"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Bima Naik Kelas
...GAMON...
...Bab 8: Bima Naik Kelas...
...POV Bima...
---
Empat Bulan Sejak Putus
Waktu berjalan aneh bagi Bima.
Di satu sisi, rasanya baru kemarin dia duduk di angkringan itu, mendengar kata-kata Keana yang menghancurkan. Di sisi lain, rasanya sudah bertahun-tahun dia hidup tanpa dia—tanpa nunggu pesan balasan, tanpa mikirin bekal, tanpa ngerasa cemas kalau Keana nggak bales.
Empat bulan.
Dalam empat bulan, dia berubah lebih banyak daripada empat tahun terakhir.
---
Pagi Ini – Pukul 05.00
Alarm bunyi. Bima buka mata. Refleks.
Dulu, jam segini dia bangun dengan satu tujuan: masak buat Keana. Sekarang dia bangun dengan satu tujuan: masak buat masa depannya sendiri.
Lari. Mandi. Sarapan. Berangkat.
Rutinitas yang dulu terasa berat, sekarang jadi candu. Karena di setiap langkah, di setiap tetes keringat, dia merasa hidup.
Dia berdiri di depan cermin. Badan mulai berubah. Dulu, dia lihat cermin dan yang dia lihat adalah cowok biasa yang nggak akan pernah cukup buat Keana. Sekarang?
Dia lihat pria yang sedang dalam proses. Dan proses itu indah.
---
Pukul 08.30 – Kantor
Bima duduk di meja kerja. Dua bulan terakhir, performanya naik drastis. Target tercapai. Klien puas. Atasan mulai melirik.
Doni duduk di sampingnya, bawa dua gelas kopi.
"Lo tahu nggak, orang-orang mulai ngomongin lo."
Bima angkat alis. "Ngomongin apa?"
"Ngomongin 'Bima yang dulu' sama 'Bima yang sekarang'." Doni nyruput kopinya. "Dulu lo tuh kayak... latar belakang. Sekarang lo jadi foreground."
Bima tersenyum. "Kata siapa?"
"Kata semua." Doni tatap dia. "Dan gue setuju. Lo berubah, Bim. Nggak coba-coba. Tapi beneran."
Bima diem. Dia tahu Doni bener.
Tapi perubahan ini bukan sulap. Ini hasil dari empat bulan nggak tidur, empat bulan belajar, empat bulan nolak ajakan nongkrong, empat bulan milih kursus online daripada rebahan.
Dan hasilnya mulai keliatan.
---
Pukul 12.00 – Ruang Meeting
Rapat besar. Direktur utama hadir. Semua tegang.
Bima duduk di pojok. Biasanya, dia cuma pendengar. Tapi hari ini, Manajernya minta dia presentasi.
"Bima, tolong jelaskan strategi untuk Q3."
Bima berdiri. Jantung berdetak kencang. Tapi dia ingat kursus public speaking-nya. Dia ingat latihan di depan cermin. Dia ingat kata-kata instrukturnya: "Kunci public speaking bukan ngilangin grogi, tapi ngelatih diri buat tetep jalan meskipun grogi."
Dia tarik napas. Mulai.
Slide demi slide. Data demi data. Suaranya mantap. Matanya menatap satu per satu audiens. Dia nggak cuma bacain, tapi ngomong. Dari hati.
Selesai. Tepuk tangan.
Direktur utama tersenyum. "Bagus, Bima. Saya dengar kamu juga lagi ambil sertifikasi IT?"
"Iya, Pak. Masih proses."
"Bagus. Pertahankan. Anak muda kayak kamu yang perlu kita dorong."
Bima mengangguk. Dadanya hangat.
Doni dari pojok ruangan ngacungin jempol.
---
Sore Hari – Di Kantin
Bima makan sendirian. Bukan karena nggak punya teman. Tapi karena dia lagi baca materi kursus di ponsel.
"Boleh duduk?"
Dia mendongak. Seorang perempuan—nggak dikenal—berdiri di depan mejanya.
"Eh, boleh. Silakan."
Perempuan itu duduk. Usianya sekitar 24-25. Rambut sebahu. Senyum ramah. Bawa nasi bungkus.
