NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Bintang

Istri Rahasia Sang Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Dokter
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sinar matahari pagi Jakarta yang mulai menyengat tidak menyurutkan semangat Selena Nayumi. Dengan setelan kasual namun tetap elegan, ia memacu mobilnya membelah jalanan menuju kawasan segitiga emas, tempat apartemen penthouse Elvano Alvendra berdiri megah.

Sejak semalam, jantungnya tidak bisa tenang. Perjodohan ini terasa seperti mimpi buruk yang dipaksakan, namun sisi profesionalnya sebagai dokter gizi tetap menuntutnya untuk hadir. Elvano sudah mendaftarkan identitasnya di sistem keamanan gedung sebagai 'istri'. Sebutan itu masih terasa asing dan sedikit menyesakkan di dada Selena, apalagi mengingat akses masuk ke gedung ini lebih ketat daripada protokol kesehatan rumah sakit.

Setibanya di lobi yang didominasi marmer Italia dan aroma parfum ruangan yang mahal, Selena duduk di salah satu sofa beludru. Ia mengeluarkan ponselnya, jemarinya sedikit gemetar saat mengetik pesan.

(Selena: Aku sudah di lobi.)

(Elvano: Tunggu di sana. Aku turun menjemputmu.)

Tak butuh waktu lama hingga pintu lift khusus terbuka. Sosok pria dengan tinggi 185 cm melangkah keluar. Elvano pagi ini tampak berbeda; tanpa riasan panggung, tanpa tuksedo mahal, hanya mengenakan kaus hitam polos yang pas di tubuh atletisnya dan celana kain santai. Namun, aura "mahal" dan sulit ditebak itu tetap terpancar kuat.

Selena berdiri, menyambutnya dengan senyuman hangat—senyum "Dr. Sunshine" yang biasa ia berikan pada pasiennya agar mereka merasa nyaman. Elvano berhenti tepat di depan Selena, menatapnya lamat-lamat sebelum membalas dengan senyuman tipis yang sangat khas, jenis senyum yang biasanya membuat penggemarnya histeris di konser.

Tanpa sepatah kata pun, Elvano mengulurkan tangan kanannya yang kokoh. Selena sempat ragu sejenak, namun akhirnya ia menyambut uluran tangan itu. Jemari Elvano terasa hangat dan protektif saat mereka berjalan bergandengan menuju lift, melewati tatapan penuh selidik dari resepsionis lobi yang tampak bertanya-tanya siapa wanita beruntung yang bisa menggandeng sang superstar.

Tiba di depan unit penthouse, Elvano tidak langsung membuka pintu. Ia meraih jemari tangan kanan Selena.

"Berikan jarimu," ucap Elvano rendah, suaranya terdengar seperti bisikan personal.

Selena menurut saat Elvano menempelkan jempolnya ke mesin pemindai sidik jari. "Sekarang, tempat ini juga milikmu. Password-nya adalah tanggal lahir Oma, kau harus mengingatnya," tambah Elvano lagi.

Begitu pintu terbuka, Selena terpukau. Apartemen itu sangat luas dengan langit-langit tinggi, namun desainnya sangat maskulin; dominasi warna abu-abu arang, kayu gelap, dan aksen logam. Meski terkesan dingin, ada rasa hangat yang aneh, mungkin karena pencahayaan alami yang masuk melalui jendela kaca raksasa.

"Mau sarapan sekarang?" tanya Selena, mencoba mencairkan kecanggungan.

"Boleh. Aku sudah meminta asistenku mengisi kulkas kemarin sesuai daftar yang kamu kirim," jawab Elvano sambil mengedikkan dagunya ke arah dapur yang sangat modern.

Selena membuka kulkas dua pintu itu dan sedikit terkejut. Tidak ada lagi tumpukan makanan instan atau botol soda. Isinya kini penuh dengan sayuran hijau segar, daging wagyu berkualitas, buah-buahan beri, dan berbagai bahan organik lainnya.

"Wah, kamu benar-benar patuh ya, Tuan Bintang," goda Selena sambil mulai mengeluarkan bahan masakan. Ia menoleh ke arah Elvano yang berdiri tak jauh darinya.

"Apa kamu mau membantuku?"

Elvano menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit ragu. "Memang boleh? Aku tidak mau merusak resep dokter gizi."

Selena tertawa renyah, tawa yang membuat kerutan di dahi Elvano sedikit mengendur. "Tentu saja boleh! Tidak ada larangan bagi CEO untuk memegang pisau dapur. Sini, bantu aku mencuci brokoli dan memotong tomat ini."

