" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Setelah pertemuan keluarga berakhir, Bintang berdiri dengan kaki yang masih gemetar, menatap pintu yang baru saja ditutup, Bulan segera mendekat untuk menopangnya, sedangkan Jupiter mengunci pintu ruangan keluarga agar tidak ada yang mengganggu.
"Ponakan ku... kenapa Kakek harus begitu keras padamu? Kamu sudah tidak salah apa-apa." Bulan meneteskan air mata.
"Dia hanya melakukan apa yang dia yakini benar untuk keluarga,. Tapi aku tidak akan menyerah, aku yakin anakku masih hidup anakku masih ada di sana, dan aku harus menemukan dia sebelum terlambat." Bintang menepuk pundak Bulan yang tak lain istri dari paman nya.
"Kita harus bergerak cepat. Dari ekspresi Delima tadi, aku tahu mereka tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan melakukan sesuatu yang kejam untuk menghilangkan bukti apa pun tentang anakmu." Jupiter berkata suami dari Bulan.
Bintang mengambil kotak kayu kecil dari dalam lemari kamarnya, di dalamnya ada surat-surat lama dan sebuah liontin giok berbentuk bulan yang pernah dia berikan pada anaknya saat lahir.
"Bibi liontin ini punya keluarga kita, waktu itu aku berikan pada Pratama liontin giok yang persis seperti ini, dan aku harap Pratama liontin giok itu berada di leher bayiku.
"Bibi tahu kan dulu kenapa aku membuang bayi mungil tak berdosa itu, karna aturan yang di buat oleh leluhur kita, dan sebenarnya dulu kakek sudah luluh hatinya, namun lelaki bangsat itu memprovokasi kakek, hingga dengan tegas kakek untuk menutup rapat-rapat bayi yang tak di inginkan oleh keluarga besar kita.
Aku tidak tahu di mana anakku berada, hanya satu yang bisa memberikan informasi tersebut, mungkinkah dia masih hidup atau kah sudah meninggal." Keraguan jelas terlihat di mata Bintang membuat rasa penasaran Bulan dan Jupiter.
"Siapa orangnya dia Bintang?" Tanya Jupiter.!
"ABAH HARUMAN.!
"Pratama memberikan informasi ku dulu sebelum dia meninggal begitu tragis, meninggal akibat keracunan ketika perjalanan menuju ke bukit lereng gunung di timur negeri ini. Tujuan utama Pratama menuju bukit itu untuk membawa anakku yang ia titipkan pada Abah Haruman lima tahun yang lalu, kesadaran hatiku pun ikut terkoyak waktu itu.
"Paman, Jupiter bibi Bulan, kalian berdua tahu kan, berguncang dunia bisnis waktu itu, seorang ahli waris yang tak pernah menikah sama sekali mati tragis di sebuah restoran kecil, ya itu adalah Pratama, ayah kandung dari anakku yang tak di inginkan waktu itu.
Guncangan hebat di rasakan oleh Jupiter dan Bulan, sang ponakan begitu rapat menutup rahasia masa kelam tersebut, tak di sangka orang yang telah menghamili nya itu adalah orang nomor satu di Asia.
Sekelas Pratama orang yang berpengaruh di dunia bisnis maupun politik, masih bisa di bunuh oleh mereka yang tak menginginkan buah hati Bintang kembali ke keluarga besarnya, sedangkan kita keluarga kelas dua apakah bisa melindunginya.
"Kini aku mengerti kenapa Bintang dengan tegas untuk membiarkan anaknya hidup dalam keadaan normal dan tak ikut andil dalam mengambil kekuasaan di dunia ini. " Batin Jupiter dan Bulan berkata.
Bulan langsung memeluk keponakannya itu dengan perasaan yang begitu dalam, kamu harus sabar ya nak, bibi yakin anakmu masih hidup sampai sekarang dan kita harus segera menemukan bagaimana caranya.
"Saya sudah menyusun rencana. Kita akan pergi esok pagi sebelum fajar. Saya akan menghubungi beberapa orang yang bisa dipercaya untuk membantu kita. Tapi kita harus sangat hati-hati – Delima pasti sudah memasang mata-mata di sekitar mansion ini." Jupiter selalu bertindak senyap senyap tahu tahu semua sudah beres.
