Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Hampir Pergi Lagi
Pagi datang lebih cepat dari yang Alya kira.
Jam tujuh lewat sepuluh ketika suara motor berhenti di depan rumahnya. Suara yang kini mulai kembali akrab di telinganya.
Alya mengintip dari balik tirai.
Arka.
Tepat waktu.
Terlalu tepat waktu.
Entah kenapa, itu membuatnya gugup.
Perjalanan ke klinik berlangsung canggung. Ibunya duduk di belakang bersama Alya, sementara Arka mengemudi dengan fokus penuh. Tidak banyak percakapan. Hanya sesekali ibunya bertanya soal pekerjaan Arka, dan ia menjawab dengan sopan.
Semua terlihat… normal.
Terlalu normal.
Sampai mereka tiba di klinik, dan seseorang sudah berdiri di sana.
Dira.
Dengan map di tangan dan senyum yang terasa terlalu siap.
“Aku bawain berkas proyek yang tadi kamu minta tanda tangan,” katanya pada Arka, lalu melirik Alya sekilas. “Kebetulan lewat sini.”
Kebetulan?
Kota ini kecil, iya.
Tapi tidak sekecil itu untuk disebut kebetulan dua hari berturut-turut.
Alya merasakan sesuatu yang hangat merayap di dadanya. Bukan hangat yang nyaman. Tapi hangat yang menyengat.
Arka tampak terkejut. “Kamu nggak bilang mau ke sini.”
Dira mengangkat bahu ringan. “Aku pikir sekalian aja.”
Ibunya Alya tersenyum ramah. “Oh ini yang kemarin ya? Dira?”
“Iya, Tante.”
Mereka terlihat… cocok.
Ramah. Dewasa. Satu dunia.
Sementara Alya berdiri di samping seperti pengunjung.
Ia membenci pikirannya sendiri.
Setelah ibunya masuk ke ruang pemeriksaan, Alya berdiri agak menjauh. Arka menghampirinya.
“Kamu kenapa?” tanyanya pelan.
“Harusnya aku yang nanya,” balas Alya datar.
“Alya—”
“Kamu bilang cuma rekan kerja.”
“Memang.”
“Rekan kerja yang tahu jadwal kamu. Yang tahu kamu di sini. Yang datang tanpa bilang.”
Nada suara Alya tidak tinggi. Justru terlalu tenang.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
Arka menghela napas. “Aku kirim pesan di grup kantor tadi pagi. Aku bilang aku ke klinik sama kamu.”
“Kenapa perlu bilang?”
“Karena ada proyek yang harus jalan.”
“Dan dia harus datang sendiri?”
Pertanyaan itu menggantung.
Arka mulai kehilangan kesabaran tipisnya. “Kamu mau aku ngapain? Larang dia kerja?”
Alya menoleh cepat. “Aku cuma nggak mau jadi orang bodoh yang pura-pura nggak lihat sesuatu.”
Kalimat itu tajam.
Arka terdiam beberapa detik. Lalu suaranya berubah lebih rendah.
“Kamu masih nggak percaya aku.”
Bukan tuduhan.
Tapi fakta yang terasa pahit.
Alya membuka mulut, tapi tidak ada jawaban yang keluar.
Karena mungkin… iya.
Ia masih takut.
Dan ketakutan sering menyamar jadi kecurigaan.
Siang itu, setelah kontrol selesai dan hasilnya cukup menenangkan, suasana tetap terasa berat.
Dalam perjalanan pulang, Alya memilih diam.
Arka akhirnya menghentikan motor di tepi jalan pantai.
“Alya, turun sebentar.”
Ia menurut, meski enggan.
Angin lebih kencang dari kemarin malam.
“Kamu bilang kamu takut gagal lagi,” kata Arka pelan. “Tapi kalau dari awal kamu udah nyiapin diri buat curiga, kita nggak bakal pernah mulai.”
Alya menatap laut, berusaha menahan emosinya.
“Aku cuma nggak mau kalah sama seseorang yang mungkin lebih cocok buat kamu.”
“Lebih cocok?” Arka mengernyit. “Menurut siapa?”
“Menurut logika. Dia kerja bareng kamu. Ngerti dunia kamu. Ada tiap hari.”
Arka mendekat satu langkah.
“Alya, dengar aku baik-baik.”
Tatapannya tidak marah. Tapi tegas.
“Aku bisa kerja sama siapa aja. Tapi yang aku cari dari dulu bukan partner kerja.”
Jantung Alya berdebar.
“Aku cari kamu.”
Angin membawa keheningan beberapa detik.
“Tapi kalau setiap ada perempuan lain berdiri di dekatku kamu langsung merasa tersaingi, itu bukan soal Dira.”
Alya menatapnya.
“Itu soal kamu yang belum memaafkan masa lalu.”
Kalimat itu seperti cermin.
Dan untuk pertama kalinya, Alya melihat dirinya sendiri dengan jujur.
Ia bukan marah pada Dira.
Ia marah pada keadaan lima tahun lalu.
Marah karena mereka gagal.
Dan ketakutan itu masih ia bawa sampai sekarang.
“Aku capek selalu jadi orang yang pergi duluan,” bisiknya.
Arka melembut. “Ya udah. Sekarang jangan pergi.”
Sederhana.
Tapi tidak mudah.
Alya menutup mata sebentar. Lalu berkata pelan,
“Kalau nanti ternyata kamu berubah pikiran…”
“Aku bakal bilang. Bukan ngilang.”
Jawaban itu datang tanpa jeda.
Tidak seperti dulu.
Alya menatapnya lama. Mencari retak di kalimatnya.
Tidak ada.
Hanya seseorang yang terlihat sungguh-sungguh.
Dan mungkin… itu cukup.
Ia mengangguk kecil. “Maaf.”
Arka tersenyum lega. “Aku juga minta maaf kalau bikin kamu nggak nyaman.”
Mereka berdiri berdampingan lagi.
Kali ini lebih dekat.
Tidak dramatis.
Tidak penuh janji besar.
Hanya dua orang yang memilih untuk belajar percaya lagi.
Sore menjelang ketika ponsel Arka bergetar.
Ia melihat layar, lalu alisnya sedikit mengernyit.
“Kenapa?” tanya Alya.
Arka ragu sepersekian detik. Lalu memperlihatkan layar itu.
Pesan dari Dira.
Kita perlu ngobrol. Penting.
Alya merasa dadanya kembali mengencang.
Arka menatapnya. “Aku bakal selesain ini.”
“Selesain apa?” suara Alya hampir tak terdengar.
Arka menghela napas pelan.
“Mungkin bukan cuma kamu yang belum selesai.”
Angin pantai tiba-tiba terasa lebih dingin.
Dan untuk pertama kalinya, Alya sadar—
Masalah mereka bukan lagi soal masa lalu.
Tapi tentang seseorang yang mungkin, diam-diam, mulai menginginkan masa depan yang sama.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