Pagi itu, suasana di dapur penthouse yang biasanya sunyi menjadi hidup. Elvano, sang penyanyi solois global yang biasanya memegang mikrofon di depan puluhan ribu orang, kini tampak canggung namun tekun mencuci sayuran. Selena memberikan instruksi-instruksi kecil dengan sabar, sesekali mereka bersinggungan lengan yang menciptakan percikan aneh di hati keduanya.

Setelah tiga puluh menit, sepiring omelet putih telur dengan bayam, salmon panggang, dan salad segar sudah tertata rapi. Mereka membawa piring-piring itu ke balkon luar yang terhubung langsung dengan area dapur.

Dari balkon lantai paling atas itu, Jakarta tampak seperti miniatur di bawah kaki mereka. Angin pagi yang sejuk menerpa wajah saat mereka mulai menyantap sarapan dalam keheningan yang nyaman.

"Masakanmu... benar-benar berbeda. Jauh lebih enak daripada katering sehat yang biasa kupesan," puji Elvano tulus setelah suapan pertama.

Selena tersenyum bangga. "Tentu saja, karena ini dibuat dengan ilmu medis dan... sedikit perhatian."

Elvano menatap Selena dalam-dalam. Di balik senyum ceria wanita di depannya, ia bisa merasakan ada kelelahan yang disembunyikan. Ia juga tahu Selena memiliki trauma masa lalu dengan dunia artis, sebuah rahasia yang ia temukan dari riset diam-diamnya.

**

Setelah piring-piring bersih dari sisa sarapan sehat buatan Selena, suasana yang tadinya canggung perlahan mencair menjadi percakapan yang lebih hangat. Elvano menyesap kopi hitamnya tanpa gula, matanya yang tajam menatap Selena dengan rasa ingin tahu yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.

“Data live streaming kamu sangat stabil, jangkauannya luas. Sejak kapan kamu mulai fokus di dunia itu?” tanya Elvano. Suaranya rendah, terdengar seperti sedang mewawancarai artis potensial untuk agensinya, namun ada nada kekaguman yang terselip di sana.

Selena tersenyum kecil, matanya berbinar saat membicarakan passion-nya. “Sebenarnya sejak aku merasa edukasi kesehatan tidak cukup hanya dilakukan di balik meja periksa rumah sakit,” jawabnya pelan. “Aku ingin menjangkau mereka yang mungkin takut ke dokter, atau mereka yang menganggap gizi itu rumit. Banyak orang hanya peduli pada rasa enak di lidah tanpa sadar mereka sedang menabung penyakit untuk masa depan. Aku ingin ilmu yang kupelajari bisa bermanfaat secara nyata di dapur mereka masing-masing.”

Elvano mengangguk pelan, jemarinya mengetuk meja marmer itu dengan ritme yang tenang. “Kamu sangat mahir menggunakan pisau dan mengolah bumbu. Apa kamu mengambil kursus khusus?”

Selena tertawa renyah, tawa yang membuat suasana apartemen yang dingin itu terasa lebih hidup. “Iya, aku kursus memasak, bahkan kursus pastry juga. Aku ingin membuktikan kalau kue sehat itu tidak harus terasa hambar atau membosankan. Aku bereksperimen dengan resep-resepku sendiri sampai menemukan rasa yang pas.”

“Kenapa tidak buka bisnis katering sehat atau bakery? Dengan jutaan pengikutmu, itu akan menjadi mesin uang yang besar,” Elvano bertanya, insting CEO-nya mulai bicara.

Selena menggeleng pelan, senyumnya kali ini terasa lebih tulus. “Uang memang penting, tapi berjualan bukan passion utamaku untuk saat ini. Aku lebih bahagia melihat orang berkomentar kalau gula darah mereka stabil setelah mengikuti resep gratisku. Aku ingin memberikan sesuatu yang bisa mereka terapkan tanpa harus membayar mahal.”

Elvano terdiam. Di dunianya yang penuh dengan kontrak, angka, dan popularitas yang bisa dibeli, ketulusan Selena terasa seperti oase yang asing. Ia terbiasa melihat orang yang mendekatinya hanya untuk keuntungan, tapi wanita di depannya ini seolah memiliki dunia yang berbeda.

Saat mereka sedang asyik bertukar pikiran dan mulai menyelami kepribadian masing-masing, suara pintu apartemen yang terbuka memecah keheningan. Langkah kaki yang terburu-buru terdengar mendekat.

Darian, manajer sekaligus tangan kanan Elvano, muncul di ruang makan dengan setumpuk dokumen di tangan. Langkahnya mendadak terhenti, matanya membelalak saat melihat Selena duduk santai di depan Elvano dengan sisa sarapan di meja.