Sementara itu, suara kaki berlari terdengar di lorong. Mereka segera memasukkan kotak kayu ke dalam lemari dan menutupinya rapat.
Menekan nomor telepon dengan wajah yang serius."Sudah saatnya kita mengakhiri masalah ini selamanya. Jangan sampai anak haram itu menemukan jalan kembali ke mansion ini dan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita." Delima berkata menekan.
Setelah beberapa detik, telepon terhubung. Suara orang lain terdengar dari ujung saluran, suara rendah dan penuh ancaman.
"Sudah siap, Bu Delima. Beritahu saja lokasinya dan kapan harus bertindak. Biaya yang kita sepakati sudah siap kita terima.
Lokasi anak haram itu saya tidak tahu, tapi orang yang mengurus nya ada di sebuah bukit lereng gunung, wilayah timur, dia selalu memakai liontin giok berbentuk bulan. ABAH HARUMAN, yang merawatnya.
Panggilan telepon itu di loudspeaker. " Jangan hanya menghabiskannya saja. Pastikan tidak ada satu pun jejak yang bisa menunjukkan dia pernah ada di dunia ini. Kita tidak bisa membiarkan ada orang lain yang bisa mengklaim warisan keluarga Jaya." Sandi berbicara dengan sinis.
"Dan ingat – jika kamu gagal atau membocorkan informasi ini, kamu tahu konsekuensinya yang harus kamu terima. Keluarga kita tidak suka dengan orang yang tidak bisa dipercaya." Kini Irwan yang berkata dia adalah suami dari istrinya Delima yang tak lain adalah ayah kandung Bintang Sri Langit.
Delima mematikan telepon dan tersenyum licik, menatap ke arah kamar Bintang dari jendela kamarnya.
Sekarang tunggu saja, Bintang. Segala sesuatu yang kamu miliki akan menjadi milik kita. Termasuk kehormatan dan kekayaan keluarga Jaya.
Di ruangan kerja rahasia keluarga Jaya.
Sutarjo kembali ke ruangan rahasia dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Jaya masih berdiri di depan meja yang penuh dengan dokumen dan foto lama.
"Pak ada kabar buruk, saya mendapatkan informasi bahwa orang yang membuang anak Bintang itu adalah Pratama, dan itu adalah suruhan dari Nona Bintang. Kita terlambat pak kuncinya ada di keluarga Pratama atau kah nona Bintang tahu lokasinya.
Jaya menjatuhkan foto yang dia pegang ke meja, wajahnya memerah karena kemarahan." Aku tahu sifat cucuku ini, selama sembilan belas tahun, ia menyembunyikan siapa ayah dari anak yang dilahirkan nya itu.
" Terus pantau mereka, kemungkinan terbesar setelah aku berbicara di ruangan keluarga, Bintang, Bulan dan Jupiter akan bergerak. Atur beberapa orang menjadi pengawal bayangan.
"Baik Pak." Sutarjo membungkuk hormat keluar dari ruangan rahasia dengan senyap.
"SEMIT.!
"Walaupun kau keluarga besar nomor satu di Asia, tapi tak seharusnya ikut campur keluargaku. Aku bukan takut karna kekuasaan mu, tapi lebih menghormati mu, tapi karna kau berani mengusik cucuku, maka aku minta penjelasan yang masuk akal, jika tidak siap siap kita perang habis-habisan. " Kepalan erat tangan Jaya di usia yang seabad itu.
Setelah 19 tahun menyembunyikan kebenaran, waktunya kita mengakhiri semua ini. Bintang telah menderita cukup lama, dan anak cucuku berhak tahu tentang keluarganya yang sebenarnya.
Sungguh rapi dan licin permainan di balik tragedi anak yang di buang 19 tahun itu oleh sang tuan muda dari keluarga SEMIT PRATAMA.
Pagar besi hitam yang menjulang tinggi tampak mengancam di bawah bulan purnama yang bersinar redup, tirai kabut tipis menyelimuti setiap unsur dekorasi yang seharusnya memukau.
