi tersebut meskipun bukan menjadi 'penghuni' dalam waktu yang cukup lama.
"Sekarang cepat minum, biar Abang lebih sehat..!!"
Bang Rinto mengambil gelas itu, tapi tangannya tidak langsung membawanya ke bibir. "Kau bilang saya bebas pergi. Tapi kenapa setiap kali saya meminum ramuan ini, kaki saya terasa berat seperti menancap di atas tanah? Apa kau takut saya pergi dan melupakan tempat ini?"
Mauria terdiam sejenak, matanya menatap jauh ke pepohonan. "Aku hanya takut kehilangan teman. Sejak lama aku sendirian di sini. Tapi jika hatimu memang harus pulang karena ada anak istri yang menunggu, aku tidak akan menahanmu selamanya. Minumlah untuk hari ini saja. Besok... mungkin kamu bisa mencoba berjalan lebih jauh."
Bang Rinto menatap cairan pekat di dalam gelas batok tersebut. Rasa curiga masih membara.
"Sejujurnya aku paham dunia di luar sana. Aku hanya tidak paham kenapa kamu tidak berniat beristri dua, padahal aku tidak akan bertengkar dengan istrimu. Aku tau, aku yang kedua bagimu. Dia tidak perlu takut, meskipun aku yang menemani tidurmu, seluruh harinya bisa bersamamu." Ujar Mauria.
Tekad Bang Rinto untuk menempuh perjalanan pulang semakin bulat. Dengan perlahan, ia meneguk sebagian ramuan itu, matanya tak lepas dari Mauria yang kini memunggunginya, seolah menyembunyikan raut wajah yang sulit diartikan.
Saat Mauria berjalan menjauh, ia membuang cairan dari mulutnya di sekitar tungku api lalu menutupnya dengan abu.
'Ringan saja kau bicara. Sebaiknya kau banyak berdo'a biar kepalamu tetap pada tempatnya. Istri yang normal bisa menggorok kepalamu mendengar aturanmu.'
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu
💪💪