“Astaga, El! Jadi ini alasan kamu minta jadwal pagimu diundur?” Darian berseru, suaranya naik satu oktav. Ia langsung merapikan jasnya dan membungkuk sopan ke arah Selena. “Maafkan ketidaksopanan saya, Dokter Selena. Saya Darian, manajer Elvano. Senang akhirnya bisa bertemu secara resmi dengan calon nyonya besar Zenithra Entertainment.”

Selena berdiri dan menyambut uluran tangan Darian dengan ramah. “Senang bertemu Anda, Tuan Darian. Apa Elvano sudah harus berangkat kerja? sepertinya jadwalnya sangat padat hari ini.”

Darian melirik jam tangannya dengan gelisah. “Benar, Dokter. Ada rapat produksi film dan latihan vokal untuk konser Singapura. Kita harus sampai di kantor dalam tiga puluh menit. Oh, ya panggil Darian saja tidak perlu tuan.”

Selena mengangguk mengerti, lalu menoleh ke arah Elvano. “Kalau begitu, aku juga harus pamit. Aku ada jadwal visite di rumah sakit satu jam lagi. Terima kasih untuk sarapannya, Elvano.”

“Aku akan mengantarmu,” ucap Elvano singkat sambil bangkit berdiri.

Selena menggeleng cepat. “Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri hari ini. Lagipula kantormu berlawanan arah dengan rumah sakit.”

Bukannya menjawab, Elvano justru melangkah mendekat dan menengadahkan telapak tangan kanannya tepat di depan Selena. Wajahnya datar, auranya tenang namun absolut, tipe ekspresi yang membuat bawahannya tidak berani membantah.

Selena mengerutkan kening, bingung. “Apa?”

“Kunci mobilmu,” jawab Elvano pendek.

Selena tertegun. “Tapi aku bisa menyetir sendiri.”

“Beri aku kuncinya, Selena. Aku yang menyetir mobilmu, dan Darian akan mengikuti kita dari belakang menggunakan mobilku. Setelah sampai di rumah sakit, Darian akan menjemputku di sana untuk langsung ke kantor.”

Selena menatap Elvano lalu beralih ke Darian yang hanya bisa mengangkat bahu, memberi kode bahwa berdebat dengan Elvano adalah kesia-siaan. Elvano jarang sekali ingin menyetir mobil orang lain, apalagi mobil biasa yang bukan koleksi mewahnya.

“Baiklah,” gumam Selena pasrah sambil meletakkan kunci mobilnya di telapak tangan Elvano.

Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat berbeda bagi Selena. Duduk di kursi penumpang sementara bintang besar sekelas Elvano Alvendra menjadi supir pribadinya adalah hal yang tidak pernah ada dalam bayangannya. Di belakang mereka, mobil mewah Elvano yang dikendarai Darian setia mengekor.

Setibanya di lobi utama rumah sakit, Elvano menghentikan mobil dengan sangat halus. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan menoleh ke arah Selena. Sebelum Selena sempat membuka pintu, Elvano meraih pergelangan tangan Selena pelan.

“Ingat, jangan lewatkan makan siangmu sendiri hanya karena sibuk mengurus gizi orang lain,” ucap Elvano, matanya menatap dalam ke netra Selena.

Selena tersenyum hangat. “Aku mengerti. Terima kasih sudah mengantarku, El.”

Selena keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk rumah sakit. Namun, baru beberapa langkah, ia merasakan suasana yang aneh. Beberapa perawat dan pengunjung rumah sakit berhenti berjalan dan menatap ke arah mobilnya dengan mulut terbuka.

Selena menoleh ke belakang dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Elvano tidak langsung pergi. Pria itu menurunkan kaca mobil, melepas kacamata hitamnya, dan melambaikan tangan dengan senyum tipis yang sengaja ia tujukan pada Selena di depan publik.

Di saat yang sama, ponsel Selena bergetar hebat. Sebuah notifikasi dari grup WhatsApp rumah sakit muncul di layar: “Dokter Selena! Siapa pria tampan yang mengantar Dokter? Bukankah itu Elvano Alvendra?!”

Selena panik, ia segera masuk ke dalam gedung. Tanpa memperdulikan lambaian tangan Elvano.

***

1
Sri Murtini
elvano kau benar " cinta ya bukan akting
Sri Murtini
Elfano jatuh cinta se jatuh"nya dipelukan kekasih hati. ternyata tidak selamanya perjodohan itu berdampak buruk.... ini memang ketemu pasangan sejatì
Penta Ning Thiyas
luar biasa
Penta Ning Thiyas
karyamu selalu keren.. dan nagih😍👍 semangat kak
Hugo Hamish
kak up dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!