Mansion Seri Dewata berdiri seperti raksasa yang sedang merenung, dinding batu kapur pucatnya bersinar dengan kilau aneh, sementara beberapa jendela tetap gelap gulita—seolah mata yang menutup erat—dan yang lain hanya menerbitkan cahaya kuning samar yang tidak pernah mencapai sudut-sudut taman yang tumbuh liar di sekelilingnya.
Di dalam, lantai marmer yang dulu mengkilap kini tertutup lapisan debu tipis yang menyimpan jejak-jejak langkah tak dikenal. Lampu gantung kristal Bohemia yang megah terlihat seperti reruntuhan yang terlupakan, beberapa sisinya pecah dan meninggalkan bentuk yang menyeramkan di dinding.
Angin menerobos celah-celah jendela yang tidak tertutup rapat, membuat tirai sutra tua berwarna krem bergoyang seperti bayangan yang sedang menari sendirian. Bau kayu lapuk bercampur dengan aroma tak dikenal—seperti dupa kuno dan tanah basah—mengisi setiap ruangan yang penuh dengan furnitur berlapis kain berselimut tirai.
Tiba-tiba, suara hentakan keras dari kamar utama di lantai atas bergema melintasi lorong kosong. Di tengah ruang tamu yang sepi, sebuah buku tua dengan sampul kulit hitam yang terletak di atas meja kayu mahoni tiba-tiba terbuka sendirian. Halaman putih kekuningan bergulir perlahan, berhenti tepat di bagian yang ditandai dengan sehelai rambut hitam lurus—rambut yang sama persis dengan yang terjepit di antara kaca jendela kamar di atas, di mana sepasang mata hitam sedang mengawasi setiap gerakan di dalam ruangan itu.
Pintu kayu berat terbuka perlahan tanpa suara. JAYA, kakek yang menjadi kepala keluarga masuk dengan langkah lambat tapi penuh kuasa. Wajahnya keriput tapi mata hitamnya menyala tajam, memindai setiap orang di sekitar meja. Udara yang sudah pekat kini terasa seperti akan membeku.
JAYA
Suaranya dalam dan menggema, tanpa perlu meningkatkan nada.
"Saya dengar ada pembicaraan yang tidak seharusnya terjadi di rumah saya. Mengungkap noda hitam 19 tahun yang lalu.!
Semua orang langsung berdiri, kepala sedikit menunduk. Hanya BINTANG yang tetap tegak, meskipun tangannya mulai menggigil di bawah meja.
"Kakek, kita harus berbicara berdua semua orang di sini tidak boleh tahu masalah waktu itu." Suara sedikit gemetar tapi tetap tegas.
Delima menarik nafas dalam dalam mencoba berbicara untuk memberi nasehat agar kasus 19 tahun itu tidak pernah di ungkit lagi, tapi langsung terhenti saat tatapan Jaya menyambar padanya.
"Saya sudah memutuskan hal itu. Kasusnya ditutup. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.!
Ini yang di inginkan dan sekuat apapun Bintang membujuk kakek nya, tidak akan pernah di anggap karna sebuah kesalahan yang begitu fatal. " Delima tersenyum licik sesaat menoleh pada irwan dan Sandi, sama sama tersenyum licik.
Lagi dan lagi jawaban seperti itu yang Bintang dapatkan dari kakek nya, selama lima tahun ini dia sadar akan kesalahan masa lalu nya itu. Kesalahan terbesar nya membuang darah dagingnya akibat hubungan terlarang bersama seorang pemuda yang telah menyelamatkan nya.
Namun penjelasan seperti apapun yang Bintang sampaikan, tidak ada yang mempercayai nya waktu itu, karna hasutan dari ibu tirinya, kesalahan terbesar yang ia lakukan tidak menginginkan bayi tersebut.
"Tapi Kek, ini penting bagi ki..............!
JAYA, berjalan maju hingga berdiri di tengah ruangan, menatap satu per satu. "Keluarga ini bertahan selama tiga generasi karena kita mengikuti aturan yang sudah ditetapkan. Tidak ada satu pun anggota keluarga yang boleh membongkar rahasia yang telah kita simpan dengan darah dan air mata. Bahkan jika itu berarti mengorbankan satu orang.