"Lo Bima, kan? Dari marketing?"
"Iya. Gue?"
"Rina. Dari HRD." Dia ulurkan tangan. "Baru pindahan dari cabang Surabaya."
Bima jabat tangannya. "Oh, selamat datang."
"Makasih." Rina buka bungkus nasinya. "Gue denger lo tadi presentasi. Keren."
Bima kaget. "Lo lihat?"
"Iya, gue ikut rapat sebagai observer." Rina tersenyum. "Biasanya presentasi kayak gitu bikin ngantuk. Tapi lo... beda."
Bima nggak tahu harus jawab apa. "Ah, makasih."
"Serius." Rina tatap dia. "Lo punya cara ngomong yang... hangat. Nggak kaku. Itu langka."
Bima diem. Pujian itu tulus. Dan entah kenapa, dia ngerasa... aneh. Bukan risih. Tapi dilihat. Sebagai manusia. Bukan sebagai "cowoknya Keana" atau "karyawan biasa".
"Makasih, Rin."
Rina tersenyum. Lalu mereka makan. Ngobrol ringan. Tentang kerja. Tentang Surabaya. Tentang hobi.
Dan untuk pertama kalinya dalam empat bulan, Bima ngobrol sama perempuan lain—tanasa mikirin Keana.
---
Malam Itu – Kost Bima
Bima duduk di meja belajar. Buku catatan lama terbuka. Dia baca ulang apa yang dia tulis bulan-bulan lalu.
---
Hal-hal yang Harus Aku Buktikan:
Aku bukan cuma "predictable".
Aku bisa jadi sesuatu—tanpa dia.
Suatu hari, dia akan lihat. Dan dia akan tahu: dia salah.
---
Dia tatap poin ketiga. Lama.
Dulu, poin itu penting banget. Itu yang bikin dia bangun pagi. Itu yang bikin dia terus belajar. Itu yang bikin dia nggak nyerah.
Tapi sekarang?
Sekarang dia nggak tahu. Apakah dia masih pengen buktiin sesuatu ke Keana? Atau dia udah nggak peduli?
Dia ambil pulpen. Coret poin ketiga.
Lalu dia tulis di bawahnya:
---
Hal-hal yang Baru Aku Pahami:
Perubahan terbesar bukan waktu orang lain lihat. Tapi waktu aku sendiri lihat.
Aku nggak perlu buktiin apa-apa ke dia. Yang perlu aku buktiin ke diri sendiri.
Dan hari ini... aku bangga sama diriku.
---
Dia tutup buku. Senyum.
Di luar, hujan mulai turun. Tapi malam ini, dia nggak sedih. Dia nggak mikirin Keana.
Dia mikirin besok. Rapat lagi. Kerja lagi. Kursus lagi. Hidup lagi.
Dan itu cukup.
---
Jumat Pagi – Di Kantor
Bima lagi di pantry, ngambil air. Dari belakang, suara menyapa.
"Bima, kan?"
Dia menoleh. Rina.
"Oh, Rina. Hai."
"Hai." Rina ngambil air juga. "Lo besok Sabtu libur?"
"Libur. Kenapa?"
"Gue ada acara. Temen gue main band di kafe. Lo mau dateng? Nonton? Sekalian... temenin gue?" Rina tersenyum. Agak malu-malu.
Bima kaget. "Maksud lo?"
Rina ketawa kecil. "Maksud gue... gue ngajak lo nonton. Sebagai temen. Atau... apa pun lo mau sebutnya." Dia tatap Bima. "Lo nggak harus iya. Tapi gue coba aja."
Bima diem. Mikir.
Ini pertama kalinya ada perempuan ngajak dia—sejak putus dari Keana.
Dan yang aneh: dia nggak takut. Nggak khawatir. Nggak mikir "ini bakal ke mana".
Dia cuma... mikir: "kenapa nggak?"
"Boleh," katanya.
Rina matanya berbinar. "Serius?"
"Iya. Kasih tahu jamnya. Gue dateng."
"Makasih, Bim!" Rina senyum lebar. "Gue janji bakal seru."
Dia pergi. Meninggalkan Bima yang masih berdiri di pantry, dengan senyum tipis di wajah.
