Setelah pertempuran di hutan Sylven melawan Elias dan para pemburu harta karun, James Brook kembali ke Crescent Bay dan kehidupan di Pearl Villa perlahan kembali normal. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika ia menemukan sebuah paket misterius di dalam mobilnya.
Di dalam paket tersebut terdapat foto lama kakeknya, Timothy Brook, bersama seorang wanita yang tidak dikenal. Petunjuk ini membawanya pada Olivia Pierce, yang kemudian mempertemukannya dengan Edna Winslow, kakak dari nenek kandung James.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor Baru!!!
Cahaya pagi memenuhi ruang makan Pearl Villa.
Chloe duduk dengan rapi di depan piringnya, sesekali melirik ke arah James sambil mendengarkan setiap percakapan. Felix, di sisi lain, sepenuhnya fokus pada omeletnya, makan seolah tidak ada hal lain di dunia yang penting.
James mengangkat pandangannya dari piring. "Mama, kami akan datang ke Atelier untuk makan siang."
Sophie tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari hidangan yang sedang dia sajikan. "Kau tidak perlu bertanya, Nak."
James ragu sejenak. "Mama, aku ingin kau bertemu seseorang."
Julian langsung mengangkat alis. "Seorang pacar?"
Kalimat itu membuat suasana meja membeku.
Silvey menatap ke atas.
Paula berhenti di tengah tegukan.
Mata Chloe membesar penuh rasa penasaran.
Bahkan Felix sempat berhenti mengunyah.
Sophie menatap James dengan saksama. "Itu sesuatu yang lain, bukan?"
James mengangguk. "Ya, dia adalah kakak perempuan dari nenek. Edna. Dia yang memberiku bingkai foto itu."
Mata Sophie membesar karena terkejut. "Benarkah? Lalu kenapa kau tidak mengundangnya ke rumah?"
James tersenyum kecil. "Aku ingin bertanya padamu dulu."
Ekspresi Sophie melembut.
"Tidak apa-apa, Nak." Dia meletakkan tangannya dengan lembut di atas meja. "Keluarga selalu disambut disini."
"Untuk waktu yang lama aku tidak punya siapa pun." Dia menatap James. "Kau kembali… Dan hidupku menjadi berwarna lagi."
Julian tersenyum diam di sampingnya.
Silvey, yang duduk di seberang, mengamati Sophie dengan saksama.
Chloe sedikit condong ke depan, mendengarkan semuanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Felix kembali ke omeletnya.
Sophie menatap kembali ke arah James. "Bagaimana kau bisa menemukannya?"
James mengangkat bahu ringan. "Lebih seperti sebuah kesempatan, mereka yang menemukanku terlebih dahulu."
Dia berhenti sejenak. "Dan kami sudah bertemu salah satu dari mereka."
Julian sedikit mengernyit. "Salah satu dari mereka? Siapa yang kau maksud?"
James menjawab dengan tenang. "Olivia, dia adalah cucu Edna."
Sophie berkedip kaget. "Apa? Benarkah?"
Julian tertawa. "Itu menjelaskan banyak hal."
Sophie menggeleng sambil tersenyum. "Lain kali aku bertemu gadis itu… Aku pasti akan memarahinya karena menyembunyikan ini."
James tertawa. "Kau memang harus melakukan itu."
Chloe tiba-tiba berbicara. "Kakaaak. Apakah kak Olivia sedang dalam masalah."
Paula langsung tertawa.
Silvey ikut tertawa.
Julian tertawa keras.
Sophie tersenyum hangat mendengar ucapan polos itu.
Julian bersandar di kursinya. "Aku melihat berita, ada pengumuman tentang persidangan."
Silvey mengangguk. "Ya paman, dalam tiga hari."
Julian tampak bersemangat. "Mereka bilang itu akan disiarkan langsung. Itu terdengar menarik."
Namun Sophie terlihat sedikit khawatir. "Aku lebih khawatir daripada bersemangat."
Silvey tersenyum meyakinkan. "Jangan khawatir bibi, James sudah mengurus semuanya."
Sophie menatap James. "Semoga berhasil."
Dia sedikit berdiri. "James. Telepon aku sebelum kau tiba di Atelier, aku akan menyiapkan ruang pribadi."
Paula mengangguk. "Aku akan meneleponmu, bibi."
Sarapan perlahan berakhir.
Julian berdiri dan menatap anak-anak. "Ayo, waktunya pergi sekolah."
Chloe melompat turun dari kursinya.
Felix meraih gigitan terakhir omeletnya dan berlari mengejarnya.
Tak lama kemudian rumah kembali menjadi lebih sunyi.
