Merasa kesal karena ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku bahkan akan terus menjomblo seumur hidup, tidak ada satu pun pria yang tertarik padanya.
"Enak aja dia bilang begitu padaku! Awas saja kau! Akan aku buktikan diriku ini bisa memiliki seorang kekasih dan layak untuk dicintai!" geramnya wanita cantik itu.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri, setelah mendapatkan kekasih justru ia akan langsung memamerkan kemesraannya terhadap orang yang telah berani berkata seperti itu.
"Tapi tunggu! Dari mana aku akan mendapatkan seorang kekasih!?" ia gelisah dan mondar-mandir.
"Astaga..." dirinya mengusap wajah dengan kasar.
"Hah, semoga dapat ya?" batinnya berdoa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Sebelas
"Cintai Aren, ya?" pikirnya wanita itu.
"Jadi aku harus belajar tuk mencintainya? Tapi jika dipaksa kesannya nanti ke diriku lebih menjadi tertekan" batinnya berkata.
"Sayang?" pria itu mengibaskan tangan di depan wajah sang kekasihnya yang sedang terdiam.
"Sayang? Are you okay?" Aren sungguh khawatir.
"Hah? Oh, i'm fine" ucap Cellsyia setelah sadar dari melamunnya.
"Sayang? Kamu baik saja, kan?" tanya Aren.
"Baik, kok" jawab kekasihnya.
"....." pria bule tersebut mendekatkan diri, jarak keduanya dekat sekali.
"Hm..." Aren bergumam pelan seraya memerhatikan dengan lekat kekasihnya, Cellsyia sesekali menghindari tatapan Aren.
"Ekhem, kau mengapa menatapku seperti itu, Aren?" tanya Cellsyia tanpa melihat ke arahnya.
"Mm, tidak ada, Sayang" balas Aren diakhiri senyuman manis pada kekasihnya.
"Sayang" pria itu memanggilnya.
"....." Cellsyia diam membatu tanpa menjawab panggilannya.
"Sa...yang" ucap Aren.
"Paan sih?" batinnya Cellsyia berkata, dengan tatapan sinis memandangi pria bule itu.
"Sayangnya Aren..." Aren berusaha memanggil kekasihnya lagi.
"....." orang yang ia panggil tetap pada posisinya bagaikan sebuah batu tanpa nyawa.
"Sayangku.." Aren, dirinya tidak menyerah dan terus memanggilnya.
"....." dibalas tatapan sinis oleh kekasihnya.
"Ihh! Sayang!" Aren, pria bule tersebut terlihat geram ketika melihat tatapan sinis kekasihnya.
"Hih!" batinnya Cellsyia berkata.
"Sayang! Kumohon jangan diam saja..." pintanya pria itu dengan memohon dan tatapan kedua matanya tampak sendu.
"Apa?" tanya Cellsyia, wanita itu kini menatapnya tanpa ekspresi.
"Ih! Kamu dari tadi diem mulu, aku cape loh!" celetuk Aren seraya bersidekap dada.
"Cape? Cape karena apa? Lagian kamu tidak melakukan apapun loh" bantah Cellsyia, karena seingatnya Aren hanya memanggil dirinya.
"....." namun pria bule itu tak menghiraukannya, tatapan Aren berubah sedikit tajam.
"Dasar singa jantan!" Cellsyia berkata dalam batinnya.
Setelah itu kedua pasang kekasih saling terdiam, tidak mengeluarkan suara, dan mereka saling melontarkan tatapan khasnya sendiri.
Aren menatap kekasihnya tatapan tajam, sementara Cellsyia menatap Aren tatapan biasa saja tanpa takut sama sekali pada pria bule dihadapannya itu.
"Sayang, aku mau tanya deh sama kamu" kata Aren dengan serius.
"....." Cellsyia mengangkat satu alisnya dan wanita itu diam saja.
"Jawab dengan jujur, ya?"
"Hm..." wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Kenapa diam saja saat aku panggil?" tanyanya pria itu, nada suaranya tegas.
"Aku..." Cellsyia bingung harus mengatakan apa.
"Kamu tahu? Hm, sebenarnya ketika kamu bilang bahwa pernah bahkan hampir dijodohkan, rasanya entah kenapa sakit sekali dan..." Cellsyia mengungkap isi hatinya.
"Aku cemburu..." berkata lirih tapi Aren untungnya mendengarkan dengan seksama.
Tahu hal itu Aren berusaha untuk tidak tersenyum, wajahnya datar seperti tembok.
"Cemburu?" tanyanya Aren, dibalas anggukkan kepala.
"Oh, ternyata seorang Cellsyia memiliki rasa cemburu juga ya?" celetuk pria itu.
"Kalau misalnya aku selingkuh dengan wanita Korea itu, bagaimana ya?" godanya Aren, ia sengaja dan mencoba kesetiaan sang kekasihnya.
Sorot mata menghunus tajam ke arah pria itu.
"Oh, silakan saja jika mau selingkuh! Aku tak peduli sama sekali! Ya lagian, di luar sana masih banyak pria tampan selain kau!" ucap Cellsyia.
Setelah berkata demikian wanita itu pergi dari sana, akan tetapi Aren mencekal lengannya lalu menarik kekasihnya ke dalam dekapannya.
"Sayang...tadi aku hanya bercanda, maaf..." Aren meminta maaf dengan suara lirih.
"Lepas!" ujar Cellsyia.
Pelukan terlepas Cellsyia menampar Aren.