Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29.Janji Suci di Tengah Badai
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Hening yang mencekam membentengi ruangan itu. Suasana terasa begitu berat, seolah udara di dalam ruangan itu habis tersedot habis. Air mata Mama Laras masih terus mengalir deras, membasahi pipinya, penuh dengan ketakutan, kekhawatiran, dan rasa kecewa yang mendalam yang selama ini terpendam.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya tadi bagaikan pisau tajam yang mengiris hati, namun ia tidak peduli. Baginya, kebahagiaan dan keselamatan putrinya adalah segalanya.
Tiba-tiba...
GES...
Suara selimut tersingkap dengan kasar memecah keheningan yang mencekam itu.
Semua mata seketika tertuju serentak ke arah ranjang pasien. Jantung semua orang di ruangan itu seakan berhenti berdetak sesaat.
Gus Aqlan, yang tadinya terbaring lemah tak berdaya, wajahnya pucat pasi dan baru saja sadar dari pingsannya, tiba-tiba berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan turun dari tempat tidurnya.
Tangannya mencengkeram kuat sisi ranjang, menopang berat tubuhnya yang masih lemas. Wajahnya memang masih terlihat sangat pucat, kakinya masih terasa gemetar hebat karena kondisi fisiknya yang belum pulih sepenuhnya, namun tatapan matanya... oh Tuhan, tatapan matanya begitu tegas, tajam, dan penuh tekad yang membara bak api yang tak bisa dipadamkan.
"Aqlan! Mau ke mana kamu?! Istirahat dulu! Kondisi kamu belum pulih!" seru Zea dengan panik luar biasa, ia langsung memegang lengan kakaknya erat-erat, berusaha menahan agar kakaknya tidak memaksakan diri.
Juga Ayah Abdul dan Bunda Maryam terlihat syok dan kaget setengah mati melihat tingkah anak mereka.
"Nak, Aqlan... Jangan memaksakan diri sayang! Kamu masih sakit! Dokter bilang harus bed rest!" seru Bunda Maryam dengan suara bergetar, wajahnya pucat melihat anaknya berjalan tertatih.
Tapi Gus Aqlan hanya menggeleng pelan. Ia tidak mau diam. Ia tidak mau hanya terdiam mendengar wanita yang dicintainya disakiti, dan dirinya dianggap sebagai pembawa sial.
Dengan perlahan namun pasti, ia menepis tangan adiknya dan tangan ibunya pelan, memberikan kode bahwa ia baik-baik saja, atau setidaknya ia akan baik-baik saja demi satu hal ini.
Ia berjalan tertatih-tatih, langkahnya goyah dan berat, namun postur tubuhnya tetap tegap dan penuh wibawa saat mendekati Mama Laras dan Papa Arya yang duduk di sofa.
Di hadapan mereka semua, di hadapan kemarahan sang calon ibu mertua, di hadapan rasa hormat yang tinggi kepada orang tua, Gus Aqlan perlahan menundukkan kepalanya, lalu...
BRAKK!
Dengan suara berat, ia berlutut tepat di hadapan Mama Laras. Lututnya menyentuh lantai keramik yang dingin itu dengan penuh ketulusan.
Semua orang di ruangan itu terkejut setengah mati. Mata mereka terbelalak, mulut mereka ternganga tak percaya. Bahkan Mama Laras sendiri sampai terdiam kaku, air matanya pun seketika berhenti menetes sejenak karena keterkejutan yang luar biasa.
Tidak ada seorang pun yang menyangka pemuda sekeren dan sekarismatik Gus Aqlan akan mau berlutut seperti ini hanya untuk membela cintanya.
"Aqlan... Kamu ini apa-apaan sih nak?! Bangun! Jangan seperti ini! Kamu itu laki-laki, bangunlah!" seru Bunda Maryam semakin panik, ia ingin menarik anaknya bangun tapi ditahan oleh tangan kokoh Ayah Abdul, seolah ayahnya berkata 'Biarkanlah, ini harga mati yang dia bayar untuk cinta mereka'.
Gus Aqlan tidak bangun. Ia tetap berlutut dengan kepala tertunduk dalam, menunjukkan rasa hormat yang sangat tinggi, rendah hati, dan ketulusan yang luar biasa.
"Ibu..." suaranya terdengar berat, parau, dan bergetar hebat menahan emosi, namun setiap katanya terdengar sangat tegas dan mantap. "Aqlan mengerti kekhawatiran Ibu. Aqlan mengerti kenapa Ibu marah besar begini. Aqlan juga dengar semuanya... Aqlan dengar tuduhan Ibu tadi..."