James mengambil jaketnya.
Paula berjalan di sampingnya menuju pintu.
James menoleh. "Kau ikut, Silvey?"
Silvey meregang malas. "Aku akan mengunjungi divisi ACE Automobile. Karena aku di sini, aku juga harus memeriksa cabang lain."
James mengangguk. "Ada mobil sport di garasi bawah tanah, kau bisa menggunakannya."
Mata Silvey langsung berbinar. "Mobil sport? Sekarang aku menjadi semakin bersemangat."
James tersenyum tipis. "Selamat menikmati."
Beberapa menit kemudian James dan Paula keluar menuju kota.
Mobil berjalan dengan mulus.
James melirik Paula. "Berapa banyak relokasi yang tersisa?"
Paula memeriksa tabletnya. "Semuanya sudah selesai, tinggal karyawan. Mereka yang setuju pindah ke kantor pusat baru sudah disiapkan tempat tinggal di sini. Mereka akan tiba dalam beberapa hari."
Dia menatap ke atas. "Kantor pusat lama akan tetap aktif. Ada beberapa operasi yang tidak bisa kita pindahkan."
James mengangguk. "Bagus, mari kita lihat perkembangannya."
Dia memutar setir sedikit. Mobil bergerak menuju kawasan pusat.
Saat mereka melaju lebih jauh...
Cakrawala mulai berubah dan kemudian itu muncul.
Di antara bangunan di sekitarnya, menjulang tinggi di atas segalanya...
Soul Tower.
Mobil melambat hingga berhenti di pintu masuk megah Soul Tower.
James keluar dari mobil.
Paula mengikuti.
Pintu masuk terbuka otomatis saat mereka mendekat.
Seorang petugas keamanan berseragam langsung berdiri tegak. "Selamat pagi, Tuan."
James menyerahkan kunci tanpa berkata apa-apa.
Penjaga itu sedikit membungkuk. "Selamat datang, Tuan."
Mereka berjalan masuk.
Lobi terasa hidup, orang-orang bergerak ke segala arah, para eksekutif dengan jas, asisten membawa berkas, karyawan baru dipandu melintasi berbagai departemen, suara saling bertumpuk, telepon berdering.
James sedikit memperlambat langkahnya, mengamati semuanya. "Apa yang terjadi hari ini? Begitu banyak operasi sudah berjalan?"
Paula berjalan di sampingnya, sepenuhnya santai. "Bos, kau benar-benar berpikir kami akan membiarkan semua lantai tidak terpakai?"
James mengangkat alisnya.
"Kami menyewakan setengahnya."
James memberikan senyum tipis. "Jadi kita sudah mendapatkan pengembalian investasi?"
Paula mengangguk dengan percaya diri. "Ya, setelah berita tentang relokasi kita… Banyak perusahaan mulai membuka cabang mereka di Crescent Bay."
Dia memberi isyarat halus di sekitar mereka. "Kota ini berkembang lebih cepat dari sebelumnya."
Sebelum James bisa merespons
Seorang pria yang berjalan melewati mereka tiba-tiba menabraknya dengan keras.
Bahu ke bahu.
Benturan itu cukup membuat pria itu langsung berbalik dengan kesal.
"Apa kau buta? Tidak bisa melihat ke mana kau berjalan?" Dia melihat sekeliling dengan frustrasi. "Pertama tempat ini memiliki terlalu banyak aturan… Dan sekarang ini… Aku membuang waktuku di kota ini."
James menghembuskan napas perlahan.
Kebisingan di lobi mulai memudar.
Orang-orang di sekitar mulai memperhatikan Paula.
Bisikan mulai menyebar.
"Bukankah itu Nona Paula?"
"Jasper Group..."
"Dia ada di sini..."
Suasana langsung berubah.
Petugas keamanan bergerak cepat.
Dua agen bergegas menuju mereka. "Bos."
Ekspresi Paula menjadi dingin. "Singkirkan dia dari gedung ini."
Pria itu membeku.
Kata itu menghantamnya seperti kejutan.
Bos?
Matanya melebar. "Aku... Aku minta maaf..."
Dia langsung mundur.
Paula bahkan tidak melihat ke arahnya.
Agen itu mengangguk. "Dimengerti, Nona Paula."
Mereka bergerak menuju pria itu.
Namun sebelum mereka bisa menangkapnya James berbicara dengan tenang. "Biarkan dia pergi."
Para agen berhenti.
Paula menoleh ke arah James.
James menatap pria itu sejenak. "Jaga lingkungan disini tetap sehat." Ucapnya sederhana.
Mata Paula menjadi tajam saat dia menatap pria itu.