Bulan, menangis diam-diam, menyembunyikan wajahnya di kedua tangan. Jupiter mengangkat kepala, matanya penuh perjuangan.!
Kita tidak bisa terus seperti ini, Ayah. Semua yang terjadi akhir-akhir ini... itu karena kita terlalu lama menyembunyikan kebenaran." Jupiter mencoba untuk membuat ayahnya itu luluh.
Tatapannya menjadi lebih menyakitkan, menatap Jupiter dengan penuh ancaman." Kau berani membantah saya? Setelah semua yang telah saya berikan pada keluarga ini? Rumah megah ini, kehormatan yang kita punya, semua ada karena saya menjaga aturan itu dengan erat.
Dia berjalan mendekat ke Bintang, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
Suara rendah tapi penuh tekanan." Kau adalah yang paling saya harapkan bisa memahami, Bintang. Jika kau tetap ingin mencari tahu... bersiaplah menerima konsekuensinya. Bukan hanya untukmu sendiri, tapi untuk semua orang yang kau cintai di dalam rumah ini.
Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan keluar dengan langkah yang sama mantapnya. Pintu tertutup dengan keras, membuat seluruh ruangan bergoyang. Semua orang jatuh ke kursinya, tubuh mereka lemas karena tekanan yang baru saja mereka rasakan. Hanya mereka bertiga yang tampak bahagia setelah keputusan dari kepala keluarga mengeluarkan titahnya.
Delima, Irwan dan anaknya Sandi tersenyum sumbing, bangkit melangkah pergi dari ruangan keluarga dengan perasaan bahagia." Ini sesuatu yang besar dan aku akan segera mengirim kabar pada kakekku untuk segera mengeksekusi anak haram itu.
Setelah keluar dari ruangan keluarga, Jaya tidak langsung ke kamarnya. Dia berjalan perlahan menuju ruang kerja rahasia di bawah tangga utama—suatu tempat yang hanya diketahui oleh dia dan satu orang saja.
Dia mengetuk pola khusus pada tembok bata, dan sebuah pintu tersembunyi terbuka perlahan. Di dalam, seorang pria berusia sekitar 50 tahun dengan wajah sungguh-sungguh sudah menunggu.
Menutup pintu dengan hati-hati, wajahnya berubah dari keras menjadi penuh kekhawatiran."Sudah siapkah kamu, Sutarjo?"
SUTARJO Orang kepercayaan Jaya selama 30 tahun. "Siap, Pak. Sejak Anda memberi tahu saya tentang dugaan tidak benarnya cerita yang kita dengar 19 tahun yang lalu."
Jaya mengambil sehelai foto kuno dari laci rahasia—foto Bintang muda yang sedang tersenyum bersama seorang pemuda yang wajahnya sudah sedikit pudar.
"Saya harus bersikap keras di depan keluarga. Jika mereka tahu saya masih menyelidiki hal ini, terutama Delima dan keluarganya, mereka akan melakukan sesuatu yang lebih kejam. Bintang adalah cucu kesayanganku... saya tidak pernah benar-benar percaya bahwa dia akan tega meninggalkan anaknya sendiri." Ucap Jaya.
"Saya sudah menemukan jejak pemuda itu—dia tidak mati seperti yang diberitakan. Dan ada kabar bahwa anaknya mungkin masih hidup juga, Pak."
Jaya menghela napas dalam, menggenggam foto dengan erat.
"Cari dengan hati-hati. Jangan biarkan siapapun mengetahuinya. Jika benar cucu kita masih ada di luar sana, kita harus melindunginya sebelum Delima dan kelompoknya melakukan tindakan yang tidak bisa diubah. Bintang sudah menderita cukup lama—waktunya kita tahu kebenaran yang sebenarnya."
Sutarjo mengangguk dan keluar melalui pintu belakang ruangan. Jaya tetap berdiri sendirian, menatap foto lama itu sambil merenung. Di balik wajah kepala keluarga yang tegas, tersembunyi rasa cinta dan rasa bersalah yang telah menyiksa dia selama bertahun-tahun.
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung.
Bersambung.