Dengan perlahan, ia mengangkat wajahnya yang tampan namun terlihat sangat lelah itu. Matanya menatap lurus tepat ke manik mata Mama Laras, tidak berkedip sedikit pun. Dan saat itu juga, semua orang bisa melihat... mata Gus Aqlan juga terlihat basah, air mata mulai menggenang dan akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Kalau Ibu bilang Aqlan pembawa sial... mungkin Ibu benar. Mungkin selama ini kehadiran Aqlan di hidup Aisyah justru membuat dia banyak menangis dan sedih. Aqlan tidak memungkiri itu."
"Aqlan minta maaf... Aqlan minta maaf sebesar-besarnya, maaf yang sedalam-dalamnya karena sudah membuat putri Ibu menangis. Aqlan sadar, Aqlan belum bisa menjadi pelindung yang baik buat dia selama ini."
Suaranya tercekat, ia menelan ludah dengan susah payah menahan isak tangis agar tetap terdengar gagah.
"Tapi..." Gus Aqlan mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas kedua lututnya, urat-urat tangannya terlihat menonjol karena menahan emosi yang meledak-ledak. "Aqlan mohon satu hal saja sama Ibu. Sangat mohon... Beri Aqlan kesempatan. Beri Aqlan waktu untuk membuktikan bahwa tuduhan itu salah. Beri Aqlan kesempatan untuk menebus semua kesalahan dan rasa sakit yang pernah ada."
"Aqlan berjanji... demi Allah, demi Tuhan Yang Maha Esa yang telah mempertemukan kami kembali, Aqlan berjanji akan berusaha sekuat tenaga, sampai titik darah penghabisan, untuk membuat Aisyah bahagia dunia akhirat."
"Aqlan janji akan membuat dia tersenyum setiap hari, Aqlan janji akan menjadi alasan dia bahagia, bukan alasan dia menangis. Aqlan janji akan melindungi dia dari segala kesedihan, dari segala ketakutan, dan akan menjaga dia lebih dari Aqlan menjaga nyawa Aqlan sendiri!"
"Kalau selama ini jalannya sulit, kalau selama ini banyak air mata... Aqlan tahu itu karena ujiannya berat. Tapi Aqlan tidak akan pernah menyerah, tidak akan pernah mundur selangkah pun."
"Aqlan mau bertanggung jawab dengan cara yang halal, dengan cara yang benar-benar benar. Aqlan tidak main-main. Aqlan mau datang melamar dia, Aqlan mau menikahi dia, Aqlan mau mengikat cinta ini dalam ikatan yang suci agar tidak ada lagi fitnah, tidak ada lagi larangan."
"Ibu boleh marah sama Aqlan, Ibu boleh benci sama Aqlan, Ibu boleh hukum Aqlan apa saja asalkan Ibu mau... tapi tolong... tolong sekali lagi Ibu..."
Suara Gus Aqlan benar-benar pecah saat ini. Tangisnya tak bisa dibendung lagi.
"Tolong jangan pisahkan kami lagi. Kami sudah kehilangan waktu bertahun-tahun karena terpisah, kami sudah merasakan bagaimana sakitnya hidup tanpa satu sama lain. Jangan biarkan kami kehilangan satu sama lain lagi... Ibu... Kasihanilah kami..."
Air mata jatuh membasahi pipi tampannya tanpa henti. Ketegaran seorang laki-laki, ketegasan seorang pemimpin, semuanya runtuh di hadapan cinta dan rasa hormatnya pada orang tua wanita yang dicintainya. Ia rela merendahkan dirinya, rela berlutut, asalkan cintanya diterima dan direstui.
Mama Laras terpaku menatap pemuda di hadapannya itu. Dadanya terasa sesak luar biasa, seolah ada batu besar yang menimpa dadanya melihat ketulusan, melihat air mata, dan melihat kesungguhan yang terpancar dari wajah Gus Aqlan.
Hati seorang ibu mana yang bisa tetap keras, mana yang sanggup tetap marah, melihat calon menantunya berlutut memohon dengan air mata dan janji suci begini? Setiap kata yang diucapkan Aqlan bagaikan palu yang menghancurkan tembok ketakutan yang selama ini membentengi hati Mama Laras.
Papa Arya yang menyaksikan semua itu dari samping hanya bisa menghela napas panjang sekali, napas lega bercampur haru. Ia lalu menatap istrinya dengan tatapan lembut namun penuh makna.
"Gimana Ma... Kamu dengar sendiri kan? Dia serius. Dia tulus. Dia bukan anak main-main. Papa yakin... mereka memang benar-benar ditakdirkan untuk bersama sejak zaman dulu."
BERSAMBUNG....