Sebuah peringatan tanpa suara.
Pria itu merasakan hawa dingin menjalar di tulang punggungnya, sia langsung menundukkan kepala. "Aku minta maaf..."
Para agen mengawalnya pergi.
Dalam hitungan detik lobi kembali normal.
Bisikan menghilang.
Pergerakan kembali berjalan.
James dan Paula berjalan menuju lift pribadi.
Pintu terbuka, mereka melangkah masuk.
Pintu terbuka di bagian paling atas. Lantai eksekutif.
Beberapa karyawan bekerja di tempat mereka. Begitu mereka melihat James dan Paula, mereka berdiri.
"Selamat pagi, Tuan."
James mengangguk. "Sudah lama tidak bertemu."
Dia melihat sekeliling kantor. "Aku menghargai bahwa kalian semua setuju untuk pindah ke Crescent Bay."
Dia berhenti sejenak. "Apakah kami membatasi kehidupan pribadi kalian?"
Salah satu karyawan senior melangkah maju. "Tuan, itu bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang Jasper Group berikan kepada kami. Kami bisa pindah ke mana saja jika kau yang meminta."
Yang lain mengangguk setuju.
James tersenyum tipis. "Aku menghargainya. Terima kasih atas kerja keras kalian."
Para karyawan kembali ke tugas mereka.
James dan Paula kembali berjalan di sepanjang koridor.
Mereka berhenti di depan sebuah kantor besar.
Paula membuka pintu. "Ini kantormu, bos."
James melihat ke dalam.
Luas.
Minimalis.
Meja besar.
Interior bersih.
Dan seluruh dinding yang terbuat dari kaca.
James mengangkat alis. "Apakah ini perlu?"
Paula menatapnya seolah jawabannya sudah jelas. "Kau pemilik tempat ini."
Dia melangkah masuk. "Suatu hari dunia akan tahu siapa yang berada di balik Jasper Group."
James menghela napas. "Aku pikir aku sudah pensiun."
Paula menyeringai. "Kau pensiun dari The Veil, bukan dari kehidupan nyata."
James menggelengkan kepalanya ringan. "Masuk akal."
Dia berjalan menuju dinding kaca dan berhenti.
Pemandangan di depannya menakjubkan. Seluruh kota Crescent Bay terbentang di bawah. Dia bisa dengan jelas melihat Brook Enterprises di Ember Plaza berdiri di antara bangunan.
Di luar itu lautan tak berujung. Kapal-kapal bergerak perlahan di atas air.
James berdiri di sana dan berkata. "Ini luar biasa..."
Paula berdiri di sampingnya. "Memang."
.....
Di dalam kantor paling atas Cross Capital, suasananya jauh dari tenang.
Dominic Cross berdiri sendirian di dekat jendela kaca lebar, namun matanya tertuju pada satu hal. Soul Tower.
Ekspresi Dominic menggelap, dia mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah nomor.
Panggilan tersambung.
Bennett Hayes menjawab dari sisi lain. "Ada apa?"
Dominic tidak mengalihkan pandangannya dari menara itu. "Apakah kau tahu… Soul Tower menawarkan ruang sewa?"
Bennett mendengus ringan. "Lalu? Kau ingin menyewa beberapa lantai? Butuh dana?"
Suara Dominic menjadi lebih tajam. "Sebagian besar perusahaan yang pindah ke sana berasal dari luar kota."
Dia berhenti sejenak. "Tidakkah kau melihat apa artinya itu?"
Bennett terdiam.
Dominic melanjutkan. "Jasper tidak hanya membeli sebuah gedung. Mereka menciptakan pusat pengaruh. Begitu perusahaan-perusahaan itu menetap di sana...Jasper akan mengendalikan akses, koneksi, peluang."
Genggamannya pada ponsel mengencang. "Mereka sedang memposisikan diri untuk mendominasi kota ini."
Bennett menghembuskan napas perlahan.
"Sial! Pertama Brook Enterprises… dan sekarang Jasper."
Nadanya menjadi serius. "Kita tidak bisa membiarkan ini berlanjut."
Keheningan singkat terjadi.
Lalu Bennett berbicara lagi. "Kita sudah menangani ACE Finances, kita juga bisa menangani mereka."
Bibir Dominic perlahan melengkung menjadi senyum dingin. "Itu persis yang aku pikirkan."
Suara Bennett merendah. "Aku akan mengatur orang-orang, kita akan menempatkan mereka di dalam Jasper. Dari dalam...kita menghancurkan mereka."
ditunggu kelanjutannya besokk, moga moga dobel up yaw🤭🤭🤭