dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Dino
Tentu, ini kelanjutan ceritanya dengan penambahan detail Laras menyobek kain untuk membalut kaki Dino yang terluka:
Besok paginya, aku membawa keranjang itu ke pasar tradisional di pusat kota. Biasanya, aku hanya menjual kerajinanku di warung kecil milik tetangga dekat rumah, tapi hari ini aku memberanikan diri untuk pergi lebih jauh. Aku ingin melihat apakah ada orang yang benar-benar tertarik dengan karyaku, bukan hanya sekadar basa-basi.
Aku mencari tempat yang agak terbuka di pinggir pasar, meletakkan kain batik tua di tanah, lalu menaruh keranjang rotan kecil itu di tengahnya. Aku duduk bersila di belakangnya, jantungku berdebar sedikit. Orang-orang berlalu lalang, ada yang melirik sekilas, ada yang terus berjalan tanpa menoleh. Aku mencoba tetap tenang, meski rasa cemas mulai merayap—apakah Budenya benar? Apakah tidak ada yang mau membelinya?
Sekitar satu jam berlalu, belum ada satu pun orang yang berhenti. Aku sudah hampir putus asa, berpikir untuk membereskan barang dan pulang saja. Tiba-tiba, sepasang sepatu kulit berhenti tepat di hadapanku. Aku mengangkat kepala, melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi dan senyum yang hangat. Dia menatap keranjang rotanku dengan mata yang berbinar.
"Keranjang yang sangat indah, Nak," katanya dengan suara lembut. "Kamu yang membuatnya sendiri?"
Aku mengangguk pelan, sedikit terkejut. "Iya, Bu. Saya yang buat sendiri dari rotan yang saya ambil di hutan."
Wanita itu berjongkok, memegang keranjang itu dengan hati-hati, memeriksa pola anyamannya dan tekstur rotannya. "Pengerjaannya sangat telaten. Polanya unik, dan warnanya alami ini sangat cantik. Saya suka sekali barang-barang buatan tangan yang punya cerita."
Dia menoleh padaku lagi. "Saya mau beli ini. Berapa harganya, Nak?"
Mataku terbelalak sedikit. Aku menyebutkan harga yang aku pikir wajar, tidak terlalu mahal tapi cukup untuk menutupi biaya hidupku beberapa hari. Wanita itu langsung mengeluarkan dompetnya dan memberikan uangnya tanpa tawar-menawar. Dia bahkan memberikan sedikit lebih banyak dari harga yang aku sebutkan.
"Ini untuk kamu, sebagai tanda penghargaan atas kerja kerasmu," katanya sambil tersenyum. "Teruslah berkarya, ya. Kamu punya bakat yang luar biasa."
Aku menerima uang itu dengan tangan gemetar, rasa bahagia yang luar biasa memenuhi dadaku. Aku mengucapkan terima kasih berkali-kali, sampai wanita itu tertawa kecil dan melambaikan tangan sebelum pergi.
Setelah wanita itu pergi, aku masih duduk di sana, menatap uang di tanganku dan tempat di mana keranjang itu tadi berada. Rasanya seperti mimpi. Bukan hanya karena uangnya, tapi karena ada seseorang yang benar-benar menghargai karyaku, seseorang yang melihat nilai di dalam apa yang aku buat.
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar di sebelahku dengan nada antusias. "Laras! Benar kan kamu Laras? Aku yakin sekali itu kamu!"
Aku menoleh kaget dan melihat seorang pria muda dengan kemeja flanel dan celana jeans, tersenyum lebar sambil menatapku dengan mata berbinar. Aku mengerutkan kening, mencoba mengingat di mana aku pernah melihat wajah itu. Dia terlihat akrab, tapi aku belum bisa menempatkan ingatanku dengan tepat.
"Kamu... kenal aku?" tanyaku pelan, sedikit bingung.
Pria itu tertawa renyah, lalu mengangguk cepat. "Tentu saja kenal! Bagaimana mungkin aku lupa wajahmu? Kamu Laras, kan? Tinggal di gang kecil dekat jalan utama, rumahnya ada pohon mangga di depan?"
Aku mengangguk perlahan, semakin heran. "Iya, betul. Tapi..."
"Itu dia! Aku Dino," potongnya cepat, matanya semakin cerah. "Dulu, aku sering lewat gang di depan rumahmu. Ingat nggak? Suatu sore aku terpeleset di jalanan licin karena habis hujan, terus nabrak batu besar di ujung gang. Kaki aku bengkak banget, warnanya kebiruan, dan rasanya nyut-nyutan sekali sampai aku nggak bisa berdiri sama sekali. Aku panik banget waktu itu, nggak tahu harus ngapain. Waktu kamu lihat, aku terus kamu berusaha menolongku. Aku ingat banget, kamu cari sesuatu yang bisa menolongku. terus kamu nemuin baju bekas di sekitarku. kemudian kamu sobek baju itu buat membalut kaki ku supaya agak tenang dan nggak terlalu sakit sebelum aku pulang. Kamu juga mencari daun pisang untuk alas kaki ku supaya tidak kotor iya kan?"
Mendengar penuturannya, ingatan itu tiba-tiba muncul dengan jelas di kepalaku. Oh, iya! Itu kejadian beberapa tahun yang lalu. Seorang anak muda yang terjatuh di gang dekat rumahku, kakinya terlihat sangat sakit, bengkak besar dan memar. Aku memang pernah menolongnya. jadi itu dia.