NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Tujuh hari telah berlalu sejak tanah merah itu masih basah menimbun raga Kirana. Di rumah keluarga Ziva, aroma bunga kamboja dan sisa-sisa air mawar masih tercium samar, beradu dengan sunyi yang mencekam. Tidak ada lagi tawa Kirana yang biasanya memenuhi ruang makan, tidak ada lagi perdebatan kecil tentang siapa yang harus mencuci piring. Yang tersisa hanyalah Ziva yang mengurung diri di kamar, menatap baju kerja yang baru saja ia beli—baju yang seharusnya ia pamerkan pada kakaknya.

Namun, sore itu, Ayah dan Bunda memintanya duduk di ruang tamu. Wajah mereka terlihat sangat lelah, namun ada gurat ketegasan yang tak biasa.

"Ziva," Ayah membuka suara, suaranya berat dan serak. "Pihak keluarga Baskara sudah datang tadi pagi saat kamu masih tidur."

Ziva hanya menunduk, memainkan ujung jemarinya. Mendengar nama Baskara saja sudah membuat dadanya berdenyut perih. "Mau apa lagi mereka, Yah? Belum puas mereka ngancurin keluarga kita?"

Ayah dan Bunda saling berpandangan. Bunda menghela napas panjang, matanya kembali berkaca-kaca saat menggenggam tangan Ziva. "Undangan sudah disebar, Ziv. Hampir seribu orang. Gedung, katering, semua sudah lunas. Nama baik keluarga besar kita dan keluarga Baskara jadi taruhannya kalau pernikahan ini batal begitu saja."

Ziva mengerutkan kening, jantungnya mulai berpacu tidak beraturan. "Maksud Bunda apa? Pernikahan siapa yang batal? Kak Kirana udah nggak ada, Bun! Ya otomatis batal!"

Ayah berdehem, mencoba menstabilkan suaranya. "Pernikahan akan tetap dilaksanakan dua minggu lagi... dengan kamu sebagai penggantinya, Ziva."

Kata-kata itu menghantam Ziva lebih keras daripada berita kecelakaan itu sendiri. Ia terlonjak berdiri, matanya membelalak tidak percaya. "Ayah... Bunda... kalian bercanda, ya? Ini nggak lucu sama sekali!"

"Ziva, duduk dulu," perintah Ayah tenang.

"Nggak! Aku nggak mau duduk!" teriak Ziva. Suaranya melengking tinggi, bergema di ruangan yang sepi itu. "Aku baru saja kehilangan kakak aku karena dia! Karena kelalaian dia! Kenapa sekarang jadi aku yang keseret harus nikah sama pembunuh itu?! Kalian mau aku tidur seranjang sama orang yang udah ngebunuh anak kalian sendiri?!"

Bunda menangis, menutupi wajahnya dengan tangan. "Ziva, ini demi kebaikan bersama. Kita nggak mungkin membatalkan, Nak. Malu kita mau ditaruh di mana? Keluarga Baskara juga memohon, mereka mau bertanggung jawab menjaga kamu sebagai ganti Kirana."

"Tanggung jawab?!" Ziva tertawa sumbang, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Dia bukan mau tanggung jawab, dia cuma mau cuci tangan! Dia mau ngerasa nggak berdosa dengan cara nikahin adik korbannya? Murahan banget!"

"Ini sudah keputusan dua keluarga, Ziv. Ayah sudah mengiyakan," ucap Ayah dengan nada final yang tidak bisa dibantah.

Ziva merasa dunianya kembali runtuh untuk kedua kalinya dalam satu minggu. Ia menatap Ayah dengan pandangan benci sekaligus kecewa. "Dan si Baskara itu mau?! Dia setuju?! Dia nggak punya urat malu sama sekali? Aku harus seumur hidup sama si pembunuh itu?!"

"Baskara menerima keputusan ini, Ziva. Dia merasa ini satu-satunya cara untuk menebus kesalahannya pada almarhumah Kirana," jelas Bunda sambil mencoba meraih bahu Ziva, namun Ziva menepisnya dengan kasar.

"Menebus kesalahan dengan cara menghancurkan hidup aku juga?" suara Ziva melemah, berubah menjadi isakan yang dalam. "Kalian tega... Kak Kirana pasti sedih di sana liat adiknya dijadiin tumbal buat nutupin rasa malu kalian."

