NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02

Seketika itu, Kepala Pelayan datang ke kamar Tuan Besar, dimana didalam tersebut ada kedua anaknya dan Kepala Pelayan juga ingin menyampaikan jika ada Tamu yang sedang menunggu diluar.

"Tuan Rendi, Tuan Rayhan, ada tamu yang datang." Ucap kepala pelayan.

"Bukankah aku sudah bilang, beberapa hari ini nggak terima tamu datang ?" Jawab Rendi.

"Tapi tamu itu bilang.... " kata Kepala Pelayan.

"Bilang apa ?" Tanya Rendi.

"Dia bilang dia adalah kenalan lama Tuan Besar. Dia juga bilang, jika Tuan besar nggak menemuinya, dia nggak akan bisa mengembuskan napas terakhir." Jawab Pak Eko.

Saat Pak Eko berbicara kepada Tuannya, saat itulah ia juga sambil melihat keadaan Tuan Besarnya itu, yang mana keadaannya semakin lemah dan pucat seakan-akan nyawanya sudah tinggal ditarik.

Kemudian Tuan Rendi bangkit dari duduknya dan bertanya pada Sang Kepala Pelayan.

"Di... Dimana dia ?" Tanya Rendi Chandra.

"Dia ada diluar." Jawab Kepala Pelayan, sambil menunjuk ke arah luar.

"Cepat bawa aku untuk temui dia." Ujar Rendi dengan terburu-buru.

kemudian Rendi dan Sang Kepala Pelayan terburu-buru keluar dari kamar Tuan Besar, untuk mengetahui siapa tamu yang dimaksud oleh Kepala Pelayan tersebut karena Rendi pun juga penasaran akan tamu tersebut.

Sedangkan adiknya masih disamping Tuan Besar karena tidak ada yang menemaninya disana.

Mereka sedang terburu-buru, hingga mengabaikan para wanita yang sedang menunggu di depan kamar Tuan Besar. Dan tanpa menoleh ke arah mereka Tuan Rendi dan Sang Kepala Pelayan bergegas menuju keluar dimana Sang gadis yang sedang menunggu.

"Pak Eko, ini.... " Tanya Nyonya Saskia. Ketika sedang melihat Tuan Rendi dan Pak Eko sedang terburu-buru keluar.

"Aneh sekali. ayah sudah hampir meninggal, urusan penting apa yang bisa membuat Tuan Rendi meninggalkan sisi Ayah ?" Sambung Nyonya Saskia.

Setelah beberapa detik kemudian dia berbicara lagi. "Apakah, orang yang selalu dipikirkan dan dicintai oleh Ayah, yang nggak akan meninggal dengan tenang kalau nggak bertemu, telah ditemukan ?" Tanya lagi Nyonya Saskia.

Sedangkan istri kedua Arman,Yaitu Nyonya Amira masih duduk dengan tenang di kursinya, dengan tangan kanannya memegang tongkat, sedangkan di tangan kirinya memegang sebuah bola putih 2 buah dengan mata tertutup.

"Kak Sonia, coba tebak orang seperti apa yang bisa membuat Ayah, orang yang begitu serius dan kaku terus mengingatnya, hah." Tanya Nyonya Saskia.

"Masalah Ayah, bukan sesuatu yang bisa kita bahas sembarangan." Jawab Nyonya Sonia.

"Haiss... Sudah berhari-hari, apa masih kurang ?" Ujar Nyonya Saskia.

Sedangkan Sonia langsung menatap sang ibu mertua, yang mana sang ibu mertua tetap dalam keadaan awal yang tetap menutup matanya sambil memainkan 2 bola putih tersebut.

"Hey, ngomong-ngomong, bukankah ibumu juga nggak bisa menghembuskan nafas terakhirnya sebelum meninggal, dan baru bisa pergi dengan tenang setelah memanggil ahli spiritual ? Entah masalah apa yang masih dia ingat dan nggak bisa dia lepaskan." Sahut Nyonya Saskia sambil tertawa.

"Saskia, kenapa kau masih sempat-sempatnya bicara begini ?" Tegur Nyonya Sonia.

Nyonya Saskia terus berbicara seolah tidak peduli dengan teguran dari sang kakak ipar, ia terus berbicara sambil memegang gelas tehnya. "Aduh..... Ayah sudah 92 tahun. Walaupun meninggal, itu juga pemakaman yang menggembirakan bukan ?. Tentu saja aku senang. Hanya saja, Ayah tiba-tiba memiliki seseorang yang sangat dirindukan di dalam hatinya, dan orang itu menetap di sini (sambil menepuk dadanya)."

"Hahhh... Ibu mungkin nggak akan bisa tenang, hum." Sambung Nyonya Saskia sambil menatap ke arah ibu mertuanya yang masih tetap diam ditempat, kemudian menunduk untuk meminum teh yang berada di tangannya.

Nyonya Saskia kembali melihat ke arah ibu mertuanya sambil berkata. "Ibu adalah orang yang kuat dan mandiri sepanjang hidupnya, tapi dia nggak pernah menyangka Ayah, yang begitu berprinsip, akan melakukan hal ini padanya di akhir hidupnya. Benar-benar...."

Saat Nyonya Saskia berbicara seperti itu, Nyonya Sonia reflek menoleh ke arah ibu mertuanya yang mana ia takut akan tersinggung dengan kata-kata dari menantu keduanya itu.

"Saskia. Kau jangan asal bicara. Belum tentu juga orang yang dicintainya." Tegur Nyonya Sonia.

Pada saat Nyonya Sonia berbicara, seorang pelayan datang sambil membawa teh untuk dihidangkan kepada Nyonya Amira, yang mana beliau masih memejamkan matanya.

"Kalau nggak bertemu, nggak mau memejamkan mata. Kalau bukan orang yang dicintai, lalu apa ? Menurutku...." Tanya Nyonya Saskia.

Seketika itu Nyonya Amira mengetukkan tongkatnya ke lantai, sehingga pelayan yang akan menyajikan teh tersebut tersentak kaget dan gemetar, sehingga ia terburu-buru menaruh tehnya karena takut dimarahi karena Nyonya Amira telah membuka matanya.

Sedangkan Nyonya Sonia dan Nyonya Saskia pun, menutup mulutnya takut dimarahi oleh Nyonya Amira yang seakan marah itu. Nyonya Saskia pun kembali melihat ibu mertuanya sambil meminum teh dengan santai seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

"Arman, kau selama ini merasa dirimu mulia dan agung. Aku ingin sekali melihat, seperti apa sebenarnya orang yang kau cintai, yang bahkan di saat ajal menjemputmu pun nggak bisa kau lupakan, dan harus kau temui sebelum menghembuskan nafas terakhir." Tanya Nyonya Amira.

Sedangkan saat Nyonya Amira berbicara, Nyonya Sonia dan Nyonya Saskia melihat ke arah ibu mertuanya yang sedang berbicara itu, Nyonya Saskia meminum tehnya diam-diam sambil tersenyum sendiri seakan-akan menikmati keributan hari ini.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!