---
Sabtu Malam – Di Sebuah Kafe
Bima dateng tepat waktu. Kafe kecil, lampu temaram, panggung kecil di pojok. Rina udah nunggu di meja dekat panggung.
"Bim! Sini!"
Bima duduk. Pesan minuman. Mereka ngobrol—ngobrol ringan, nggak ada beban.
Band mulai main. Temennya Rina—vokalisnya cewek, suaranya bagus. Lagu-lagu indie yang nggak asing di telinga.
Rina ikut nyanyi pelan. Matanya ke panggung, sesekali ke Bima.
Di sela lagu, Rina bilang, "Makasih ya udah mau dateng."
"Makasih udah ngajak." Bima jujur. "Gue... udah lama nggak keluar kayak gini."
"Putus?"
Bima kaget. "Lo tahu?"
"Kantor kecil. Gosip cepet nyebar." Rina tersenyum. "Maaf kalo kepo. Tapi... lo udah oke?"
Pertanyaan itu. Sederhana. Tapi nggak ada yang nanya selama ini. Doni nanya, tapi beda. Doni nanya sebagai sahabat. Rina nanya sebagai... manusia yang peduli.
Bima mikir sebentar. Lalu jawab jujur.
"Gue... proses. Masih proses."
"Itu wajar." Rina tatap dia. "Yang penting, lo jalan. Nggak berhenti."
Bima senyum. "Iya."
Band main lagu pelan. Rina ikut nyanyi lagi.
Dan Bima, buat pertama kalinya dalam empat bulan, ngerasa ringan.
Bukan lupa sama Keana. Bukan jatuh cinta sama Rina. Tapi ringan. Karena dia nggak lagi berjalan sendirian.
---
Malam Itu – Dalam Perjalanan Pulang
Rina diantar Bima. Motor. Rina pegang jok belakang, nggak berani megang Bima.
Sampai di kost Rina. Dia turun.
"Makasih, Bim. Seru banget."
"Sama-sama. Makasih udah ngajak."
Rina tersenyum. Mau masuk. Tapi berhenti.
"Bim."
"Hmm?"
"Gue tahu lo masih luka. Gue nggak akan maksa apa-apa." Dia tatap Bima. "Tapi kapan pun lo butuh temen ngobrol, temen jalan, atau temen apa pun... gue ada."
Dia masuk. Meninggalkan Bima di atas motor, dengan senyum yang nggak bisa dia hapus.
---
Minggu Pagi – Kost Bima
Bima bangun. Lari. Mandi. Sarapan.
Tapi hari ini beda. Ada sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan cinta. Bukan juga lupa. Tapi semacam... hangat.
Dia buka ponsel. Chat dengan Rina masih ada. Terakhir, Rina kirim pesan jam 1 tadi malam:
Rina: "Makasih buat malem ini. Tidur nyenyak ya. 🌙"
Bima tatap pesan itu. Lalu dia ngetik.
Bima: "Makasih juga. Lo bikin malem ini berarti."
Dikirim.
Dia taruh ponsel. Lanjut makan.
Tapi di ujung bibir, ada senyum. Tipis. Tapi nyata.
---
Senin Pagi – Kantor
Bima masuk. Di meja, ada sesuatu. Sekotak kecil. Coklat. Dengan catatan:
"Buat energi sebelum rapat. —Rina"
Bima baca catatan itu. Senyum.
Doni lewat, lihat, langsung nyeletuk.
"Wih, ada yang ngasih coklat nih. Siapa tuh?"
"Temen."
"Temen doang? Atau lebih?"
Bima nggak jawab. Tapi dia juga nggak bisa jawab.
Karena dia sendiri belum tahu.
---
Bersambung ke Bab 9: Keana Jatuh
---
📝 Preview Bab 9:
Di apartemen mewah, Keana mulai merasakan dingin yang sesungguhnya.
Andra makin jarang pulang. Janji-janji tinggal janji. Dan ketika Keana mulai mencari—dia menemukan sesuatu yang selama ini dia takutkan.
Sementara itu, di tempat lain, Bima mulai merasakan kehangatan yang baru.
Bab 9: Keana Jatuh—segera!!!
---