Ziva berlari masuk ke kamarnya, membanting pintu dengan keras dan menguncinya dari dalam. Ia melemparkan dirinya ke atas tempat tidur, memeluk bantal milik Kirana yang masih menyisakan wangi parfum kakaknya. Ia menangis sejadi-jadinya sampai dadanya terasa sesak.

Pikirannya melayang pada sosok Baskara yang tempo hari ia maki di rumah sakit. Bayangan pria itu memegang kemudi mobil yang merenggut nyawa Kirana terus berputar di kepalanya. Bagaimana mungkin ia harus bersanding di pelaminan dengan pria yang paling ia benci di dunia ini? Bagaimana mungkin ia harus mencium tangan pria yang ia anggap sebagai penyebab kematian kakaknya?

"Kak... tolong aku..." gumam Ziva di balik bantal.

Di luar kamar, ia mendengar suara Ayah dan Bunda yang masih berbisik, kemungkinan sedang membahas teknis perubahan nama pada undangan yang sudah terlanjur dicetak. Ziva merasa seperti barang dagangan yang dipindahtangankan hanya demi menjaga martabat keluarga.

Ziva bangkit, matanya yang sembap menatap cermin riasnya. Ia melihat pantulan dirinya yang hancur. Ia teringat janji Kirana yang ingin melihatnya memakai baju kerja pertama kali. Sekarang, alih-alih baju kerja, ia justru dipaksa memakai gaun pengantin milik kakaknya—gaun yang dirancang untuk kebahagiaan Kirana, namun kini akan menjadi kain kafan bagi kebahagiaan Ziva sendiri.

Rasa benci pada Baskara kini berubah menjadi dendam yang dingin. Jika pernikahan ini adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ia hindari, maka Ziva bersumpah tidak akan pernah membiarkan hidup Baskara tenang. Jika ia harus menghabiskan sisa hidupnya dengan seorang "pembunuh", maka ia akan memastikan pria itu merasakan neraka setiap harinya di dalam rumah mereka nanti.

***

Sore itu, mendung menggantung rendah di langit Jakarta, seolah ikut merasakan hawa dingin yang menyelimuti teras belakang rumah keluarga Ziva. Di sana, duduk dua insan yang seharusnya menjadi ipar, namun kini dipaksa takdir untuk menjadi calon pengantin.

Baskara duduk mematung dengan kepala tertunduk. Wajahnya yang dulu tampak cerah dan penuh wibawa, kini terlihat kusam. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia pun tidak melewati malam-malamnya dengan tenang. Ia datang membawa kotak beludru merah berisi cincin yang seharusnya melingkar di jari Kirana.

Ziva duduk di hadapannya, namun ia tidak menatap Baskara sebagai calon suami. Ia menatap pria itu dengan binar kebencian yang murni. Ia melipat tangan di dada, punggungnya tegak, seolah sedang melakukan negosiasi bisnis yang paling dingin dalam hidupnya.

"Gue mau ngajuin syarat buat lo," suara Ziva memecah keheningan. Dingin dan menusuk. Ia sengaja menanggalkan panggilan 'Kak Bas' yang dulu akrab di telinganya, menggantinya dengan kata 'lo' yang kasar sebagai bentuk pemutus hubungan emosional.

Baskara mendongak, matanya yang sayu menatap Ziva dengan rasa bersalah yang teramat dalam. "Ziva, apa pun yang kamu mau, aku bakal turuti. Aku tahu aku salah—"

"Berhenti minta maaf. Maaf lo nggak bakal bawa Kak Kirana balik dari liang lahat," potong Ziva cepat, nadanya tajam seperti sembilu. "Dengerin baik-baik karena gue nggak bakal ngulangin ini dua kali."

Ziva mengeluarkan secarik kertas yang sudah ia tulis sebelumnya. Ia meletakkannya di atas meja kayu di antara mereka.

"Pertama. Pernikahan ini cuma formalitas. Gue nggak mau sekamar sama orang yang udah bunuh kakak gue. Gue bakal tidur di kamar tamu atau kamar mana pun, asal bukan satu ranjang sama lo. Gue nggak sudi harus bangun tidur dan liat muka orang yang bikin kakak gue meninggal."

Baskara terdiam, ia menelan ludah dengan susah payah. "Ziva, tapi orang tua kita—"

"Gue nggak peduli sama sandiwara apa pun di depan mereka," sela Ziva lagi, matanya menyipit. "Itu urusan lo buat nyari alasan ke mereka. Kalau lo nggak sanggup, mending kita batalin sekarang juga."

Baskara menghela napas pasrah, lalu mengangguk pelan. "Oke. Terus?"

"Kedua," Ziva melanjutkan, suaranya sedikit bergetar namun tetap penuh penekanan. "Kita nikah cuma satu tahun. Setelah itu... cerain gue. Biar gue bisa lanjutin hidup tanpa bayang-bayang pembunuh kayak lo. Gue nggak mau terjebak selamanya dalam pernikahan terkutuk ini hanya demi 'nama baik' keluarga yang nggak masuk akal itu."

Hati Baskara terasa mencelos. Setahun. Ia tahu Ziva membencinya, tapi mendengar kata 'cerai' bahkan sebelum mereka mengucap janji suci rasanya seperti hukuman mati yang ditunda. "Satu tahun, Ziva? Apa itu nggak terlalu cepat? Bagaimana kalau Ayah dan Bunda tanya?"

"Itu masalah lo, bukan masalah gue!" bentak Ziva, membuat burung-burung di pohon sekitar terkejut terbang. "Lo yang harus mikirin caranya supaya mereka setuju. Gue cuma mau kebebasan gue balik setelah satu tahun gue jadi tumbal buat keluarga lo!"

Ziva menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya yang meluap-luap. Ia menunjuk poin ketiga di kertas itu.

"Ketiga. Jangan pernah sentuh gue. Kita pisah kamar, dan lo jangan pernah berani masuk ke ruang pribadi gue tanpa izin. Urusin urusan masing-masing. Jangan berharap gue bakal jadi istri yang nyiapin kopi atau nungguin lo pulang kerja. Di rumah itu nanti, kita orang asing."

Baskara menatap kertas itu dengan pandangan kosong. Syarat-syarat itu bukan seperti perjanjian pernikahan, melainkan sebuah pakta gencatan senjata di tengah perang yang tidak akan pernah berakhir.

"Ziva, aku terima semua syarat kamu," ucap Baskara lirih. "Aku sadar aku nggak punya hak untuk nuntut apa pun dari kamu setelah apa yang terjadi sama Kirana. Aku bakal jalani ini sebagai bentuk penebusan dosa aku."

Ziva tertawa sinis, sebuah suara yang terdengar menyakitkan di telinga. "Penebusan dosa? Jangan sok pahlawan. Lo lakuin ini karena lo pengecut yang nggak berani nolak kemauan orang tua lo. Kalau lo emang jantan, harusnya lo tolak perjodohan gila ini!"

Ziva berdiri dari kursinya, menatap Baskara dari ketinggian dengan tatapan merendahkan.

"Itu syarat dari gue. Fyi, gue nggak suka dibantah. Jadi kalau lo mau protes atau merasa syarat ini berat, mending nggak usah nikah sekalian biar keluarga lo malu sekalian! Biar semua orang tahu kalau anak kebanggaan mereka ini bukan cuma pembunuh, tapi juga pengecut!"

Baskara hanya bisa terdiam membisu. Ia tidak membela diri. Setiap kata-kata kasar yang keluar dari mulut Ziva ia terima layaknya cambukan yang memang pantas ia dapatkan. Ia melihat Ziva melangkah pergi meninggalkan teras, meninggalkannya sendirian dalam kehampaan.

Ziva masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan. Di dalam kamarnya, ia langsung mengunci pintu dan merosot ke lantai. Air matanya pecah lagi. Ia benci harus bersikap sekeras itu, tapi ia lebih benci pada kenyataan bahwa ia harus menikah dengan pria itu.

Setiap kali ia melihat wajah Baskara, ia selalu teringat pada senyum Kirana yang memudar di hari kecelakaan itu. Ia teringat pada janji-janji masa depan yang hancur berkeping-keping di jalan tol KM 92.

"Maafin Ziva, Kak..." bisiknya sambil memeluk lutut. "Ziva harus ngelakuin ini. Ziva nggak bisa biarin dia hidup bahagia seolah-olah dia nggak pernah ngelakuin kesalahan apa pun."

Pernikahan yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi seorang wanita, bagi Ziva kini tak lebih dari awal masa tahanan. Ia sudah menyiapkan diri untuk menjadi sipir penjara bagi Baskara, sekaligus menjadi tawanan bagi dendamnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!